
"Kalau ada yang mau bertamu, bilang saya lagi istirahat. Kamu temui tamu di luar ruangan saja." Pesan Aero setelah Rocky dan timnya pergi.
"Iya Mas. Tapi kalau yang datang-"
"SIAPAPUN!" Pria itu memberi tekanan di setiap suku kata. Yang artinya Jordi tidak boleh membantah apalagi mengajukan penawaran.
"Ok."
Tak bisa banyak protes, Jordi akhirnya mengiyakan keinginan bosnya. Daripada membuat orang sakit bertambah sakit, lebih baik ia mengalah. Memang siapa yang mau bertamu? Sedangkan tidak ada siapapun yang tahu tentang kejadian ini, kecuali bawahannya dan beberapa orang dari sasana tinju Rocky. Danunjaya-Bos besarnya pun tidak tahu apa yang sudah terjadi pada anaknya.
Lelaki tua yang duduk di kursi roda itu sebenarnya sudah mewanti-wanti pada Jordi untuk melaporkan segala aktifitas membahayakan Aero padanya. Ini tidak berbahaya-menurut Aero. Jadi sudah pasti, Jordi akan diam saja. Kecuali, jika Tuannya menelefon lebih dulu, menanyakan kabar Aero dan memaksanya. Barulah saat itu dia buka mulut.
...***...
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.34, artinya sudah 24 jam Aero berbaring di rumah sakit swasta ini. Wajahnya yang biasa mulus, sedikit tercoreng oleh goresan warna merah di pelipis. Bukan goresan, tapi sobekan yang berwarna hijau keunguan. Entahlah itu benar atau tidak.
Bersyukur, apa yang dikhawatirkan kemarin tidak terjadi. Rusuk Aero masih baik-baik saja, mungkin cedera beberapa tahun silam terpicu oleh pukulan. Apabila pukulan itu lebih keras sedikit saja, hal lain bisa terjadi. Mungkin patah.
Bye-bye bos galak.
"Ngga ada tamu kan Di?"
Usai keduanya hanya diam selama hampir 3 jam, Aero akhirnya bersuara. Kalian bisa bayangkan bagaimana lelah dan tersiksanya Jordi yang harus ikutan mengunci mulut dalam waktu yang lama. Tentu gatal.
"Ada."
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ia pegang, Aero bertanya. "Siapa?"
"Bapak."
"Dia masuk?"
"Masuk Mas. Nunggu 30 menitan di sini."
"Untung saya tidur."
Jordi tak kaget dengan apa yang terlontar dari mulut Aero. Ia sudah biasa menghadapi bagaimana sinisnya anak lelaki ini pada sang ayah kandung. Mereka masih sulit untuk berbincang normal-layaknya keluarga.
"Cuma Papa yang datang?"
"Iya."
Lalu siapa yang tadi Rocky temui? Jordi tidak mungkin berbohong. Apalagi menutup-nutupi.
Atau mungkin, yang Rocky maksud bukanlah apa yang ada di pikiran Aero? Sebab, wanita itu tak sama sekali menghubunginya. Baik lewat pesan WA maupun telefon. Sebenarnya, wanita itu memang jarang melakukan itu. Selalu Aero yang memulai lebih dulu.
Melihat percakapan antara dirinya dan Rea pada platform Whatsapp. Aero berkesempatan membaca ulang dari awal sekali mulai adanya saling balas pesan hingga akhir. Dari bulan Juni hingga Maret, belum pernah sekalipun Aero menghapusnya. Artinya kedekatan mereka sudah lebih dari setengah tahun.
Dan usai lebih dari 10 menit membaca, dapat ditarik kesimpulan jika dirinya lah yang memulai segalanya. Wanita itu terus menjaga diri, berusaha acuh dan tidak membalas secara berlebihan apa yang Aero kirimkan.
Online.
Itu keterangan yang tersaji di bawah nama R.Athalia. Foto profile wanita itu kemudian berganti. Yang semula adalah foto close up dirinya, kini hanya berupa foto bunga anggrek di halaman rumah.
Typing...
__ADS_1
Aero menahan nafas, saat tiba-tiba melihat kata berwarna hijau itu muncul di layar. Sudah lebih dari 5 menit tak ada satupun teks yang terkirim ke nomornya. Hingga akhirnya, karena tidak sabar, Aero lebih dulu mengetikkan sesuatu.
Aero
Kamu kehabisan ide sampai tidak ada satupun huruf yang terkirim?
Tanda centang dua berwarna biru langsung terlihat. Itu artinya benar, Rea juga sedang membuka obrolan.
^^^R.Athalia^^^
^^^Iya^^^
Aero tersenyum begitu membaca jawaban singkat itu. Tak ingin basa-basi. Iapun langsung menekan icon telfon di kanan atas. Jarinya malas untuk mengetik.
"Kenapa lama? Hp kamu berat?"
"Iya berat banget. Apalagi kalau kamu yang telefon.Yang awalnya hanya berapa ratus gram, terasa seperti ratusan ton."
"PMS?"
"Darimana kamu tahu?"
"Sikap kamu yang memberitahu."
"Sikap aku normal!"
"Ya, tapi nada suara kamu meningkat 1 oktaf."
"Berlebihan." Celetuk Rea yang tidak suka dengan analisa Aero barusan.
"Kamu yang berlebihan."
"Emosi tanpa sebab."
"Jadi aku harus nahan emosi aku tiap ngomong sama kamu?!"
"Iya."
Egois kan lelaki bernama lengkap Braga Assavero Danunjaya ini.
"Terus kamu boleh leluasa melampiaskan emosi kamu sama aku?"
"Kapan aku begitu?"
"Ck. Susah ngomong sama orang ngga peka. Muter-muter."
Rea kini berlagak seperti seorang kekasih yang merajuk. Namun dalam kondisi galak.
"Kamu yang muter-muter. Tinggal katakan terus terang apa mau kamu. Ngga perlu memberikan kode, yang akhirnya jadi salah paham."
"Aku ngga merasa salah paham."
"Ya kamu merasa. Tapi kamu tidak mau mengatakannya. Gengsi kan?."
"Aku ngga tahu ya apa yang coba lagi kamu omongin sekarang."
__ADS_1
"Kamu gengsi."
"Aku bukan perempuan gengsian. Aku bisa mengatakan sesuatu tanpa perlu menggunakan kode. "
"Buktikan!"
"Ok. Aku mau menghapus nomor kamu dari Hp aku."
"Silahkan. Aku tidak keberatan."
Jika tadi obrolan berjalan cepat dan tak ada jeda. Kali ini Rea mendadak diam. Terlebih saat dengan tegas dan spontan lelaki yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit ini mempersilahkan.
"Jangan cari-cari aku lagi. Masalah di antara kita udah selesai kan? Arka sudah melunasi hutangnya. Terimakasih juga untuk bantuannya mendapatkan rumah ini. Jika bukan kamu, mungkin aku tidak akan berhasil."
Aero diam. Terutama karena mendadak Rea mengubah gaya bicaranya. Lebih pelan, lembut dan tidak ada emosi di dalamnya. Ia sampai tak memperdulikan Jordi yang memandanginya dengan alis terangkat.
"Kita sudah lama kenal. Kita bahkan melakukan suatu hal yang lebih dari teman lakukan. Aku ngga mau terlanjur dekat dengan laki-laki yang berpotensi-"
"Buat kamu baper?"
Kembali Rea diam. Entah kenapa, suasana tak lagi menggebu-gebu seperti tadi. Lebih slow. Namun jantung Aero justru terpacu sangat cepat. Ini pasti tidak benar. Ada yang tidak beres dengan dirinya.
"Buk-Terserah kamu mau menyimpulkan seperti apa." Rea begitu pasrah mengatakan hal tadi. Bahkan ia tidak mencoba membela diri atau mendebatnya seperti tadi.
"Kenapa tiba-tiba?"
Aero merutuki dirinya. Kenapa kalimat tadi yang keluar dari mulutnya?
"Kamu kemarin mengatakan sesuatu yang akhirnya buat aku sadar."
"Apa yang kemarin aku katakan?"
"Ada."
"Ya apa?"
"Ingat-ingat sendiri." Mendadak tangan kanan Aero terkepal. Ingin sekali ia meninju orang yang mengatakan hal macam tadi. Berbelit-belit dan tidak jelas.
"Kamu pikir aku-"
"Cuma laki-laki stupid yang mau sama aku. Kamu laki-laki cerdas kan Mas?"
"Katakan dengan jelas!" Pinta Aero dengan tegas. Ia sudah mulai bangkit dari posisinya berbaring. Ada hal yang tidak bisa dia bicarakan dengan cara tiduran, dan ini salah satunya.
"Aku sedang mencoba mengatakannya dan kamu selalu saja memancing emosi aku. Dengarkan!"
"Okeh."
"Entah ini karena hormone akibat haid atau bukan. Tapi malam tadi aku tiba-tiba memikirkan sesuatu."
"Apa?"
Entah itu perasaan Aero saja atau bukan. Dia seperti mendengar Rea menghembuskan nafas lelah. Wanita itu seperti tengah berusaha untuk bertahan lebih lama, namun dia tidak bisa. Ada apa dengan Rea? Kenapa sikapnya mendadak seperti ini? Apa yang terjadi?
"Tindakan kamu selama ini membuat aku jadi berharap. Tapi, perkataan kamu kemarin sudah menunjukkan kalau aku tidak boleh berharap. Iya kan Mas?"
__ADS_1
Dan dititik itu, Aero tak bisa menjawabnya. Ia membuat Rea menunggu cukup lama, hingga akhirnya wanita cantik itu lebih dulu memutuskan sambungan telefon.
Diamnya Aero, menjadikan jawaban atas semua pertanyaan Regina Athalia.