
Apa maksud dari tindakan Aero yang membayar jasa perawat pribadi beserta biaya rumah sakitnya? Apa niatan di balik itu semua? Aneh, pria itu bahkan tak pernah menunjukkan dirinya selama seminggu ini. Pesan Whatsapp yang Rea kirimkan 2 hari lalu belum juga dibaca. Telfon pun tak diangkat oleh lelaki itu, entah benar-benar sibuk atau hanya menghindar.
Sampai sekarang, Rea tidak bisa mengetahui arah pikiran lelaki bertinggi lebih dari 180 cm itu. Dia kira, setelah tanda tangan surat kesepakatan itu, Aero sudah benar-benar tak akan muncul di kehidupannya. Lagi, masalah hutang piutang dengan Arka sudah teratasi. Lalu kenapa masih saja dia menampakkan dirinya di rumah Rea secara tiba-tiba dan tak terduga? Ada misi apa sebenarnya? Secara dilihat dari segi manapun Rea tidak memiliki hal yang menarik. Tidak juga kaya, tidak terkenal, tidak berbakat, tidak modern seperti wanita jaman sekarang. Dia kaum wanita yang apa adanya.
Jika kembali mengingat, biaya Rea dirawat di rumah sakit sebesar 2,5 jutaan, sedangkan jasa untuk Desi selama 3 hari adalah 9 juta. Antara siap dan tidak siap, Rea berat sebenarnya mentransfer uang sejumlah 12,5 juta itu ke Aero. Pasalnya, tabungan yang dia miliki mulai berkurang seiring dengan pembayaran jasa advokat. Ingin sekali dia menelefon Aero dan meminta keringanan agar Rea bisa membayarnya bertahap. Tapi, sampai detik ini Braga Assavero Danunjaya belum juga memperlihatkan dirinya. Desi tak banyak tahu tentang pria itu, ia hanya diberikan tugas oleh seseorang suruhan Aero.
"Mba Rea, hati-hati ya mulai sekarang."
"Kenapa Bi?"
"Ibu kaya kirim seseorang buat mata-matain Mba."
Deg
Rea langsung bangkit dari posisinya semula.
"Maksudnya gimana?"
"Ngga tau gimana, tapi Bibi denger Ibu ngomong 'liatin anak itu, kalau macem-macem kamu sikat aja', gitu Mba." Jelas Bibi dengan suara pelan bisik-bisik. Sudah pukul 23.10, mereka masih berkabar dan saling memberikan informasi.
"Bentar Bi."
Rea menajamkan pendengarannya. Sempat disaat Bibinya menjelaskan di telefon, tertangkap di telinga suara gaduh-yang entah apa.
"Kenapa Mba?"
"Saya keluar sebentar." Tak ada salahnya untuk lebih waspada. Rea memeriksa keadaan rumahnya, memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Dia sendirian, dan didatangi maling tentu bukanlah hal yang kecil. Ia tidak punya keahlian bela diri, tidak punya pula keberanian yang besar. Jadi, modal utama jika benar ada penyusup adalah suaranya saja. Suara jeritan meminta tolong.
Bruk
Sesaat Rea melangkah menjauhi jendela samping rumah, ia mendengar suara-yang jelas bukan dia. Jantungnya langsung berdebar, kedua tangannya perlahan bergetar dan keringat dingin mulai muncul di pelipis. Rea merasa, dirinya dalam ketakutan yang luar biasa. Tenggorokannya bahkan seperti tersumbat sesuatu, ketika mulutnya terbuka tak ada suara yang mampu keluar. Jika orang lain melihat, Rea nampak seperti orang yang mengalami gangguan bicara atau gagu. Ternyata untuk bersuara saja rasanya sangat sulit. Tidak seperti yang dia rencanakan.
"Mba! Mba Rea!"
__ADS_1
Ponsel di genggaman tangan kiri Rea mengeluarkan bunyi tersebut. Ah dia baru teringat, ia sedang berbicara dengan ART kepercayaan keluarganya. Segera, dengan langkah yang cepat Rea memasuki kamar. Mengunci pintu rapat, dan menggeser sebuah meja kecil sebagai penghalang tambahan, mungkin-mungkin akan ada yang masuk.
"Bibiii." Rengek gadis cantik itu di balik selimutnya yang tebal. Rea menyembunyikan tubuhnya disana, berharap bisa aman dari segala hal buruk yang akan dilakukan orang lain. Menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin untuk menghindari isakan, walau nyatanya tak dapat dibendung. Matanya sudah berair. Dititik inilah dia sadar, dia tak memiliki pelindung.
...***...
Rea datang ke biro hukum tempatnya meminta bantuan-bersama Bu Nindi. Terkait pengambilalihan harta waris menjadi namanya ternyata tak semudah kelihatannya. Perlu prosedur panjang, dan lagi tiba-tiba saja muncul berita jika Regina Athalia sudah dilaporkan oleh Bapak/Ibunya ke kantor polisi atas dugaan pencurian kertas berharga.
Baru saja malam tadi dia tak bisa tidur, mendengar informasi tersebut Rea yakin sampai beberapa minggu ini ia tak akan tidur nyenyak lagi. Ada rasa tidak tenang, gundah dan takut.
"Perlu mediasi, atau kita balik melaporkan Bapak/Ibu kamu?" Tanya Bu Nindi mewakili Pak Roni selaku orang yang membantu Rea.
"Ha?" Wanita cantik ini tidak terlalu paham.
"Kamu dilaporkan, apa kita mengajukan mediasi atau kita serang balik?"
"Mana yang lebih baik?" Tak tahu harus memilih yang mana, Rea mengembalikan pertanyaan itu pada Bu Nindi.
"Iya. Ajukan saja mediasi." Putus Rea, entah benar atau salah pilihannya. Benar, uangnya sudah terkuras.
Usai melakukan konsultasi panjang dengan tim, keduanya duduk di lobi. Bukan menunggu orang tapi karena ingin menghela nafas panjang. Urusan harta memang menguras semuanya. Andai saja rumah peninggalan Papa tak ada niatan dijual, pasti Rea akan sukarela memberi mereka tempat tinggal.
"Ngga apa-apa, saya bantu."
"Ngga usah Bu, makasih."
"Saya janji kan bantu kamu sampe akhir?" Terang istri kedua Pak Danu itu di samping Rea. Hati wanita cantik itu langsung menghangat dengan perhatian sang bos. Tak menyangka, di dunia ini ada lagi orang yang menyayanginya.
Kepala Rea mengangguk dibarengi senyum simpul. Dia bingung apalagi yang perlu dia ucapkan selain kata terimakasih dan terimakasih.
"Duduk disini sebentar ya. Saya sedang menunggu jawaban Mas Danu." Imbuh Bu Nindi yang sudah kembali mengetik pesan untuk suaminya.
"Iya."
__ADS_1
Rea menghela nafas lagi, nampaknya masalah rumah tak akan selesai dalam waktu sekejap. Sejurus dengan itu, kenyamanannya terusik. Semalaman dia tidak tidur, terus terjaga karena takut penyusup masuk.
"Bu Nindi." Bisik Rea karena ingin menyampaikan sesuatu.
"Kenapa?"
"Saya boleh--sebentar Bu."
Belum sempat Nindi mendengar ucapan Rea hingga akhir. Gadis cantik berambut panjang itu ternyata sudah berdiri dan berlari ke arah lift.
"Rea!!" Teriak Nindi ingin tahu apa yang terjadi, karena nampaknya Rea tengah mengejar seseorang.
"Sebentar Bu!"
...***...
"Akhirnya aku ketemu kamu." Celetuk Rea begitu ia berhasil masuk ke lift yang sama dengan seorang pria yang telah lama dicarinya. Tak hanya mereka berdua, ada beberapa orang lagi berjas rapi berdiri di belakang pria tinggi ini. Juga ada wanita cantik yang merangkul lengan si pria.
Rea tepat berdiri di samping kanan Aero. Matanya melirik, memastikan benar atau tidak lelaki yang suka menganggunya ini adalah orang yang dia cari.
Tak ada suara yang keluar saat Rea menunggu jawaban. Lelaki yang nampak rapi dan wangi itu lurus menatap dinding lift dengan pandangan tegas.
"Aero."
Rea memanggil nama itu perlahan, berusaha menarik perhatian. Namun nihil.
"Aero."
Ulang Rea, kali ini samping menyentuh lengan Aero yang tertutup jas warna hitam. "Aku minta no rek kamu. Aku mau-"
"Tidak perlu dikembalikan. Anggap saja sedekah dari saya." Kata pria itu dengan nada yang dingin. Bahkan seperti tak ingin disentuh, Aero menjauhkan lengannya dari tangan Rea. "Kamu sedang terkena musibah, dan saya bantu kamu." Tambahnya dengan bahasa formal tanpa menatap Rea sama sekali, dia kemudian keluar dari kotak besi itu saat pintu terbuka. Sukses meninggalkan Rea dengan mulut menganga tak percaya.
Waw,pria itu sepertinya sedang menjaga image.
__ADS_1