
Tidak pernah dalam hidupnya seorang Aero akan menunggu begitu lama jawaban dari seorang perempuan.Ia lebih sering meninggalkan atau bahkan tak berniat sama sekali menanyainya.Karena dia seorang pemaksa dan tidak sabaran.
Namun,entah karena hal apa tiba-tiba saja dia masih duduk disini-memandangi wajah Rea dengan intens. Menunggu jawaban yang sudah pasti tidak akan mempengaruhi keputusan Aero yang sesungguhnya.Hanya saja, untuk beberapa keadaan Aero seperti ingin lebih lama bermain-main.
"I am waiting for your answer."
"I have told you." Seru Rea dengan malas.Matanya sudah tidak lagi fokus, nampak gelisah melirik ke kanan dan kiri."Terima tawaran itu.Dan masalah kita selesai."
Aero mengangguk perlahan,sengaja menahan segala ekspresi yang ingin dia tampilkan.Akan lebih baik Rea mengenal dirinya sebagai sosok yang tegas dan dingin.Bukan lelaki penggoda dan hidung belang.
"Kita perlu merayakannya."
"Apa?"
"Aku akan membeli minuman."
"Jangan-"
Rea mengerjap begitu sadar dirinya seperti tidak rela ketika Aero pergi.Sadarkah dia sudah mirip seperti kekasih yang posesif?Padahal,kenyataannya adalah karena Rea ingin lelaki di hadapannya ini benar-benar pergi.Untuk itu,alih-alih membiarkan Aero membeli minum, Rea segera beranjak menuju lemari es.Mengeluarkan dua minuman kaleng dari dalamnya,kemudian mengeluarkan beberapa bahan makanan.
"Aku tidak mengira kamu se-"
"Jangan salah sangka.Aku melakukan ini agar kamu segera pergi dari rumahku."
"Ah." Aero hanya menyerukan kata singkat itu.Mengamati pergerakan lincah Rea yang akan membuat makanan.
Beberapa menit berjalan,Aero yang tak ingin menganggu maupun ingin tahu apa yang Rea lakukan di balik punggungnya,segera sadar dari aktivitasnya membaca portal berita online melalui ponselnya.
Semangkuk mie instan dengan toping sawi serta telur tersaji di hadapan Aero.Di dampingi minuman soda yang sebenarnya sama sekali tidak cocok untuk merayakan acara perayaan ini.Aero masih diam,tak bergerak sama sekali sampai akhirnya suara seruputan terdengar.Suara yang bersumber dari wanita putih di hadapannya.Nampak sangat menikmati makan malam yang tidak berkualitas,bahkan tak menghiraukan Aero yang memandanginya diam-diam.
"Makanlah dan segera pergi."
__ADS_1
Waw.
Ucapan sarkas Rea tadi membuat Aero sedikit kagum.Begitu sopan baik di awal karena menawarkan makanan, kemudian dihempaskan begitu saja untuk keluar dari rumah ini.Pria jangkung ini diam,tak berniat membalas.Ia melanjutkan lagi pengamatannya pada makanan di dalam mangkuk bergambar jago itu.
Mungkin tatapan Aero yang lebih nampak geli melihat mie instan ketimbang berselera inilah yang membuat Rea kembali bersuara."Kenapa?Berharap itu adalah spageti dengan saus bolognise karya koki terkenal di hotel bintang lima?"
Tentu perkiraan Rea itu salah besar.Dalam kepalanya Aero sebenarnya menghitung berapa ribu kalori yang akan masuk ke dalam tubuhnya di malam seperti ini.Jangan mencela, karena dia memang pria dengan gaya hidup sehat. Walau tidak jarang diapun merokok sesekali.Tapi alih-alih jujur, Aero memilih menyembunyikannya.
Sebelum menjawab kalimat sindiran Rea, Aero lebih dulu tersenyum,mulai memegang sendok kemudian menyeruput kuahnya sebagai pengenalan rasa.Not bad.Aero hanya ingat, dia makan mie instan mungkin saat dia SD atau SMP.Karena setelah itu,dia hidup penuh aturan.
Tak perlu banyak waktu untuk Rea menghabiskan makan malamnya.Dia memang begitu lapar dan sangat lelah.Hal itu berbanding terbalik sekali dengan Aero yang lamban,entah berusaha menikmati perkunyahan, atau hanya sekedar berusaha mati-matian untuk menghabiskan.
"Sudah jam 9 malam."
Jelas sekali itu terdengar di telinga Aero 'waktunya kamu pergi'.Kalimat pengusiran yang dibuat lebih halus.
"Kamu tidak melihat aku sedang apa?" Jawab Aero tanpa perlu memandang Rea.
"Ok."
Dan setelahnya, Aero berubah langsung melahap sisa makanannya dengan gaya rakus dan lahap. Tapi sialnya masih terlihat elegant dan tak menjijikan di mata Rea.Benar memang,lelaki tampan bagaimanapun keadaannya masih tetap terlihat tampan.
...***...
Sekitar pukul 11 malam, Aero akhirnya berhasil membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya.Setelah sebelumnya, dia harus berlari di atas treatmeal sekitar 45 menit untuk membakar jumlah kalori yang sempat mampir.
Kali ini dia sudah mandi,tanpa mengenakan kaos dan hanya berbalut celana pendek.Menutup mata, bersiap untuk tidur.Karena ia yakin sekali, hidup sehat akan membuat umurnya panjang.Tidak seperti kakek yang dia sayangi dulu.Meninggal lebih awal hanya karena kehidupan masa mudanya yang tidak baik.
"Jangan pernah muncul lagi di depan rumahku. Jangan masuk ke rumahku lagi tanpa ijin.Masalah kita selesai, jangan membuat hidupku terus-menerus tidak-"
"Kamu takut?"
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu takut ketika aku muncul?"
Rea diam.Dia menunduk memperhatikan alas kakinya yang hanya berupa sandal murahan.Kemudian mengangkat wajahnya, berusaha menatap mata Aero yang tepat berdiri 1 meter darinya. "Ya.Aku takut."
"Itu tidak nampak di wajahmu saat ini."
"Artinya aku pandai menyembunyikan sesuatu."
"Jika suatu saat kita-"
"Tidak.Jika kita bertemupun, jangan saling menyapa.Kamu tidak tahu seberapa leganya aku saat ini karena masalahmu dengan Arka akan selesai."
Untuk sesaat Aero merasa sedikit bingung akan apa yang disampaikan Regina Athalia.
"Memang menurutmu apa yang dipikirkan gadis yatim piatu yang sedang mencoba hidup damai, tiba-tiba dikejar dengan masalah yang sebenarnya tak sama sekali berhubungan dengannya?Hanya karena aku pernah dekat dengan Arka, bukan berarti aku tahu masa lalu dan banyak kesalahannya. Bahkan, dia bekerja dimana, pun aku tidak pernah tahu." Jelas Rea sedikit panjang.
"Setelah kejadian di hotel beberapa bulan lalu. Aku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku gelisah dan khawatir jika saja benar seseorang yang menculik itu benar-benar melakukan hal jahat padaku--Sesuai kesepakatan kita.Tolong..."
Suara Rea mendadak bergetar.Ia sedikit menjeda,"tolong hapus segala hal buruk tentang aku. Termasuk foto itu. Aku minta maaf, jika aku pernah melakukan kesalahan yang sengaja maupun tidak. Aku ingin hidup tenang untuk kali ini. Please."
Mata Aero kembali terbuka.Otaknya kembali memuat diam-diam pembicaraannya dengan Rea tadi di depan pintu.Jahat tidak jika ia tak sama sekali berniat untuk menghapus foto-foto itu?Ia akan menyimpannya, walau entah untuk apa.
Sesuatu dalam jiwanya tiba-tiba berbisik, memintanya agar tak terpengaruh dengan apa yang wanita itu katakan.Memintanya untuk segera menghapus rasa belas kasih yang sempat singgah.Braga Assavero harus kuat,tidak mudah terpengaruh dengan kalimat bernada lembut khas permohonan.Kesampingkan emosi, utamakan logika.Pinta jiwanya.
"Sempat terlintas kata balas dendam.Tapi seiring waktu, aku sadar. Aku tidak akan mampu." Kalimat terakhir yang Rea sebelum menutup pintu inilah yang membuat Aero menjadi gamang.Ada sesuatu yang dia rasakan.Dan dia tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Tawaran Arka,pria yang sekarang menjadi adik ipar Rea itu sangatlah bejat. Bagaimana berpikiran untuk menyerahkan mantan calon istrinya sendiri? Yang walau bagaimanapun pernah susah senang bersama. Aero tahu tipe Regina Athalia, wanita itu sederhana.Mau saja diajak hidup susah oleh Arka.Orang yang jelas-jelas mampu untuk membahagiakannya.
Aero menghela nafas. Dia ternyata ikutan lelah.Mana yang harus dia putuskan?
__ADS_1
Mengingat dia seorang pebisnis, pasti Aero akan memilih mana yang akan mendatangkan keuntungan paling besar.Kita lihat saja besok.