
Rea tak bisa begitu saja percaya seratus persen pada lelaki yang sekarang menggenggam tangannya ketika akan memasuki sebuah bangunan. Bangunan yang di mata Rea terlihat tidak rapi, tak terurus dan menyeramkan karena tak cukup pencahayaan. Apakah benar dia akan masuk ke sarang para preman? Beruntung tadi dirinya tak terlalu menaruh harapan besar saat Aero mengatakan ingin membawanya ke rumah. Besarnya harapan itu tentu akan menamparnya begitu keras sekarang. Rumah adalah tempat pulang, tempat ternyaman untuk mendekam dan berlindung dari ganasnya kehidupan. Tapi lagi-lagi, Rea harus sadar. Aero tidak seperti apa yang dipikirkan selama ini. Pria itu menyimpan sangat banyak rahasia dan teka-teki.
Kembali ke dunia nyata, satu per satu langkah berhasil membuatnya makin dekat. Saat ini saja, Rea sudah memasuki pintu kaca yang seluruh bagiannya ditutupi oleh poster-poster entah apa. Satu tangkapan netra nya tadi menemukan gambar dua lelaki yang sedang saling meninju. Reflek, tangan Rea menggenggam makin erat. Terlebih saat disambut dengan suasana ruangan yang begitu dingin. Dingin karena AC juga karena beberapa pasang mata menatapnya penuh rasa ingin tahu. Ruang pertama yang Rea masuki terdapat beberapa lelaki dengan penampilan yang sedikit menyeramkan. Otot tangan yang besar dan raut wajah sangar yang dipamerkan.
"Bos." Celetuk seseorang.
Rea tidak tahu lelaki mana yang menyerukan kata itu. Sebab dia sendiri terlalu menjaga pandangan, makin mendekatkan tubuhnya di sisi Aero mencari perlindungan. Pria itu berjanji, dia memulangkan Rea sesegera mungkin. Kesepakatan yang sudah dibuat adalah sepuluh menit dia masuk dan melihat semua yang ingin Aero tunjukkan. Setelah itu pulang.
"Hust!"
Rea tersentak mendengar balasan tadi, terlebih itu berasal dari pria yang menariknya makin memasuki bangunan. Ada rasa takut yang tiba-tiba menjalar. Perasaan yang baru pertama kali muncul semenjak dia mengenal Braga Assavero. Dulu, saat di kamar hotel Rea tak merasakan ketakutan dan kecemasan macam ini.
Aero membawanya masuk makin dalam. Melewati lorong yang cukup panjang dengan lampu gantung bercahaya redup. Tahu dirinya tak sanggup lagi diam, Rea akhirnya mencoba untuk bernegosiasi.
"Mas? Beneran harus masuk ke sini? Kenapa ngga dijelasin aja? Aku-"
"Cukup melihat dan tidak perlu berkomentar sekarang. Ok?"
Rea menarik nafas untuk menenangkan diri. Pantaskah ini disebut rumah?
Bug bug bug
Kaki Rea mendadak berhenti. Telinganya tadi menangkap suara hantaman yang berurutan dan keras. Entah bersumber dari ruangan di balik dinding kanan atau kiri, yang jelas itu cukup membuat dadanya bergemuruh. Ada apa di balik dinding warna kusam itu?
"Aku beneran takut." Keluh Rea dengan jujur.
Dan kalian tahu apa jawaban Aero? "Itu bagus. Aku malah terkejut kalau kamu berani masuk ke sini."
"Kamu mau nakut-nakutin aku? Ok! Selamat! Kamu berhasil!"
Bukannya menjawab, yang Aero keluarkan dari mulutnya malah justru suara kekehan.
Reflek Rea menaikkan tatapannya. Di bawah sinar lampu, dia melihat dengan cukup jelas bagaimana Aero, sorot matanya hangat, tak seperti biasanya.
Ada apa ini? Jangan terbawa perasaan Rea. Jangan terhipnotis.
...***...
"Kamu marah?"
Hal itu adalah pernyataan pertama usai tur singkat Rea di sasana tinju Aero. Mengikuti setiap kaki Aero melangkah. Mendengarkan setiap apa yang pria itu ucapkan. Melihat apa yang juga Aero tunjukkan. Sekiranya itu adalah beberapa hal yang Rea lakukan. Selama dua tahunan saling mengenal, ini lah saat dimana Rea benar-benar tahu Aero yang sesungguhnya. Tak seperti sebelumnya dimana dia merasa takut. Begitu mendapatkan penjelasan langsung, yang bisa Rea tampilkan hanya kebingungan.
Alis Aero menukik. Alih-alih mendengar Rea menanyakan tentang masa lalunya. Wanita ini justru menanyakan sesuatu yang Aero sendiri tak tahu harus dijawab seperti apa. Kenapa dirinya harus marah?
__ADS_1
"Aku ketawa waktu kamu mengaku atlit tinju. Kamu marah?" Untuk kali kedua Rea mengulang.
Ok. Sepertinya Aero mengerti apa yang ingin Rea tanyakan. Tanpa dia sadari, tangannya terulur ke arah kepala Rea, mengelusnya lembut sepanjang rambut yang sudah tergerai. Aero tidak juga menjawab rasa penasaran Rea, ia masih diam.
Dan entah ini hari apa. Yang jelas, Rea sering sekali melihat Aero tersenyum. Lebih sering dan lebih lebar dari biasanya.
"Kenapa kamu tanya itu? Kenapa bukan yang lain?"
"Kamu bilang aku boleh tanya apapun setelah selesai?"
"Iya." Seru Aero ringan, sambil melangkah menuju tempat parkir. Di tangannya sudah ada payung yang terbuka. Tangan yang lain ia gunakan untuk merengkuh bahu Rea. Hujan turun dengan deras.
"Kamu marah ngga?" Layaknya anak kecil yang tidak puas, Rea kembali mengulang hal itu untuk ketiga kalinya. Fix. Ini harus dijawab oleh Aero, jika tidak mungkin sepanjang jalan gadis ini akan terus bertanya.
"Ngga! Aku marah karena Ardan ikut tertawa."
"Oh." Responnya singkat.
Rea mengimbangi langkah lelaki yang merangkulnya menuju sebuah kendaraan roda empat. Sementara matanya melirik ke arah dimana motor hitam milik Aero yang kehujanan. Motornya ada disana. Ingin Rea mengatakan demikian. Namun hal itu sudah lebih dulu tertelan saat Aero membukakan pintu mobil untuknya. "Mobil siapa?" Tanya Rea kembali.
"Aku. Ngga ada mantel di motor. Jadi aku antar naik mobil."
Alas kaki Rea basah, celana kain yang digunakan juga basah di bagian bawah. Tak lama Aero menyusul masuk ke mobil. Ia duduk di balik kemudi, menutup payung yang langsung ia taruh di bawah kursi belakang. Mobil mulai membelah jalanan ibukota yang ramai. Kemacetan tersaji di depan mata. Dan Rea perlu bersiap, karena dia akan menghabiskan waktu makin banyak dengan si petinju ini. Mana janji yang katanya boleh bertanya apapun? Atau dia dibodohi sebenernya? Karena Aero tidak mengatakan dia akan menjawab semuanya. Dia hanya menjanjikan Rea untuk bebas bertanya.
Masih terekam jelas bagaimana bangganya lelaki di samping Rea ini menceritakan sepak terjangnya di ring. Sedari usia belasan hingga 31 tahun. Sedari dia bukan apa-apa menjadi punya apa-apa. Sedari ada Ibunya, hingga kini tidak ada sosoknya.
"Sekarang masih sering bertanding?"
"Iya. Kemarin tim ke Columbia."
"Ah! Itu kenapa kamu tiba-tiba ngga ada kabar?"
Aero diam, tak tahu harus mengatakan apa. Selama ini tidak ada seseorang yang perlu dia khawatirkan memang. Kemanapun dia pergi tak akan ada yang dia hubungi kecuali Ibunya tentu saja. Dia mungkin lupa atau memang tidak peka, jika ada satu wanita yang selama ini dekat dengan dirinya. Bukan hanya sekedar teman dunia maya. Mereka sudah saling berbagi kehangatan satu sama lain. Jadi, jika tiba-tiba menghilang, pihak yang sudah menggunakan perasaan akan merasa begitu kehilangan. Ingat baik-baik Aero!
"Kamu terlihat fokus dengan dunia kamu." Komen Rea atas keterdiaman anak satu-satunya itu.
"Di antara dua orang tua. Hanya satu yang jelas-jelas mendukung. Aku kira, karena mereka orang-orang yang berpendidikan, cara berpikir mereka sudah sangat luas dan terbuka. Tapi ternyata tidak. Kolot. Harus ini dan itu. Semakin salah satu menentang, semakin aku ingin menunjukkan."
"Apa itu Papa kamu?"
"Terlihat begitu jelas?" Seru Aero sambil mengalihkan pandangannya ke arah Rea.
Sebelum memberikan jawaban, Rea mengangguk. "Hanya ada foto Mama kamu di setiap pertandingan. Tanpa melihat foto atau apapun itu, aku bisa menebaknya."
__ADS_1
Perlahan layer yang menutup sisi Aero terbuka. Rea mulai mengerti kenapa lelaki itu tidak bisa ditebak, tidak peka dan serampangan. Itu terbentuk karena kehidupannya. Siapa yang percaya jika lelaki itu pernah merasakan kelaparan seperti gelandangan? Siapa juga yang tahu jika sejak saat itu Aero tak akan pernah membuang atau menyia-nyiakan makanan lagi? Mungkin Ayahnya pun tidak tahu.
"Masih dingin Re?"
Aero berusaha mengalihkan perhatian dengan menanyakan sesuatu yang sama sekali Rea tak pedulikan.
"Sasana itu punya kamu?"
"Iya."
"Terus kenapa kamu bisa kerja di kantor?"
Wanita memang seperti itu. Ada saja sesuatu yang membuat mereka penasaran.
"Orang tua itu yang minta. Dia bilang ngga sanggup lagi." Katanya entang.
"Hanya karena itu kamu mau? Pasti ada alasan lain yang paling kuat."
"Ibu aku!"
Rea mengangguk perlahan. Bisa Rea simpulkan lelaki ini begitu mencintai Ibunya.
"Pendidikan kamu gimana?"
"Aku sekolah dan aku kuliah di luar negeri. Kuliah yang sesungguhnya."
"Oh ya?"
"I am not stupid. Aku pulang bawa gelar dan kemampuan."
Mobil yang Aero kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Berhasil membuat Rea yang kedinginan makin membeku. Ingin sekali dia ke toilet sekarang. "Mas?"
"Hmm?"
"Aku pengen ke-"
"Aku mau jadi partner hidup kamu. Sekarang giliran aku tanya. Memang kamu mau jadi yang sebaliknya?"
Mendadak Rea blank ditanyai oleh lelaki kaku itu. Darurat. Tanda merah, dia harus segera mencari toilet. Dan kenapa disaat itu Aero malah menyatakannya sekarang? Tidakkah pria itu tahu kondisi Rea? Kedua tangan Rea mulai menggenggam, menahannya sedikit lebih lama, jika bisa.
"Sejauh ini, kamu satu-satunya wanita yang bertahan. Jelas selain Ibu. Aku ngga menjanjikan romantisme di masa depan. Aku cuma bisa janjikan kamu ngga akan hidup susah dan sendirian. Aku ada kapanpun kamu butuhkan. Kapan aku bisa datang ke rumah kamu bawa Papa?"
Oh My God. Apa itu bukan termasuk romantisme?? Untuk ukuran Aero. Menggandengnya selama mengelilingi bangunan. Merangkul bahunya saat menembus hujan. Dan kini, ingin meminta persetujuannya? Melamar??
__ADS_1
Menurut Rea. Tidak ada hal yang lebih romantis dari seorang pria datang ke rumahnya bersama orang tua.
Seperti biasa. Aku ingetin untuk like dan comment yaa..