
Rea tidak tahu apakah menikah dengan Aero adalah hal terbaik atau terburuk yang dia dapati di usianya yang ke 27 tahun. Sebab di detik terakhir, hari dimana dia dilahirkan, suaminya-yang unik-justru tidur dengan lelapnya. Tidur telungkup dengan hanya berbalut celana kain pendek warna coklat muda. Wajahnya tepat menghadap Rea, nampak sangat pulas. Apa dia tidak tahu hari ini hari apa? Atau sebenarnya lupa?
Jujurnya saja, Rea sudah menanti sejak tadi pagi dia bangun. Dia berharap ada ucapan atau doa untuknya. Namun semua itu tak kunjung dia dapatkan hingga malam menjelang. Usai makan malam, Aero justru menyalakan televisi di ruang tamu. Seperti yang sudah-sudah, ia menonton pertandingan tinju. Kata orang, cinta dapat mengubah sesuatu yang awalnya dibenci menjadi disukai. Atau mungkin juga sebaliknya. Dan sekarang, Rea sedang merasakannya. Tentu dalam versi yang berbeda. Ia tak punya masalah apapun dengan hobi Aero menonton pertandingan sebenarnya. Namun tidak untuk hari ini, untuk beberapa alasan ingin sekali dia lemparkan remote ke layar LCD TV, ia ingin menghancurkannya. Juga ingin sekali menyembunyikan semua LCD TV di rumah ini, mendonasikannya ke beberapa sekolahan untuk bahan ajar. Rasanya akan sangat bermanfaat dibandingkan hanya dipajang di rumahnya-maksudnya rumah Aero.
Dia memilih bangun, mungkin jalan-jalan di rumah akan mengurangi sesaknya.
Terselip sedikit pembicaraan ketika Rea membujuk Aero untuk membersihkan diri. "Mas! Mandi dulu, mandi makin malam, makin ngga bagus buat kesehatan."
Dengan cara yang baik dan nada yang dibuat halus Rea mengatakannya. Ia tahu, kepala rumah tangga ini masih sangatlah lelah.
"Sebentar. Empat ronde lagi selesai, atau kalau Dillian Whyte punya timing yang bagus dia bisa menang KO." Katanya tanpa melirik Rea sedikitpun. Netranya tak lepas dari jalannya pertandingan. Sampai-sampai melepas kancing demi kancing kemejapun dia lakukan tanpa melihat, hingga kini kemeja putih yang melekat tersangkut di leher-efek kancing teratas belum dilepas. Reflek Rea mendekat, ia duduk di samping Aero dan langsung mengulurkan tangan untuk membantu.
"Pelan-pelan makanya! TVnya ngga kemana-mana kok." Sindir wanita cantik ini elegant. Walau sesungguhnya dia geram.
"Kamu udah mandi?"
Pandangan mata Rea terangkat, untuk beberapa saat dia hanya diam. Setelah sekian jam bertemu, akhirnya Rea bisa sedekat ini dengan suaminya sendiri. Belum ada peluk atau cium yang Aero berikan untuknya setelah pulang kerja tadi. Tak ingin mengecewakan, Rea mengangguk pelan. Tangannya begitu terampil dan dengan cepat bisa melepas kemeja putih dari tubuh berotot sang suami.
"Peronde 3 menit, berarti 12 menit lagi selesai. Terus mandi." Kembali perintah itu terulang. Meski tubuh Aero dibanjiri keringat, Rea tetap betah ada di sampingnya. Bolehkah sekarang dia memeluk? Ah jangan! Rea harus memastikan dulu jika Aero tak membawa virus penyakit.
"Waktu istirahat satu menit. Jadi 15 menit lagi."
"Ya Allah semoga salah satu pingsan." Ucap Rea dengan penuh harap sambil melipat melipat kemeja suaminya di pangkuan.
"Kenapa doa begitu?"
__ADS_1
"Biar pertandingan selesai."
"Ngga seru kalau tiba-tiba pingsan. Pertandingan malah bisa diulang."
Apapun yang Aero katakan saat ini, Rea tidak mengerti. Tanpa minat dia melirik Jordi yang masih ada di meja makan. Pria itu baru saja datang mengantar berkas perjanjian yang Aero butuhkan. Dan atas perintah Rea, dia makan disana. Baru Regina Athalia sadari, berhadapan dengan lelaki yang suka adu mulut ternyata sangat melelahkan. Lelah di mulut juga lelah di dalam hati.
"Terserah deh." Katanya setengah putus asa. Bagaimana tidak, ini sudah melewati jam 9 malam. Dan point pentingnya Aero belum memberinya ucapan selamat ulang tahun. Jika Bibi Yul akan Rea maklumi, karena perempuan yang sangat baik padanya itu tidak pernah melihat tanggalan. Yang dia tahu adalah hari Minggu, dimana dia harus berbelanja cukup banyak barang kebutuhan pokok. Itu saja. Rea beranjak, berjalan masuk ke kamar tanpa suara.
Kecewa sudah pasti, namun sebisa mungkin Rea tak mempermasalahkannya. Ini bukanlah hal besar yang perlu diluruskan. Lelaki memang tidak peka dengan hal-hal sepele macam itu. Mengingat hari adalah kelemahan kaum mereka. Jadi ingat! Jangan banyak berharap, sekalipun itu pada suami kalian sendiri!
Pernikahan baru berjalan satu bulan, rasanya pantas kalau semua ini terjadi kan? Keduanya dipersatukan bukan berawal dari pacaran, dan bukan karena saling mencintai kemudian menikah. Aero dan Rea itu dipersatukan oleh suatu hal yang mendesak dan sangat memaksa.
"Kamu dari mana?"
"Sini deketan. Aku ngga bau kok." Kata Aero dengan mata yang terpejam. Meski demikian tangannya bergerak untuk menarik istrinya mendekat. Sesaat apa yang diinginkan tercapai, segera Aero mendekap tubuh Rea erat di atas tempat tidur.
"Mas?"
"Hmm?"
Suasana mendadak hening.
"Ngga jadi." Seru Rea kebingungan. Ini benar-benar sudah larut malam dan bukan waktunya untuk meminta sesuatu. Rea butuh istirahat agar tubuhnya kembali segar, begitupun suaminya.
"Aku pusing sebenarnya. Kepalaku berat." Suara lain terdengar tak biasa. Secepat kilat Rea membuka matanya, memandang kerutan yang tercipta di dahi sang suami. Apakah itu sejak tadi? Kenapa Rea baru melihatnya? Sesalnya dalam hati.
__ADS_1
"Kok baru ngomong sekarang? Ya udah, aku ambil obat dulu."
"Ngga perlu. Dibawa tidur pasti besok sembuh."
"Ada masalah ya di kantor?"
"Ngga ada."
"Kayaknya sibuk banget akhir-akhir ini." Sampai ngga inget ini hari ulang tahun aku. Tambahnya hanya berani di dalam hati.
Seminggu setelah akad sekaligus resepsi, Rea akhirnya menang. Dia berhasil membujuk Aero untuk tetap di rumah bersamanya. Tidak ke Ancol maupun ke Spanyol, keduanya hanya menghabiskan waktu di rumah Aero. Pertama sekali yang mereka lakukan adalah mendekor kamar utama. Mereka pergi ke pusat furniture untuk membeli tempat tidur, lemari hingga meja rias. Usai ruangan inti tertata sempurna, barulah bagian dapur dan ruang tamu yang Rea atur ulang. Aero tak banyak protes, dia hanya mengangguk setuju selama apa yang Rea lakukan masih wajar.
Berlagak seperti Nyonya rumah sudah. Melayani kebutuhan suami dari ujung kaki hingga kepala, dari bangun sampai tidur kembali juga sudah. Satu yang masih Rea rasakan begitu kurang. Hal ini yang membuatnya diam-diam sedih. Tidak ada kata kangen, cinta, sayang atau rindu sekalipun terucap. Hatinya menjadi ragu. Apakah setelah penikahan, semua pasangan seperti ini? Yang meski ada kontak fisik intim, tidak dengan ucapan romantis yang didapat.
Rea akhirnya bertanya-nyata dalam diam. Apa yang kurang dalam dirinya? Apa yang salah dalam langkahnya? Apa dia terlalu banyak mengambil peran? Apa dia terlalu aktif dan mendominasi dalam hubungan itu? Sampai-sampai Aero menjadi seseorang yang di luar ekspektasinya. Dia seperti tak terlalu peduli dengan apa itu kedekatan emosional sepasang suami istri. Dia hanya berani melakukan sesuatu di kamarnya saja.
"Iya. Ada banyak komplain."
Setelah ucapan itu, tak terdengar lagi suara Aeronya. Pria itu resmi kembali dalam lelap. Meninggalkan Regina Athalia yang memandangi wajah tampan itu dengan sedih. Fix, tidak ada kejutan untuk dirinya.
"Selamat ulang tahun Regina Athalia," bisiknya untuk diri sendiri. Terdengar menyedihkan memang, namun dia berusaha tegar. Wajahnya perlahan mendekat, dengan penuh perasaan Rea melabuhkan kecupan di pipi Aero selama beberapa detik. Kemudian diam-diam berdoa, "semoga memang kamu yang terbaik."
Alhamdulillah selasai part 80
Jangan lupa bantuannyaa, vote, like dan comment yaa..
__ADS_1