
"Kenapa lama mengangkat? Apa ponsel kamu berat?"
Ugh, itu kalimat pertama paling tidak sopan yang pernah Rea dengar saat mengangkat telefon seseorang. Dia sadari jika hingga dering pertama habis, ia masih membatu-kaget kenapa bisa lelaki itu langsung balik menelefonnya. Dan ini, setelah dering kedua mengalun, Rea baru menekan tombol hijau ke atas.
Suara pria di seberang sana terdengar ketus-tidak seperti biasanya. Eh, apa maksudnya tidak seperti biasanya? Segera Rea enyahkan pikiran aneh yang sempat hingga di bagian otaknya. Aero kan memang pria seperti itu, kaku dan tegas. Mungkin ia ketus karena kesal diganggu tengah malam. Atau, ia baru saja akan lelap dan Rea berusaha membangunkannya.
"Terserah aku!"
Rea mendadak ikut terpancing dengan nada ketus.
"Kenapa telfon? Kangen?"
What? Saking kaget akan celetukan yang Aero keluarkan dari mulutnya, Rea sampai bangkit duduk dari posisi sebelumnya, yaitu berbaring nyaman. Bukannya merasa malu dan merona, gadis ini justru ngeri mendengarnya.
Ia sempat menjauhkan ponsel dari sisi wajahnya, memastikan apa benar yang menelefonnya ini Aero yang itu? Yang tinggi dan seenaknya sendiri.
"Ini kamu yang telfon?" Merasa perlu meyakinkan diri, Rea berujar seperti itu. Terserah apa responnya, yang jelas Rea ingin benar-benar tahu dengan siapa sebenarnya ia bicara. Bisa saja ini Aero KW.
"Ckkk. Kenapa?!" Tekan pria itu, seperti enggan membahas obrolan macam tadi. Entah Aero mengalihkan pembicaraan atau karena hal tadi yang dia sampaikan bukan sesuatu yang penting untuk didebat. Kalau boleh dia membela nanti, dia akan menjawab 'hanya bercanda, kenapa kamu serius sekali menanggapi hal tadi?'.
"Aku cuma mau bilang. Kamu berkeliaran di komplek rumah aku?!"
Aero diam lebih dulu.
"Diam berarti iya."
Putus Rea sepihak. Tak lagi berlama-lama mengambil kesimpulan. Ia pikir Aero sedang malu untuk mengakui tindakannya.
"Hmm." Dan Aero hanya menggumam di seberang sana.
"Bikin resah warga tau ngga."
"Saya sudah ada di rumah." Kata Aero melaporkan posisi dirinya saat ini. Namun justru terdengar seperti 'aku sudah tidak lagi disana dan saat ini ada di rumah'.
"Jangan suka berkeliaran di depan rumah aku lagi!"
__ADS_1
"Hmm."
"Jangan hanya hmm."
"Iya."
"Janji?"
"Kamu pikir saya anak kecil?"
"Perjanjian yang kemarin saja tidak ditepati. Percuma ada hitam di atas putih. Kamu suka mengingkari janji."
"Jangan berkata seolah saya sering menjanjikan kamu sesuatu." Rea menghembuskan nafas lelah. Benar memang, Aero tak pernah menjanjikan apapun padanya. Namun, saat sebuah kalimat tambahan Aero keluarkan. Mendadak Rea ingin menyumpahi pria itu. "Memang kamu siapa?"
Ingin sekali dia jawab, kalau dia adalah Regina Athalia yang pernah kamu culik dan manfaatkan untuk menagih hutang seseorang. Jadi jangan berlagak kamu tidak membutuhkan aku. Faktanya dulu kamu sempat berharap padaku. Ya walaupun, pada akhirnya Arka tetap tidak melakukan apapun.
"Soalnya kamu buat hidup aku resah." Rea berkata demikian sambil menurunkan nada suaranya. Berharap Aero bersimpati dan memenuhi keinginannya. Daripada mendebat lelaki banyak akal itu, Rea memilih mengalah. Terus menahan emosi dan berusaha sebaik mungkin mengatakan sesuatu.
"Sudah sehat sekarang?"
"Hmm?"
"Ada yang waktu itu tergeletak tidak berdaya hanya karena datang bulan." Ejek Aero berusaha mengingatkan Rea tentang kejadian semingguan yang lalu.
"Aku ti-"
"Aku lupa. Kamu marah-marah, artinya kamu sudah sehat. Apalagi mendatangi aku di kantor. Itu artinya kamu sembuh."
Wait? Kantor dia? Aero bekerja di tempatnya meminta bantuan hukum? Pria itu ternyata orang yang-ah sudahlah itu tidak penting. Pekerjaan Aero adalah bukan hal utama yang ingin Rea tahu.
"Jangan pura-pura peduli."
"Susah ternyata berbicara dengan orang yang tidak tahu berterimakasih."
"Hey! Baru saja beberapa jam yang lalu, kita bertemu dan kamu ingat apa yang aku lakukan? Aku meminta no rek kamu untuk mengembalikan uang kamu yang sudah keluar. Aku ingin balik berterimakasih. Itu yang kamu bilang aku-"
__ADS_1
"Kalau saya tidak peduli, kamu akan saya tinggalkan tergeletak di lantai kamar sampai kehabisan darah dan mati. Tidak akan saya sewa perawat untuk jaga kamu, tidak juga saya lunasi administrasi rumah sakit kamu. Bukankah dari bukti itu semua, sangat menunjukkan kalau saya orang yang memiliki kepedulian tinggi? Dan, perlu kamu ingat. Saya tidak butuh uang kamu. Anggap kamu terkena musibah dan saya seorang donatur."
Gila memang, lelaki ini sepertinya punya ego yang tinggi. Dia seperti gengsi menerima uang dari seorang perempuan. Regina Athalia hanya mampu ternganga di atas tempat tidurnya, ternya Aero banyak bicara juga. Terlebih apa yang keluar dari mulutnya begitu menyebalkan.
Mencoba untuk tenang, Rea menarik nafas perlahan. Tengah malam, uratnya dibuat menegang karena berbicara dengan Aero. Ia jadi merasa menyesal. Harusnya ia tidak lebih dulu menelefon Aero. Karena akibatnya akan sepanjang ini.
"Aku masih merasa mampu menghidupi diri sendiri. Jadi tidak butuh seorang donatur seperti kamu?" Katanya dengan nada bicara setenang mungkin.
"Really? Bagaimana kalau saya minta saya untuk menghenti kasus kamu? Kamu mencuri dokumen keluarga untuk kepentingan kamu sendiri dan-"
"Wah. Kamu ternyata seorang pendendam ya. Aku pikir kamu seorang yang profesional, tidak menghubungkan dua hal yang berbeda pada satu pembicaraan." Potong Rea tanpa rasa ragu. Lama-lama dia terpancing juga dengan rentetan kata pedas yang Aero keluarkan. Pria itu tak sama sekali mudah untuk diajak berkompromi, selalu semaunya sendiri.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Rea karena tak menerima respon Aero. Apa pria itu menyerah pada akhirnya? Ah sepertinya tidak mungkin.
"Keluar!"
"Ha?"
"Saya ada di depan rumah kamu. Keluar sekarang sebelum saya buat onar!"
"What the hell are you doing?!"
Rea keceplosan mengumpat. Kaget sudah pasti. Ia langsung bangkit dari kasurnya, berjalan menuju jendela kamar untuk melihat sesuatu yang terjadi di depan rumah kontrakannya. Memastikan. Apakah lelaki itu mempermainkannya atau tidak.
"I can do anything." Jawab pria tinggi itu dengan suara yang sudah sangat berbeda. Tidak lagi tegas dan keras.
Saat tirai disibak, saat itulah Rea terpaku. Benar. Tepat di depan rumah, ada seorang pria berjaket sedang berdiri. Tengah menelefon dan tepat memandang ke arahnya dengan sebuah seringai. Jantung Rea yang tadi terpacu karena perasaan marah, sekarang berubah dratis menjadi degupan takut. Keringat perlahan muncul membasahi pelipisnya. Mengalir pelan bawah dibarengi deru nafas yang tidak stabil.
"Keluar Regina Athalia. I'm waiting for you." Imbuh Aero saat sudah menyaksikan sendiri dengan matanya Rea menginap di tempat yang tidak seperti biasanya. Entah kenapa Rea kali ini memiliki sebuah ketakutan besar dengan pria itu. Apa dia yang selama ini ingin menganggunya?
"Saya tahu kamu ada dimana dan kenapa ada disana." Bisiknya lagi dengan suara yang benar-benar membuat merinding. Nada bicara pelan, dingin dan seperti seorang penjahat yang sedang menunggu mangsa.
"Ka-kamu mau apa?" Mendadak Rea menjadi tergagap. Dicengkramnya begitu erat jeruji besi yang membatasi jendela. Matanya masih menatap lelaki tampan yang terpisah beberapa meter di hadapannya. Kebetulan Rea berada di lantai dua, sehingga dia bisa dengan jelas melihat Aero.
"I will show you, how to thank you in the way I like best."
__ADS_1
Dan setelah itu, Rea langsung menyembunyikan dirinya di balik jendela. Menutup rapat, mengunci jendelanya kembali dan menonaktifkan ponsel tanpa memutuskan sambungan lebih dulu.
Apa itu Aero yang sebenarnya? Tanya Rea dalam hati, dengan wajah yang sudah memucat.