Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 30


__ADS_3

Menyesal pun rasanya tidak cukup untuk menggambarkan perasaan Aero seminggu kemarin. Ia hanya kesal kenapa harus membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan kecil dan menunggu mantan sandranya pulang kencan. Itu aneh kan? Ia sandra, orang yang sempat ia sekap di sebuah kamar hotel di detik menjelang prosesi ijab kabul. Sebuah kejadian yang seketika menghancurkan banyak kebahagiaan wanita itu.


"Kenapa harus diikuti Mas?" Tanya asisten rapi itu padanya ketika mendapat tugas untuk mengikuti Rea-sekitar 3 bulan yang lalu. Jordi tengah berada di ruang kerja Aero yang berada di lantai 5 gedung.


Aero diam. Ia masih serius menonton pertandingan tinju yang tersaji di layar LCD besar. "Kasihan." Ujarnya ringan.


Ya, hanya itu alasan singkat dia selama ini sering muncul di kehidupan Rea. Aero seperti mengingat dirinya yang dulu. Berkeliaran di jalan untuk memenuhi rasa penasarannya, namun beruntung masih ada sang Mamah yang memberi perlindungan. Lain hal dengan Rea, wanita itu tak memiliki backing apapun, entah saudara atau orang tua tiri. Murni memisahkan diri dari rumah dengan bekal sakit hati.


"Hanya kasihan?" Ulang Jordi seperti tidak percaya dengan jawaban bosnya. Ia melangkah lebih dekat, berdiri tepat di belakang kursi Aero sekitar 3 langkah.


"Kamu berharap saya suka sama dia?" Suara tegas dan dingin masuk ke indera pendengaran Jordi. Membuatnya harus waspada.


"Ya mungkin saja Mas. Dia cantik dan baik. Mas Aero jarang memberi tugas macam itu. Baru kali ini." Jelasnya dengan intonasi yang memelan di akhir kalimat.


Dengan begitu tak peduli Aero merespon. "Iya kah?"


Jordi mengangguk pasti di belakang tubuh Aero.


"Jawab!" Bentak Aero yang tak tahu jika Jordi sudah membalas dengan bahasa tubuh.


"I-iya Mas."


Walaupun kaget, Jordi masih bisa mengeluarkan sedikit suara. Nyalinya tadi hampir menciut, begitu Aero mulai membentak.


Menemani bosnya menonton pertandingan adalah salah satu pekerjaan wajib Jordi. Dia harus bisa menjawab pertanyaan Aero terkait informasi sang petarung, atau kadang hasil akhir pertandingan. Sebab tak jarang, Aero hanya berhasil menyaksikan sepertiga dari 12 ronde yang direncanakan.


"Kalau di antara kami ada yang suka?" Dengan keberanian yang tersisa sedikit, Jordi mencoba menanyakan hal paling aneh yang pernah dia pikirkan. Asal saja, tak berniat sama sekali untuk serius.

__ADS_1


Pertandingan makin seru, Aero sangat berkonsentrasi hingga pertanyaan Jordi pun sepertinya tidak sampai ke telinganya. Syukurlah, asisten pribadi itu sempat merasa beruntung karena Aero mengabaikan kekepoan-nya.


"Silahkan, asal kalian bisa menang melawan saya di ring."


Dan jantung Jordi serasa dihantam dari arah depan tanpa aba-aba. Mengagetkan sekaligus menyakitkan. Ia langsung menelan ludahnya susah payah. Melawan Aero di ring, terutama jika dalam keadaan emosi adalah bencana. Aero akan membabi buta dalam memberikan pukulan, terlebih jika didorong oleh rasa marah. Seperti halnya saat dulu Mamahnya tidak hadir dalam satu pertandingan Aero, pria itu berhasil membuat lawannya tersungkur di ronde ketiga-itu karena Aero mengulur waktu. Sang lawan berhasil pingsan karena pukulan yang mengenai rusuk dan rahang bawah, sadis. Petarung itu seperti disiksa lebih dulu sebelum akhirnya dikalahkan.


Bukan marah pada Mama, tapi pada lelaki tua yang melarang orang tercintanya datang. Siapa lagi jika bukan ayahnya sendiri-Tuan Danunjaya. Ia sengaja membawa pendukung setia Aero itu pergi ke luar kota, dengan dalih menghadiri undangan pernikahan anak rekan kerja. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka berlibur.


Tapi bukan itu saja yang Jordi pikirkan. Benarkah Regina Athalia tidak boleh Jordi maupun Ardi sukai? Mereka tidak boleh mendekati gadis itu? Ah, akan Jordi pikirkan nanti bersama rekannya. Saat ini, ia hanya harus fokus ke layar.


Lama ikut menyaksikan pertandingan tinju yang sudah memasuki ronde ke 5, Jordi kemudian teringat sesuatu. Tak ingin membuat mood bosnya makin hancur, pria penakut ini memilih kata yang tepat untuk menyampaikan.


"Mba Arin kemarin telefon saya." Ujarnya dengan jantung yang berdebar-debar seperti ingin menyatakan cinta. Antara takut dan tegang. Padahal yang sebenarnya terjadi bukan demikian. Arin kemarin datang ke kantor.


"Lalu?"


"Dia tanya kapan jadwal Mas kosong."


"Kamu jawab apa?" Jordi tahu, Aero sudah merasa terganggu. Terlihat dari tangannya yang sudah mulai menggapai remot.


"Hari ini kosong, ta-"


"Sibuk. Saya mau pergi."


"Mba Arin u-"


Tanpa mendengar apa kelanjutan kalimat Jordi, Aero langsung menekan tombol power merah pada remot dan bergegas meninggalkan ruangan. Sambil berjalan di sepanjang lorong kantor, Aero mengenakan jasnya. Sukses membuat para karyawan yang berpapasan menunduk hormat karena tatapan mata pria itu yang seperti serigala. Baru jam 2 siang, tapi anak laki-laki semata wayang ini sudah tidak betah lagi duduk di kursinya. Memang bukan tipe pekerja ruangan, dia tidak bisa duduk diam. Ya bagaimana bisa dia kuat dengan kertas dan laporan-laporan kasus? Sementara jiwanya sendiri adalah berhubungan dengan otot dan strategi menjatuhkan tubuh lawan.

__ADS_1


Dia tidak tahu harus kemana, begitu memasuki mobil baru yang terparkir di halaman belakang kantor, Aero hanya duduk malas. Menghindari seseorang yang tak ingin ditemui. Baginya lebih baik berdekatan dengan orang yang membencinya daripada Aero harus berdampingan dengan orang yang jelas-jelas ia benci. Apa kalian paham maksud dari kalimat itu? Sedikit rumit tapi sebenarnya tidak.


Sebelum seseorang berhasil menemukannya, Aero memilih menghilang dari area kantor. Pulang ke rumah enggan, berkunjung ke markas bosan, ke sasana malas. Selama 30 menit, Aero hanya membawa mobilnya mengelilingi Jakarta Pusat. Beruntung bukan di jam ramai, jalanan sedikit lengang dan ia bebas memacu kecepatan mobil mencapai 200 km/jam-di jalanan tertentu saja.


...***...


Rea akhinya memberanikan diri untuk menyampaikan perkembangan kisahnya dengan Nando kepada Bu Nindita. Cepat atau lambat memang bosnya itu harus tahu yang sesungguhnya. Bertempat di sebuah cafe, brunch tepatnya. Rea menemani Bu Nindi menunggu tamu, yang entah benar atau tidak akan datang. Pasalnya wanita cantik ini seperti tengah menghindar dari suaminya. Sehingga beralasan ada janji temu dengan client. Rekan bisnis yang sudah satu jam tidak juga datang.


"Sepertinya kita ngga cocok Bu. Mas Nando sedikit..." Rea menggantungkan kalimatnya. Sukses membuat Bu Nindi mengernyitkan kening dengan ekspresi penasaran.


"Kaku?"


Rea menggeleng.


"Kasar?"


Lagi, hanya gelengan yang wanita itu berikan.


"Ngga nyambung?"


Kali ini tangan Rea memberikan isyarat sebagai jawaban tidak.


"Apa dong Re? Saya ngga paham."


Karena malu untuk mengatakan, Rea pun berinistif membisikkan hal tersebut pada Bu Nindi. "Ah perlu banget bisik-bisik?" Tanya wanita itu malas, tapi justru berbanding terbalik dengan gerak tubuhnya yang condong ingin mendengar bisikan Rea.


Bu Nindi hanya mengamati Rea dengan wajah yang begitu aneh. Ia tak kaget atau terkejut dengan fakta yang Rea sampaikan tentang Nando. Seperti itu adalah, hal yang biasa.

__ADS_1


Dan ternyata benar apa dugaan Rea. Hal tersebut diperkuat dengan kalimat yang bosnya sampaikan. "Lelaki seumuran dia memang begitu. Apa kamu baru tahu? Saya kira kalian sudah sampai ke tahap saling memuaskan."


Apa? Rea syok mendengar ucapan bosnya itu. Semurah itukah dia?


__ADS_2