Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 71


__ADS_3

Malam yang begitu dinanti telah tiba. Tubuh Rea dibalut kebaya warna salem dan dipadukan kain batik dengan warna dominan hitam. Terlihat sangat menonjolkan kulitnya yang bersih dan putih. Sementara itu rambutnya disanggul sederhana, dipoleh make up flawless yang sudah pasti membuatnya sangat menawan.


Jangan tanyakan apa yang dia saat ini rasakan. Sudah pasti gelisah, meski sudah duduk di dekat kipas angin nyatanya tak bisa mencegah keringat yang perlahan keluar dari pori-pori kulitnya. Tak banyak yang dia persiapkan di rumah. Bibi Yul memesan catering dari tetangga, begitu juga dekorasi ruang tamu. Ia menghubungi tetangga komplek perumahannya untuk menghias tembok ruang tamu. Entahlah apa yang dia lakukan ini benar atau tidak, dan melihat Mba Rea tak berkomentar banyak artinya masih ok.


"Ini nanti datang jam berapa?"


"Jam 7 atau mungkin 8 sampai sini." Seru Rea di tengah keramaian rumah. Ramai namun sepi, inilah yang Rea rasakan. Bahagia sekaligus sedih, sebab di moment ini tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya-kecuali Bibi Yul.


"Ini udah jam 7 lebih sedikit."


Rea mengangkat kepalanya. Benarkah sudah jam tujuh malam? Sejak tadi dia tak sama sekali memegang ponsel, ia sibuk dirias dan sibuk menetralkan kegugupannya. Apa sudah melewati waktu yang direncanakan?


"Coba telfon, sudah dijalan apa belum? Jangan-jangan lupa lagi!" Usul saudara Almarhumah Ibunya yang dia undang untuk menerima tamu. Karena tidaklah mungkin, dalam acara lamaran ini, Rea hanya bersama Bibi Yul. Siapa yang akan menyambut kedatangan mereka? Siapa yang akan mewakili untuk bicara? Apa harus dirinya juga?


"Bi, hp Rea dimana?"


Bibi Yul, wanita bertubuh gemuk yang sedari tadi kesana kemari mengecek kelengkapan hidangan pun segera mendekat. Wajahnya nampak letih, karena dia satu-satunya yang peduli pada acara ini. Tidak dengan keluarga Ibunya yang hanya duduk diam di ruang tengah. Meski ada paman, bibi, keponakan, nyatanya mereka nampak seperti orang sewaan. Tak pernah peduli. Kecuali dengan seragam dan riasan yang mereka inginkan dari Rea.


"Biar Rea yang ambil aja. Bibi duduk disini ya?"


Dengan paksa Rea tarik lengan wanita tua itu untuk menggantikan dirinya duduk di kursi dekat ruang tamu. Wanita anggun ini yakin ponselnya ada di meja rias. Rumah sangat berantakan sehingga Rea tak bisa leluasa kesana kemari. Dia perlu hati-hati agar barang-barang yang diletakkan asal di ruang tengah tak ia tabrak.


Dan seperginya Rea ke kamar, obrolan keluarga jauh pun mampir ke telinga Bibi Yul.


"Nanti papah harus keliatan berwibawa. Anggap anak kita lagi dilamar dan itu artinya kita harus kenceng banget ketika tahap musyawarah penentuan pernikahan."


"Iya Papa tahu. Ngga perlu diajarin kali Mah!"


"Bi!"


"Ya Bu?"

__ADS_1


"Calonnya Rea kerjanya apa? Mapan ngga?"


"Setahu saya dia kerja di firma, yang sering bantu-bantu orang kalau ada masalah hukum!"


"Pengacara?"


Bibi Yul menggeleng.


"Jaksa?"


Kembali perempuan itu menggeleng.


"Terus apa dong?"


"Saya kurang tahu namanya. Coba nanti tanyakan saja ke Mba Rea."


"Mapan ngga? Udah punya rumah?"


Kali ini Bibi Yul mengangguk.


"Iya Bu."


"Punya mobil atau motor?!" Pertanyaan Bibi Haryati makin menjurus. Dan itu terlihat jelas dalam ekspresinya.


"Punya dua-duanya." Jawab Bibi Yul mantap. Dia tak ingin membohongi, memang begitulah keadaannya. Braga Assavero itu anak orang kaya, kata Mba Rea. 'Tapi yang kaya Bapaknya, Aeronya ngga. Dia kerja keras. Makanya Rea suka.' Tambahnya lagi saat itu.


Haryati nampak berpikir. Ia melirik suaminya yang tengah sibuk dengan ponsel.


"Coba tanyakan sama Rea. Udah lagi dijalan apa belum! Karena kita nanti langsung pulang jam setengah 9 dari sini."


Tanpa perlu bersuara, Bibi Yul segera beranjak dari kursinya. Karena lelah, ia berjalan sedikit pelan ke arah kamar anak asuhnya. Tangannya langsung mendorong gagang pintu. "Mba Rea?!"

__ADS_1


Hening. Sehingga kembali Bibi Yul memanggil. Barulah panggilan kedua Rea membalikkan badan. Ternyata gadis cantik itu tengah menelfon seseorang-mungkin.


"Bu Haryati tanya, apa Mas Aero sudah dijalan?"


Sebelum benar-benar menjawab, lebih dulu Rea tersenyum tipis. "Belum Bi. Ngga diangkat dari tadi. Offline dia."


Sebagai orang yang paling dekat dengan Rea, Bibi Yul merasakan keresahan yang sama. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, ada pemikiran negatif yang mendadak muncul dalam benaknya. Namun buru-buru ia mengusirnya, diliriknya sebentar arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 19.25 dan harusnya jika sesuai dengan apa yang Aero katakan. Keluarga pria itu sudah sampai di rumah. Apa yang terjadi sebenarnya?


...***...


"Aero!! Mau kemana kamu!!!" Teriak Pak Danun berusaha menghentikan anaknya yang sedang berlari cepat menghampiri motornya.


"Ada urusan sebentar. Aku menyusul! Janji hanya sebentar!!"


Dengan entengnya anak muda itu mengatakan demikian. Aero sendiri sudah mengenakan kemeja batik yang dilapisi dengan jaket kulit. Tanpa mempedulikan tatanan rambut yang sudah rapi, Aero memakai helm full face dengan sekali hentak.


"Ini sudah jam 7. Urusan penting apa?!" Kembali pria itu berteriak dari arah teras rumah. "Apa kamu mau kabur? Kamu mau membuat wanita itu sakit hati? Kamu mau lepas dari tanggung jawab?!" Kali ini nada tinggi sudah dipakai sang bos besar. Tak dia pedulikan lagi pandangan orang rumah. Mereka sekarang memang sudah berada di halaman, sedang menata seserahan di beberapa mobil.


"Aku ngga kabur dan ngga lepas tanggung jawab!"


Kewaspadaan Tuan Danun makin menjadi. Dia sudah meminta secara tersirat lewat tatapan mata pada Jordi untuk menutup pintu gerbang. Jangan katakan nasehatnya semalam tentang menjalin hubungan dengan wanita, akan anaknya langgar hari ini.


"Kalau begitu, jangan pergi! Jangan membuat dia kecewa.--AERO!!! Berhenti!!!" Bentakan Tuan Danun makin kencang, hampir saja si tua bangkit dari kursi rodanya beruntung Pak No langsung menghampiri dan menopangnya. Orang tua mana yang tak kesal karena omongannya tidak didengar? Terlebih Aero menyalakan mesin motor dan memanaskannya sebentar. "Kalau kamu jalanin itu motor dan-"


"CINCINNYA ILANG PAH!! Belum ketemu!!" Seru Aero dengan lantang sesaat mesin motornya tiba-tiba mati karena terlalu dingin.


Ya salam.


Untuk beberapa saat semua yang sudah berdiri di dekat mobil terdiam. Mbok Darmi, Mba Yanti, Pak No yang sudah berdandan begitu all out. Begitupun Jordi yang masih berdiri di dekat gerbang. Bahkan Ardi yang akan memasukkan bingkisan terakhir ke mobil, mematung. Semua fokus pada sang pemotor yang terlihat gelisah dan tergesa-gesa.


"Aku mau cari dulu di rumah." Katanya di tengah keheningan. Sambil berusaha kembali menyalakan motor kesayangannya, Aero berpesan. "Kalian berangkat lebih dulu! Dan bilang sama Regina Athalia, aku pasti datang."

__ADS_1


Singkat aja gaess...


Jangan lupa vote, comment dan likenya yaaa


__ADS_2