
Mendengar suara mesin mobil yang dipanaskan, serta mencium aroma kopi yang menguar di sekitarnya, perlahan Rea sadar, kalau matahari sudah kembali menampakkan dirinya. Jika biasanya dia begitu semangat untuk membuka mata, membangunkan Aero dan menyiapkan kebutuhan pria itu. Untuk saat ini, semaunya terasa begitu berat. Matanya terasa lengket seperti dilem. Tubuhnya nyaman di bawah kelembutan selimut. Mungkinkah ini efek dari hari specialnya yang terlewat begitu saja? Atau bentuk kesedihannya yang mendalam hingga berakibat pada alam bawah sadarnya?
Secara perlahan, tangannya yang bebas mulai meraba satu sisi tempat tidur dimana Aero biasanya berada. Namun kosong, juga dingin. Perasaanya mendadak sesak. Dia ingin dibangunkan, sesekali. Seperti apa yang dia lakukan sejak awal pernikahan.
Meski enggan, wanita dengan status baru ini meregangkan sendi-sendinya, bangkit dengan mata masih tertutup. Rambut yang berantakan ia sisir asal menggunakan kesepuluh jemarinya. Hari ini hari apa? Tanyanya dalam hati. Sejak resign, dia seperti tidak ingat ada hari Senin hingga Sabtu, yang dia tahu hanya Minggu. Meski sudah tidak bekerja, ia masih saja dimintai tolong oleh Bosnya. Terutama untuk urusan bayinya yang tampan.
Aero pasti sedang mandi, terdengar dari suara gemericik air di balik pintu warna putih. Usai memilihkan setelan jas beserta dalaman untuk suaminya. Rea segera membereskan tempat tidur dan menyibak gorden. Kamarnya didesign dengan penerangan cahaya matahari, sehingga lampu tak begitu bermanfaat jika pagi menjelang.
Tak butuh waktu yang lama untuk Aero berada di kamar mandi. Dia sudah terbiasa melakukan hal-hal berbau kebersihan dengan sangat cepat. Dan itu selalu membuat Rea merasa beruntung sekaligus malu.
"Siapin baju ganti aku ya, nanti ada sparring jam 7 malem. Jadi aku langsung ke sasana. Mau nonton ngga?"
Rea sedang duduk di tepi ranjang sambil mengecek pesan masuk, saat Aero keluar dari kamar mandi dan mengucapkan beberapa kalimat yang jelas ditujukan untuknya.
Wangi sabun serta sampo yang tajam langsung merasuki indera penciumannya. Menaikkan secepat kilat kesadaran yang baru 30 persen Rea dapat. Ia akhirnya terjaga. Wanita berbalut baby doll ini mengerjap begitu tubuh proporsional setengah basah berdiri di hadapannya. Tetesan air terlihat masih bergulir lembur di kulit tubuh Aero yang berwarna sedikit kecoklatan.
"Mas mau tanding? Apa ngga cape setelah kerja terus main gebug-gebugan?" Tanyanya dengan penuh ketidaksukaan.
"Ngga, paling cuma lima ronde. Gimana? Mau nonton? Nanti aku ngomong Jordi atau Ardi biar dijemput. Sekali-kali jadi suporter ya, dan lihat bagaimana tangguhnya suami kamu di ring."
Lelaki dengan rambut depan yang menutupi dahi itu mengatakan demikian, bahasa tubuhnya tetap santai, tak terpengaruh dengan ekspresi Rea yang nampak kecewa.
"Aku malah mau ngajak nonton film, jalan-jalan atau ..." Rea sengaja menggantung perkataannya sembari mendongak menatap suaminya. Mencoba peruntungan itu perlu kan? Meski Aero lupa, Rea tetap ingin melakukan sesuatu yang special berdua nanti malam. Tidak, dia tidak akan menyindir atau menagih kado. Biarlah nanti Aero mengetahuinya sendiri, entah kapan.
"Kamu bisa nonton aku main. Nonton filmnya lain kali. Ok? Sana mandi!"
Tanpa ingin dibantah, dan terdengar begitu otoriter, Aero menarik kedua tangan istrinya untuk berdiri. Tanpa sungkan bibirnya berlabuh di kening Rea yang masih berkerut. Selanjutnya turun ke pipi sebelah kanan untuk melakukan hal yang sama. Pikirannya selalu gemas kala melihat wanita yang galak ini terlihat polos memandangnya. Sentuhan fisik tidak lagi Rea batasi, bahkan dengan terang-terang dia berani menggoda Aero saat benar-benar menginginkan. Bukan menggoda seperti wanita liar yang mempertontonkan tubuhnya dengan balutan pakaian ketat atau terbuka. Regina Athalia sangat pintar, dia hanya membutuhkan tatapan mata untuk memberi tahu Aero jika dirinya menginginkan. Sesederhana itu, tapi amat menganggu Aero yang notabennya terlambat dewasa. Gairahnya langsung tersulut begitu besar, membara ketika sudah menemukan rumahnya.
"Katanya semalam pusing? Terus kenapa malah nekat mau sparring? Kalau malam mau tanding, bukannya sebelum itu ngga boleh banyak aktifitas ya?"
See, dia tak pernah putus asa. Terus mencoba hal-hal yang dia inginkan dari Aero, meski tak jarang kegagalan yang dia dapat.
"Kamu banyak tanya!"
Jika wanita lain yang mendengar, mereka pasti akan sakit hati. Berbeda halnya dengan Rea, dia justru makin galak.
"Jawab?!" Tekan Rea ingin tahu. Nada bicaranya terdengar naik, tidak sesantai biasanya.
Dan bukannya marah atau takut. Aero malah tersenyum, tangannya beralih menghalau rambut ke belakang telinga istrinya, berusaha menata mahkota hitam itu dengan indah, versinya. "Tapi aku suka kamu yang banyak tanya."
__ADS_1
Mendengar hal itu Rea berdecak tidak suka. "Ok. Aku dikacangin!" Serunya dengan sedikit kesal, Rea menjauhkan kedua telapak tangan Aero yang membingkai wajahnya sedikit kasar. Ia memalingkan wajah, melangkah lesu memasuki kamar mandi dengan suasana hati mendung. Dia hanya ingin meluangkan waktu bersama. Itu saja.
"Kamu kalau seperti itu terlihat makin menarik."
"Ngomong aja tuh sama tembok. Jangan ngomong sama aku!" Jawabnya tak acuh tanpa sambil terus menjauh.
"Mereka ngga seresponsif kamu. Ngga seru!"
"Hiiih mulutnya!" Spontan Rea membalikkan badan, dia tidak suka kalau dia dibandingkan dengan benda mati. Terlalu kasar.
"Kenapa? Pengin dicium?" Tantang pria itu sambil dengan santainya membuka belitan handuk di hadapan Rea. Kemudian dia menggosok tubuh telanjangnya yang masih basah tanpa memperdulikan mata istrinya yang hampir keluar.
"Mas!! Ditutup itu!"
"Aku kan ikut-ikut kamu kalau ganti baju, dibuka semua."
Brak! Pintu kamar mandi dibanting begitu keras disusul dengan umpatan Rea yang teredam di balik pintu kamar mandi. Seketika membuat Aero menggelengkan kepala tidak paham, jelas-jelas dia meniru apa yang selama ini istrinya lakukan, selepas mandi berdiri di depan lemari sambil mengeringkan tubuhnya dengan sehelai handuk.
***
Kesibukan di dapur sudah dimulai sejak subuh, Bibi Yul dibantu asisten rumah tangga Aero tengah memasak menu sarapan. Biasanya, jam 7 tepat kedua pemilik rumah akan turun untuk mengisi energi. Kali ini sedikit berbeda, Aero sudah siap di meja makan dengan setelan jas, sementara Rea belum terlihat kedatangannya. Seperti dunia sedang berbalik.
"Den Aero mau makan dulu?" Tanya wanita tua yang lebih muda dari Bibi Yul, dia yang membantu di rumahnya ini sejak dulu.
Mba Surti mengangguk, ia mundur kembali ke dapur untuk mengambil menu yang lain.
"Mba Rea beluk turun Mas?" Kali ini Bibi Yul yang muncul. Dia baru saja menaruh piring berisi sayur brokoli dan wortel ke atas meja.
"Lagi mandi." Jawab lelaki itu singkat. Dia duduk dengan tangan terus menggulirkan ponsel ke atas dan ke bawah seperti tengah membandingkan sesuatu. Bahkan sampai tidak tahu jika Bibi Yul masih ada di sekitarnya. "Kenapa Bi?" Tambahnya yang sedikit kurang nyaman karena seperti diperhatikan terus menerus.
"Ngga, lagi nunggu Mba Rea. Mau ngomong sesuatu."
Aero mengangguk saja, dia bahkan tak ingin tahu apa yang akan dibicarakan. Sesama wanita paling hanya seputar urusan dapur.
Beberapa menit berlalu, akhirnya langkah kaki terdengar menuruni tangga. Seakan mendapatkan lotre, Bibi Yul segera berlari kecil menuju anak asuhnya yang belum sampai menginjakkan kakinya di lantai satu. Seakan tidak pernah berjumpa, wanita tua itu memeluk tubuh Rea erat seperti ada sesuatu yang baru terjadi. Dan hal tersebut tak lepas dari perhatian Aero yang mulai menaikkan alisnya bingung.
Kenapa mereka berpelukan?
Apa ada sesuatu?
__ADS_1
Aero bertanya-tanya dalam diam.
"SELAMAT ULANG TAHUN ANAKNYA BIBI YUL!! Maaf lupa. Baru inget tadi malem waktu lihat status keponakan Bibi yang ada di kampung, anaknya kan ulang tahun. Jadi Bibi inget Mba Rea, kan ulang tahunnya sama. Telat baget ya. Harusnya kemaren!" Ucap Bibi Yul dengan begitu cepat dan tak terputus. Suaranya yang lantang terdengar oleh semua orang, terutama lelaki yang sedang duduk di salah satu kursi.
Rea tersenyum dalam pelukan, hatinya yang semula mendung perlahan mulai terobati. Kedua tangannya membalas pelukan makin erat dan tak lupa menyembunyikan dalam-dalam wajahnya di bahu pengganti Mamah. Dia ingin menangis.
"Semoga panjang umur, diberi kemurahan rezeki, bahagia selalu, makin sholehah jadi istri, dan segera dikaruniai keturunan yaa."
"Aminn. Makasih Bi." Jawabnya sambil mengangguk. Keduanyapun melerai pelukan, berjalan saling merangkul menuju meja makan.
"Kadonya nyusul ya Mba."
"Ngga usah repot-repot."
"Harus ya Mas Ero. Masa Bibi yang udah dikasih apa-apa, ngga bales kasih hadiah." Tanyanya pada Aero yang tengah mematung di kursi. Pria itu tak bersuara dan tak melakukan apa-apa. Sementara Rea sendiri, dia langsung duduk guna mengisi piring suaminya yang masih kosong.
Rea tidak tahu bagaimana ekspresi suaminya saat ini. Yang jelas, ketika Bibi Yul memilih ke halaman belakang meninggalkan sepasang suami istri ini di meja makan untuk sarapan berdua, pasokan udara mendadak menipis. Terasa ada tatapan tajam yang mengarak ke Rea. Pipinya memanas dipandangi dengan begitu intens dan tanpa kata.
"Rea??" Panggil sang lelaki yang duduk di kursi khusus kepala keluarga itu berat.
"Ya Mas?"
Hening. Tak ada suara. Aero tak lagi melanjutkan apa yang akan dimulai bicarakan. Hingga beberapa detik, keduanya tak ada yang mau memulai. Mau tak mau, Rea memberanikan dirinya untuk menoleh. Ia tidak bisa selamanya memalingkan wajahnya. Dia tak bisa juga mengacuhkan suaminya yang tak kunjung pengertian dan peka ini. Maka dengan penuh kedewasaan dia pun memberikan senyuman hangat.
"Kenapa Mas?" Ulangnya lagi.
Bukan pandangan sedih atau menyesal yang nampak di wajah tampan itu, seperti yang Rea harapkan. Justru kening yang berkerut, dan bibir yang menipis seperti tengah marah.
"Sarapannya dimakan. Apa ngga enak ya? Mau aku masakin yang lain?" Tambahnya seperti tak terjadi apa-apa.
Tentu Aero diam tak bereaksi. Matanya lurus dengan sorot tak terbaca.
"Kebanyakan? Atau makan roti aja?"
Cup
Aero mencuri satu ciuman kilat di bibir merah Rea, saking cepatnya sampai wanita itu reflek memejamkan mata.
"Mulut kamu kenapa ngga dipakai untuk mengingatkan aku tentang hal seperti tadi?!" Tanya Braga Assavero dingin.
__ADS_1
Banyak nih gaes, 1500 kata
Jangan lupa vote, comment dan likenya aku tungguuuu