Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 57


__ADS_3

Kedua teman lama ini masih duduk saling berhadapan di sudut cafe. Sengaja Aero memiliki tempat yang sepi. Agar leluasa berbicara dan tenang untuk berpikir.


"Pernah lo dideketin sama cewe yang ngasih 100 persen effort biar keliatan baik di depan lo? Atau berharap curi perhatian lo dengan cara dandannya yang berlebih? Padahal satu persen pun lo ngga berminat sama dia?"


"Sering. Tapi gue biasa aja. Kalau dia udah sangat amat mengganggu. Gue turun tangan dan bilang dengan tegas di depan dia. Jangan ganggu gue lagi! Cari cowo lain yang butuh perhatian lo!"


Mendengar itu, diam-diam Aero ngeri. Haruskah seperti itu? Biasanya dia akan mendiamkan saja, acuh, kemudian menghindar. Mengucapkan secara langsung seperti tadi terdengar begitu menyakitkan.


"Lo bikin dia sakit hati bro."


"Lebih baik, dari pada gue beri dia harapan-harapan doang, itu lebih kasian. Mending buat cowo lain aja yang memang butuh perhatian dia."


Pria yang baru saja memenangkan kejuaran tinju di Colombia ini mengangguk setengah paham, berusaha paham maksudnya.


"Gue masih sangsi sama ilfeel yang lo rasain. Lo kuliah dimana si Ga? Psikologi kan? Kuliah mahal-mahal ngga dapet apa-apa. Produk gagal berarti lo. Harusnya lo tahu, kalau perasaan lo itu ngga normal. Manusia diciptakan ada sisi baik buruknya. Ada kala kejam ada kala simpati. Ada saat bahagia ada saatnya sedih. Dan ada saatnya sendiri ada saat saatnya butuh dia. Jadi, gue jamin lo pasti ngga akan selamanya begini." Seolah ahli memberikan petuah, Bordes mendadak lancar memberikan kuliah singkat pada sahabatnya. Kemarin ada bule Inggris yang tak bisa lepas dari satu wanita, sedangkan sekarang justru pria lokal ini tidak bisa menempel pada wanita. Dunia ini makin rumit.


"Mungkin, gue terlalu fokus buat ngertiin diri gue sendiri. Sampai akhirnya gue lupa untuk belajar memahami orang lain. Mungkin ngga si?" Karena bingung harus mengatakan apa, akhirnya Aero membeberkan kekurangan dirinya.


"Denger! Kalau banyak cewe yang deketin, artinya lo itu laki-laki yang diinginkan. Walaupun mereka ngga tahu dibaliknya lo itu mati-matian benci. Masalahnya adalah, apakah semua cewe yang kasih lo perhatian itu buat lo ilfeel? SE-MU-A WA-NI-TA?" Tegas Bordes ingin memperdalam ketidakjelasan temannya ini.


"Pasti ada dong satu atau dua yang buat lo balik pengin godain dia Ga? Coba lo inget-inget! Atau kalau lo bingung. Saat dia kasih sesuatu, pancingan misal, lo juga pengin balik kasih sesuatu yang lebih. Kalau lo lagi bingung nih, kalo inget dia jadi happy lagi. Ada kan?"


Aero termenung, seperti tengah berpikir. namun kembali dia menggeleng. Wajah Bordes pun berubah keruh. Sudah dia duga, tak ada hal menarik yang bisa dibicarakan dengan Braga. Karena memang lelaki itu tidak asik sama sekali. Wahai engkau calon istri Braga Assavero, bersabarlah.


"Hah! Cape kue ngomong. Apa diem-diem lo salah satu anggota LGBT?"


"Sembarangan!"


"Lo manggil gue sayang bro tadi, Jijay gue. Yakin kan masih suka cewe?"


"Yakin!. Ngga perlu bukti kan?"


"Gue percayanya kalau ada bukti. "


Meski enggan, Aero membuka ponsel dan menunjukkan sesuatu pada Bordes. Namun bukannya pria itu menjadi yakin, justru malah makin meremehkan. "Lah cuma gitu doang anak SMP juga punya. Coba lo yang jadi pemerannya, baru gue yakin." Aero segera menutup layar ponsel yang baru dia tunjukkan. Hanya video-video dewasa yang dia simpan. Dia lelaki hampir 31 tahun, jadi kebutuhan batin sedang benar-benar menggebu.

__ADS_1


"Ngga tau gue." Celetuk Aero sambil membuang wajahnya keluar jendela. Ia seperti pasrah dengan keadaan dirinya. Salahkah dia kalau belum nyaman mendapatkan perhatian lebih dari wanita? Atai sebenarnya dia sudah mulai nyaman namun mengingkari? Nah mungkin sekali itu terjadi.


"Gue udah berusaha mengulik. Lo cuma geleng-geleng doang. Nih ya Ga, kalau tiba-tiba lo dateng ke gue padahal pertemuan kita terakhir itu bertahun-tahun lalu. Dan mendadak, lo membicarakan hal ini sama gue. Artinya cewe itu adalah satu di antara banyak cewe yang bikin lo ngga ilfeel. Siapa si cewenya?"


"Ngga ada."


"Gue cari sendiri. Gue ikut campur nih!" Tekan Bordes yang sudah sangat tidak sabar. Ia serius ingin membantu kalau temannya meminta. Cewe mana yang ngga akan kepincut sama gue? Katanya dalam diri sendiri.


"Ngga usah!"


"Lo dateng ke gue, sama aja lo ijinin gue masuk ke masalah lo.Titik!--Udah bisa makan apa aja kan lo? Pesen apa kek. Jangan cuma minum dong."


"Kan lo yang pesenin minum."


"Setan!"


Keduanya terkekeh, usai pembicaraan panjang yang tak menemukan hasil. Aero tetap dengan sikapnya yang tertutup, tak ingin 100 persen apa masalahnya diumbar ke orang lain. Sementara Bordes yang sebenarnya sudah bisa menebak jika Braga datang padanya karena ragu. Ia yakin, seyakin-yakinnya, jika rekannya ini menemukan seseorang.


"Gimana keluarga lo? Keliatannya bahagia." Ejek Aero di tengah dia makan.


"Asli bahagia bukan cuma keliatannya!" Bordes bersungut tidak terima.


"Kata siapa?" Bordes merasa perlu menghentikan aktifitasnya sejenak. Terlebih karena pembicaraan sudah mulai merambat ke dunia peristrian. Gadisnya yang tersayang, tercinta dan terseksi di muka bumi, tidak pernah merasa ilfeel padanya.


"Inget banget gue, waktu lo dateng ke sasana. Bilangnya mau ngeluarin keringat ternyata karena didiemin calon pacar."


"Salah! Udah jadi istri waktu itu."


"Hmm?"


"Istri siri."


"Ckck apa keuntungannya nikah siri Lex? Ujung-ujungnya kan lo memang harus tanggung jawab penuh untuk cewe yang lo nikahi. Kenapa ngga resmi?"


"Lo ngga tau ceritanya gue dulu. Kapan-kapan gue dongengin lo kisah cinta gue. Sekarang masalah lo dulu kelarin. Umur aja banyak, badan aja kekar, uang aja dibanyakin, masa cewe ngga punya."

__ADS_1


"SIALAN LO!!"


"Gue bener. Lo kalah telak sama kiwil bro." Inilah yang Bordes lakukan, menghina Braga semaunya, sebab petinju gondrong itu pun sama suka menghinanya.


"Nikah siri aja bangga!" Balas Braga tak mau kalah.


"Mahar gue hampir 1 M bro."


"Gue ngga nanya!"


"Kalau di akhir cerita, lo ketahuan bucin Ga. Gue akan minta motor lo yang sekarang!" Percaya diri, Bordes benar-benar yakin perkiraannya nanti akan jadi kenyataan. Dan saat itu terjadi, dia akan meminta motor kesayangan Braga yang dibeli di Italia itu untuknya. Motor mahal untuk doa mahal.


"Ngga takut!"


"Gue ngga nyumpahin, tapi gue berdoa dengan setulus hati. Jadi siap-siap lo masuk ke jurang para bucin setelah ini."


"Ketemu lo dong?"


Garpu yang ada di tangan kanan Bordes seketika melayang ke arah dada Braga. Pria tinggi itu langsung menunjukkan wajah kecut dengan alis berkerut, yanv hanya ditanggapi Braga dengan kekehan saja, tak berniat membalas. Diletakkannya garpu yang jatuh di atas padanya ke atas meja. "Lo sendiri ngga sudi mendapat gelar bucin?"


"Gue dominan! Bukan budak dalam percintaan."


"Ya terserah!"


Tak lagi berbicara, dua pria dewasa yang berumur 30 tahunan ini kembali melanjutkna makan malam mereka, dengan diiringi musik romantis. Apa?


Malam hari?


Dinner berdua?


Aero bahagia?


Apa benar yang Bordes perkirakan tentang LBGT?


Let see.

__ADS_1


Jangan lupa, vote yang banyak dan comment. Juga kasih gift yaa,


follow akun ini, gratis kok.


__ADS_2