Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 49


__ADS_3

At that time...


Sore yang mendung, menjadikan Rea harus menimbang baik-baik aplikasi apa yang akan ia pilih untuk bisa pulang ke rumah. Gojek atau Gocar? Sekarang ia tengah duduk santai di cafe salon Bu Nindi. Pengusaha wanita itu memang bisa sekali membuka pundi-pundi uang, ada cafe kekinian yang tepat dibangun di samping salonnya. Tentu pemuda-pemudi berdatangan; mulai datang untuk perawatan, atau para lelaki yang menunggui kekasih mempercantik diri dan ia asik santai di cafe, atau salah mahasiswa yang mencari spot wifi gratis. Rea tersenyum tanpa sadar, dirinya juga dulu seperti itu.


By the way. Ia harus pilih yang mana? Gojek atau gocar, sebab langit makin menunjukkan aura kelam sejauh mata memandang. Masing-masing aplikasi itu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jika diibaratkan Gojek dan Gocar sebagai dua lelaki di Ibu Kota Indonesia. Gojek seperti seorang lelaki yang bergerak cepat mencapai tujuan. Dapat melewati lika-liku perjalanan dengan mudah, namun harus siap pula menghadapi banyak cobaan dijalan. Seperti bersedia menerima alam yang murka memuntahkan tangis.


Sementara Gocar, seorang lelaki yang memberikan jaminan perlindungan, kenyamanan dan keamanan dari berbagai kondisi, meski waktu yang ditempuh untuk mencapai tujuan butuh waktu. Cenderung menunggu dan sulit untuk memaksakan keadaan.


Gojek berkata pada seseorang yang membutuhkannya, "gue jamin sampai tujuan lebih cepat, tapi lo harus mau gue ajak susah dulu. Gimana?"


Tak mau kalah, gocar pun datang menawarkan sesuatu. "Lo aman, nyaman dan merasa terlindungi kalo ikut gue. Tapi lo harus nunggu lebih lama untuk sampai tujuan. Mau?"


Mungkin jika mereka bicara, akan seperti itu. Lagi-lagi Rea tersenyum sambil menggeleng seperti orang gila. Bahagia bukan hanya dicari, tapi bisa juga diciptakan oleh diri sendiri. Tadi itulah contohnya. Membayangkan hal-hal yang mengocok perut.


Dan disaat tersenyum-senyum sendiri macam ABG yang baru menerima pesan kekasih, ponsel Rea menyala. Memberikan tanda padanya jika ada seseorang yang ingin mendengar suara merdunya, mungkin.


"Dimana?" Tanya seseorang di seberang telefon, tanpa salam maupun sapaan.


"Di cafe deket salon."


"Ok. Aku jemput."


Boleh tidak sekali lagi Rea tersenyum? Jangan anggap dia gila lagi. Sebab ini benar-benar rejeki tak terduga di tengah suasana badai yang hendak turun.


Sekitar 15 menit menunggu, mobil yang sangat Rea hafal bentuk dan warnanya memasuki area parkir cafe. Spontan Rea berdiri dari kursinya yang ia duduki hampir 60 menit untuk sekedar minum teh hijau tadi. Ia menyongsong masuk menuju pintu mobil yang sudah dibuka sedikit dari dalam.


"Kenapa belum pulang?"


"Tadi mau pulang."

__ADS_1


"Ngga bawa mobil?"


Rea menggeleng perlahan setelah selesai memasang seat belt-nya. "Ngga bisa nyetir."


Dan sesuatu yang di luar ekspektasi terjadi. Lelaki itu tertawa terbahak begitu mendengar jawaban Rea. Apakah ada sesuatu yang Rea lewatkan? Apa ada hal yang begitu lucu?


Terperangah di tengah tawa orang yang begitu renyah adalah hal yang tidak mengenakan, percayalah. Dia seperti orang bodoh. Mobil mulai melaju dan lelaki yang duduk di balik kemudi masih tertawa.


"Terus apa gunanya punya mobil kalau ngga bisa nyetir?" Setelah meredakan tawanya, barulah suara nyinyir kembali terdengar.


"Kan bisa nyewa orang buat nyetirin."


"Stupid!"


Tak terima dikatakan stupid, mata Rea melotot. Ia setuju apa kata Bibi Yul, katanya orang yang memiliki bibir tipis banyak omong dan suka nyinyir. Ini terbukti pada seorang Aero. Percuma membalas dengan emosi, Rea menarik nafas perlahan kemudian mulai membela diri. "Ada loh orang punya pesawat jet pribadi, tapi ngga bisa bawa sendiri."


"Ya karena mereka kaya. Mau santai-santai."


"Ckck, aku ngga tau jalan pikiran kamu." Ejek Aero.


"Aku yang ngga paham cara berpikir kamu!"


"Ngomong sama kamu asik, menyerang terus. Ngga pernah mau kalah." Entah itu sebuah pujian atau sindiran yang Aero tujukan pada wanita cantik ini.


"Aku ngga merasa nyerang, kamu aja yg terus ngajak perang. Laki-laki kok suka nyinyir." Sungut Rea sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ok lah dia mendapat tumpangan pulang gratis. Tapi jika harus tarik ulur urat seperti ini, melelahkan. Lebih baik ia memilik gojek ataupun gocar saja.


"Itu dia. Mulut kamu diam-diam beracun. Kamu ngga sadar?" Tanpa terpengaruh kekesalan Rea, Aero santai saja menyusuri jalan yang mulai basah oleh air hujan. Suara adzan terdengar sebagai latar yang indah mengiringi petang.


"Apalagi kamu. Udah bibir tipis, tajam, beracun."

__ADS_1


"Do you ever taste my lips right?"


Tidak bisa menjawab lagi, Rea hanya bisa menatap tak mengerti Aero dengan membuka dan menutup mulutnya seperti ikan koi.


Lagi-lagi moment masa lalu antara dia dan Aero melintas di benak Rea saat sedang sendirian seperti ini. Menyesakkan, sudah satu bulan sejak malam dia menelepon Aero. Belum pernah lagi lelaki itu muncul di hadapannya untuk sekedar meminta maaf. No mesagge. No call. Benar-benar hilang.


"Jangan ngalamun Re." Suara Bu Nindi yang baru keluar dari kamar menyentak lamunannya.


"Ngga Bu."


"Tidak ada yang perlu disesali. Semua memang terjadi karena sudah kehendak-Nya. Apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya, tak ada seorangpun yang bisa mencegah barang sedikit. Ambil bagian terbaik dari kejadian kemarin; kamu menjadi lebih berhati-hati, memiliki waktu luang untuk diri sendiri, yang sebelumnya dimonopoli oleh keluarga maupun laki-laki itu. Setelah sekian lama, kamu bisa memanjakan diri kamu sendiri. Itu hal pentingnya Rea."


Mencoba berpikir begitu, ternyata sulit. Masih saja ada rasa tak terima akan sikap pengecut Aero yang sampai saat ini tidak menemuinya.


"Keputusan kamu kemarin untuk bertanya adalah hal yang tepat. Terlepas dari apapun jawabannya." Tambah Bu Nindi. Ya wanita hamil ini sudah ia ceritakan apa yang sudah menimpanya. Setelah dipaksa berhari-hari.


"Kalau saya waktu itu diem aja. Pasti kamu ngga akan cerita. Ya kan?"


Rea mengakui, diapun mengangguk. Bibi Yul terlanjur percaya diri jika lelaki yang sering menemui anak asuhnya di rumah adalah pria yang berniat mengajak Rea ke jalur serius, nyatanya semua itu tidak terjadi. Jadi tidak hanya Rea yang dikecewakan, tapi Bibi Yul juga.


"Sebesar itu pengaruh dia? Sampai mendadak kamu jadi budeg kalau saya panggil. Mendadak lelet dan ceroboh."


"Ngga seperti itu Bu. Mungkin karena ini beda dengan sebelumnya. Kalau dengan Arka dan Nandho memang berakhir karena sebuah masalah. Tapi ini? Dia sama sekali ngga ngomong apa-apa. Berlalu aja tanpa penjelasan."


"Terus kamu berharapnya apa? Kalian bersama?"


Rea tersenyum seperti akan mengiyakan. Tapi kemudian dia menggeleng.


"Rea berharapnya, entah itu jawaban iya atau tidak. Dia mau menyampaikan dengan jelas. Rea akan menerima keputusan dia. Mungkin aku aja yang terlalu terbawa suasana atas kebaikan dia. Mungkin dia memang baik sama semua wanita. Mungkin dia sebenernya kasian aja sama Rea. Atau apalah itu. Ngga masalah. Yang penting dia bicara. Ngga diam seperti ini."

__ADS_1


"Ribet banget si pemikiran kamu."


Ngga ribet kok Bu. Rea pengin yang jelas.


__ADS_2