
Bukan tentang janji yang tidak ditepati. Bukan. Ini hanya sikap kekanakan yang nyatanya masih melekat erat bagaikan bayangan dalam diri Aero. Sekali kecewa dia tidak peduli seberapa lama mendiamkan dan bertindak jahat pada orang yang telah membuatnya kecewa. Baginya, juga menurut Bordes-sahabatnya yang telah lama menikah-lelaki akan selalu ada di atas, mereka memegang kendali dan keputusan. Ia hanya ingin menunjukkan, sesunguhnya dalam hal ini dia yang tetap harus dituruti. Perkara perayaan ulang tahun bisa dilakukan setelah pertandingan itu selesai. Aero tidak mengabaikan. Dia hanya ingin diutamakan terlebih dahulu. Apakah itu salah?
Lima ronde yang dilewati dengan terus menunggu kedatangan seseorang adalah hal yang begitu dia benci. Konsentrasinya terpecah saat menggantungkan harapan pada wanita yang baru beberapa bulan jadi istrinya. Sesi break antar ronde selalu ia sempatkan untuk mengamati suasana di luar ring. Siapa tahu Reginanya datang diam-diam, dan berdiri agak jauh dari arena, itulah apa yang Aero pikirkan.
Tiga ronde pertama Aero masih bisa bertahan, meski susah payah menahan gempuran. Dan dua sisa ronde lainnya ia jalani dalam ketidaksiapan. Aero masih setia menunggu. Ia menanti tiap detik pertandingan sambil terus bergumam dalam hatinya, Rea mungkin akan datang terlambat. Untuk itu di ronde terakhir, dia mengeluarkan seluruh energinya. Sisa energi yang tidak seberapa dibandingkan sang lawan. Aero kalah dan babak belur. Dia memaksakan untuk tetap bertanding, meski pelatih dan medis sudah memberinya tanda bahaya, rusuknya kembali cendera. Dia merasa sia-sia melakukan pertandingan ini. Dia kalah dengan cara yang tidak terhormat, untuk kedua kalinya.
Jordi tak ia beritahu apapun, begitupun ayahnya sendiri. Aero kembali menjadi lelaki 15 tahun yang penuh ego dan penyendiri. Dia sedang tak ingin mendengarkan siapapun saat ini. Yang dia lakukan hanya melalui hari demi hari sebisanya, kemudian berharap egonya sendiri akan kalah. Tapi entah kapan semua itu akan kembali seperti semula. Apakah harus sampai ada yang pergi lagi dari dunia ini? Sama seperti saat Mamahnya-orang yang dia begitu sayangi meninggalkannya di dunia tanpa kata perpisahan. Haruskah? Agar dia menyesal dan otaknya yang cerdas itu tidak bebal. Let see.
Nafas lelaki yang baru berolahraga ringan ini berhembus teratur. Keringat tipis membasahi dahi dan pelipisnya. Ia tak melakukan apapun di sasana sejak seminggu setalah sparring. Aero hanya istirahat dan sesekali melakukan yoga untuk melenturkan otot-ototnya.
"Jordi kemana Bos?"
Ardi, pelatih sekaligus anak buahnya yang setia bertanya, sambil mengulurkan botol air mineral. Karena begitu membutuhkan, Aero menyambutnya tanpa sungkan, meneguknya rakus hingga air membasahi lehernya.
"Antar Rea ke Bogor."
Memang bukan tipekal Ardi untuk bertanya lebih jauh, dia terprogram untuk mendengarkan perintah dan bertanya sesuatu yang dia anggap penting saja. Dan menurutnya, keberadaan Jordi jauh lebih penting daripada keingintahuannya selama ini tentang kehidupan rumah tangga Aero.
"Menurut kamu Ar, seberapa lama perempuan akan bersabar terhadap pasangannya yang mendadak berubah?"
Untuk sejenak Ardi terdiam, ia kembali minum sambil mencari jawaban atas pertanyaan Bosnya. Berbeda sekali apa yang terjadi saat Ardi jadi pelatih dan jadi bawahannya, pria itu tak segan meneriaki Aero untuk tetap fokus ketika menghadapi lawan. Dan lihatlah sekarang, pria tegap itu banyak diam, seperti takut untuk menyampaikan pendapat.
"Mendadak berubah ke arah positif atau negatif?"
"Aku ngga akan tanya kamu kalau berubahnya ke arah positif."
"Karakter tiap perempuan itu beda-beda. Ada yang dianugerahi kesabaran luar biasa, mereka bisa bertahan dalam jangka waktu yang kita sendiri tak sanggup menghitung lamanya. Pun ada wanita yang akan langsung berontak, dalam arti mereka sudah tidak bisa menahan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Semakin sabar perempuan, artinya dia semakin baik. Dia bukannya bodoh atau mudah dipermainkan. Justru dia hebat karena hatinya begitu luas dan lapang." Ardi yang tak biasanya seperti ini langsung tersadar. Dia sudah banyak bicara. Namun ketika merasakan tepukan di bahunya-yang tidak lain dari Bosnya Aero-Ardipun menambahkan sedikit argumennya. "Dalam agama kita sendiri pun mengatakan, kalau sabar itu tidak ada batasnya kan? Aku setuju dengan itu."
__ADS_1
"Jadi kamu setuju jika terus disakiti, makan sabar adalah satu-satunya jalan?"
Ardi tersenyum lebih dulu. Dia sebenarnya was-was jika harus mengatakan hal macam ini. Dia belum pengalaman dalam membina hubungan dengan lawan jenis, pun hubungan dengan keluarganya yang entah ada dimana.
"Sebenarnya perkara sabar bukan keahlian aku. Tapi aku pernah mendengar dan membaca banyak buku. Dalam sebuah pernyataan pendek, dikatakan bahwa sabar itu…seperti namanya, sesuatu yang pahit dirasakan, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu."
Mendengar hal terakhir yang Ardi ucapkan, reflek Aero tersenyum. Ia menunduk mengamati kakinya yang masih terbungkus sepatu olahraga.
"Sabar tidak ada batasnya, tapi manusia lah yang membuat batasan-batasan. Dan terkadang, diam adalah tindakan terbaik yang dilakukan saat kita butuh bersabar." Lanjut Ardi lebih berani lagi.
"Diam saja tak akan bisa menyelesaikan masalah. Kita tidak bisa menebak isi pikiran seseorang. Dengan bicara dan saling adu argumen, kita bisa tahu keinginan masing-masing. Itu satu cara terbaik menyelesaikan masalah ketimbang diam."
"Diam yang dimaksud bukanlah diam tanpa tindakan, tapi sebagai jeda untuk kita rehat sejenak dari memikirkan masalah yang ada, kemudian memikirkan cara selanjutnya untuk menghadapi masalah. Keputusan akan dikatakan baik jika dipikirkan dengan kepala dingin kan? Bukan dengan saling meneriaki dan adu urat."
Aero tak lantas membalas, dia lebih dulu mencerna apa yang keluar dari bibir Ardi. Sebagaian besar benar, tapi ada yang bertentangan dengan hatinya. "Artinya kita berbeda prinsip Ar."
"Bukan tentang prinsip. Ini hanya tentang melihat dari sudut pandang yang lebih dewasa. Terkadang kita tidak perlu menjadi seseorang yang terlalu aktif bicara ketika ada masalah. Kita bukan lagi anak-anak. Dan menghindar dari masalah, juga bukan penyelesaian yang baik."
"Maaf kalau lancang, apa ini ada kaitannya dengan istri Bos?"
Untuk beberapa saat, gerakan tangan Aero yang tengah melepas simpul tali sepatu terhenti. Kepalanya tertunduk, namun mengerjap beberapa kali. Pembicaraan ini harus diakhiri sesegera mungkin.
Jelas ada. Tapi tidak akan aku katakan. Dia mungkin seperti apa yang kamu sebutkan, memiliki hati yang luas dan lapang.
Aero bangkit, dia meninggalkan Ardi sendiri di salah satu ruang latihan tanpa sepatah katapun.
...***...
__ADS_1
"Kalau nanti kamu punya pacar ya, pasti pacar kamu udah keburu minta putus. Habis kamu ngambekan. Sekalinya ngambek sampe berhari-hari. Mamah yang sayang banget sama kamu aja cape. Apalagi dia?"
"Ngga sempat putus malah Mah. Udah ditinggal diam-diam." Celetuk lelaki tua di samping wanita yang Aero cintai. Dan pernyataan itu kesal. Tapi tak lantas meninggalkan meja makan begitu saja, Aero sudah berjanji untuk menyelesaikan seburuk apapun obrolan yang nanti tersaji.
"Ini kare kentang kesukaan kamu loh. Dimakan dong."
Kembali wanita cantik itu mengalihkan topik yang sedang dibicarakan. Tak terhitung sudah berapa kali dia melakukan. Sebelum adanya pembicaraan tentang pacar dan ngambek, jauh beberapa menit sebelumnya ada hal tentang bagaimana perkembangan Aero di dunianya yang dipilih, bagaimana kehidupan pria itu yang tinggal di rumah sempit bersama para anak-anak lain.
"Disuapin mungkin Mah."
Brak
Aero membanting gelas bening yang sedang dia genggam ke permukaan meja. Dia tidak suka saat Danunjaya kembali mengejeknya seperti itu. Aero sudah 17 tahun, dan dia sudah bisa melakukan hal-hal yang tak seberapa itu sendiri. Kenapa harus kembali diibaratkan seperti balita yang terus merengek? Apakah dia terlihat seperti itu di balik badannya yang sudah terbentuk?
"Bisa ngga Mamah suruh suaminya untuk tenang? Aku pengin makan disini, bukan ingin ribut!" Katanya tanpa rasa takut kepada Mamahnya, namun mata elang itu menatap lurus pria yang tua yang sudah mendanai seluruh kehidupannya.
Sembari mengendarai motornya di tengah jalanan Ibukota yang lengang, Aero kembali mengingat moment keluarga kecilnya dulu. Kalimat Papahnya terbukti, Reanya pergi tanpa dirinya, tanpa kembali membujuknya untuk ikut.
"Regina Athalia dan Regina Yuliana itu beda. Ibu dan istri kamu tidak sama. Kalau Ibu akan selalu setia. Kalau istri kamu, bisa kapan saja mendua."
Aero menarik gas motornya makin kencang. Terlebih pada ejekan yang lagi-lagi keluar dari mulut Danunjaya tadi sore. Apa seperti itu cara orang tua mendidik anaknya? Tak bisakah juga membawa perasaan di dalamnya? Karena bukannya menenangkan, orang tua itu justru membuatnya makin ketakutan.
Alhamdulillah, bisa selesai lagi part 85
Tinggal sedikit lagi
Jadi gaes, Aero sudah terbentuk sejak kecil seperti itu. Sulit luluh.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Comment dan likenya..
Thank you atas suportnya selama ini, khususon yang setia ngikutin tulisan-tulisan akuuu