Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 77


__ADS_3

Untuk beberapa saat, nafas Rea terhenti. Tidak ia sangka sebelumnya, jika Aero akan mengirim pesan syarat makna macam tadi. Makna yang benar-benar tertulis disana-jika dia bisa menyempurnakan pernikahan ini dengan menyentuhnya. Juga makna, jika selama ini Aero diam-diam menikmati apa yang Rea lakukan padanya.


Kulit tubuh Rea mendadak meremang. Kedua kakinya reflek merapat, entah kenapa. Dan debaran jantungnya mulai menggila seiring status pesan Aero yang sedang mengetik. Tak sepatah katapun berhasil Rea kirimkan. Jari-jarinya mendadak kaku, untuk bergerak pun enggan. Sekarang, dia mulai di serang dengan berbagai kalimat-kalimat khas pria dewasa. Merayu dan menggoda.


Ada banyak hal liar yang ingin aku lakukan.


Dan mungkin, tidak akan selesai dalam satu malam.


Jangan katakan kalau kamu tidak tahu itu apa.


Sebab tanpa mencari tahu pun, kamu akan mengerti dengan sendirinya.


Rea


Panggilan Aero yang hanya melewati pesan singkat berhasil meluluhlantakkan pertahanan Rea. Apa kabar jika suara rendah itu menyebut namanya secara langsung? Pasti tak akan ada lagi Regina Athalia yang pandai berdebat. Mulutnya akan diam dengan sendirinya. Rea mulai duduk dengan gelisah, tanpa sengaja hiasan bunga mawar yang bertebaran di tempat tidurnya dia remas-remas.


Terimakasih atas apa saja yang kamu lakukan sebelum hari ini.


Aku merasa beruntung memiliki kamu.


And to night..


Rea setia menunggu. Dengan nafas yang memburu ia terus membaca pesan Aero yang tak berhenti hingga sekarang. Entah bagaimana wajahnya saat ini. Yang dia tahu Rea hanya harus menerima dan merespon. Itu saja.


Let's make this wedding perfect.


For you and also for me.


Belum apa-apa, seluruh tubuh wanita cantik ini sudah lunglai tak berdaya. Matanya terpejam rapat, efek tidak bisa lagi kuat membaca pesan-pesan yang terus masuk. Ponselnya sudah tidak ada lagi dalam genggaman. Benda itu tergeletak di atas bantal dengan Rea yang masih menahan perasaan asing yang tiba-tiba menyergapnya. Ini gila. Dan ini lebih dahsyat dari kata-kata tajam Aero. Apa ini hanya perasaan Rea saja? Atau memang Aero sedikit berubah? Dia lebih romantis?


Ah tunggu! Jangan cepat terbuai!


Masih berusaha mengatur jiwanya yang terguncang hebat. Suara seseorang tiba-tiba hadir. Menyentak paksa kesadarannya.

__ADS_1


"Rea?!"


Punggung yang tengah bersandar headboard itu pun tegak seketika, Rea tersentak begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinga dan otaknya.


Dan benar saja. Dia-pria yang baru saja mengirimkan kalimat-kalimat erotis. Pria yang baru saja membuatnya mendamba seperti ini. Pria tak tahu malu yang sudah membuatnya jatuh cinta. Tiba-tiba saja sudah berdiri tak jauh darinya. Menatap dengan ekspresi tak terbaca. Dasar sialan!


"Iya Mas?!" Seru wanita itu dengan suara yang tidak biasa. Tiba-tiba saja Rea mulai mendayu, mendesah dengan sendirinya. Rea tahu benar, apa yang baru saja dia lakukan pasti sangat menjijikan. Sejak kapan dia lihai bersuara macam wanita penggoda?


"Shit!" Umpat Aero tanpa dia sadari. Pandangannya langsung beralih ke lantai begitu melihat bagaimana kondisi fisik istrinya di atas tempat tidur. Wajah memerah penuh gairah serta rambut yang masih basah. Belum lagi dengan kulit kaki yang terekspos mempertontonkan kaki jenjangnya. Aero cukup sadar, posisi macam itu adalah hal yang sering dia lihat dalam film-film dewasa. Sadarkan dia agar tak mengatakan sesuatu yang salah pada istrinya-yang sepertinya tidak sadar dengan caranya berbaring. "Belum tidur?" Kata Aero sekenanya. Tenggorokannya mendadak kering. Padahal baru beberapa saat yang lalu ia minum bersama Papa dan saudara-saudara jauhnya.


"Yaa?" Balas Rea setengah berbisik. Secara perlahan gadis cantik berkaki jenjang itu menarik selimut putih yang tak begitu jauh untuk menutup bagian bawah tubuhnya. Rea bukannya menjawab iya. Dia hanya kaget harus menjawab seperti apa.


Masih berdiri di tengah ruangan, Aero mulai mengeluarkan berbagai barang di saku celana hingga jasnya dengan gerakan yang sangat cepat. Dan tanpa menatap istrinya lebih dulu, Aero langsung melangkah menuju kamar mandi-menyembunyikan dirinya disana. Membuat seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.


Tindakan Aero yang tak bisa diprediksi tadi sukses meninggalkan banyak pertanyaan di benak Rea. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa antara apa yang Aero ketik dan sikap yang dia tunjukkan tadi begitu berkebalikan?


Mendengar suara air mulai mengguyur tubuh suaminya, Rea yakin kalau dirinya harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan jawaban. Jam berapa saat ini? Apakah malam pertama akan terlewatkan begitu saja tanpa melakukan apa-apa?


***


"Jaga mulut lo! Jangan ngomong kata-kata kasar depan anak gue." Protes Bapak dari dua anak perempuan itu saat Aero datang dan langsung duduk di salah satu kursi. Kedua tangan lebar Bordes menutup telinga anak keduanya yang belum genap satu tahun.


"Gara-gara lo. Gue hampir bikin dia malu."


Alex yang sedang memangku anak perempuannya hanya tersenyum acuh. Matanya bergerak liar menyapu area resto seperti mencari mangsa. Di atas mejanya sudah ada kopi, susu, air putih dan semangkuk kecil bubur tanpa toping. Aero menebak itu pasti untuk anaknya.


Tahu Alex belum juga merespon protesnya. Aero kembali memuntahkan kekesalannya dengan kalimat yang lebih sopan. Meskipun intinya sama saja, yang jelas dia menjaga Baby Paris tetap tenang di dekapan Bapaknya yang usil.


"Lex!" Seru Aero ingin menarik perhatian sahabatnya.


"Mas Braga udah datang? Gadis kira Aa' cuma bohong. Maaf ya Mas, tadi malam ngga bisa datang. Soalnya anak ini rewel. Mana istrinya? Gadis pengin kenalan."


"Ooh pantes. Bininya lagi keliling. Dan mata lo ikut keliling." Bisik Aero kepada Bordes yang duduk di sebelahnya. Pria yang baru memberikan voucher menginap di resort itu hanya menaikkan bahunya acuh. Dasar. "Ngga apa-apa. Nanti agak siang saya kenalkan. Dia masih siap-siap." Kali ini dengan kalimat lebih formal Aero membalas pertanyaan istri Bordes yang baru saja mengambil beberapa piring berisi makanan.

__ADS_1


"Acaranya lancar kan Mas?"


"Lancar. Alex ngga cerita?"


"Aa' kalau ditanya diem aja. Ngga pernah mau cerita." Sela Gadis dengan nadanya yang setengah manja.


Gadis Evana Rubianto-wanita yang Alex nikahi beberapa tahun silam nyatanya sudah berubah lebih dewasa sejak terakhir kali Aero temui. Dulu, Gadis yang sudah tidak 'gadis' ini benar-benar innocent, terlihat lemah dan mudah sekali ditindas suaminya. Tapi lihat sekarang, dia menjelma menjadi wanita anggun yang mampu berjalan seimbang dengan Bordes yang banyak maunya.


Tak banyak obrolan yang kembali terjadi antara Gadis dan Aero. Pasalnya Alex sudah menunjukkan dominasinya. Pria itu memanfaatkan matanya yang tajam untuk mengintimidasi istrinya agar tidak lagi banyak omong. Cukup makan dan menyuapi Baby Paris yang anteng dalam pangkuan Alex.


"Ehem. Jadi gimana malam tadi?" Alex akhirnya bersuara untuk pertama kalinya. Dia merasa menjadi pahlawan sekaligus menjadi orang yang disalahkan, jika malam pertama Aero gagal. "Kenapa bisa lo buat istri lo malu?"


"Gara-gara chat yang lo kirim. Sialan! Itu istri gue!! Lo bilang mau menghubungi Gadis kalau lo bakalan pulang larut malam. Tapi malah-"


"Istri lo akan anggap yang ngetik pesan itu lo. Tenang aja. Udah ngga perlu dibahas!"


"Tapi tindakan gue berkebalikan."


"Jangan bilang lo diem aja Ga? Jangan bilang lo anggurin istri lo? Oh Shit!!! Apa bener omongan gue?" Tanya Alex penuh penekanan. Dia harus menjaga nada suaranya agar tetap rendah dan tak menganggu orang lain. Tapi juga harua menjaga agar Aero mendengarnya. Meski sempat Gadis meliriknya tadi saat Aero membawa-bawa namanya, tapi dengan elusan lembut di paha Gadis langsung kembali melanjutkan sarapannya. Baginya, saat tangan Alex sudah mulai melakukan hal seperti itu, dia tak perlu khawatir.


Aero yang hanya mengenakan kaos putih dan celana hitam panjang diam di tempat. Ia membuang nafas kasar seperti tengah memberikan jawaban iya. Dan itu berhasil memancing reaksi Alex yang hampir mengumpat keras.


Diam-diam keterkejutan sahabatnya ini menjadi hiburan tersendiri oleh Aero. Pria itu tersenyum mendapati Alex yang hanya bisa membuka menutup mulut tanpa mengeluarkan satu katapun.


"Sejak resepsi, ngga ada niatan gue buat ngapa-ngapain Rea malam tadi. Jadi pengantin itu cape. Dan dia butuh istirahat. Malam penting bukan hanya tadi malam. Tapi bisa diciptakan malam-malam lainnya. Tapi. Lo merusak rencana gue."


Aero memperbaiki duduknya, kemudian kembali menjelaskan.


"Ngga mungkin gue bilang kalau yang kirim pesan itu orang lain. Muka tampan gue mau ditaruh dimana? Masa bersembunyi di belakang orang? Dan gue ngga sepengecut itu! Tahu kenapa dia ngga turun ke bawah pagi ini?" Aero sedikit maju mengikis jarak. Harapannya adalah agar Gadis tak mendengar apa yang akan dia sampaikan pada suaminya.


"Dia cape Lex. Baru sempat tidur tadi jam lima. Dan kalau lo tanya gimana kabar gue? Ngga baik! Gue ngantuk! Gue belum tidur sampai sekarang. Tapi gue bahagia! Thank you!Gue bales lo!"Tambah Aero dengan senyum paling mengerikan sepanjang sejarah.


Ok gaess...

__ADS_1


happy reading, maaf lamaaa


Jangan lupa vote, comment dan likenya yaaaa.


__ADS_2