Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 40


__ADS_3

Rea termenung. Ia masih ada di pembaringan entah sudah berapa lama. Kepalanya benar-benar sudah tidak bisa menampung lagi masalah. Bisa-bisa, hanya karena satu hal kecil menampah memory otaknya, seluruh sistem ingatan bisa berhenti dan error seketika. Rea pusing. Namun untuk memejamkan mata sejenak, barang kabur dari kejamnya dunia sebentar saja tidak bisa ia lakukan.


Usianya baru 26 tahun, dan masalah yang dia hadapi sudah sebanyak itu. Bukan tentang Nandho yang datang membuat luka hati makin lebar dengan sindiran dan omongan nakalnya. Bukan juga pada tatapan para tetangga yang menatapnya begitu tajam dan sinis. Bukan pula pada pesan singkat yang dikirimkan Pak RT untuknya.


Pak RT 2


Maaf sebelumnya. Saya selaku orang yang dianggap bertanggung jawab untuk keamanan komplek RT ini, mewakili warga ingin menyampaikan rasa tidak nyaman atas aktifitas Mba Rea dan teman-teman. Sudah lebih dari beberapa kali kami melihat adanya kekacauan atau perkelahian, lalu berkeliaran laki-laki yang tidak dikenal di sekitar komplek pada malam hari. Itu sudah cukup meresahkan warga.


Untuk itu, saya mengingatkan agar Mba Rea bisa mengkondisikan teman-temannya agar bisa bersikap baik. Apalagi, mereka adalah tamu, orang luar. Tidak seharusnya berbuat seperti itu.


Mohon pemakluman dan semoga bisa ditanggapi Mba Rea dengan bijaksana. Maaf tidak bisa langsung menyampaikan ini secara langsung.


^^^Regina Athalia^^^


^^^Saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami tetangga akibat aktifitas teman saya. Insya allah saya akan usahakan agar hal ini tidak terulang lagi. Terimakasih Pak, sudah banyak membantu saya.^^^


Pak RT 2


Iya, kalau ada apa-apa. Mba Rea bisa langsung hubungi saya.


Layar ponsel milik Rea masih menampilkan percakapan tersebut. Jemarinya masih berat untuk kembali mengetik kata terimakasih. Sudah lebih dari 10 menit, dan dia belum melakukannya.


Bagaimana mungkin Rea menghubungi Pak RT jika ada apa-apa? Karena sudah pasti jika ia lakukan, antek-antek dan ibu-ibu tukang gosip juga akan tahu masalahnya. Coba bayangkan, bagaimana perasaan kalian jika menjadi bahan gunjingan satu kampung?


Jadi, bukan tentang itu yang membuatnya menjadi seperti mayat hidup di atas kasur. Tapi ada satu hal lebih besar lagi mendatanginya. Hingga rasanya, air mata saja tidak mampu menunjukkan seberapa terpuruknya Rea kali ini.


Ceklek.


Pintu kamar Rea terbuka dari luar. Reflek ia membalikkan badan untuk melihat siapa yang berani-beraninya masuk ke ruangan paling private.


"Saya pulang." Kata lelaki itu dengan singkat. Tubuhnya yang tinggi besar hanya nampak sebagian, terhalangi oleh daun pintu yang terbuka sedikit saja.


Karena memang tidak ada efeknya lelaki itu berada di rumahnya. Rea mengangguk perlahan, entah terlihat jelas atau tidak, pasalnya kepalanya masih tergeletak di atas bantal.


"Sebagai informasi, saat ini sudah waktunya makan malam." Tambahnya lagi sebelum benar-benar menutup pintu. Rea menangkap jelas setiap ekspresi yang muncul di wajah Aero tadi. Sedikit aneh. Ah memang sebenarnya pria itu aneh.


Bagaimana tidak, usai Rea dan Nandho berbicara empat mata. Meluruskan dan mengakhiri semuanya dengan cara yang benar-benar 'benar'. Aero menelfon dua orang untuk mengantarkan Nandho pulang, karena pria itu yakin sekali Dosen Matematika berkacamata itu tak dapat mengendarai mobil dengan benar.


Untuk apa Aero melakukan hal seperti itu? Apa keuntungan baginya? Rasanya tidak ada sedikitpun keuntungan yang bisa diambil dari kebaikannya mengantarkan Nandho dengan selamat ke rumah. Aero justru menambah bimbang Rea saja.

__ADS_1


Beberapa jam setelah Nandho pergi. Regina Athalia yang masih ada di ruang tamu-duduk lemas-harus dihadapkan pada tamu tak diundang No 3. Jika no 1 adalah Aero. No 2 adalah Nandho.


"Kamu tinggal disini ternyata. Ngga jauh-jauh amat."Itu kalimat pertama yang muncul setelah wanita paruh baya yang sudah hidup lama dengannya mendudukkan diri di sofa bekas Nandho tadi.


"Ibu sudah cerai dengan Bapak. Statusnya saat ini janda Re." Imbuhnya lagi karena tak kunjung mendapatkan respon dari Rea.


Syukur deh. Kata Rea dalam hatinya.


Tanpa melihat bagaimana Ibu tirinya saat ini, Rea tahu pasti jika wanita tua itu tengah memperhatikannya. Mungkin seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Kamu kan yang ambil sertifikat itu?"


Oh. Jadi karena ini Ibu itu datang. Tanpa pikir panjang Rea mengangguk. Kemudian tak lama mulutnya terbuka untuk bersuara. "Siapa lagi?"


"Sudah sampai mana proses pergantian nama itu?"


Lagi. Rea diuji dengan pertanyaan jebakan yang Ibu lancarkan. Jelas sekali wanita di hadapannya yang duduk seperti ibu pejabat ini ingin melakukan sesuatu untuk menghentikan langkah Rea.


"Denger Re. Rena dan Arka itu menikah karena-"


"Aku ngga pengin tahu alasannya. Basi!"


"Okeh. Mendengar jawaban itu. Artinya kamu tidak berniat untuk mengusik kehidupan adik kamu. Ibu tenang."


"Iya. Sekali-kali Rena pakai bekas aku." Ujar Rea dengan tenang. Namun berbanding terbalik dengan Ibu Arum. Dia justru mendadak berdiri menjulang hendak menyambar rambut Rea dengan tangannya. Nafasnya terdengar tidak lagi stabil, saat ini makin cepat.


"Ibu mau jambak aku?"


"Kamu sama Papa kamu sama aja!"


"Kan Rea memang anak kandungnya. Jelas sama." Entah karena apa. Kali ini Rea tak memiliki kesulitan untuk membalas kata-kata tajam yang Ibu lontarkan. Dengan wajah datar yang masih terfokus pada vas bunga, Rea membenarkan posisinya duduk. Berusaha menyamankan diri dan bersiap untuk pembicaraan panjang yang mungkin akan ngelantur kemana-mana.


"Ibu ngga cape berdiri?" Sekali lagi. Anak tiri yang dulu sering ditindas secara tidak langsung ini menunjukkan keberaniannya di rumahnya sendiri.


"Berani ya kamu sekarang? Baru beberapa bulan keluar dari rumah udah bisa mendebar orang tua. Udah bisa melawan bahkan sampe mencuri.


"Aku cuma ngambil hak aku."


"Dengan cara diam-diam?"

__ADS_1


"Ibu juga diam-diam ngambil punya aku yang Papa kasih."


"Apa?!"


"Jangan pura-pura lupa. Apa perlu Rea ingatkan kejadian waktu Rea tidur dan Ibu masuk ke kamar ngambil sesuatu?"


"Kamu!"


"Rea ngga masalah jadi tulang punggung keluarga selama ini. Bantu uang kuliah Rena, bantu tambahin uang belanja Ibu. Nerima Ayah baru yang ikut tinggal disana. Ngga masalah. Ibu mau tinggal di rumah itu sampai mati pun Rea ngga masalah."


Seakan sudah tidak sanggup lagi menahan rasa kesalnya selama ini. Rea sampai harus mengungkit masa lalu. Mengutarakan sejauh apa dia sudah membuat keluarga tirinya menjadi tercukupi.


"Pilih kasihnya ibu ke aku dan Rena itu bukan masalah buat aku juga. Karena aku sadar, aku bukan anak kandung Ibu. Kasih sayangnya jelas beda."


"Tahu apa kamu tentang menjadi Ibu? Kamu bahkan belum menikah, ngga tau rasanya hamil, melahirkan dan mendidik anak. Terutama mendidik anak orang lain. Memaksa mencintai orang lain yang sejujurnya ngga gampang."


"Jadi Ibu benar kan cuma pura-pura sayang sama aku di depan Papa?"


"Memang."


Bibir Rea akhirnya tersenyum sakit. Ibu tirinya bahkan tak susah-susah untuk mengatakan kebohongan. Dia memilih jujur dari pada membohongi Rea.


"Ya udah, aku akan tetap lanjutkan pengambilalihan harta Papa."


Tegas Rea sambil berdiri.


"Kalau kamu memiliki rumah itu silahkan, tapi Ibu minta bagian yang Bapak kamu tinggalkan. Ingat, istri memiliki ⅙ bagian. Dan pinjaman bank yang masih beberapa puluh juta itu, silahkan kamu yg selesaikan. Toh, itu dipinjam atas nama kamu."


Dasar benalu.


"Ibu pergi."


Bermaksud ingin membalas dendam pada Arum. Rea justru yang mendapatkan hal menyakitkan ini. Tega sekali ternyata orang-orang yang selama ini Rea berikan kehidupan di rumahnya. Belum cukup dengan mengambil teman berharganya-Arka. Saat ini, wanita itu menambahkan hal lain yang perlu Rea tanggung.


Hutang bank yang masih sekitar puluhan juta. Biaya untuk membayar jasa biro hukum saja belum terlunasi. Dia sudah harus dihadapkan dengan kasus lain.


Tak terasa air mata yang sudah menggenang perlahan jatuh. Suara orang menutup pintu terdengar, artinya wanita itu sudah pergi dari rumahnya. Dan tak mau lagi membendung kesakitannya. Isakan akhirnya lolos juga dari mulutnya.


Entah berapa menit dia berdiri di ruang tamu dengan kepala tertunduk dan menangis. Karena tiba-tiba sebuah kehangatan datang menyelimuti tubuhnya. Menyandarkan kepalanya di sebuah bahu yang lebar. Lelaki itu memberi Rea tempat singgah sejenak. Memeluk tubuhnya yang sudah sangat lama tak merasakan hangat dan nyaman seperti ini.

__ADS_1


"Saya akan bantu." Kata pria itu menenangkan.


__ADS_2