
Bukannya Rea tidak memiliki sahabat hingga saat ini. Ada, namun sosok teman dekat itu sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari Jakarta. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga membuat Elsa tau diri. Tak pantas Rea merecoki kehidupannya lagi. Sesekali mereka berbagi kabar, tapi tak sampai Rea menceritakan masalah-masalahnya. Sebab Andini-sahabatnya pun sering galau, bisa dilihat dari status WA maupun instagram wanita itu.
Yang tersisa hanya Bibi Yul, pengasuh sekaligus teman curhatnya saat ini. Tak juga pantas disebut teman, karena dia lebih seperti orang tua pengganti, yang akan memberinya nasehat dan teguran apabila mengambil jalan salah.
Dimana sahabat yang lain? Teman semasa SMA dan kuliah mungkin? Jawabannya adalah, mereka telah menemukan kenyamanan dengan yang lain atau menemukan lingkup pergaulan sefrekuensi. Ada kalanya memang mereka bertemu, hanya sekedar menyapa, menunjukkan sampai mana pundi-pundi kekayaan yang mereka dapat, memamerkan pasangan. Ya, memang hanya seputar itu.
Dan malam ini, mereka punya waktu untuk bertemu di salah satu cafe ternama kawasan senayan. Awalnya Rea menolak, ia beralasan masih ada di rumah Bosnya hingga malam. Namun, salah seorang dari mereka berhasil memancing Rea untuk tetap datang.
"Nah itu Rea dateng. Molornya ngga tanggung-tanggung."
Disindir macam itu, Rea hanya tersenyum sambil mencium pipi mereka satu persatu. Mereka-Indah, Yosi dan Lulu-tampil begitu total malam ini, sangat berbanding terbalik dengan Rea yang sama sekali belum mandi. Ia tampil ala kadarnya, karena memang tidak berniat untuk ikut.
"Maaf. Kan gue bilang, lagi ikut ngurusin anaknya Bos, masih bayi soalnya." Tukas wanita cantik ini sambil duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Udah dua jam kita disini, lo baru nongol. Ya lo makan dulu deh. Ngga tega gue mau pulang."
"Gue mau minum aja, udah makan malam."
"Lo sekarang sama siapa?" Tanya Indah saat Rea sudah memesan minuman pada seorang waiters.
"Ngga sama siapa-siapa."
"Lo mau ngga sama Abang gue? Dia udah jadi duda sekarang."
Rea diam di tempat sambil memandangi Indah. Sementara yang lain itu menunggu apa reaksi temannya ini. Tunggu dulu, sepertinya Indah bukan hanya menawarkan kakaknya pada dia saja. Pasti pada Lulu juga, secara hanya Lulu dan Rea yang jelas belum punya pasangan.
"Mas lo umurnya berapa Ndah?" Cara awal Rea menolak tawaran sahabatnya adalah dengan menanyakan umur seseorang. Kalau jaraknya jauh, ia menjadi alasan. Tapi kalau-
"Empat tahun di atas lo." Ok, ternyata tak seperti yang Rea harapkan. Dia menghela nafas panjang.
"Baru banget jadi duda? Duda ditinggal cerai atau..?" Rea mulai basa-basi.
"Cerai. Baru sebulan ini. Belum punya anak Re."
"Kalau boleh tahu, alasan cerainya kenapa?" Benar kan dia bertanya seperti itu? Karena jika perceraian disebabkan KDRT atau ada kisah perselingkuhan, Rea akan menolak tegas.
"Kalau menurut gue si, cewenya udah cape dikejar-kejar pertanyaan tentang anak dan anak sama orang tua gue. Lama kelamaan dia stress dan berakhir marah-marah sama Abang gue. Ribut berkepanjangan, akhirnya ya itu."
__ADS_1
Mata Rea tertuju pada Lulu, dia melihat bagaimana reaksi sahabatnya itu. Tak lama minuman datang, dan langsung diseruput tanpa diaduk. Kenapa bicara tentang pasangan membuat suasana mendadak panas ya?
"Gimana?" Indah seperti tak sabar menunggu jawaban Rea.
"Ndah. Abang lo pasti masih ada perasaan sama mantan bininya. Gue ngga mau deh buru-buru ngiyain."
"Eh tunggu. Maksudnya lo bersedia kalau gue jodohin sama Abangnya Endah?" Yosi yang sedari tadi diam dan sibuk dengan ponselnya bersuara. Ia kaget sekaligus penasaran. Jika Yosi dan Lulu menatapnya ngeri. Lain hal dengan Indah yang justru berbinar seperti mendapatkan tas baru incarannya.
"Re. Jangan bercanda. Lo bisa dapet yang lebih baik." Yosi memberikan Rea peringatan agar bisa dipikirkan matang-matang.
"Cuma Allah yang tau jodoh gue. Apa definisi terbaik menurut lo Yos? Apa yang ganteng dan banyak duit? Apa masih single belum pernah punya pengalaman menikah? Buat gue sekarang, itu bukan prioritas lagi."
"Lo segitu hopeless-nya sampai berpikiran macam itu? Sejak sama Arka gagal, pernah lo pacaran lagi kan? Apa lo masih belum move on dari dia?" Kali ini Lulu yang bekerja di Bank Swasta dibagian teller ikut menanggapi.
"Ngga lah." Seru Rea sebelum kembali menyeruput lemon ice hingga habis. "Udah yu pulang aja. Gue belum mandi. Ngga layak banget gue kumpul bareng kalian."
Ucapan Rea barusan sampai juga ke telinga Aero. Pria itu sedari tadi berada di meja yang lain tengah menghabiskan waktu bersama Bordes Alexander-tanpa sengaja. Melihat temannya hanya diam di tengah ramainya cafe, Bordes menyandarkan punggungnya ke kursi sambil membalas pesan istrinya. Kumpul macam apa cuma untuk minum dan membahas hal tidak penting seperti tadi?
"Ngga-usah-kemana-mana. Ngga-boleh-keluar. Di-rumah-aja." Bisik Bordes sambil mengetik. Mendengar itu mau tak mau Aero berkomentar. Bapak yang satu ini laganya sepertinya orang yang baru saja bisa menulis.
"Pengin kesini, tapi gue larang. Udah malam ngapain Ibu-Ibu keluar."
"Lo juga Bapak-bapak ngapain keluar?"
"Kan lo yang ngajak!"
"Ya bisa aja lo nolak."
"Heh ngeyel! Bentar gue telfon dulu si Nyonya.-- Hallo! Mau ngapain kesini? Aku juga mau pulang.--Ya. Mau apa? Bilang aja.--Wanita hamil ngga pantes kelayaban malem-malem.--Dengerin nih suami kamu--hallo?? Hallo?" Suara Bordes makin meninggi ketika Gadis sudah memutuskan sambungan telfon. Aero yang menyaksikan bagaimana sahabatnya berdebat dengan istrinya merasa terhibur. Bordes-lelaki yang suka diakui sebagai dominan.
"Lu ngomong sama istri apa sama bawahan lo? Kasar banget!"
"Maaf, apa ada hp yang tertinggal disini?" Sayup terdengar kembali suara halus wanita yang Aero kenal. Ia segera memutar sedikit badannya. Dia ingat sekali, kumpulan cewe-cewe yang membahas hal tidak penting itu meninggalkan cafe sekitar beberapa menit yang lalu. Dan sekarang, wanita yang menyatakan belum mandi-tapi masih terlihat segar dan cantik-ini kembali ke meja mereka sebelumnya. Namun kebetulah sudah diduduki pengunjung lain.
"Ngga ada Mba."
"Mungkin di kursi yang tadi saya duduki Mas." Rea masih berdiri dan mengusahakan mencari.
__ADS_1
"Ceroboh banget." Celetuk Aero diam-diam dari tempatnya. Ia hanya mendengarkan percakapan Rea dengan lima orang lelaki yang duduk di meja dekat Aero dan Bordes.
"Apa Ro?" Kali ini Bordes yang penasaran.
"Ngga ada Mba, mungkin jatuh di luar. Kalau ada hp ketinggalan pasti sudah saya berikan ke pihak cafe. Atau Mba tanya dulu ke mereka. Siapa tahu sudah diamankan."
"Ya udah, makasih Mas. Maaf mengganggu." Dari suaranya saja sudah dapat dinilai kalau wanita itu kecewa.
"Hmm." Beberapa pemuda hanya diam. Tak berniat ikut peduli dengan apa yang sudah terjadi.
Aero melihat, Regina Athalia berjalan menuju bar kecil tempat pembayaran dan tempat dimana semua karyawan keluar masuk. Usai berbicara dengan dua orang karyawan, wanita itu hanya mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, Rea menoleh kembali. Ia menatap nanar ke arah meja dan para pemuda dua puluhan tahun itu. Seperti benar-benar ada yang tertinggal disana.
"Gue balik dulu ya? Ini wanita hamil dibilangin suka susah.Tinggal duduk diam jadi ratu di rumah-"Ucapan Bordes terpotong oleh dering ponselnya. "Ya sayang. Aa pulang nih. Tunggu! Lagi di jalan." Katanya dengan begitu lihai. Lembut di awal tapi tegas di akhir. Bener-benar bunglon. "Ri! Pesenan istri saya udah jadi?"
"Sudah Bos." Karyawan yang tadi dipanggil Ri segera berlari mengambil tiga box makanan untuk sang Nyonya.
Bordes pergi bersama karyawannya, meninggalkan Aero sendiri. Ia teringat sesuatu, diraihnya ponsel yang sempat tergeletak lama di atas meja. Tak berapa lama ia mendial nomor seseorang. Tersambung. Namun beberapa detik kemudian dimatikan. Aero kembali mencoba menghubungi, dan hal yang sama terjadi.
Satu hal yang ada dipikiran Aero, ada yang tidak beres.
"Brisik banget Aerosol."
Deg
Kepala Aero sontak menoleh ke arah sumber suara, sambil masih mendengarkan deringan yang terhubung. Apa yang dikatakan pemuda tadi? Aerosol?
Tak perlu waktu lama. Segera petinju yang baru memenangkan kejuaraan di Colombia itu berdiri, melangkah cepat ke arah seorang pemuda dan merampas ponsel yang sedang ia genggam.
"Heh!" Teriakan dari pemuda yang kaget karena ponsel diambil paksa dari tangannya membuat rekan lainnya bersiaga. Mereka terlihat hampir memaki dan membantu temannya yang merasa kehilangan, sebelum Aero lebih dulu bersuara.
"Ini ponsel cewe gue! Dia tadi datang kesini buat cari ini, tapi kalian bilang ngga ada. Mas! Tolong liat cctv yang mengarah ke meja ini." Perintah tegas pria dengan setelan jas itu pada salah seorang karyawan yang bergerak mendekat. Mereka menjadi pusat perhatian karena suara Aero yang menggelegar.
"Ngga usah protes, sebelum gue perkarain kasus ini!" Ancam Aero lagi pada beberapa pemuda yang sudah berdiri dan membuka mulut. Ia kenal betul, ponsel dengan chasing biru menyala. Milik Regina Athalia. Hingga tanpa berpikir dua kali, bahkan hanya sedetik melihat, Aero sudah mendatangi anak kuliahan ini.
"Pendidikan setinggi apapun tidak akan mampu membeli sikap sopan santun dan etika seseorang. Gue ngga nuduh lo. Tapi saran gue, perbaiki etika lo." Tambah Aero dengan sorot mata tajam dan suaranya yang berat. Tanpa ada yang berbicara lagi, dia meninggalkan cafe, menyusul seseorang yang membutuhkan sebuah benda yang ada ditangannya.
Jangan lupa, yang sudah membaca untuk vote dan comment yaa gaesss.
__ADS_1