Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 89


__ADS_3

"Mas?"


"Hmm?" Lelaki dengan wajah sangar itu hanya bergumam. Ia masih serius dengan aktifitasnya sendiri.


"Itu mirip Pak Asep ya?"


Kepala Aero akhirnya terangkat. Ia diam, dipandangnya wajah teduh Rea dari jarak dekat. Sangat dekat sebab mereka tengah duduk bersebelahan di salah satu restoran tepi jalan. Meski tak banyak bercerita, Aero mengerti jika istrinya masih menyimpan kesedihan yang mendalam atas kejadian tragis tiga bulan lalu.


Netra indah milik istrinya mengamati satu orang di antara ratusan manusia yang berseliweran. Bibir merahnya masih menjepit sedotan berisi lemon tea, dibarengi dengan kedua telapak tangannya yang memegang tepian gelas layaknya anak kecil.


"Itu tuh Mas, yang pake kaos bola garis-garis biru merah. Iya kan?" Tambahnya lagi sambil menunjuk dengan salah satu jarinya, berharap Aero menemukan orang yang dia maksud.


Karena tak kunjung ada respon, Rea menoleh. Bukannya tersipu mendapatkan tatapan intens dari suaminya, Rea malah jengah. "Mas liatnya kesana! Itu loh." Perintahnya setengah kesal sambil mendorong pipi Aero ke arah lain.


"Gimana? Udah liat belum? Itu yang pakai baju bola lagi jalan ke arah sini." Regina Athalia kembali memperjelas deskripsi lelaki paruh baya yang ia temukan berwajah mirip almarhum Pak Asep.


"Sedikit."


Bukan hanya kesal karena respon yang terlalu sedikit, Rea juga kecewa dengan Aero yang tak bisa menilai kemiripan dua orang. Ditariknya perlahan tangan kanan yang sedang digenggam suaminya. Hati Rea mendadak mendung. Meski suaminya telah memberik bantuan untuk keluarga Pak Asep, Rea masih merasa itu belumlah cukup. Nyawa tak akan bisa disandingkan dengan apapun.


Aero membantu mencarikan pekerjaan untuk anak Pak Asep yang sudah tamat sekolah menengah atas, dia pun memberikan modal usaha untuk Ibu, serta beberapa m² tanah agar bisa dimanfaatkan. Juga ada beberapa hal lainnya yang tak Rea ketahui.


"Kita lagi di Barcelona, bukan di Cisarua."


"Mas ngga tau apa kalau di dunia ini tiap manusia itu punya 7 kembaran?"


"Itu teori siapa? Sudah terbukti?"


"Ngga tau juga."


Aero duduk menyandarkan punggungnya pada kursi. Tangan kanan terua aktif menggulirkan puluhan email, sementara tangan kiri ia pakai untuk memainkan ujung rambut Rea yang panjang. Suasana begitu cerah, tak terasa panas sebab ada pohon-pohon rindang yang menaungi mereka.


"Konsultasi kamu gimana?"


Sekesal apapun Rea, jika sudah dielus rambutnya-seperti apa yang sedang Aero lakukan sekarang-dia akan langsung luluh. Jarang untuk bisa mendapatkan perlakuan manis macam ini di luar rumah. Sebab Aero bukanlah orang yang suka pamer kemesraan. Dia hanya akan melakukan hal-hal menyenangkan, di dalam kamar.


Nah, berbicara konsultasi. Rea akhirnya teringat, sudah sebulan ini tiap minggunya dia mendatangi psikolog. Pikirannya perlu dijernihkan kembali, dia juga ingin hal buruk kemarin hanya bagian dari noda kecil yang tak akan mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Bukan tak mungkin Rea akan mengalami trauma berkepanjangan kan?


"Bisa ganti orang aja?"

__ADS_1


"Dia bagus kan? Dia teman aku waktu kuliah di Singapur, sejauh ini aku juga cocok ngobrol sama dia. Ada apa?"


Rea lebih dulu menyeruput lemon ice-nya hingga habis baru kemudian menjawab. "Ngga nyaman."


"Kenapa? Apa dia-"


"Ngga! Ngga begitu! Maksudnya, ganti perempuan aja, jadi kalau mau cerita tentang hal-hal lain tentang cewe ngga sungkan."


"Memang kamu mau cerita tentang apa? Laki-laki juga tahu tentang wanita, asal dijelaskan."


"Beda Mas! Cewe itu biasanya lebih peka, dia paham sama apa yang cewe lain alamin."


"Kalau gitu, kamu konsul sama aku aja gimana?"


"Ah! Mas ngga profesional. Nanti aku cerita panjang lebar cuma direspon oh doang."


Aero tertawa nyaring sampai memperlihatkan gigi gerahamnya. Hal yang menurut orang lain tak lucu, justru buat dirinya bisa sangat jenaka dan menghibur. Meski selera humornya payah, pria ini tetap saja menawan. Tak banyak perubahan yang terjadi pada Aero. Dia tetap cuek dan sinis, bahkan masih saja berani memarahi Rea. Namun satu yang pasti, pria berotot ini sudah tak lagi merajuk seperti anak gadis. Dia akan berusaha bersabar jika sesuatu tidak sesuai dengan kemauannya.


"Kamu justru ngga akan bisa berkutik kalau aku udah banyak bicara. Mau dicoba?"


"Aku lagi males berdebat." Bisik Rea lemah.


Aero harus bisa memaklumi kenapa Rea bisa seperti sekarang. Jadi, dibanding memancing Rea untuk banyak bicara yang akhirnya akan membuat istrinya pusing, lebih baik Aero mengalihkannya dengan hal lain. Salah satunya dengan pelukan tiba-tiba macam ini.


"Malu Mas."


"Dilepas?"


"Jangan!"


Meski Rea melarang, Aero tetap melepaskan pelukannya. Dia bahkan langsung bangkit dari kursinya menghabiskan makan siamg. "Kita jalan! Lanjut di hotel."


"Pelukan doang! Ciuman pun ngga ada yang bakalan liatin. Tuh! Dari tadi di sebelah Mas udah sampe basah bibirnya."


"Kamu jangan ke barat-baratan!"


"Sekali ini aja. Mumpung bukan di Indonesia."


Cup

__ADS_1


"Sebentar banget." Protes Rea, karena ciuman Aero tidak seperti yang dia harapkan. Wanita cantik itu akhirnya ikut berdiri, mengekori Aero yang sudah beberapa langkah meninggalkan dirinya.


"Percuma ke tempat romantis, orangnya aja ngga mendukung." Gerutu perempuan itu diam-diam. Langkahnya dibuat lebar untuk bisa menyamai Aero yang berjalan cepat.


Tentang pelaku-orang yang melakukan tindakan perampasan di malam itu-merupakan orang biasa yang baru pertama kali mencoba melakukan hal tersebut. Dia bertindak nekat karena sebulan lalu baru saja di PHK dari pabrik tempatnya mengais rejeki. Namun kejahatan tetap kejahatan, kesengajaannya menusuk sopir taksi online hingga membuat hilangnya nyawa, menjadi dasar hakim untuk menjatuhkan hukuman kurungan. Tepat setelah ketok palu, sang lelaki meminta maaf dan memohon pada Aero yang saat itu duduk di belakang mengikuti sidang. Bukan tentang pembebasan yang dia harapkan, tapi untuk memberitakan keadaannya pada istri dan anak.


Wajah Aero sempat mengeras, ingin sekali dia membungkam mulut lelaki yang tega menjambak dan membenturkan istrinya ke kaca itu dengan pukulan upper cut. Setidaknya ada sebuah kesakitan fisik yang dirasakan, ada kenang-kenangan dari sang atlit tinju sebelum pelaku mendekam di bui. Tapi dalam situasi tersebut Aero diharuskan bertindak dewasa. Daripada memakai otot, lebih baik memakai otak untuk membuat si pelaku jera.


Satu hal yang lebih disyukuri lagi adalah, Reanya masih selamat, masih bisa di peluk dalam keadaan utuh. Beruntung jaringan bisnis Aero tersebar hingga Bogor, orangnya ada dimana-mana.


"Mas?!"


"Hmm?!"


"Mas?! Panggil sayang lagi dong kaya waktu itu? Aku cuma satu kali doang dengernya. Masa Rea-Rea terus." Pinta istri ini pada suaminya. Mereka sedang berjalan di sepanjang jalur La Rambla, sebuah jalan di Barcelona pusat. Jalan ini dipenuhi pepohonan, membentang sejauh 1,2 kilometer yang menghubungkan Placa de Catalunya dengan Patung Christopher Columbus di Port Vell. Tempat ini banyak ditemukan restoran yang menjual makanan khas Spanyol, penginapan, dan beberapa spot untuk berfoto dan bersantai.


"Mass Aeroo??!" Tekan Rea untuk kesekian kalinya.


Dia memang berubah lebih cerewet setelah mengikuti konsultasi, lebih bisa menyampaikan semua hal. Tapi sejak dulupun Rea memang seperti itu kan? Jadi intinya, wanitanya ini tidak berubah. Tetap sama.


"Puedes callarte, mi amor?'"


Langkah Rea terhenti sesaat, hingga mau tak mau Aero pun mengikuti. Ditatapnya wajah cantik itu sedang terpana. Senyuman langsung terulas dari bibirnya. Aero hanya mengamati dalam diam. Mungkin Rea terpana karena dia menggunakan bahasa asing itu padanya.


"Nah gitu dong." Jawabnya berbunga-bunga.


Kening Aero berkerut. Ia tidak tahu kenapa respon dari kalimatnya seperti ini. Sedikit penasaran, Aero pun memastikan. "Tahu artinya?"


"Tahu lah. Mi amor masa ngga tahu." Sela Rea cepat, meski kosa kata bahasa Spanyol-nya begitu minim. Tapi 'mi amor' adalah kata yang sudah sangat lama dia ketahui. Mendengar itu Rea merinding diam-diam. Langkah keduanya kembali terayun, selaras dan terukur.


Aero tak bereaksi, ia tetap tenang di tempat yang sudah sangat lama ingin dia kunjungi. Meski wajahnya datar, lengannya yang berotot langsung mengalung di leher Rea kemudian menjepitnya erat. Ia kesal sekaligus ingin tertawa. Jadi istrinya tidak mengetahui arti puedes callarte.


Artinya apa si??


hehehee


Tinggal 1 part lagi besok gaesss...


Aduh, ngga rela nih pisah sama Aero dan Reaa.

__ADS_1


__ADS_2