
Malu.
Hanya kata itu yang dapat menggambarkan kondisi Aero saat ini. Ia ingin sekali menyembunyikan wajahnya. Atau menghilang dalam sekejap. Atau mungkin jika bisa, ia hapus ingatan Rea mengenai kejadian beberapa menit yang lalu. Tindakannya benar-benar out of contol, kenapa bisa? Apa gara-gara berteman dengan Bordes Alexander, dia tertulir sikap dominan dan semaunya sendiri? Karena ia masih ingat dengan pasti, bagian cerita saat Bordes menyerang istrinya ketika status mereka bukan apa-apa. Betapa gilanya lelaki itu kan? Apa dia tidka punya rasa malu? Detik ini saja, Aero yang tersadar akan tindakan bejatnya pada Rea hanya bisa menundukkan kepala.
Bukannya menjadi makin percaya diri dan yakin seperti Bordes, Aero justru mendadak tak memiliki nyali untuk menegakkan kepala. Harus bagaimana dia bersikap pada wanita yang hampir dia lecehkan ini?
"Aku minta maaf." Akhirnya kalimat itu terucap dari bibirnya, setelah lebih dari satu tahun. Entah maaf untuk yang mana, yang jelas wanita cantik yang masih berdiri di sudut kamarnya ini mengangguk saja.
Usai Aero berhasil membawa Rea memasuki kamar pribadinya tadi dengan cara menggendong tubuh wanita itu. Sekilas sudut matanya menangkap pantulan aktifitasnya dan Rea dalam sebuah cermin. Mendadak dia meregangkan rengkuhannya, menjauhkan bibirnya yang sudah dengan seenak hati berlabuh di sepanjang leher jenjang mantan wanita yang dia sekap. Iapun mundur, memberi jarak hingga keduanya bisa bernafas. Sementara Rea memilih sudut kamar untuk menenangkan diri, Aero justru duduk di tepi tempat tidur.
Untuk beberapa saat, tak terdengar suara sedikitpun di dalam kamar yang pintunya masih terbuka. Aero sedang menunggu jawaban, karena tidak juga mendapatkannya, dengan keteguhan hati matanya mulai mencari keberadaan Rea. Ia menangkap dan mendapatkan sosok cantik berkaos dan celana pendek itu tengah berdiri memeluk dirinya dan menundukkan kepala.
"Aku akan keluar. Temui aku di meja makan kalau kamu merasa lebih baik." Katanya sambil berdiri dan melangkah menuju pintu. Diraihnya jaket kulit yang tergeletak di bawah lantai, ia sendiri lupa kenapa bisa teronggok disana.
"Kamu lebih baik pulang." Celetuk Rea tiba-tiba saat Aero hampir mencapai pintu. Suaranya terdengar tegas dan lantang. Tak ada keraguan sedikitpun saat mengucapkannya.
Mendengar penolakan Rea yang tak ingin menemuinya, Aero merasakan de javu. Dulu sekali, Regina Thalia juga sering mengatakan hal macam ini padanya. Tentu dengan wajah terangkat yang menunjukkan keseriusan. Aero menggeleng tanpa menoleh sedikitpun pada Rea.
"Aku tunggu." Katanya sebelum benar-benar menutup pintu dari luar. Rea pasti membutuhkan waktu untuk bisa bersikap tenang. Tapi layaknya dunia terbalik. Justru disini, Aero yang sulit mendapatkan ketenangan. Jantungnya mendadak bergemuruh. Nafasnya memburu dan keringat mulai membasahi pelipisnya. Keringat mengalir pelan hingga menetes di sisi kaos yang dikenakan.
Ada apa ini?
Berpikiran wanita selalu membutuhkan waktu lama dalam segala urusan, Aero sedikit terkejut begitu mendengar gagang pintu diputar. Dari dalam sana muncul Rea dengan penampilan yang masih sama namun dengan ekspresi wajah yang datar. Secepat kilat Aero pun mengikuti apa yang Rea lakukan. Ia juga tak ingin nampak canggung dengan hal ini.
"Aku kasih waktu hanya 10 menit buat kamu ngomong." Katanya ketus setelah mendudukan diri di kursi. Kedua tangan Rea senantiada berada di bawah meja, mungkin menyembunyikan keresahannya.
"Aku tidak bisa bicara panjang lebar."
Mulut Rea terbuka begitu lelaki berkaos putih ini mengatakan suatu hal yang menunjukkan jika dirinya ingin sekali pergi dari rumah itu. Hampir saja Rea kehabisan kata-kata. Namun beruntung, ia cepat kembali menemukan kewarasannya.
"Baik. Satu menit." Celetuk Rea pada akhirnya. Dirinya pun tidak ingin Aero berlama-lama disini. Terlebih lagi, mereka baru saja melakukan kontak fisik yang intim hingga bisa memancing gairah.
"Kita berdua sudah sama-sama dewasa, kita bisa menanggapi semuanya dengan bijak. Maaf untuk agresitifas yang mendadak muncul. Itu sepenuhnya terjadi di luar kendali."
Apa maksudnya di luar kendali? Ingin sekali Rea mendebat, namun dia yakin pembicaraan akan semakin berlarut-larut. Lebih baik dia menjadi pendengar yang baik. Menunggu hingga Aero mengungkapkan apa yang ada di pikirannya terlebih dahulu, baru Rea akan merespon. Ia penasaran, akan apa yang selama ini ada di otak Aero tentang dirinya.
"Kita sama-sama sudah keluar batas." Tambah Aero sambil menatap lekat mata indah Rea. Apakah wanita itu akan membantah karena Aero berani bilang keduanya sama-sama keluar batas? Tidak. Sebab di akhir ciuman mereka, Rea sedikit membalas. Walaupun hanya sepersekian detik. Iya. Aero merasakannya.
__ADS_1
"Masalah di antara kita bukan tentang pemuda tadi. Aku tahu. Ini bermula dari kejadian satu tahun lalu. Waktu itu kamu bilang-"
"Aku sudah tidak mempermasalah itu. Hak kamu untuk menolak ataupun diam. Aku saja yang terlambat menyadari." Potong Rea dengan cepat, ia hanya ingin menunjukkan jika dirinya sudah move on. Dirinya tidak perlu Aero kasihani. Sejauh ini dia kuat dan masih bisa hidup dengan layak dan bahagia.
"Bukan itu."
Tak kalah tegas dengan Rea, Aero pun menunjukkan eksistensinya. Bisa-bisanya lelaki yang tadi merasa malu dan gelisah ini mendadak kembali pada jalurnya.
"Aku tahu kamu bijaksana. Mudah memaafkan, tidak suka berbuat kesuruhan, tidak memaksaan sesuatu. Sampai pada hal yang harusnya kamu benci atau abaikan, pun kamu masih mau menoleh. Tentang pertanyaan kamu saat itu. Aku diam karena aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Baru kamu wanita yang mengatakan hal itu dengan bahasa yang halus."
Keing Rea berkerut mendengar rentetan kata-kata Aero yang terakhir. Dia kurang memahami apa maksudnya.
"Terus terang, aku tidak terlalu suka jika didekati dengan sangat intens oleh wanita. Entah itu karena wanitanya terlalu agresif, sudah membosan atau tidak lagi menarik. Tapi yang jelas, kamu bukan salah satu di antara itu. Jangan salah sangka."
"Terimakasih sudah datang dan menjelaskan."
"Kita masih bisa berteman?"
Untuk beberapa alasan, yang Rea lakukan hanya memandangi Aero dengan getir. Bisa-bisanya lelaki itu memberinya harapan palsu, menghilang, datang lagi dan kini menawarkan pertemanan? Cih.
"Tidak ada laki-laki dan perempuan yang murni berteman. Pasti ada salah satu yang melibatkan perasaan. Jadi, lebih baik tidak perlu ada pertemanan. Kalau-"
"Hallo? Iya boleh. Makasih." Singkat dan jelas. Setelahnya Rea segera mematikan ponsel, meletakkannya kembali ke atas meja. Tahu suasana mulai tidak menyenangkan, sebisa mungkin Rea mengambil nafas. Butuh banyak oksigen untuknya berpikir, sebab dia tidak boleh kelihatan bodoh.
Masih setia menunggu tanpa memutus atensinya dari gerak-gerik Rea, Aero melipat kedua tangannya di atas meja. Seperti bersiap untuk mendengarkan lagi suara hati wanita dengan kulit mulus ini.
...***...
Beberapa menit berlalu, tak juga Rea bersuara. Lama-kelamaan petinju inipun makin tak betah. Ia seperti tak dianggap meski Rea sedang duduk di hadapannya.
"Kamu baru potong rambut?" Tak ada angin dan hujan, kenapa tiba-tiba pertanyaan itu yang Rea keluarkan?
"Iya. Beberapa bulan kemarin, aku memanjangkan rambut untuk suatu kompetisi."
Perlahan Rea mengangguk, ia mencoba untuk tidak menanyakan kompetisi apa yang Aero ikuti. Itu pasti akan membuatnya terlihat perhatian. Perhatian dan peduli adalah hal-hal yang tidak Aero sukai. Apakah mungkin ketidaknyamanan Aero mendapat perhatian dari wanita karena dia sendiri sudah memiliki seseorang?
Tok tok tok
__ADS_1
Terdengar pintu utama yang diketuk. Lebih dari dua kali itu terjadi. Mendapati Rea-tuan rumah-hanya diam, tak ada indikasi untuk bangun dan membukanya. Aero pun bangkit. "Let me!"
Hal pertama yang muncul di balik pintu adalah seorang pria berjaket hitam yang menenteng sesuatu di tangan kanannya. Helmpun masih terpakai savety di kepalanya.
"Regina?!" Tanya pria itu sambil menunjukkan bungkusan di tangan.
"Iya. Berapa Mas?"
"Maaf?" Pria berhelm itu tidak mendengar apa yang Aero katakan, terlebih saat Aero mulai membuka dompet seperti akan membayar.
"Berapa?" Ulang Aero untuk kedua kalinya. Bukankah saat kurir mengantarkan makanan, yang harus dilakukan selanjutnya adalah membayar? Mungkin tadi Rea menerima telefon dari Abang-abang yang akan mengantaf makanan ke rumah.
Wajah lelaki berhelm itu terlihat bingung. Ia seperti berusaha untuk menjelaskan sesuatu. "Saya-"
"Antar makanan kan?" Potong Aero dengan cepat.
"Regi-"
"Ardan?!"
Teriak Rea dari arah belakang Aero. Tanpa menoleh, Aero tahu Rea sedang melangkah ceoat ke arah mereka. Siapa tadi? Ardan? Tentu Aero tak bodoh untum menutup telinga. Ia jelas mendengar.
"Hai Mas. Baru pulang dari mana?"
"Dari Jogja, cape banget."
"Masuk dulu nanti aku ambilin minum. Dibilang ngga usah bawa makanan."
"Ngga apa-apa, sekalian lewat sini."
Tolong sadarkan Aero, dia sekarang masih mematung di dekat pintu sambil melihat interaksi Rea dan si Ardan itu. Wanita cantik berkulit putih itu menyambut kedatangan Ardan dengan baik. Dan apa tadi? Mas??
"Mas saudaranya Regina?" Suara Ardan barusan membuyarkan lamunan Aero. Rea sedang mengambilkan minum dan Ardan sudah duduk nyaman di salah satu sofa. Jaket yang Aero kira milik gojek atau grab itu sudah ditanggalkan. Menyisakan sebuah seragam berwarna putih yang disana terpasang jelas label DAOP 1.
Jadi Masinis? Tanya Aero dalam hati.
Huuft setelah cukup lama ngga update. akhirnya bisa melanjutkan lagi ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa vote, comment yaa guys