Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 39


__ADS_3

Awalnya Rea bermaksud menjaga jarak, dengan cara tak merespon apapun yang keluar dari mulut Aero. Namun, begitu pria itu dengan seenaknya masuk ke kamarnya- rasanya Rea tak bisa untuk terus diam. Bisa-bisa nanti pria itupun tidur di ranjangnya, jika Rea tak menegur.


Untuk itulah kali ini, saat berniat mengambil jaket di dalam kamar dan Aero begitu saja lewat di belakang tubuhnya. Rea langsung balik badan kemudian menarik apa saja yang bisa digapai dari tubuh Aero. Yang kebetulan sekali, ia berhasil menggenggam kaos bagian punggung pria itu.


"Kamu mau apa?" Jerit Rea yang menahan langkah Aero.


"Saya ikut ke kamar mandi." Seru Aero tanpa membalikkan badan.


"Ada kamar mandi luar!"


"Kotor." Jawab pria itu dengan mudahnya. Jahat sekali mulut pria itu mengatakan kamar mandinya kotor. Bahkan setiap dua hari sekali dia bersihkan. Atau mungkin, kemarin dia memang lupa membersihkan? Entahlah.


"Aero!!"


Dan terlepaslah pria itu secara dramatis. Aero akhirnya berhasil masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Rea. Tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Dasar sinting.


Buru-buru sekali Rea menyambar jaket yang ada di dalam lemari. Tanpa memeriksa warna jaket apa yang dia ambil, wanita inipun memakainya sambil berjalan keluar kamar. Bermaksud ingin meninggalkan Aero sendiri di rumah. Biarlah. Lelaki itu memang sulit untuk diperbaiki kebiasaan buruknya.


"Rea!!"


Suara Aero mulai terdengar memanggil namanya. Mempercepat gerakan, Rea meminum segelas air putih dengan cepat dan menenteng tas yang sudah dia siapkan. Ia ingin memberi pelajaran pada pria itu.


Tok tok tok.


"Sebentar!-Ya ampun siapa tamu tidak tahu diri yang sudah datang pagi ini ke rumah?" Bisik Rea, kakinya melangkah lebar menuju ruang tamu.


Pintu terbuka, mulut yang hampir saja menumpahkan kekesalan mendadak harus tertutup kembali. Nandho datang ke rumah Rea-pagi seperti ini. Untuk apa?


"Ada apa Mas?" Cicit wanita cantik ini ragu-ragu. Pandangannya langsung turun ke arah pakaian yang dikenakan pria itu.


"Ak-aku bermaksud ingin mengucapkan maaf dengan cara yg benar secara lang-"


"Rea, sabun mandi kamu habis!"


Ucapan Nandho langsung terpotong dengan suara nyaring dari dalam rumah. Bukan hanya suara, karena kemudian seseorang mulai terlihat dari dalam ruang tengah. Kernyitan langsung muncul di kening Nandho. Terlebih dengan apa yang Aero lakukan sambil berjalan ke arah mereka. Pria itu memakai kembali kaos hitamnya untuk menutup tubuh atas yang telanjang.


"Itu siapa?" Rea yang tak menyiapkan apapun, kebingungan. Selain karena Aero bukan siapa-siapa baginya, juga karena melihat reaksi Nandho yang terlihat keruh.


"Dia siapa? Keluarga kamu?" Ulangnya sekali lagi.


Rea menggeleng.


"Saudara kamu?"


Juga hanya gelengan kepala yang mampu Rea berikan.

__ADS_1


"Teman kamu?"


"Bukan."


"Pacar??"


"Bukan juga."


Setelah rentetan pertanyaan yang tak juga dijawab benar oleh Rea. Nandho makin berpikiran negatif tentang kehadiran lelaki yang sudah berdiri di belakang tubuh Rea ini-berjarak sekitar satu meter.


Niatannya datang ke rumah ini untuk memulai lagi hubungan baru. Memperbaiki semua dan mengulang dari awal pendekatan mereka. Tapi, sepertinya pemikiran itu harus segera dienyahkan dari otak Nandho sesegera mungkin.


"Selama ini aku pikir hanya aku yang bolak- balik ke rumah kamu. Bahkan ngga pernah kamu ijinin aku masuk sampai ruang tamu. Tapi melihat sendiri dia kamu ijinkan berkeliaran di rumah bahkan pagi-pagi seperti ini. Aku pikir kesimpulanku ini benar. Dia jelas special buat kamu, sampai-sampai kamu membiarkan dia tidur disini."


"Ya?" Reflek Rea menjawab. Dia kaget dengan apa yang pria itu katakan.


"Jadi benar tidur disini?"


"Kamu masih peduli?" Dan setelah hanya eksis dengan tubuh yang segar sehabis cuci muka. Aero berani mengeluarkan suara tegasnya yang menakutkan.


"Ngga sama sekali." Dengan cepat Nandho menyambar, bahkan tanpa berpikir dulu. Meninggalkan sedikit rasa sakit di hati Rea ketika mendengarnya.


"Lalu apa masalah kamu?" Aero begitu ingin tahu.


"Laki-laki harusnya tidak seperti ini. Mulut mereka diciptakan bukan untuk menyindir dan menjatuhkan wanita. Kamu terdengar mirip sosialita tukang gosip." Balas Aero sarkas.


"Maaf, Anda sebenarnya siapa?"


Mata keduanya makin menajam. Seperti tengah menimbang kekuatan lawan masing-masing. Seperti tengah menyiapkan strategi apa yang digunakan untuk menghadapi jenis pria seperti ini.


"Tidak ada gunanya kamu tahu siapa saya. Cukup saya yang tahu kamu adalah siapa-Nandho Prasetyo Aji. Benar kan?"


Emosi Nandho terpancing usai Aero menyebut nama lengkap dirinya. Kakinya sudah dua langkah maju dengan tangan kanan yang terangkat hendak meraih kerah baju Aero. Namun, sebelum itu terjadi Rea sudah lebih dulu menepis tangan Nandho yang terulur.


"Mas!" Tegur Rea.


"Kenapa?"


"Jangan buat kekacauan disini. Malu!"


Senyum Nandho tiba-tiba terbit, bersamaan dengan ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Rea bilang hanya karena dia mengulurkan tangan untuk mendorong bahu Aero, disimpulkan dia akan berbuat kekacauan. Lucu sekali calon mantan istrinya ini.


"Apa yang lucu?" Tanya Aero yang tahu benar apa maksud ekspresi tadi. Pria berkacamata itu nampak seperti sedang mengejek apa yang Rea katakan tadi.


"Ternyata aku rugi ya Re, selama ini belum sempat make kamu."

__ADS_1


Bug


Semua terjadi dengan begitu cepat. Rea tidak bisa bereaksi atau bergerak untuk melerai baku hantam yang terjadi di depan matanya. Dia takut mendekat, karena salah-salah justru ia yang terkenal sikut atau pukulan. Jadi lebih baik, dia memanggil nama Aero berkali-kali untuk berhenti menghajar Nandho. Jelas disini, pria itu yang unggul. Nandho terbaring di lantai sedangkan Aero setengah membungkuk meninju dan menghalau tangan Nandho yang membentuk perlindungan.


"Aeroo!!!"


Entah itu panggilan keras yang ke berapa. Akhirnya Aero berhasil menghentikan kegilaannya yang membuat Rea takut, belum lagi membuat tontonan di komplek perumahannya. Di luar pagarnya ada bapak dan ibu yang memandangi perkelahian itu-tidak terlihat tanda-tanda ingin melerai.


"Masuk!!" Tanpa menghiraukan ketakutan di wajah Rea akibat ditonton oleh puluhan warga. Aero menarik kerah leher Nandho untuk bangkit dan menariknya kasar masuk ke rumah.


"Rea masuk!!" Bentakan Aero kembali terdengar saat sang pemilik rumah tak juga mengikuti dan menutup pintu.


Seperti orang yang kehilangan nyawa, Rea hanya mematung di teras rumah. Menatap bingung tetangganya yang mulai berbisik tidak jelas. Sudah dia pastikan, citranya kali ini tak bisa diperbaiki lagi-sepertinya.


"Masuk!" Tangan Aero langsung menarik tubuh wanita cantik yang hendak pergi bekerja ini kembali ke rumah. Tidak ada penolakan, bahkan saking penurutnya, Rea masih mematung di ruang tamu setelah Aero meminta maaf pada warga dan menjelaskan sedikit keributan apa yang terjadi.


Ceklek.


Suara pintu utama dikunci dari dalam terdengar. Dan Tubuh Rea terdorong perlahan ke arah sofa kemudian ditekan untuk duduk disana-oleh Aero, siapa lagi. Sementara tepat di hadapan Rea, ada Nandho yang duduk lemas sambil memegang rahang lebamnya.


"Entah kamu Dosen profesional atau hanya Dosen abal-abal. Tapi omongan kamu tadi tidak mencitrakan seorang pendidik. Saya tahu kamu memiliki masalah pribadi dengan dia." Jelas Aero perlahan sambil menunjukkan posisi Rea dengan dagunya.


"Selesaikan baik-baik. Berpisah baik-baik. Kalau tidak mau seperti itu, saya akan cari kamu ke kampus."


"Anda mengancam saya?"


"Kalau itu disebut ancaman, silahkan."


"Kalian pacaran?"


"Bukan urusan kamu."


"Anda baru saja melakukan tindakan kekerasan pada saya. Dan ini-"


"Kamu mau memeras saya? Silahkan. Melaporkan saya? silahkan."


"Bukan. Saya hanya ingin tahu, untuk alasan apa anda memukul saya."


"Simple. Saya hanya tidak suka dengan kamu."


...***...


Pada akhirnya hari ini Rea meminta ijin untuk tidak bekerja. Dia mendadak pusing. Setelah waktu istirahat malamnya yang begitu singkat. Juga belum sarapan. Ditambah dengan pikiran-pikiran liar para tetangganya yang mengusik Rea. Ia begitu tidak nyaman dengan pandangan tadi. Seolah mengatakan,'Oh kamu ternyata wanita seperti itu? Nemplok sana dan sini? Pantas menyewa rumah, ternyata untuk kegiatan bersenang-senang dengan lelaki'.


Tidak bisa dibiarkan berita itu tersebar.

__ADS_1


__ADS_2