
"Saya sengaja luangkan waktu untuk kamu hari ini. Bersikaplah kooperatif."
Sesaat Aero melepaskan lilitan lengannya di tubuh Rea, ia menyerukan informasi tadi. Barangkali Rea akan tersanjung ketika mendengar fakta tersebut. Pasalnya lelaki 30 tahun yang sibuk ini sudah mendatanginya secara pribadi. Ia mau repot-repot memberikan penjelasan atas tindakannya beberapa bulan lalu di sebuah hotel. Padahal biasanya Aero akan selalu menutup setiap kasus dengan kemenangan dipihaknya, namun kali ini lain.
Arka seperti tak masalah mempermainkan wanita calon istrinya. Asal dia bisa menurunkan ego Aero yang selalu jumawa akan kesuksesan. Sekali-kali membuat gagal orang sukses adalah perlu.
"Kenapa? Kamu merasa jijik?" Melihat gelagat aneh yang Rea perlihatkan, mulut Aero begitu gatal untuk bertanya. Rea sempat menggerakkan tangannya naik turun di setiap lengan-seperti sedang membersihkan.
"Duduk!" Entah siapa tuan rumah di sini. Namun sudah lebih dulu Aero memposisikan tubuhnya nyaman di salah satu sofa. Kemudian meminta Rea yang masih berdiri segera duduk. Terserah dimana.
Waktu berlalu dan keduanya sudah berhadapan-tentu terpisah oleh meja. Hening, tak ada yang bersuara. Rea yang terus menunduk di posisinya, sementara Aero entah kenapa memiliki pandangan mata yang fokus pada meja. Nafas pria itu teratur, jika anak buahnya melihat Aero dalam keadaan seperti ini pasti mereka akan tetap duduk diam menunggu sebuah perintah. Rea tidak. Ia yang merasa diberikan harapan tadi mendadak berdiri, ingin pergi dari ruang tamu.
"Jangan dulu pergi!" Perintahnya lantang saat tubuh Rea baru maju beberapa langkah.
"Kamu membuang waktu aku." Jawab Rea tak perlu menunjukkan wajahnya, ia memberikan Aero punggung yang terus berjalan ke arah dapur.
Aero kira, Rea akan datang kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas teh atau kopi. Ada tamu, dan sudah sepatutnya diberikan suguhan yang baik. Namun apakah pantas Aero disebut sebagai tamu, karena justru dia sendiri yang memaksa masuk ke dalam rumah?
Pada akhirnya, karena tidak lagi ada tanda-tanda kedatangan Rea. Kaki Aero mulai melangkah menuju ruangan belakang-dapur. Entah dorongan dari mana, hatinya menginginkan sekali untuk tahu apa yang terjadi di belakang.
"Minimal segelas air putih aku dapatkan di rumah ini."
Suara yang ber-volume tinggi namun berat itu cukup membuat tubuh Rea terkejut. Ia membalikkan badan, kemudian mengabaikan Aero yang berdiri tak jauh darinya. Ekspresi tak peduli yang membuat jiwa lelaki Aero merasa tersentil.
"Berhenti dan duduk!"
Rea tetap diam. Ia sudah lelah. Seharian mengikuti Ibu Nindi kemana-mana. Walaupun akhirnya pulang lebih awal, namun untuk beberapa alasan tubuhnya terasa begitu remuk. Apakah itu bersumber dari kedatangan pria asing yang katanya akan memberikan penjelasan padanya?
Daripada duduk diam menunggu penjelasan, sebaiknya ia tetap menyibukkan diri dengan menyiapkan makan malam. Mengupas bawang, cabai dan mencuci sayuran untuk mengalihkan pikirannya.
"Regina Athalia!!"
Brak
__ADS_1
Spontan Rea membenturkan pisau yang dia pegang di tangan kanan ke arah nampan, sebagai bentuk protes dan kesal.
"Stop memanggil nama saya. Karena pada kenyataannya kita tidak saling mengenal. Dan jangan selalu menempatkan diri kamu di tempat yang benar. Kamu punya salah dan-"
"Maaf!" Potong Aero saat tahu apa yang Rea inginkan. "Itu kan yang ingin kamu dengar?" Lanjutnya lagi saat Rea tak lagi bersuara.
"Maaf kamu tidak bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi."
"Melihat sendiri bagaimana kehidupan mantan calon suami kamu dan adik kamu sekarang. Kamu masih berpikiran untuk kembali?"
"Memang kamu pikir, aku termasuk wanita yang berlapang dada ketika tahu calon suami menikah dengan wanita lain?"
"Wanita itu adik kamu."
"Tetap wanita lain!"
"Arka tidak berniat mempertahankan wanita seperti kamu."
Hati Rea tak terima dengan pernyataan Aero. Rasanya begitu sakit, seperti ada tusukan ribuan jarum yang makin bertambah banyak tiap detiknya.
"Oh ya?"
"Setiap orang pantas dapat yang-"
"Dan aku pikir, Arka termasuk orang yang rugi karena menyia-nyiakan kamu."
"Dia-"
"I call him, when you were with me. Tebak apa respon dia?-Dia mengucapkan terimakasih."
"Bohong!"
"Untuk apa berbohong? Dia adalah orang dengan banyak masalah. Saya butuh dia untuk-" Mendadak Aero diam. Ia tak lagi melanjutkan apa yang dia sampaikan. Kenapa ia perlu menjelaskan ini? Ia sadar sudah terlalu jauh.
__ADS_1
"Kalian berteman?"
"Kebohongan macam apa yang ingin dia mulai? Bukan teman ataupun saudara. Kita bertolak belakang."
Untuk sesaat, tubuh Rea melemah. Ia segera menggenggam erat sandaran kursi. Benar, dia memang dicurangi. Ada permainan di dalam rumah yang tidak melibatkan dia di dalamnya.
"Aku sudah tidak bersama Arka. Jadi tidak perlu muncul lagi di hadapanku. Urusanmu adalah dengannya. Kamu bisa pergi."
Tak ingin lebih jauh mendengar fakta ini. Rea memilih mengusir Aero dengan kalimat halus bernada rendah. Berharap Aero akan merasa kasihan kemudian meninggalkannya.
"Pantas kamu ada disini. Bagaimana bisa ada wanita selemah itu? Memilih pergi dan tak menuntut apa yang seharusnya jadi miliknya. Memilih diam padahal terus diasingkan."
"Diam!!" Bentak Rea. Keduanya tangannya terulur mendorong dada Aero mundur. Ia berniat mengeluarkan tubuh kokoh itu dari rumahnya.
"Kamu lemah!" Mendengar ejekan itu, emosi Rea meningkat. Dengan mata yang mulai buram, dan perlahan air mata luruh, sekuat tenaga mendorong Aero keluar dari area belakang rumah. Membuat keduanya sekarang ada di ruang tamu.
Wajah Aero masih datar, ia menerima saja wanita tinggi langsing ini menyentuh tubuhnya. Bukan menyentuh dalam artian intim. Tapi justru menyentuh kasar berniat mengusir.
"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah." Ejek Aero seperti tak memiliki belas kasih. "Berhenti menangis, itu hanya menandakan kamu orang lemah. Semua akan menyepelekan kamu."
Tak ada jawaban, isakan Rea makin keras tanpa melepaskan kedua telapak tangannya di tubuh Aero.
"Kamu ngapain aku?" Suara bergetar Rea yang diiringi tangis masih bisa Aero dengar. Bernada putus asa yang begitu nyata.
Jadi selama ini, tidak hanya pemikiran Arka dan keluarganya yang membuat rencana untuk menyingkirkannya. Tapi lebih dari itu Rea masih saja terganggu dengan satu fakta. Dia berbaring di ranjang selama berjam-jam. Tentu bersama Aero. Walaupun tidak ingin bertanya, tapi Rea ingin memastikan jika dirinya masihlah Rea yang dulu. Yang murni dan baik-baik saja. Yang masih utuh tanpa cela dan tergores fisiknya.
Biarlah hatinya disakiti bertubi-tubi, tapi tidak dengan kehormatannya. Apa yang Aero lakukan saat itu selalu memenuhi otaknya. Tak ada tanda sakit yang seperti kawannya ceritakan. Tapi melihat foto yang pernah Ibunya tunjukkan, bukan tidak mungkin diam-diam pria ini menjamah tubuhnya kan?
Aero tidak memahami maksud pertanyaan Rea. Hingga ia menjawab santai. "I'm not doing anything."
"Kamu ngapain aku di kamar brengsek!!" Tekan Rea lagi, kali ini sambil mengangkat wajahnya hingga bisa Aero lihat mata indah itu berkilat penuh emosi. Wajah putih yang dibasahi air mata dan rona merah yang tersembur dimana-mana. Ada sesuatu yang masuk ke hati Aero, dan dia tidak bisa menjelaskan itu perasaan apa. Yang jelas, Aero sedang ingin mempermainkan lagi Rea yang terlihat cantik saat menangis.
Dal beberapa detik bibirnya tertarik membentuk seringai. Kedua tangannya menarik pinggul Rea mendekat hingga saling bersentuhan. Sukses membuat Rea diam dengan bibir terbuka. Pasti terkejut.
__ADS_1
Mensejajarkan, Aero sedikit membungkuk. Ia berbisik lagi di telinga Rea sambil memasang senyum.
"Inilah kenapa aku bilang, Arka rugi karena menyia-nyiakan kamu. I know you. Baik dalam dan luarnya. Aku puas bisa merasakan kamu."