
Saling memuaskan?
Bahkan, hanya dengan ekspresi Bu Nindi yang tak terkejut setelah mendengar penjelasan Rea. Asisten cantik ini sudah sangat tak menyangka. Apalagi dengan pemikirannya yang mengira jika Rea dan Nando sudah saling memuaskan. Speechless, tak ada hal yang dapat Rea lakukan selain memandangi wanita berusia 30 tahunan itu dengan sorot kecewa. Bagaimana bisa Bosnya memiliki pemikiran macam itu? Tidakkah selama bertahun-tahun ini beliau paham dengan tingkah laku Rea? Sederhana dan tak suka macam-macam.
"Ngga sampai begitu ya?" Seru sang bos ketika ia sadar jika pertanyaan yang terlontar tadi berhasil merubah ekspresi Rea. Bu Nindi mendadak menyesal, merasa bersalah atas tindakannya. "Jadi kalian sekarang bagaimana? Masih jalan?"
Untuk beberapa alasan Rea diam, ia mengambil nafas sejenak, berusaha menahan sesuatu yang mulai terasa di bawah sana. Apa lagi jika bukan tamu bulanannya, sudah lebih dari 10 hari ia terlambat datang bulan. Dan mungkin ketidak stabilan emosi akhir-akhir ini, disusul dengan nyerinya beberapa anggota badan, mengindikasikan masanya akan dimulai.
"Setelah minggu kemarin saya datang ke rumahnya, sampai detik ini Mas Nando belum menghubungi atau datang menemui saya. Mungkin dia sibuk." Jelas Rea berusaha menjadi wanita pengertian. Yang pada kenyataannya semua itu hanya di mulut saja. Rea kesal setengah mati atas sikap Nando yang seperti pencundang, begitu saja lari dari masalah.
"Kamu tidak lebih dulu menghubungi?"
"Sudah. Dan hanya di read. Telefon tidak diangkat."
Tak ada respon balik. Keduanya diam. Hanya musik latar cafe yang mengisi keheningan.
"Saya berpikir, dengan mengenalkan Nando pada kamu. Ia akan lebih terarah dan lunak."
Rea bingung dengan apa yang baru disampaikan bosnya. Apakah maksudnya Nando lelaki yang tidak memiliki arah dan keras kepala? Bersama Rea sepertinya lelaki itu baik-baik saja. Tak menunjukkan gejala aneh ataupun janggal.
"Dia anak pertama kan? Selain pekerja keras, dia juga keras kepala. Hidupnya masih belum tertuju pada sesuatu, padahal adik-adiknya sudah ada yang menikah. Mungkin dia masih suka dengan kesendirian atau masih suka hidup bebas. Makanya-"
"Ibu mengenalkan dengan saya?" Potong Rea ketika sudah tidak kuat lagi mendapat informasi baru tentang teman dekatnya. Ada rasa tak suka dan kesal saat mendengar kata demi kata tadi.
"Dia masih tak tentu arah, mungkin akan lurus jika bersama kamu." Sela wanita itu lagi, ingin menunjukkan niatan yang sesungguhnya. Jadi disini, maksudnya apakah Rea yang diuji untuk mengubah hidup seseorang?
"Bu Nindi bilang, Nando lelaki yang baik dan-"
"Secara umum memang dia baik. Mencintai keluarga, pekerja keras, dan sopan. Bukankah manusia memiliki kelebihan dan kurangnya?"
__ADS_1
"Jadi apa yang dilihat saya selama ini bukanlah yang sebenarnya?"
"Tentang?"
"Tentang keseriusan dia."
Bibir Nindi seketika terkatup. Ia ingin langsung menyangkal, namun juga tak yakin. Sehingga yang keluar dari mulutnya hanya jawaban aman. "Saya tidak tahu. Kamu lebih baik tanyakan langsung padanya" Jawab wanita itu dengan lembut.
Ia sebenarnya kasihan pada Rea yang sendiri dna kesepian. Untuk itu dia berinisiatif memberi wanita yang sudah setia dengannya pendamping hidup. Perlahan, tangan Bu Nindi terulur ke atas melingkapi bahu Rea. Kemudian mengelusnya pelan untuk menenangkan seperti seorang kakak pada adiknya.
"Saya hanya berniat menyatukan dua orang yang sendiri. Tapi jika ternyata tindakan saya membuat salah satunya terluka, saya minta maaf Re." Rea dengar dan melihat, ia tahu benar ucapan bosnya itu tulus dari hati.
Rea pun mengangguk perlahan menerima permintaan maaf itu. "Ngga apa-apa Bu. Lebih cepat tahu lebih baik."
"Kamu pucet banget. Sakit?"
Wajah Rea yang biasanya segar memang nampak pucat. Pandangan matanya sayu, bibirnya sudah tak merah segar, ia seperti kehilangan banyak darah.
Bu Nindi langsung mengangguk mengerti, diliriknya jam tangan rolex di sebelah kiri kemudian memandang arah pintu cafe, seperti tengah berstrategi.
"Kamu bisa pulang sekarang. Saya nunggu Mas Danu, sebentar lagi pasti sampai."
Intinya, ketika dikenalkan dengan seseorang yang baru. Wanita harus pandai menjaga ucapan, diri dan hati. Jangan sampai ucapan kita terlalu berlebihan, seperti ingin begitu diperhatikan, terlalu manja atau terlalu menggoda. Jangan pula kita mudah memasukkan setiap tindakan dan ucapan dia ke dalam hati, alias tidak boleh dengan mudahnya terbawa perasaan. Terakhir, ketika belumlah ada sebuah kepastian dalam hubungan, dalam hal ini adalah pernikahan. Jangan mudah mau menyerahkan diri kalian padanya. Jangan dan jangan.
...***...
Menunggu sebenarnya bukanlah keahlian Aero. Walaupun sebenarnya dia seorang penyabar. Pernah suatu ketika, ia diminta menunggu Ibunya di sebuah persimpangan jalan. Mereka ada janji makan siang, namun hingga sore tiba wanita tercintanya itu tak kunjung datang. Tak ada pesan masuk untuk pembatalan, juga Aero tak bisa menghubungi balik Mamanya. Sampai akhirnya, di saat Adzan Magrib berkumandang Aero memutuskan menyerah untuk menunggu.
Setelah beberapa hari berlalu, baru dia tahu jika Mamahnya tak bisa datang karena pergi dengan Papanya-lelaki egois yang tak pernah berusaha mengambil hati anak lelakinya.
__ADS_1
Sebuah mobil warna merah berhenti tepat di depan rumah yang sedang Aero kunjungi. Ia mendongak, untuk melihat siapa selain dirinya yang akan bertamu. Pasalnya ini baru jam 3 sore dan sang pemilik rumah tak akan pulang awal. Apakah si dosen berkacamata itu? Aero langsung menegakkan badannya. Berdiri seperti tuan rumah di depan pintu.
Brak
Suara pintu mobil ditutup disusul melangkahnya seorang wanita dengan gontai ke arah Aero, membuat lelaki ini bersiaga. Matanya menyipit, menilai dengan seksama ada apa dengan Regina Athalia sore ini.
"Sore seperti ini sudah mabuk?" Sapanya tanpa basa-basi begitu Rea hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Bibir wanita itu mencebik, kesal bercampur geram. Ingin marah sudah tak memiliki tenaga. Jadi dia hanya berusaha menutup telinga dan mata akan kehadiran si jangkung Aero.
"Hanya karena dosen itu, kamu minum? Ck bodoh." Cela Aero lagi tanpa tahu malu. Bahkan saat Rea sudah mendorong pintu ke dalam ingin masuk, lelaki itu mengekorinya. Belum lagi menutup dan mengunci begitu saja, layaknya rumah sendiri.
"Kamu pengangguran? Tidak punya pekerjaan?"
"Apa?"
Rea tak menjawab, dia meneruskan langkahnya ke arah ruang tengah dan dapur. Mengabaikan Aero di dalam huniannya.
"Hey!!!" Teriak Aero, yang dengan reflek merengkuh pinggang Rea saat wanita itu hampir terjerembab. Beberapa detik Aero terlewat, dahi wanita itu pasti sudah membentur sudut meja makan. Memar, sobek atau mungkin bocor.
"Kenapa?" Tanya Aero lagi dengan masih menopang tubuh Rea agar berdiri sempurna. Dari jarak sedekat ini Aero sedikit sangsi, pasalnya dia tidak mencium bau alkohol sama sekali. Yang ada hanyalah parfume yang masih menguar segar di sekitar tubuh Rea.
"Kamar." Bisik wanita itu sangat pelan. Walau begitu, Aero mampu mendengarnya. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan terpaku. Wanita dalam pelukannya ini ingin ke kamar? Tidakkah Rea tahu apa yang mungkin bisa terjadi di dalam sana jika hanya ada dua manusia berbeda jenis yang sudah dewasa? Terlebih salah satunya sedang setengah sadar. Bisa saja dimanfaatkan oleh pihak yang sadar 100 persen.
"Kamu ngga takut?"
"Kamar." Lagi-lagi bibir Rea hanya menggaungkan itu. Memang Aero tak bisa melihat bagaimana ekspresi Rea saat ini. Dia hanya memandangi punggung dan kepala belakang wanita dalam rengkungannya. Namun sudah cukup membuatnya tahu apa yang Rea pikirkan.
"Aerooohh."
__ADS_1
"Shit!! Jangan panggil aku dengan cara seperti itu."