Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 24


__ADS_3

Rea kurang fokus. Biasanya jika Nando menjelaskan sesuatu, Rea akan antusias mendengarkan dan merespon balik. Namun kali ini, berawal dari sebuah tindakan sangat tak terkira dari Aero,mood Rea hancur. Setelah menonton film, Nando mengajak Rea untuk makan malam tak jauh dari tempat pemutaran film.


Klakson kedua yang Nando bunyikan-sekitar jam 17.10 itu-berhasil menyadarkan Rea dari keterkejutannya waktu itu.Tanpa pikir panjang Rea langsung berlari, menyelamatkan diri dari lelaki asing yang begitu lancang mencium bibirnya tiba-tiba. Dia tidak berpikir apakah Nando melihat kejadian tadi. Pasalnya sikap Nando tak ada perubahan, terlihat biasa saja.Ya walaupun tadi ia sempat bertanya tentang siapa lelaki yang menunggu di teras. Rea hanya menjawab jika pria tadi adalah orang yang mengantar surat berharga milik Bu Nindi-hanya itu dan Nando mengangguk saja. Entah percaya atau tidak.


Tapi sedikit beruntung, kemungkinan tiang besar di teras rumahnya menjadi penghalang pandangan Nando ke arah teras Rea.Pria itu tak turun dari kemudi karena mungkin sudah melihat Rea di teras rumah.Iya seperti itu, mungkin dan mungkin.


Karena barang pasti, jika Nando melihatnya-ia akan bersikap berbeda. Atau mungkinkah sebenarnya Nando tak peduli dengan hal itu?Tidak, Dosen berkacamata ini tak akan seburuk itu. Rea berusaha berpikiran positif.


"Kamu ngga nyaman?" Kalimat tadi akhirnya muncul juga setelah Rea benar-benar mendadak jadi orang yang pendiam.


"Hmm?"


"Kamu terlihat ngga seantusias biasanya.Kurang fokus.Kenapa? Sakit? Banyak pikiran?Atau kita pulang saja? Biar kamu bisa istirahat?" Berondongan pertanyaan-pertanyaan singkat yang terus Nando berikan membuat Rea terperangah.Sejauh ini, tadi adalah kalimat terpanjang yang pernah Nando katakan.


"Kamu ternyata cerewet ya." Ejek Rea pada akhirnya sambil menampilkan seulas senyum.Mencoba mencarikan suasana yang sempat tegang dan kaku.


"Akhirnya kamu tersenyum juga."


"Maksudnya?"


"Sejak masuk ke dalam mobil,wajah kamu sudah berbeda. Aku pikir, mood kamu akan berubah setelah menontom film.Tapi perkiraanku salah, film tetap tak bisa mengembalikan Rea yang biasa."


Berbeda ya? Berbeda seperti apa?


"Muka aku biasa aja."


"Ekspresi kamu bingung bercampur kaget. Memang apa yang laki-laki itu-"


"Setelah ini kita beli ice cream ya Mas?Aku butuh yang manis."


Sudah cukup. Lebih baik Rea menghentikan keinginantahuan Nando saat itu juga. Kejadian tadi tak pantas untuk diceritakan. Bahkan termasuk aib. Rea tidak suka. Tidak mengira Aero akan bertindak senekat itu pada dirinya.

__ADS_1


"Kamu sariawan?"


"Ya?" Rea kaget dengan pertanyaan Nando tadi. Kenapa tiba-tiba sariawan?


"Kamu terus menerus menyentuh bibir kamu."


Benarkah? Rea tak sadar dengan apa yang dia lakukan beberapa jam ini.Tubuhnya hanya mengikuti kemana Nando pergi saja, sehingga tak sadar tindakan apa yang sudah dilakukan.


Berbicara mengenai bibir, Rea ingat apa yang terjadi dengan bibirnya. Ah bukan, Rea bahkan sepanjang jam terus mengingat-ingat itu. Hatinya merasakan sesuatu, dan ia sulit sekali untuk mendeskripsikan. Entah kesal, kecewa, senang atau sedih. Pokoknya dia bingung akan perasaannya sendiri.


"Setelah beli ice cream, bisa kita pulang saja?" Pinta Rea dengan wajah memelas.


"Ok." Terlihat jelas Nando tak begitu menyukai keinginan wanita di hadapannya ini.Ia sebenarnya masih ingin pergi ke beberapa tempat untuk menghibur diri setelah full dua minggu mengajar.


"Maaf ya Mas."


"Ngga masalah. Aku tahu kamu ngga mood!"


Setelah menghabiskan makan malamnya, Nando menepati janjinya untuk membelikan ice cream. Dan selanjutnya mengantar teman dekatnya kembali ke rumah dengan selamat, juga dengan ekspresi dingin.


...***...


Sementara Aero,si bos tampan yang tinggi itu memilih menghabiskan waktunya di suatu sasana.Setelan jasnya sudah terlepas, digantikan dengan celana boxer berwarna dasar hitam. Ia membiarkan beberapa tato di punggung terpampang jelas.Sepatu fantovel tergantikan dengan sebuah sepatu olahraga.Sebelum mengenakan sarung tinju dan memasuki ring, Aero membalut kedua tangannya dengan pembalut tipis guna melindungi urat dan otot.


Seorang pelatih siap dengan target di setiap tangannya. Berpakaian mirip seperti Aero hanya ia menggunakan kaos tanpa lengan. Aero sudah melakukan pemanasan selama 15 menit tadi, sehingga ketika memasuki ring, ia langsung bersikap memukul taget yang pelatihnya siapkan.


Jab, silang, hook, upper cut. Semua pukulan tersebut Aero lakukan sesuai instruksi.Total 2 jam ia menghabiskan waktunya di atas ring. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, dan seakaan tak peduli ia membiarkan keringat terus menetes. Membasahi lantai dilapisi karpet yang dia pijak.


"Selamat ulang tahun Bos."


Pelatih yang tadi membimbing dan menjadi lawan sparing Aero memberikan selamat.Tepat disaat pria pendiam itu tengah melepas balutan kain di tangan kanannya.

__ADS_1


Tak ada balasan. Aero hanya mengangguk singkat.


Tau bosnya membutuhkan waktu sendiri.Sang pelatih yang umurnya lebih muda dari Aero undur diri.Meninggalkan bosnya seorang diri di sasana tinju yang sangat luas.


Ardi sudah pergi, menutup pintu dari luar. Beberapa detik kemudian Aero baru membaringkan dirinya terlentang di tengah ring. Matanya tertutup,seperti menikmati setiap hembusan nafas dan setiap tetes keringat yang mengalir.


Benar,hari ini umur Braga Assavero Danunjaya tepat 30 tahun. Lelaki tangguh ini tak menyangka umurnya akan akan sampai di angka 30. Karena beberapa tahun lalu, ia bahkan hampir kehilangan nyawa saat terlibat baku hantam dengan seseorang.Untuk itu, setiap pekannya ia akan berusaha membenahi diri dalam segi bela diri.Ia ingin menjaga dirinya juga orang lain-nanti.


"Brengsek!"


Dengan mata tertutup Aero terkekeh,ia mengingat kembali kata kasar yang Rea lontarkan untuknya.Lucu.


Namun kemudian kekehannya langsung berubah datar, saat mengingat tindakannya beberapa detik sebelum kalimat itu ditujukan padanya.


Apa yang dia lakukan? Bertindak agresif pada wanita yang sama sekali tidak ada dalam daftar rencananya.Untuk apa dia melakukannya? Karena apa?


Apa Aero tertarik?


Apa dia tergoda dengan tampilan fisik Rea yang sempurna?


Atau, Aero hanya sekedar main-main dengan wanita itu?


Atau,ia sudah mengiyakan penawaran Arka untuk menukar harta dengan wanita?


Misteri, semua itu berbalut ketidakjelasan.Aero tak pernah membagikan perasaan dan pemikirannya pada orang kain.Sehingga tak ada yang tahu apa sebenarnya cita-cita dan harapannya di masa depan.


Yang jelas, hari ulang tahunnya ke 30 ini, Aero sudah mendapatkan sebuah hadiah dari Regina Athalia.Sebuah kepuasaan. Itu sangat cukup untuknya.


Jangan lupa vote, comment ya guys.


Beri semangat buat author agar updatenya hisa teratur.

__ADS_1


__ADS_2