Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 60


__ADS_3

"Nih. Hp kamu."


Rea diam, namun matanya memperhatikan dengan seksama benda yang seorang lelaki ulurkan kearahnya. Benar, itu miliknya yang sudah dicari-cari sejak tadi. Rea baru mengingat ponselnya tak ada di dalam tas saat dia ingin memesan gojek. Beberapa menit yang lalu dia sudah mengikhlaskan benda itu. Namun ternyata, Tuhan berbaik hati untuk mengembalikan padanya. Lalu kenapa perlu diperantarai oleh Aero? Hal itulah yang menjadikan kebahagiannya Rea atas kembalinya ponsel menjadi tak seratus persen.


Kunjung tak ada pergerakan dari Rea untuk mengambil alih ponsel itu, Aero makin memperhatikan ekspresi wajah putih Rea dengan seksama. Bibir berwarna pink, garis mata yang tidak terlalu jelas serta pipi yang tak lagi merah. Jika Aero memperhatikan diam-diam struktur wajah Rea, lain hal dengan wanita cantik ini. Ia memandangi Aero dengan tatapan menilai-seperti menuduh jika pria itu yang malah menyembunyikan ponselnya. Dan sepertinya Aero sadar akan hal itu, segera ia memberikan penjelasan.


"Diumpetin anak kecil tadi."


Dengan isyarat mata Aero memerintahkan Rea untuk segera mengambil. Mereka ada di pinggir jalan utama, dan deru mobil maupun motor begitu keras mengiringi pembicaraan mereka yang singkat.


"Ooh. Makasih." Tak terdengar, namun Aero berhasil membaca gerak bibir Rea.


Langit sudah begitu gelap, dimana-mana lampu memancarkan sinar. Udarapun berubah makin dingin. Tak lama, Rea langsung membuka password dan memesan ojek online. Ojek akan tiba dalam 7 menit, itulah informasi yang tertulis. Nafas kasar Rea kembali hembuskan, berharap Abang itu segera datang. Datang untuk menyelamatkannya dari makhluk ini.


"Mau pulang?"


"Iya."


"Mau aku antar?"


"Ngga makasih. Aku udah pesan gojek. Bentar lagi sampai." Kata Rea datar tanpa menoleh sedikitpun pada pria yang berdiri di sebelah kirinya.


"Ok. Aku akan tunggu."


"Tunggu apa?"

__ADS_1


"Tunggu sampai gojek datang."


"Aku berani sendiri." Balas Rea dengan cepat. Hal itu seperti isyarat pengusiran di telinga Aero. Sebagai lelaki yang memang terlalu lurus, kaki Aero melangkah mundur, enggan berdebat panjang dengan wanita yang sedang emosi ini.


"Hati-hati."


"Ya." Sebisa mungkin Rea menjaga tubuhnya untuk tegap dan tak menoleh ke belakang. Pria yang sudah memotong rambutnya kembali pendek itu dengan mudah pergi, bahkan hanya dengan kata-kata 'aku berani sendiri'. Itu dianggap pengusiran oleh Aero. Dasar pria mengecewakan.


Tak berselang lama, sebuah motor berhenti tepat di hadapan Rea. Abang driver membuka kaca helm, kemudian bertanya dengan suara yang lantang 'Mba Regina?'.


"Iya Bang."


"Ini helmnya. Sesuai aplikasi ya?"


"Iya."


Tadi, Rea tahu-setelah minuman pesanannya datang-matanya menangkap sosok tinggi besar yang begitu dia kenal selama dua tahun ini, ia sedang duduk tepat di belakang Yosi. Walaupun yang nampak hanya sebatas punggung hingga kepala, tapi Rea mengenalnya. Aero tak peduli. Pun begitu saat Rea kembali lagi mencari ponselnya yang tertinggal, ia masih menangkap sosok itu duduk di kursi yang sama. Tak menoleh sedikitpun saat Rea ada di sekitarnya.


Jadi, tidak salah jika Rea menyimpulkan kalau Braga Assavero benar-benar tak menemukan apapun selama masa perenungannya. Pria itu tak merasa memiliki kesalahan sedikitpun padanya, bahkan mungkin tak merasa memiliki hutang kata maaf padanya.


...***...


Memastikan Rea pergi. Aero berjalan cepat kembali memasuki cafe. Langkahnya terukur dan pasti, di dalam pikirannya ia sedang memikirkan pelajaran apa yang perlu dia berikan kepada pemuda-pemuda tanpa moral itu. Gayanya saja nongkrong di cafe mahal kawasan Senayan, kantongnya tebal hingga berlembar-lembar, tapi attitude-nya nol besar.


"Mana teman kalian yang tadi?" Tanya Aero dengan tubuh tinggi menjulang saat sudah berada di dekat meja pengunjung yang dia incar. Sontak anak lelaki yang sedang bercanda itu menghentikan tawanya. Mereka kompak menoleh, mengamati sosok besar yang tadi sempat terlihat perdebatan dengan salah satu temannya.

__ADS_1


"Santai aja kali Mas. Cuma hp doang." Celetuk salah seorang anak dengan wajah begitu sombong. Ia kenal sekali tipe pemuda seperti ini, bergaya hanya mengandalkan uang dari orang tuanya saja. Kuliah asal masuk dan absen tanpa benar-benar mengerjakan tugas.


"Bukan masalah hp." Tegas Aero.


"Terus apa? Gue liat Mas tadi duduk di belakang kita eh tiba-tiba nyambar hp itu. Dan ngaku-ngaku punya cewenya. Pas tadi, Mba-mba yang nyari hp disini kenapa ngga dibantu kalau bener itu cewenya?" Berani sekali anak muda ini menyindir Aero? Sebenarnya siapa dia?


"Mana teman kalian yang tadi?" Tak ingin terpancing dengan fakta itu, Aero memilih menanyakan dimana sang tersangka berada.


"Biasa aja ngomongnya!" Sulut pria kecil itu. Nampaknya hanya dia yang berani beradu argumen dengan pria dewasa seperti Aero. Lainnya hanya diam dan mengangguk-angguk. Mereka mungkin bagian dari kubu yang tidak bisa bersuara, hanya memiliki andil tubuh saja.


"GUE TANYA, MANA TEMEN LO YANG TADI!!!" Bentak Aero dengan suara yang menggelegar. Ia bahkan sudah maju hampir melayangkan pukul ke arah pria kecil yang bersikap nyolot. "URUSAN GUE SAMA DIA BUKAN SAMA LO!"


Kemarahan Aero berhasil menarik perhatian para pengunjung cafe yang saat itu tengah ramai. Tak peduli dengan tatapan mata yang menilainya kekanakan karena terlibat cekcok dengan anak-anak yang pantasnya dia anggap adik. Aero kembali mundur. Belum ada yang datang untuk melerainya, mungkin para karyawan Bordes tahu dia siapa.


"Lo ikut gue!" Mata Aero akhirnya menangkap wajah pemuda yang tadi menyembunyikan ponsel Rea. Lelaki dengan kemeja kotak-kotak merah dan rambut jambul. Tak memperdulikan teman-teman target, Aero langsung menarik lengan bocah kurus itu menuju lantai tiga, ruangan Bordes Alexander.


"Hey Mas. Ngga perlu gini caranya! Lo kasar sama anak di bawah umur!"


"Masuk!" Perintah Aero dengan nada yang lebih rendah. Ia sudah berdiri di pintu ruangan Bordes, telah mendorong Rio-nama pemuda berjambul itu- ke dalam ruangan yang bertuliskan Bos Besar di bagian pintu depan. "Kalian semua juga masuk! Ari! Kamu juga masuk!"


Dan di sanalah mereka disidang oleh Braga Assavero Danunjaya. Hanya karena kesalahan kecil, ia memperlakukan anak ABG seperti tersangka pencurian uang rakyat. Bukti telah dibeberkan di depan mata. Aero menunjukkan identitasnya yang sesungguhnya. Hingga akhirnya pemuda yang berani di awal menjadi tak berkutik.


"Siapa yang mau mengikuti keinginan saya?" Tanya pria itu di akhir sidang. Karena tak ada yang bersuara, Aero kembali menambahkan. "Yang bersedia. Akan saya persilahkan keluar dari ruangan ini dan akan saya bayar apa yang kalian pesan hari ini. Bukan cuma hari ini, tapi mungkin seminggu ke depan."


Kira-kira apa keinginan Aero gaes???

__ADS_1


Jangan lupa vote, comment dan beri hadiah yaaa....


__ADS_2