
Rea yang ketakutan, benar-benar tidak menemui Aero. Tidak ia pedulikan apa yang akan dilakukan sang pria jangkung tersebut malam ini. Terserah ingin mengobrak-abrik rumahnya, toh tidak ada barang apapun yang bernilai disana.
Tidur Rea sangat tidak berkualitas. Hampir sepanjang malam, setiap jam matanya kembali terbuka. Karena keresahan yang terus membumbung tinggi atau juga karena tidak terbiasa tidur di tempat baru-kenyamanan yang begitu berbeda.
Padahal besok dia harus bangun pagi dan berangkat ke rumah Bu Nindi untuk menyiapkan segala hal keperluannya. Dia asisten yang bisa merangkap menjadi apapun. Sampai kadang membuat bingung sendiri, apa yang harus ditulis dalam kolom KTPnya-yang sampai saat ini masih beruntung sebagai mahasiswa. KTP seumur hidup yang sebenarnya tidak pantas disebut demikian, karena pasti setelah menikah ada perubahan status.
Alarm ponselnya sudah di-setting pukul 05.00, dijamin ia akan langsung bangun. Entah dalam keadaan mata tertutup atau terbuka sebagian.
Mencoba kembali memejamkan mata karena jarum pendek masih menunjukkan angka tiga, Rea mengganti posisi berbaringnya. Mulai berdoa dan berdzikir, berharap Allah bisa membuatnya tidur nyenyak selama 2 jam.
"Tidak bisa tidur kan?"
Suara rendah seseorang terdengar begitu pintu kamar terbuka. Walaupun tak melihat, Rea tahu seseorang itu sedang melepas pakaiannya. Langkah kaki terdengar mendekat ke arah ranjang. Dan Rea masih tetap bergeming dalam tidurnya.
"Nunggu aku?"
Kembali pria itu bertanya. Tak terjawab, karena gadis yang sedang dalam keadaan entah apa ini sulit untuk bangkit.
"Kalau lebih dari jam 11 malam dan aku belum pulang, jangan tunggu aku."Sebuah elusan Rea rasakan di lengan kanannya, tak lama, karena setelah itu sang pria kembali bangkit dari ranjang dan membuka lemari-mungkin. Walaupun tak terlihat, namun gadis cantik yang tidur membelakangi pintu bisa merasakannya apa yang lelaki itu lakukan.
"Hari ini aku cape banget. Harus bolak-balik ke tempat yang jauh. Kamu masak apa? Aku laper." Katanya lagi tanpa berkesudahan, sambil membuka lemari dan mengambil pakaian ganti. Tak lama sang pria keluar dari kamar kemudian kembali lagi, entah sudah makan atau belum. Yang pasti pria itu langsung ikut berbaring di belakang tubuh Rea. Menarik lengan Rea pelan untuk membalikkan posisi tidur.
Apa yang terjadi Rea tidak tahu. Sebab dia belum juga bisa membuka mata, yang bisa dia lakukan adalah merasakan dengan instingnya apa yang pria ini perbuat.
"Weekend ini aku libur. Kita jadi ya ke Bandung? Siapa tahu Aero junior bisa dibentuk disana."
__ADS_1
Mata Rea langsung terbuka begitu mendengar suara alarm yang meraung-raung. Tidak dia pedulikan pusing yang melanda karena mendadak harus bangkit dari tidurnya. Dirapikannya tempat tidur secepat mungkin, kemudian diraihnya ponsel dan kunci untuk dimasukkan ke kantung celana. Dan terakhir, sambil berjalan keluar dari kamar ia memakai outer. Melewati pintu kamar pemilik rumah, tak lupa dia mengetuknya pelan untuk mengucapkan terimakasih dan pamit pulang.
"Iya Mba." Balas sang Ibu yang sepertinya masih mengantuk.
Suasana masih sedikit gelap, udara dingin langsung menyergap begitu Rea membuka pintu rumah. Belum sempat mencuci muka, namun dirinya yakin tampilannya masih sangatlah ok.
"Kenapa baru pulang sekarang?"
Deg
Baru dua langkah Rea berjalan dari pintu, suara yang begitu dia kenal menginterupsinya. Reflek kaki Rea berhenti, terpaku di tempat dengan sendirinya- tanpa dia inginkan. Lampu ruang tamu memang tidak menyala, namun Rea bisa tahu ada seseorang yang tengah berbaring di salah satu sofa. Ketakutan kembali dia rasakan, sesaat menyadari jika Aero tak pergi dari rumahnya. Apa gunanya ada kunci jika seseorang ini bisa masuk dengan mudahnya?
"Saya nunggu kamu."
Pria yang berbaring di sofa tadi perlahan bangkit. Dari balik kegelapan, dia berjalan mendekat ke posisi Rea layaknya seseorang yang ingin mengintimidasi. Membuat nafas Rea tertahan dan tanpa dia sadari kakinya mengajak mundur pelan-pelan.
Mungkin Rea terlalu percaya diri, karena dia pikir Aero akan berdiri di hadapannya dan menatapnya tajam atau melakukan sesuatu yang tak bisa ia duga. Namun ternyata, pria itu justru berjalan menuju ruang tengah sambil mengusap rambutnya hingga berantakan.
Dan apa tadi? Tolong buatkan kopi? Heh!! Memang siapa dia? Pagi-pagi setelah bangun meminta sesuatu, memangnya Rea istrinya?
And by the way, berkaitan dengan hal ini, Rea kembali teringat bunga tidurnya tadi. Kenapa harus seperti itu? Apa maksudnya? Mereka seolah sudah dalam keadaan berumah tangga dimana Aero pulang larut malam. Rea merinding jika mengingat kalimat terakhir yang Aero ucapkan tepat di telinganya.
Dug
"Aw!" Rea menjerit sesaatkan keningnya membentur benda padat. Bukan punggung atau dada Aero seperti pada cerita-cerita di TV. Rea benar-benar menabrak sudut dinding yang lancip. Tangannya masih mengelus perlahan keningnya yang begitu nyut-nyutan. Belum juga reda pusing karena kurang tidur, ia harus menambahkan lagi kesakitan lain, yang tak kalah menyebalkan adalah seruan pria yang sudah duduk di kursi makan.
__ADS_1
"Pake mata kamu!"
Tak membantu apapun dengan mengatakan hal tersebut, Aero justru menambah kesakitan lain. Segera, Rea langsung masuk ke kamar menyembunyikan diri disana. Membawa kekesalan yang percuma saja jika dilampiaskan.
...***...
"Lama banget kamu mandi. Sudah cantik, tidak perlu lama-lama berdandan."
Waw. Sambutan macam apa itu? Pujian atau justru sindiran sebenarnya? Baru saja setelah menghabiskan 45 menit di dalam kamar untuk bersih-bersih diri. Pria julid yang sedang Rea takuti kembali bersuara. Tenang, Rea sama sekali tidak merona mendengar pernyataan Aero yang mengatakan dirinya sudah cantik.
Rea sudah menyiapkan mentalnya begitu lama di balik pintu kamar. Entah sudah berapa menit yang dia habiskan hanya untuk berdoa dan berdoa. Ia berharap begitu besar pada Tuhannya agar pria yang masih mengenakan jaket hitam-saat terakhir kali Rea lihat-sudah pergi dari rumahnya. Namun harapan tinggal harapan, karena ternyata sengaja berlama-lama di kamar tak juga membuat Aero menyerah.
Pria itu menunggunya, tanpa satu kalipun mengganggunya dengan mengetuk pintu agar lebih cepat. Haruskah Rea tersanjung? Tentu tidak.
Mata Aero bergerak dari bawah ke atas, memandangi penampilan Rea yang sudah begitu fresh. Celana warna kakhi dan kemeja warna putih lengan 3/4 yang membungkus tubuhnya. Tak lupa rambut yang sengaja diikat macam ekor kuda. Belum kramas, jadi itulah cara Rea menyembunyikan si rambut lepek.
"Kopi!"
Kalian dengar? Apakah itu pantas? Seorang tamu tak diundang begitu tidak tahu diri. Memerintah layaknya tuan rumah kepada asisten rumah tangganya untuk dibuatkan kopi.
Terpaksa, Rea melangkah menuju dapur. Mengisi kettle dengan sedikit air galon, menghidupkan kompor dan kemudian mengambil cangkir berwarna putih untuk kopi. Semua itu ia lakukan sambil membelakangi Aero, walau begitu Rea sadar jika tindakannya itu tak lepas dari pengamatan si rambut cepak.
Menunggu beberapa menit, secangkir kopi hitam instan tersaji untuk Aero. Tanpa mengubah ekspresinya yang datar dan kaku, Rea menyerahkan pesanan Aero. Dia sudah berniat, begitu Aero menikmati kopinya, ia akan pergi lebih dulu. Namun, sebelum niatnya tercapai. Kembali pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Rea was-was.
"Wangi. Aku suka. "
__ADS_1
Apa yang wangi menurut Aero?