
Jordi kira-saat ia menerima telefon dari Ardi terkait kabar si L-Bosnya keluar secara mendadak karena merasa khawatir pada objek yang ia jaga kemana-mana. Hampir saja ia ikut berlari mengikuti. Namun baru di ambang pintu, tepatnya lorong suatu kantor di lantai 2, langkahnya yang cepat kembali melambat. Bos besarnya hanya masuk ke ruang rapat.
Tak sampai 30 menit, Jordi tiba di Rumah sakit. Dari kejauhan, matanya langsung bisa menemukan sosok lelaki tinggi besar yang duduk kaku di salah satu bangku.
"Kenapa?" Tanya Jordi begitu Ardi mendekat ke arahnya.
Wajah Ardi nampak tenang, tak terlihat cemas sama sekali. "Ngga ada apa-apa."
"Maksudnya?"
Ardi tidak menjawab, ia justru menggerakkan dagunya ke arah kanan untuk memberi tanda.
"Apa?" Bisik Jordi, ia belum mengerti apa yang Ardi permasalahkan. Mana bagian yang katanya penting dan genting? Jelas-jelas si L itu tengah duduk di dekat pintu IGD, dalam keadaan sehat- sepertinya. Padahal, tadi sepanjang jalan pikirannya berkelana kemana-mana. Apa mungkin L untuk Ladies itu kecelakaan, kerampokan atau terkenal kejahatan lainnya. Namun dengan pasti melihat keadaan L, rasanya pemikiran anehnya tadi hanya sia-sia belaka.
"Tadi ada-"
"Mau kemana dia?"
Mata Jordi yang sedari tadi memperhatikan L mendadak melebar. Ia bergerak maju, tanpa memperhatikan penjelasan Ardi yang belum selesai. Lelaki berpakaian formal tersebut, mengikuti Ladies yang meninggalkan ruang tunggu IGD.
Kedua pria ini mengekori L yang menyusuri lorong Rumah Sakit. Jaraknya sekitar 3 meter, cukup dekat. Karena sebenarnya dalam SOP, pengamanan atau pengintaian tersembunyi bisa lebih dekat. Minimal jarak antara objek dan mata-mata adalah 0 meter. Artinya interaksi fisik.
"Lo ngga pengin tahu kenapa dia kesini?" Usai memastikan sang objek menaiki ojek online. Jordi beserta Ardi langsung menaiki mobil untuk mengikuti. Mulut pria besar itu sebenarnya begitu gatal ingin menceritakan apa yang tadi terjadi.
"Apa?"
"Dua orang ma-"
"Wah gojeknya ngga beres. Mabok dia?"
Celetuk Jordi yang lagi-lagi tak memberi Ardi kesempatan. Walaupun ia menyetir, matanya terus senantiasa mengawasi pergerakan objek. Sedetikpun Jordi tak igin kehilangan. Bukannya apa-apa, hanya saja setelah seminggu menjadi keeper ia mulai merasakan sesuatu yang mengganjal. Untuk beberapa alasan, Jordi sendiri tidak tahu kenapa semakin lama mengintai L, ia makin penasaran.
"Lo sadar? Dari tadi omongan gue selalu dipotong."
"Sadar." Jawab Jordi dengan acuh tanpa melihat lawan bicaranya. Sebisa mungkin keahliannya menyetir ia terapkan disini. Ikut meliuk sana sini mencari cela. Pasalnya bukan hanya mobilnya saja yang saling berebut jalan.
__ADS_1
"Tadi ada-heyy!!!"
Brak
"Gila itu gojek!!" Sembur Ardi begitu melihat benturan keras. Kecelakaan terjadi begitu cepat, motor yang L tumpangi menerobos lampu lalu lintas yang sudah merah di persimpangan jalan. Dan secara bersamaan, dari arah samping kiri sebuah motor melaju dengan cepat. Ban motor penabrak tadi menyentuh bagian motor bagian belakang gojek. Sehingga mengakibatkan, Wanita yang baru saja dari Rumah Sakit itu terlempar cukup jauh, helm yang dia pakai terlepas. Sementara abang gojek dan pengendara motor yang satu tak berbeda, mereka tergeletak di aspal jalan.
Tanpa menunggu aba-aba, Ardi yang ada di kursi penumpang langsung keluar dari mobil dan berlari. Suasana berubah ramai, kemacetan terjadi. Klakson terus terdengar, menandakan banyak orang yang sudah tidak memiliki kesabaran.
Dari arah Jordi-supir, terlihat lelaki yang menabrak sudah mulai berdiri dari tempatnya. Saat itu pula Jordi sadar siapa lelaki yang sebenarnya tidak memiliki kesalahan dalam tabrakan ini. Menurut pandangan siapapun, yang ceroboh dalam kecelakaan ini adalah abang gojek. Ia melanggar peraturan. Tidak salah lagi, lelaki jangkung berbalut jaket bomber warna hitam itu ia kenal. Sangat kenal. Seketika Jordi ingin sekali keluar dari mobil dan berteriak pada Ardi.
"Urus Bos kita dulu panjul!!"
Namun terlambat, Ardi tak sama sekali melirikkan matanya pada korban lain. Ia mengalihkan seluruh perhatiannya pada sang wanita malang. Tanpa banyak kata, ia segera menggendong dan membawanya masuk ke dalam mobil.
...***...
"Mas ngga kenapa-kenapa?"
"Bisa kamu diam?"
"Tapi tadi Mas sempet terlempar."
"Saat di dalam ring saya juga sering dilempar." Lagi lelaki berotot ini menjawab dengan sarkas.
Jordi akhirnya membawa Bosnya dan si L ke sebuah klinik yang tak jauh dari lokasi kecelakaan. Saat ini Bosnya tengah duduk di tepian ranjang sambil kembali memakai jaket yang sudah robek bagian sikunya. Usai dokter jaga mengecek kondisi dan menyimpulkan Bosnya tak memiliki luka luar maupun dalam.
"Bagaimana keadaanya?"
Nya adalah untuk L. Wanita yang sedang Jordi dan Ardi intai. Kadang takdir aneh, mereka kembali terlibat dalam satu garis masalah yang sama. Padahal jika di runtut, saat Jordi tadi mendapat pesan dari Ardi, Bosnya masuk ke ruang rapat. Jordi pergi ke Rumah Sakit dan beberapa jam kemudian mereka malah bertemu di jalan.
Dengan jujur Jordi mengatakan dia tidak tahu. Karena tak sedetikpun ia lepas dari perhatian Bos Besar sejak memasuki klinik.
Tak ada ekspresi, pria pengendara motor besar itu berdiri. Ia berjalan perlahan keluar dari tempatnya diperiksa dan tak jauh dari posisinya saat ini terlihat Ardi yang masih berjaga.
"Maaf Bos." Seru Ardi sambil menaikkan pandangan ke arah lelaki yang mempekerjakannya. Ia tadi terlalu fokus, sampai tidak sadar siapa pengendara motor yang menabrak gojek.
__ADS_1
Hanya anggukan yang pria itu berikan.
"Ada banyak kejadian hari ini, saya belum sempat melaporkan."
"Tidak apa-apa." Sikap Bos yang tegas dan dingin seperti inilah yang selalu ditakuti oleh orang-orang macam Ardi dan Jordi. Mereka harus berhati-hati jika pria jangkung ini mengatakan tidak apa-apa.
Lihat saja sekarang, matanya sedang lurus menatap wanita yang masih dibersihkan luka-lukanya oleh perawat. Dengan jarak 3 meter, ia hanya mampu melihat bagian pinggang ke bawah. Tak tahu bagaimana nasib wanita itu.
"Kalian pulang."
Untuk sesaat Ardi maupun Jordi langsung saling memandang setelah mendengar perintah tadi. Mungkin dalam diam mereka berbicara, siapa yang harus pulang?
"Saya yang akan menunggu." Tambah pria penuh kuasa itu lagi dengan acuh. "Bawa mobilnya."
"Bos-"
"Kamu butuh tidur Ar!"
"Siap!" Tak bisa membantah, Ardi yang sudah dipanggil dengan nama singkat itu langsung patuh.
"Mas bagaimana?"
Hening.
Sudah lebih dari sepuluh detik pria itu tak menjawab pertanyaan Jordi, terkesan sombong dan tak perduli. Namun memang seperti itulah dia. Pada akhirnya, Ardi yang memutuskan pamit dan menarik mundur Jordi. Perintah dibuat untuk dilaksanakan.
...***...
Lelaki tinggi yang masih wangi ini berdiri di samping ranjang wanita malang yang baru saja kecelakaan. Ia memperhatikan struktur wajah sang gadis dengan tenang. Melukiskannya diam-diam, menyimpan benar-benar dalam ingatan.
Seminggu setelah hari itu, ada hal yang sulit ia mengerti. Tidak ada yang terlihat peduli pada wanita manis ini. Bahkan untuk memberi dukungan pada orang yang baru saja mengalami kegagalan menikah saja tidak ada. Keluarga? Sahabat dekat? Dimana mereka?
"Regina Athalia,"bisik bibir tipis itu dengan sangat lirih. Tidak ada yang bisa mendengarnya, kecuali Tuhan dan sang pelaku sendiri. Wajahnya pun masih datar tanpa ekspresi, apalagi ditambah dengan masker yang terpasang. Lagi-lagi pria itu nampak misterius. Entah apa yang sekarang ada di otaknya. Menyuruh dua keeper untuk pulang dan menggantikannya dengan dirinya sendiri. Apa ia ingin menelantarkan wanita malang itu sendirian disini? Mungkin memang begitu.
Kita bertemu lagi dalam kondisi yang hampir sama. I made you faint.
__ADS_1