
"Aku sedikit tertarik dengan apa yang kamu lontarkan pagi tadi."
Rea memilih diam lebih dulu. Niatan untuk masuk ke rumah dan mengunci pintu rapat, hilang sudah. Perlahan lelaki yang masih berdiri di luar teras itu mendekat. Secepat itu tercium wangi manly yang begitu khas. Belum berubah, dan Rea masih mengingatnya. Bagaimana tidak lupa karena dulu ia juga pernah menghadiahkan parfume tersebut pada Aero saat ulang tahun. Dulu kala. Dan setelah dilihat-lihat, kemana perginya Bibi Yul?
"Lebih dari satu tahun yang lalu, sepatu yang kamu pakai menginjakkan kaki disini. Sekarang sepatu itu kembali menapak di lantai yang sama. Bagaimana rasanya?" Sengaja Rea tidak menjawab pertanyaan Aero. Ia lelah, jika harus menuruti sikap dominan yang dimiliki pria itu-seperti sudah melekat di daging.
"Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?"
Aero tahu apa makna tersirat dari sindiran yang terucap dari bibir Rea. Mengulik kisah satu tahun lalu ya, ok. Aero sepertinya harus sedikit mengingat-ingat.
Dulu, ia punya kesempatan untuk keluar masuk rumah di hadapannya ini sesuka hati. Bahkan ikut bersantai, makan atau menghabiskan sisa malam. Dulu, Aero juga sempat menemani wanita cantik ini menunggu rumah, sebab Bibi Yul tengah pulang kampung. Ada kejadian mati lampu, hujan deras dan seketika air naik setinggi betis. Tak Aero lihat wajah cemas atau ekspresi berlebih yang harusnya dia dapat. Normalnya setiap wanita akan ketakutan, frustrasi dan bingung. Namun Rea tidak, dia santai. Tak sekalipun meminta Aero untuk membantunya. Sekalipun untuk mengganti tabung gas yang telah habis ketika memasak.
"Rasanya biasa saja kan? Tidak istimewa?"
Mendengar itu, kesadaran Aero kembali. Lamunannya terhenti paksa oleh Regina yang berjalan mendekati pintu rumah.
"Kalau yang ingin kamu bicarakan adalah tentang-"
"Tidak sama sekali. Tidak ada hal yang ingin aku bicarakan, terutama dengan kamu. Semuanya sudah selesai. Ya kan?" Rea kuat, dan ia akan selalu seperti itu. Hampir 26 tahun menjadi bagian bumi dan isinya. Otaknya menghafal berbagai macam konflik yang ia hadapi. Mengerti prosedur apa yang harus dia lakukan untuk menuju jalur kehidupan yang aman dan nyaman.
"Benarkah? Tentang mobil mungkin?"
Mata Rea melirik benda besar di garasi rumahnya. Sialan! Kenapa mobil miliknya harus kembali dalam kondisi baik? Berapa puluh juta yang dihabiskan untuk memperbaikinya? Dari mobil seseorang dia tahu kalau perbaikan iu atas perintah di Raja Dominan-Braga Assavero. Salah satu alasan itulah yang membuatnya malas untuk memakai.
Rea sendiri sudah meminta tolong kepada anak Pak RT untuk mengecek. Benar seperti yang dia perkirakan, ternyata mobil dalam kondisi ok, entah nanti jika dipakai beberapa bulan. Itu katanya.
__ADS_1
"Aku hanya korban dari seorang lelaki yang tengah kebut-kebutan di jalan. Kerusakan mobil, itu bagian dari tanggungjawab si penabrak. Selama dia tidak meminta ganti rugi. Aku akan diam. Dan,"Rea menggantungkan kalimatanya, seperti tengah memilih kata-kata yang layak untuk diucapkan.
"Yang aku tahu, dia tidak mengalami luka amat parah. Tergolong beruntung, karena aku berhasil menghentikan aksi gilanya berkendara dalam pengaruh alkohol. Mungkin akan lain ceritanya, jika yang dia temui di persimpangan itu bukanlah aku. Keberuntungan yang kedua, *I'm still a l*ive. Teman kamu gagal menjadi pembunuh."
"Dia meminta maaf." Untuk sejenak kedua insan manusia yang dulu begitu dekat terdiam.
Sebelum menjawab Rea tersenyum tipis dengan mata masih terfokus ke arah garasi. "Siapa yang salah siapa yang minta maaf. Drama banget si hidup kamu." Ejek wanita itu. Dunia ini benar-benar seperti panggung drama. Lucu.
Untuk kesalahan orang lain dia minta maaf, tapi untuk kesalahannya sendiri, dia hanya diam. Dasar pengecut! Badan doang yang gede!
"Dia akan datang."
"Tidak perlu." Jadi, sepanjang Rea dirawat hingga kini kembali ke rumah dengan selamat, sosok penabrak itu belum pernah menampakkan dirinya. Sekali pun. Tapi yang Rea tahu dari Bibi Yul, teman Aero itu hanya sebentar di rawat.
"Tentang menjual mobil itu. Apa hanya lelucon?" Usai keduanya terdiam. Entah kenapa kalimat tersebut muncul dari mulut Aero. Menggelitik dan meremehkan secara bersamaan. Apa selain ahli ghosting, pria itu juga ahli merendahkan orang lain?
"Aku bukan kamu yang sering memberikan lelucon. Tidak akan laku dengan harga tinggi, aku sudah tahu."
"I can give you more."
Secara bersamaan pandangan mereka akhirnya bertemu disatu titik. Rea diam, tengah mencari tahu apa yang ada dipikiran lelaki itu. Setelah apa yang dia perbuat selama ini, Aero ingin muncul kembali jadi pahlawan? Hey sayang, avenger telah bubar. Bangun dari dunia fantasi kamu.
Lama terjerat, secepat kilat Rea memutus kontak matanya. Ia menunduk, memeriksa alas kaki yang digunakan sambil kembali mengingat kalimat terakhir yang Aero katakan. Bukan waktunya untuk mengenang masa lalu. Usai menemukan topik terakhir pembicaraan, dia pun menggeleng.
"No. You can't. Aku akan menjual pada orang yang benar-benar membutuhkan mobil tua itu."
__ADS_1
"Hubungi aku jika belum menemukan seseorang yang tepat."
Rea yang hendak mendorong gagang pintu mendadak berhenti. "Apa kamu tahu apa yang terjadi jika terus menerus makan sesuatu yang manis?" Celetuk Rea yang sudah mulai mendidih.
Tahu jika Aero tak bisa menjawab. Bibir merah itu kembali berseru tegas. "Muak!--Ada ratusan juta orang di Indonesia ini. Dan aku pastikan orang yang mendapatkan mobil tua itu bukan kamu."
Seharusnya Rea sudah tahu bagaimana sifat Braga Assavero Danunjaya. Pria itu tak gampang terpancing sesuatu, terkesan tenang dari luar. Juga bukan tipe mulut manis macam Arka serta Nando. Jadi, jika dulu Rea sempat terjerat jaring cinta, apakah saat itu Rea sedang dalam kondisi bodoh sebodoh-bodohnya? Lihat saja lelaki itu sekarang! Mengangguk tenang sambil melipat dua lengannya di depan dada. Bukannya membuat pria itu menyerah, justru disini Rea yang ingin menyerah, dia ini masuk ke dalam bumi terdalam atau terbang tinggi saja menghindari makhluk seperti ini.
"Stop!" Bentak Rea tanpa sadar, saat Aero mengikuti langkahnya hendak memasuki ruang tamu. Dadanya mendadak bergemuruh entah apa penyebabnya.
"Saya ingin bertamu."
Tangan kiri Rea yang masih terulur untuk menahan pergerakan Aero ia turunkan. Wanita cantik berambut panjang yang sedang diikat ini menarik nafas panjang, matanya naik mencari dimana letak sepasang mata elang yang sering memerangkapnya. Tak ada lagi wajah berseri dan malu saat Rea ditatap dengan cara seperti itu oleh Aero.
"Batas kamu hanya ada disana. Mundur!" Seru Regina dengan nafas memburu. Rea sebenarnya menunggu, menunggu Aero untuk memulai meluruskan masalah. Ok, dia akan terima jika pria itu tidak bisa membawa Rea ke jalan serius. Tapi tolong, katakan dengan jelas disertai permintaan maaf. Lakukan seperti lelaki sejati lakukan. Namun sepertinya harapan Rea hanya sebuah harapan. Pria tinggi ini datang bukan untuk urusan pribadi, tapi urusan temannya.
"Kamu harusnya menjadi orang yang paling tahu. Ada Arka. Nandho. Semua kisah itu berakhir gagal. Sudah pasti perasaan ini tidak baik-baik saja. Kegagalan sebelumnya selalu membuat aku berpikir. Ada yang salah, terutama diriku sendiri. Dan saat ini, sedang aku mengingat-ingat, menyelidiki apa dan dimana letaknya.
Lalu tentang kamu. Jangan pura-pura lupa Mas tentang apa yang terjadi satu tahun lalu. Kamu akan terlihat sangat bodoh dimata aku. Lebih baik sekarang kamu pulang, dan pikirkan apa yang sudah kamu lewati. Kalau ternyata setelah merenung, dan kamu tidak mendapatkan apapun. Itu artinya kamu ngga perlu menampakkan diri kamu lagi di depan aku.--Bisa mundur? Aku mau istirahat." Kata Rea dengan begitu tenang dan dewasa. Ia menutup pintu rumah dengan pelan. Tak ingin terlihat emosi, terlebih di hadapan Aero. Pria itu bisa besar kepala jika Rea mereposnya seperti kemarin.
Api akan ia lawan dengan air.
Jangan lupa vote, comment, jadikan favorit yaa. Terimakasih yang sudah berpartisipasi tiap partnya, ngingetin aku buat update.
love you full
__ADS_1