Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 25


__ADS_3

Mengikuti apa yang diinginkan lelaki tua, akhirnya Aero benar-benar ke Bali.Sebab beberapa bulan lalu saat ingin melihat lokasi villa kosong, dia membatalkan sepihak.Padahal tiket sudah dipesan dan Tuan Danunjaya menunggu di bandara. Kecewa pasti.Namun seolah tahu kemungkinan buruk akan terjadi,lelaki yang duduk di kursi roda itu tetap melanjutkan perjalanannya bersama sang asisten.Bukan untuk bekerja, tapi murni untuk berlibur dan menenangkan pikiran.Hidupnya sedikit lebih tenang.Karena Aero-anak lelakinya bersedia kembali ke rumah dan mau menerima apa yang menjadi hak-haknya.


Bertahun-tahun Aero sempat hidup di jalanan hanya karena tidak pernah diijinkan untuk menjadi dirinya sendiri.Aero yang liar dan aktif bergerak tak sejalan dengan ayahnya yang seorang intelek. Jiwa muda Aero memberontak, tak mau dikekang untuk mengikuti segala pendidikan nonformal ini-itu.Dia hanya ingin menjadi seorang atlet tinju, yang bebas dan tak memikirkan banyak hal di otaknya.


Tahu anak lelakinya memang keras kepala namun sebenarnya berhati rapuh.Ketika Ibunya meninggal, Aero akhirnya kembali lagi ke rumah.Dia merasa bersalah, menyesal dan tak punya penguat lagi.Tidak ada Mama yang mendatangi rumah sempit di bawah tol untuk memberi makan dia dan para sahabat-sahabatnya.Tidak ada wanita yang ikut melihat pertandingan tinju amatirnya di pinggir ring.Tidak ada lagi wanita yang menangis sambil mengobati lebam di pelipis Aero setelah bertanding.Tidak ada yang diam-diam mengirimkan dia uang jajan.Dan tidak ada yang berbaik hati merayakan ulang tahunnya di sasana tinju.Sudah tidak ada yang seperti itu lagi.


"Mama mau kemana?Ke bawah tol lagi?"


Nyonya Danunjaya hanya diam, ia bersama para ART terus memasukkan box-box makanan ke dalam kantung.Mereka bersiap untuk merayakan ulang tahun Aero di sasana.


"Mama betah disana?" Dulu,Danunjaya memang keras.Dia masih lelaki yang memiliki keinginan, Aeronya harus bisa sepertinya, yang berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang jelas.


"Papa makanya sekali-kali ikut."


"Ngga!"


"Gimana Aero mau luluh, Papanya aja ngga pernah perhatian."


"Iya ngga perlu nyindir."


"Hari ini Aero mau sparing Pa, di sasana.Ngga mau nonton secara langsung?" Sang Nyonya tak lelah untuk mengajak.Ia selalu mengirimkan video-video pertandingan Aero ke suaminya.Sebagai info pada sang suami, anak lelakinya memang berbakat, anak lelakinya bahagia memilih jalan itu.


"Tidak ada manfaatnya menonton dua orang yang saling menghantam." Balas pria itu sambil memencet remot televisi, menggantinya dengan siaran berita.


Nyonya cantik itu menyerah, menggeleng seolah sudah tak habis pikir dengan kekeras kepalaan si kepala rumah tangga.


"Bi, cepetan." Teriak Bu Danunjaya dari luar rumah. Saat itu jam 18.30, dan Aero akan bertanding sekitar pukul 21.00.Beberapa ART langsung membawa plastik besar berisi makanan berserta desert dan minumannya, lengkap.


Melihat kesibukan yang tersaji di depan mata.Pria tua itupun akhirnya berdiri.Ia menghentikan Bibi Sumi kemudian bertanya dengan suara lirih,"menunya apa?"


"Udang goreng tepung, ada rendang, cumi saus tiram, capcay kesukaan Mas Aero, sop bu-"


"BI SUMI!!" Penjelasan Bi Sumi langsung terpotong,seiring panggilan keras dari sang majikan.


"Iya Nyah!" Balas perempuan tua itu juga sama kerasnya.Kedua tangannya membawa plastik besar.Dan sebelum Bi Sumi melangkah untuk menyusul dan masuk ke mobil-ikut membantu di lokasi nanti, Tuan Danunjaya mencegah.


"Memang Sasananya dimana?" Tanya pria itu lagi sambil menelok ke kanan kiri seolah tak peduli.Diam-diam Bi Sumi tertawa, melihat Tuannya yang katanya tak berniat menonton dua orang yang menghantam ternyata menaruh rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Di Bogor Tuan."


Mata Tuan langsung menajam seperti mengintimidasi setelah mendengar jawaban Bi Sumi."Jangan bohong, biasanya kan di-"


Bi Sumi tersenyum penuh arti saat Papa Aero mulai menunjukkan dirinya yang sesungguhnya.Dan saat itu terjadi, Danunjaya sadar ia sudah melakukan kesalahan."Udah sanah berangkat!" Usirnya kemudian.


Kini,liburan berdua mereka benar-benar nyata. Aero berbaring di kursi santai tepi kolam, menutup matanya dengan kacamata serta bertelanjang dada membiarkan cahaya matahari membakar kulit tubuh.


Danunjaya tak berniat mengganggu,dia hanya memastikan anaknya nyaman di villa ini.Bersama asistennya dia menuju ruang kerja, untuk mempersiapkan sesuatu.


...***...


"Umur aku 32 tahun,rasanya ngga pantes banget untuk ngajak kamu pacaran.Aku mau hubungan yang serius, bukan sekedar main-main."


"A-Mm." Rea tak bisa berkata-kata.Sebenarnya sudah jauh-jauh hari Bu Nindi menyampaikan hal ini-keseriusan Nando-namun Rea tidak menyangka jika saat disampaikan secara langsung nafasnya mendadak tercekat.


"Kalau kamu mau yang seperti apa?"


Ditanya seperti itu,tentu makin membuat Rea gugup.Ia tak punya jawaban.Sejauh ini, pikiran dan tenaganya masih terpusat pada kasus mengambil alihan rumah-sudah memasuki babak baru.


Tidak di cafe, restaurant, atau mall.Nando dan Rea tengah duduk santai di teras rumah.Menghabiskan sore hari dengan minum teh dan cemilan ringan.


"Mereka akan bersyukur kalau aku segera menikah.Tahun lalu, adik aku menikah."


"Oh ya?Aku baru tahu."


"Kamu ngga pernah tanya." Jawaban yang sebenarnya menohok.


"Adik laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Memang Mas punya saudara berapa?"


"Setelah sekian lama, akhirnya kamu menanyakan hal ini ya?"


"Hmm?"

__ADS_1


"Saudara aku 7, aku anak pertama."


Mata Rea melebar setelah mengetahui fakta ini. Dia benar-benar terkejut, sampai mungkin ekspresinya tak bisa ia kontrol.


"Kenapa? Ada masalah?"


"Rame ya pasti di rumah.


"Iya selalu ramai.Di rumah masih utuh 7 anak .Ada sekitar 3 kepala keluarga di rumah aku."


Speechless. Rea menelan ludahnya susah payah.Ia jadi berpikir, selama berhubungan dengan Nando apa saja yang sudah dia lakukan? Sampai-sampai baru mendapatkan informasi ini."Waw." Celetuknya, karena bingung harus bagaimana.


Di tempatnya duduk, Rea mulai flashback kejadian 3 bulan ke belakang. Pertemuan pertama, dia benar-benar menjadi Rea yang pemalu, tak banyak omong.Pertemuan selanjutnya, wanita cantik itu mulai terbuka.Ia berhasil merespon apa yang Nando ceritakan dengan baik.Memang, selama ini Dosen itulah yang memulai topik obrolan, Rea hanya mengikuti saja.


Pertemuan lagi, hanya diisi cerita aktifitas Nando yang sibuk dengan penelitiannya.Keluhan tentang dosen baru yang tak sesuai ekspektasi.Dan masih banyak lagi keluhan di tempatnya bekerja.


Nando juga menanyakan Rea tentang kehidupannya, termasuk keluarga.Namun, dia tak pernah menanyakan hal sebaliknya.Atau dalam hal ini, Rea terlihat tak berusaha untuk mengetahui kehidupan pribadi dosen itu.


Ok, dari itu Regina Athalia tersadar.Dia harus berusaha lebih baik lagi dalam hubungan ini.


"Besok aku ajak ke rumah mau? Kenalan sama Ibu dan adik-adik aku.Mereka orang yang asik kok."


"Apakah harus besok?"


"Kamu ada acara?"


Kepala Rea hanya menggeleng, yang artinya dia free.


"Good.Aku jemput jam satu ya.Jangan pakai pakaian berlebihan."


Untuk sesaat,Rea hanya mampu menahan nafas.Pesan pria itu singkat, memintanya agar berpakaian sederhana.Namun, hati Rea merasakan sesuatu yang tidak nyaman.Nando bilang keluarganya asik. Bukankah kriteria asik menurut orang-orang berbeda?Menemui satu atau dua orang Rea siap.Tapi jika yang ditemui lebih dari itu, rasanya dia perlu banyak waktu untuk mempersiapkan diri.


Apa yang harus dia lakukan?Membawa buah tangan? Obrolan apa yang akan muncul nanti? Apa Rea bisa mengikuti arah candaan mereka?


Sepanjang malam, ia kesulitan untuk tidur.Pikirannya melalang buana kemana-mana.Terlalu panik untuk kejadian yang belum terjadi.


Bunyi notifikasi ponsel membuyarkannya dari proses berpikir panjang.Matanya terbelalak, saat membaca apa isinya.

__ADS_1


Aku di depan, tolong keluar sebentar.


Aero


__ADS_2