Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 9


__ADS_3

Rasa penasaran yang membumbung tinggi kala itu, kini dalam seketika berubah jadi penyesalan. Bagaimana tidak? Karena setelah wajah Aero yang tersembunyi di balik masker itu ia lihat, setiap melakukan aktivitas apapun Rea kembali mengingatnya. Garis wajah lelaki yang menampakkan ketegasan dan keangkuhan. Bibir tipis yang menyeringai tepat di hadapan Rea sambil mengucapkan kalimat godaan.


"Kenapa? Terpesona?" Katanya waktu itu saat masih mengunci kedua lengan Rea di depan dada dengan sangat kuat.


Walaupun hanya beberapa detik Rea melihat, namun efek ingatannya justru hingga dua minggu. Ia tidak lupa, malah terbayang-bayang. Bukan karena terpesona, tapi karena dendam yang masih ada.


Saat ini, Rea sudah kembali bekerja. Ia adalah asisten pribadi dari seorang public figure. Pekerjaannya cukup simple namun banyak. Inti Job desk-nya itu membantu Bosnya. Dalam tanda kutip membantu dalam banyak bidang.


Usai menyiapkan keperluan untuk pergi hari ini, seperti;pakaian, dokumen, tas make up dan hal penunjang lain. Rea harus mengikuti Bosnya pergi dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan, kemudian kembali lagi ke utara. Diperkirakan, Rea akan sampai di rumah pukul 23.00. Karena kunjungan terakhir Bosnya akan selesai sekitar pukul 21.00. Dan sekembalinya ke rumah Bos, dia harus merapikan lagi barang-barang yang dibawa.


"Re!"


"Iya Bu?"


"Siapkan saja keperluan saya untuk besok di tas kecil. Nanti kita langsung bertemu di kantor. Saya punya janji pribadi."


Huft. Bahu Rea langsung turun. Padahal baru saja, Rea meletakkan kembali file dan laptop di meja. Mendengar perintah tadi, artinya dia harus kembali packing. Dan juga baju, serta tas makeup kecil. Ya ampun. Rea akan pulang lebih larut lagi dari perkiraan.


"Iya." Jawabnya dengan berusaha lembut.


...***...


"Udah cair Di." Jordi memberitahukan informasi terbaru terkait upah kerjanya pada Ardi, sang partner. Tugas menjadi keeper seorang wanita selama sebulan ini berbuah hasil.


Ardi yang sedang duduk santai memperhatikan objeknya langsung merogoh saku celana sebelah kanan. Pandangannya tak sedetikpun lepas pada wanita cantik yang tengah makan siang itu. Sebagai seorang keeper, perasaan sebisa mungkin tidak ia libatkan. Buang jauh-jauh antara tugas dan hati. Karena itu tak akan berjalan selaras.


"Berapa?" Tanyanya di tengah usahanya membuka kode ponselnya sendiri.


"Lumayan, 15." Jawaban Jordi tadi berhasil mendapatkan anggukan. Bukti transfer sudah Ardi terima, sama tanpa kurang sepeserpun. Baru kali ini dia mendapat kasus khusus, yaitu menjaga seseorang. Biasanya Bos akan memintanya untuk ikut dalam tim keamanan artis, pengusaha atau para politikus. Ardi tidak tahu mana yang special karena fee tersebut lebih besar dari pekerjaan yang sudah-sudah.


"Rea itu wanita yang bos sekap di hotel." Imbuh si tangan kanan Aero di tengah keheningan. Ketika sadar ada ekspresi yang tak biasa di wajah Ardi, Jordipun kembali menambahkan. "Lo baru tahu ya?"


"Untuk tujuan apa?"


"Tau kan Arka? Dia ngga bayar utang. Selain itu dia juga dicari-cari bank atas pinjaman milyaran berkedok usaha batubaranya."


"Apa hubungannya dengan dia?" Mata Ardi kembali lurus memperhatikan Rea dari balik kacamatanya.


"Rea calon istri Arka. Waktu itu mereka akan menikah. Dan Bos berniat menggertak Arka. Tapi sayangnya-"

__ADS_1


"Gagal?"


"Bukan cuma gagal digertak. Arka justru membalikkan fakta. Akibatnya seperti yang lo liat sebulan ini." Walaupun Jordi tak sesiaga Ardi dalam menjadi keeper. Tapi Jordi adalah lelaki yang paling peka atas segalanya. Tanpa Ardi jelaskan panjang lebar kejadian di Rumah Sakit, ia sudah tahu jika Rea baru saja tertekan. Terlihat wajah Rea waktu itu sangat kecewa dan rapuh, seperti berhadapan dengan masa lalu yang menyakitkan.


"Sendirian, kesepian dan rapuh."


"Exactly."


"Bos peduli?"


Bahu Jordi terangkat, sebagai tanda dia tidak tahu apa jawabannya. "Bos susah ditebak, bisa jadi dia punya rencana lain di balik ini."


Pembahasan tadi kemudian berhenti. Kedua lelaki beda karakter ini bertingkah layaknya pengunjung biasa. Bahkan tak ada gelagat aneh seperti mata-mata, karena baju yang digunakanpun formal, layaknya pekerja kantoran.


"Kabarnya, banyak orang yang tidak menyukai Rea. Diam-diam mungkin orang yang duduk bersama Rea mengejek? Mereka bahagia di atas penderitaan orang lain. Kelihatannya saja baik."


"Kenapa bisa lo berpikiran begitu?"


"Pada dasarnya wanita yang duduk disana itu menyimpan iri dalam hati. Lo liat aja, Rea asisten yang boleh dibilang cantik dan menarik. Pembawannya kalem, ngga berlebih seperti yang lain. Ditaksir pengusaha batubara kaya Arka, entah bener atau ngga itu. Hampir menikah. Derajatnya akan terangkat. Siapa yang ngga-"


"Mereka pergi." Potong Ardi sambil berdiri hendak meninggalkan kursinya.


"Ngga!"Kata si wajah kaku itu menjawab singkat dan cepat.


Jordi langsung berhenti seketika. Ia menatap kepala bagian belakang Ardi yang terlihat pas sekali untuk dia hantam. Panjang lebar menjelaskan, tak satupun yang dipahami lelaki berotot itu. "Ah mulut gue berbusa." Rutuknya kemudian.


Tanpa menghilangkan wajah kusut dan lelah sudah mengoceh panjang. Jordi menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di kursi penumpang, menarik seatbelt kuat tanpa takut menyakiti dirinya sendiri.


"Laki macam apa lo sensitif." Sindir pria kekar itu pada Jordi, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


...***...


Sekitar 20 menit mereka ada di sebuah cafe. Rea bersama beberapa asisten lain menyelesaikan makan, sementara Bosnya yang cantik duduk di meja lain bersama rekan sosialitanya-masih asik bercengkrama dan tertawa. Topik seputar perhiasan, fashion, liburan dan tentu suami masing-masing.


Ponsel miliknya menyala, menampilkan sebuah nama yang memanggil. Sontak matanya melebar, duduknya langsung berubah tegap siap siaga. Padahal semua tahu jika suaminya Bosnya tak berada di tempat.


"Hallo Bapak?" Sapanya lebih dulu setelah meminta rekan asisten lain untuk mengecilkan suara.


"Ibu dimana?"

__ADS_1


"Sedang makan siang bersama teman-temannya Pak." Jawab Rea dengan amat jujur.


"Sampaikan, sekarang bisa pulang?!" Sudah bisa ditebak, pasti Bapak meminta Ibu langsung pulang ini karena ada sesuatu yang penting.


"Sebentar." Rea langsung bangkit dari kursinya, merapikan blouse yang dia kenakan. Kemudian berjalan cepat menghampiri meja VVIP yang masih saja ramai.


Langkah Rea yang cepat itu menimbulkan bunyi, mengakibatkan rekan sosialita langsung melirik ke arah Nyonya Danu seketika.


"Ibu!" Panggil Rea dengan sedikit berbisik saat sudah berdiri di samping kiri kursi Bosnya.


"Ada apa?"


"Bapak telfon, minta Ibu buat-"


"Iya bisa! Jawab seperti itu--Saya pamit pulang ya Jeng. Saya lupa ada yang penting hari ini."


Tanpa berlama-lama, dan cenderung tergesa-gesa. Wanita berusia kelapa 3 itu meninggalkan rekan-rekannya lebih dulu. Langkahnya lebar seperti tak ingin tertinggal barang sedetikpun, serta pengikut di belakang Rea tak kalah sigap.


"Ngebut ya Pak!" Pinta Nyonya Danu pada sang supir. Ia terlihat gelisah begitu mendengar suara suuaminya dari telefon Rea.


"Kenapa Bu?"


Wajah wanita bernama Nindhita itu dengan sangat dipaksakan berubah lebih santai. "Ngga kenapa-kenapa." Namun mata tak bisa berbohong. Jelas ada ketakutan dan cemas.


"Saya lupa, hari ini jadwal yang disarankan dokter Dandi." Jelas Ibu sosialita itu sambil menampilkan karakter lucunya. Terlihat sangat berbeda jika dihadapan rekan-rekannya, sekarang seperti wanita muda yang jatuh cinta sedang ditunggu oleh kekasihnya di rumah.


"Dokter Dandi itu?"


"Dokter kandungan."


Glek


Pipi Rea langsung memerah mendengar kenyataan bahwa nanti-setibanya di rumah Ibu Nindi akan segera dibawa ke kamar oleh suaminya. Dan mereka akan...


"Nanti kalau kamu menikah. Saran saya lakukan cek diri ya Re. Pastikan kamu siap untuk-"


"Udah Bu!"


Mendengar Rea yang begitu tegas memintanya untuk berhenti. Sontak wajah Bu Nindi menoleh. "Maaf ya, bukan maksud saya seperti itu."

__ADS_1


Katanya tidak enak. Bu Nindi pasti mengira jika Rea begitu hancur dan trauma mengalami kegagalan pernikahan. Tapi yang sesungguhnya Rea rasakan adalah, dia malu mendengar obrolan ke arah kehidupan dalam suami istri tadi.


__ADS_2