Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 69


__ADS_3

Aero memejamkan matanya untuk sesaat. Menikmati sunyi di dalam kamarnya sendiri. Tidak ada bunyi yang terdengar sekalipun hembusan nafasnya. Dia berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan tenang. Tak lama, ia kembali memainkan benda asing yang ada di jari kelingkingnya sebelah kanan dengan jari jempol. Meski hanya sampai di pertengahan jari, Aero tetap memakainya. Sebab ia tidak tahu tempat mana lagi yang bisa digunakan untuk menyimpan benda itu. Dompet, saku ataupun kotak tidak akan mungkin. Aero tipikal lelaki simple yang tidak suka membawa barang di tangan ataupun tas. Ia lebih suka berjalan kesana kemari dengan tangan kosong.


Beberapa malam terlewatkan dan benda yang Aero pinjam dari Rea belum juga terlepas dari jari kelingkingnya. Nampak kontras dengan jemari tangannya yang penuh otot, tak terlihat lentik sama sekali. Lelaki dengan tubuh tinggi ini sendiri bingung, kenapa ia belum melepasnya. Perlahan tangan kanan yang semula berada di sisi tubuhnya, Aero pindahkan. Ketika sudah tepat berada di atas wajahnya dengan jarak sekitar 30 cm, mata Aero terbuka. Memandangi dalam diam.


Awalnya, Aero hanya iseng melepas cincin Rea saat gadis itu menggandengnya kuat di sasana tinju. Tujuannya adalah untuk membuat sadar dan rileks Rea selama berada di dalam. Namun sayang, berkali-kali dia memasang dan melepaskannya di setiap kesempatan, Rea sama sekali tidak juga peka. Atau sebenarnya tahu namun mengabaikan? Ah sepertinya tidak, ekspresi Rea saat Aero menunjukkan cincin di tangannya saja terkejut. Artinya wanita itu tidaklah tahu apa yang terjadi sebelumnya. Sungguh membahayakan.


Sejak kejadian Aero membawa Rea ke rumahnya-tepatnya sasana. Tanpa mengkonfirmasikan padanya pun anak buahnya sudah bisa menebak Rea itu siapa. Untuk apa gadis cantik itu dibawa ke tempatnya orang-orang dengan badan serta wajah sangar itu pasti tahu. Terlebih ketika dengan sengaja Aero memamerkan sesuatu yang tak pernah dia lakukan. Fix. Anak buahnya tahu apa yang harus mereka lakukan pada wanita itu kelak.


Ardi yang kebetulan ada disana sedang latihan saja langsung berhenti memukul samsaknya ketika Aero dan Rea melewati areanya. Dia bergegas menelepon Jordi.


"Di. Lo dimana? Mas bawa cewe ke sasana."


Memang hanya dua orang inilah yang boleh dan berani memanggil Aero dengan sebutan Mas. Selain karena mereka memang dekat. Mereka adalah yang paling lama menemani kehidupan Aero di jalanan, Aero menganggap mereka saudara dalam keluarga. Sedangkan dua orang ini tahu diri harus bersikap seperti apa. Meski dekat mereka punya batasan.


"Siapa?!" Tanya Jordi balik dengan suara meninggi.


"Cewe itu. Regina Athalia."


Untuk beberapa detik Jordi diam, membuat Ardi penasaran karena tak kunjung merespon. Hingga sebelum Ardi kembali bersuara, Jordi memberikan tanggapan.


"Akhirnya." Bisik anak itu dengan penuh kelegaan. Terlihat ada senyum yang Jordi tunjukkan, walau tak melihatnya langsung tapi Ardi tahu bagaimana ekspresi wajah rekannya itu. Sebagai asisten pribadi Aero sekaligus tangan kanan Ayah Aero, yang tugasnya bertumpuk-tumpuk, Jordi tahu benar apa yang terjadi dengan Bosnya itu. Walau hanya 75 persen dari kehidupan Aero yang boleh dia ketahui. Setidaknya dengan membawa seorang wanita ke tempat paling berharga di mata Aero, anak satu-satu Danunjaya itu sudah terindikasi mulai ingin menuju tingkat kehidupan selanjutnya. Bukan hanya sebagai pria lajang.


...***...


Ponsel Aero berdering, bukan telfon, hanya notifikasi pesan masuk. Dari siapa? Ternyata Regina Athalia. Untuk beberapa alasan, Aero langsung menghentikan pekerjaannya usai melirik ponsel yang tertera nama wanita tak asing di hidupnya. Dia letakkan dokumen yang sedang dibaca ke atas meja. Lalu meraih ponsel yang tak jauh dari jangkauannya dengan tangan kiri.


R. Athalia


Mas sibuk? Ada waktu nanti sore?


^^^B.Assavero^^^


^^^Kenapa?^^^


R. Athalia


Bisa kita ketemu nanti di cafe tempat dulu hp aku ketinggalan? Aku mau ngomong sesuatu.

__ADS_1


^^^B.Assavero^^^


^^^Aku keluar dari kantor jam 17.00.^^^


R. Athalia


Ok.


Percakapan yang terjadi setelah drama romantis malam itu ternyata tak bisa terulang sesering yang diharapkan. Aero is Aero. Dan Rea dengan segala sikap cuek dan kuatnya terlihat tak memprotes. Dia cukup tahu diri.


Jika Aero kembali melanjutkan pekerjaannya di kantor firma milik Ayahnya. Sementara di tempat lain, Rea yang tengah menunggu anak Bu Nindi tidur, memutuskan ikut istirahat. Dia merebahkan tubuhnya di salah satu sofa yang tak jauh dari box bayi Thomas. Lelah seharian karena baby sitter Thomas sakit. Sehingga segala kegiatan apapun dilakukan sendiri oleh tangannya.


Ada empat jam lagi menuju jadwal pertemuan. Itu cukup untuk menyiapkan diri. Setidaknya Rea harus terlihat segar dan tidak layu seperti saat ini. Sengaja dia pilih cafe untuk bertemu, agar Bibi Yul-yang kebetulan sudah pulang ke rumahnya-tidak mendengar pembicaraan mereka.


Waktu yang ditentukan tiba, Aero datang lebih dulu sebab kantornya memang cukup dekat dengan cafe milik Bordes ini. Sedangkan Rea datang saat jarum jam di tangan Aero menunjukkan pukul 17.20. She is late.


"Maaf Mas, tadi aku naik taksi terus kena macet. Harusnya aku pesen gojek aja."


"Aku hanya datang 5 menit lebih cepat dari kamu."


"Udah pesen sesuatu?"


"Mau makanan utama atau desert aja?"


"Kamu mau traktir aku?"


"Bu!-Ya boleh."


Sesuai dengan keinginan Aero, keduanya memesan dua cofee late dan dua potong cheese cake. Entah match atau tidak, yang jelas meja mereka terisi dengan makanan. Pintar sekali pemilik cafe ini, karena menyajikan varian menu yang melimpah. Sehingga semua kalangan bisa makan disini, entah pecinta makanan lokal, timur ataupun barat. Beberapa tersedia disini. Rea jadi berpikir, berapa anggaran belanja bahan hariannya jika menu yang disajikan sebanyak itu.


"Jadi? Kamu mau ngomong tentang apa?" Tanya Aero usai keduanya hanya membicarakan kesibukan masing-masing. Ia cukup tahu bagaimana bingungnya wanita jika menginginkan sesuatu. Menurut artikel yang dia baca, kebanyakan lebih sering memberi kode dari pada terus terang meminta sesuatu. Dua jenis wanita yang sama-sama langka. Dan Aero penasaran akan ada di golongan manakah Rea-nya?


Apa? Rea-nya? Kenapa terdengar begitu menggelikan? Kenapa tidak ia katakan saja calon masa depannya? Calon ibu dari anak-anaknya?


"Aku mau tanya untuk yang terakhir kali." Kata wanita itu dengan sedikit kegugupan di matanya. "Apa yang kamu ucapkan kemarin aku anggap benar. Sampai saat ini, aku masih yakin kamu serius. Dan, sebelum besok. Hari yang kamu janjikan buat datang ke rumah untuk mengembalikan barang aku dan teman-temannya. Atau aku anggap itu adalah acara lamaran-"


Mendengar bagaimana Rea berbicara, kening Aero sontak terlipat. Dan Rea yang mendapati respon seperti itu hanya tersenyum tipis, kemudian kembali melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Aku ingin kasih kamu informasi tentang diri aku yang sekarang. Bagaimana prinsip aku yang kembali berubah setelah banyak kejadian menimpa."


Rea menjeda, mengambil nafa disela-sela dia memandangi Aero. "Mas, " panggilnya lebih dulu. "Kalau kamu cuma mau kasih aku harapan. Udah. Sampai sini aja, makasih. Jangan dilanjutkan. Aku akan terima. Aku bisa kesampingkan perasaan aku saat ini. Masalah hati itu urusan aku. Dan sebelum semuanya terlanjut jauh dan makin rumit lagi, tolong jujur sama aku. Aku ngga akan kenapa-kenapa setelah ini. Janji!"


Setiap kata yang terucap dari bibir merah itu terekam jelas dalam ingat Aero. Secara perlahan dia memajukan tubuhnya yang semula bersandar di kursi. Ternyata Regina Athalia seperti ini.


"Kalau kamu ingin mundur sekarang, aku persilahkan." Tambahnya lagi dengan suara yang bergetar seperti ingin menangis. Dan benar saja, tak lama setelah itu matanya terlihat berkaca-kaca. Rea mencoba menenangkan dirinya, sementara itu Aero punya kesempatan untuk masuk memberikan respon atas sikap Rea yang tak pernah ia duga sebelumnya. Berani sekali. Apa dia tidak berpikir jika akhirnya adalah kekecewaan? Apa dia tidak belajar dari pengalaman?


"Entah apa tujuan kamu ngomong seperti ini. Aku ngga tahu. Kamu sering berubah-ubah, sangat di luar ekspektasi."


Aero meresponnya dengan cukup tenang. Salah, berusaha tenang.


"Seperti yang aku bilang di awal. Prinsip aku sedikit berubah setelah banyak kejadian menimpa."


Mencoba mengerti, Aero mengangguk saja. Dia masih bisa menjaga kontrol diri, berbeda dengan Rea yang mulai tidak bisa membendung perasaan yang dia miliki untuk lelaki pencuri hatinya ini.


"Dimana-mana, wanita akan sangat menjaga hubungan di antara dia dan prianya, setelah ada pernyataan serius. Kamu justru sebaliknya. Apa kamu ngga takut aksi kamu tadi akan membuat pria itu ilfeel?"


Tanpa memikirkan lebih dulu, Rea langsung saja menggeleng dengan memberikan seutas senyum cantik.


"Ckck. Terlalu percaya diri."


"Aku ingin hidup sama laki-laki yang memang serius menginginkan aku di sampingnya. Ngga peduli dia miskin atau kaya, ngga peduli dia tua atau muda. Ngga peduli juga dia ganteng atau ngga. Selama dia yakin, aku mau."


Wajah Aero menegang, terlihat urat-urat di lehernya timbul, bibirnya juga mulai menipis. Sambil menatap Rea tajam dia bersuara, "dan aku kasih catatan untuk yang terakhir kalinya buat kamu. Dengar baik-baik!"


Rea menutup matanya bersiap untuk mendengar.


"Aku ngga berubah pikiran!" Seru Aero dengan tegas sampai membuat sedikit air mata menetes di pipi putih Rea. Di hadapannya, gadis itu masih menunduk dan memejamkan mata.


Aero bangkit, ia duduk di kursi samping Rea. Merengkuh gadis itu dalam pelukan. Dan menghujaninya dengan kecupan di puncak kepala.


Trauma, dan itu terlihat jelas ada di mata kamu. Tolong katakan! Bagian mana dari diri aku yang tidak terlihat menginginkan kamu?


Cie-cieee


Setelah rehat beberapa hari, akhirnya bisa update lagi.

__ADS_1


Ramaikan gaes, dengan vote, comment dan like kalian.


Part ini cukup panjang, sekitar 1400an kata loh.


__ADS_2