
Jika ada yang mau mengatakan Rea itu sangat kuno, maka katakanlah. Dia tidak akan marah. Masalah kehidupan bebas jaman sekarang dia tak terlalu mengikuti, pun tidak juga mengacuhkan. Dia tahu batasan, dia tahu sampai mana sebuah hubungan. Pada saat bersama Arka, dia hanya memberi sedikit kontak fisik. Wanita yatim piatu ini tak terlalu merespon tiap ajakan aneh calon suaminya kala itu. Rea tetap memegang prinsip ketimurannya. Dan itu sangat berbanding terbalik dengan Rena-adik tirinya yang sudah dihamili diam-diam oleh Arka. Benar-benar manusia tanpa rasa malu mereka.
Adiknya itu seperti dibebaskan pulang malam, tak masalah pergi dan pulang dengan siapa-selama temannya itu kalangan atas. Hasilnya, itulah. Rena belum meluluskan kuliah dan dia harus menjadi seorang ibu di usia muda.
Regina Athalia
Pertemanan kita sampai disini aja ya Mas. Semoga kamu segera bertemu orang yang tepat. Aku akan hapus nomor HP ini, bukan karena aku jahat. Tapi kita harus menata hidup masing-masing.
^^^Nandho^^^
^^^Kamu memutuskan silaturahmi sepihak Rea.^^^
Regina Athalia
Aku tahu, maaf sekali lagi. Tapi aku takut.
^^^Nandho^^^
^^^Apa yang ditakutkan?^^^
Regina Athalia
Jawaban kamu tadi.
^^^Nandho^^^
^^^Ok. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku pikir tinggal selangkah lagi menuju pernikahan. Tapi ternyata semua itu masih sulit. Aku harus memulai semua kembali dari 0. Berkenalan, berkencan dan mengenalkan pada orang tua.^^^
Regina Athalia
Semoga kamu segera mendapatkannya Mas.
^^^Nandho^^^
__ADS_1
^^^Aku pikir itu kamu.^^^
Tak Rea balas lagi pesan Nando. Ia memutuskan untuk menghapus nomor ponsel pria itu, juga meng-unfollow akun instagramnya. Tindakan yang harus dia lakukan. Agar tidak ada saling stalker dan menganggu. Rea ingin hidup lebih bahagia lagi dari ini. Ok, pernikahan bersama Arka gagal, dengan Nandho pun tidak bisa. Itu artinya Rea harus benar-benar menemukan lelaki yang benar. Tidak hanya Nandho yang kembali memulai dari nol, dia pun juga. Bahkan Rea sudah 2 kali ini memulainya dari nol.
Beruntung ia belum terlalu terbawa perasaan. Ia baru sedikit merasa nyaman menemukan sosok dewasa dan pendengar yang baik. Selebihnya, Rea masih bisa meng-handle hatinya. Tak ada air mata, yang ada hanya senyum optimis kalau setelah ini dia akan jadi wanita dengan kepribadian lebih baik lagi.
Ada yang bilang, jodoh adalah cerminan diri. Maka untuk mendapatkan jodoh yang baik, Reanpun harus meng-upgrade dirinya. Tak ada ciri khusus yang Rea pasang, tampan bukan prioritas utama, kekayaan juga bukan hal yang dia kejar. She just wanted someone who would take responsibility for her life. That's it.
...***...
Belum hilang rasa takut beberapa hari kemarin saat berbalas pesan dengan Bibi Yul. Kali ini, ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu rumah yang begitu keras. Memang ruang tamu belum dia matikan lampunya, namun jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Siapa yang ingin bertamu waktu seperti ini?
"Assalamu'alaikum Mba!"
Kembali suara salam terdengar dari balik pintu. Wanita yang tidak memiliki saudara sekandung ini berdiri dari kursi makan, membalikkan badan. Ia tengah mempelajari jadwal Bu Nindi pekan depan. Dan disaat dia harus mengatur apa saja list tiap pertemuan, suara itu tak henti-henti terdengar.
"Wa'alaikumsalam." Bisik Rea dengan wajah penuh perhitungan. Apakah dia harus membuka atau tidak? Jika dibuka, ia takut sesuatu akan terjadi.
"Mba Rea!! Ini Pak RT!"
Kerutan langsung muncul di kening Rea, ia melihat ada beberapa laki-laki yang menyampirkan sarung di lengan dan membawa senter di teras rumahnya. Ah mungkin benar itu adalah bapak-bapak yang sedang ronda.
"Iya Pak?" Seru wanita itu ketika pintu terbuka dan menampakkan benar wajah Pak RT. Untuk sesaat Rea merasakan kelegaan yang luar biasa.
"Untung belum tidur. " Balas bapak yang paling depan berdiri di hadapan Rea.
"Ada apa memangnya pak? Rakai-ramai kesini." Mencoba tenang, Rea menanyakan hal itu lebih dulu.
"Di rumah ada siapa?"
Hmm? Sebelum menjawab, lebih dulu Rea mencerna baik-baik pertanyaan itu. Apa maksudnya ini? Kakinya perlahan mundur, genggaman tangan di gagang pintu pun makin kencang. Bersiaga untuk hal yang entah apa.
"Tadi, saya liat ada orang pakai topi, masker terus jaket hitam berkeliaran di depan rumahnya Neng. Mondar-mandir ngga jelas setelah turun dari mobil. Kita samperin mau tanya, eh malah keburu kabur. Jadi-"
__ADS_1
"Orangnya udah pergi kan pak?" Potong Rea yang sudah was-was mendengar ceritanya. Ia teringat omongan Bibi Yul tentang rencana Ibu tirinya.
"Udah neng, tapi ngga tahu kalau bisa sewaktu-waktu balik." Ucap bapak di sebelah kanan Pak RT.
"Kita takutnya Mba Rea kenapa-kenapa, apalagi di rumah sendirian." Kali ini Pak RT menambahkan.
"Makasih Pak udah khawatir."
"Sementara tidur di rumah depan dulu aja. Biar aman." Usul Pak RT sambil menunjuk rumah tepat di seberang yang merupakan pemilik asli rumah sewaan ini.
"Tapi nanti-"
"Udah! Nanti saya yang bilang."
Pak RT dan teman-temannya seperti memaksa. Mungkin niatan mereka baik, tapi itu tetap membuat Rea takut. Bayangkan saja, dia wanita lemah yang dikeroyok oleh lima bapak-bapak di depan rumah. Apa kata orang dan ibu-ibu tukang gosip jika melihat ini?
Pasti sudah habis dia dipermalukan.
Akhirnya, usai perdebatan singkat itu. Rea malam ini mengungsi di salah satu kamar di rumah mewah Ibu Dina. Lewat dini hari, dia terus memikirkan siapa yang datang berkeliaran di depan rumahnya. Apakah suruhan dari Ibu tirinya atau si jutek lelaki yang tadi Rea temui di lift-karena pria itu sering datang tanpa diundang. Atau satu kemungkinan lagi, apa mungkin itu Nandho?
Ok, daripada menebak-nebak tidak jelas. Rea memberanikan diri untuk menghubungi Braga Assavero lebih dulu. Namun ketika sambungan pertama tidak diangkat, Rea sadar jika waktunya sudah sangat tidak tepat. Ini bisa dikatakan mengganggu privasi orang. Ini adalah waktunya memeluk guling dan bergelung di bawah selimut.
Rea mengurungkan niatnya. Mungkinkah itu benar Aero? Pikirnya kembali. Rasanya tidak mungkin, karena pria itu saja tadi siang begitu terlihat tidak mood. Ia tahu, mungkin kemunculannya tadi bisa memberikan asumsi negatif pada wanita yang digandeng Aero alias Aero tidak ingin orang yang ada di sampingnya cemburu.
Apa yang tadi pagi Rea katakan? Meminta no rek? Hah untungnya. Tidak terlalu aneh. Semoga saja kekasih Aero itu tidak marah.
Dret
Karena kebetulan Rea belum menutup Chat WA dengan Aero, secara otomatis dia langsung membaca pesan tersebut.
Kenapa? Kangen aku?
Mulut Rea terbuka tak percaya dengan apa yang dia baca. Percaya diri sekali pria tinggi ini?
__ADS_1
Dan didetik berikutnya, tidak ada lagi tampilan pesan itu, layar ponsel Reabsudah berganti menjadi notifikasi telefon yang meraung-raung.
Aero The Kidnapper is calling...