
Munculnya Ardan di dekat Rea. Sedikit banyak membuat Aero kehilangan ketenangannya. Entah resah karena tidak memiliki teman wanita lagi yang bisa diajak berdebat, atau karena dia tidak bisa melepaskan wanita itu dengan pria lain. Tapi yang paling jelas Aero rasakan adalah, ada rasa tidak terima yang muncul jika nanti Rea bersanding dengan Ardan. Ok lah, pemuda itu sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Dia sudah mengenal Rea dari SMA. Tapi dalam hal fisik, mereka begitu jauh. Apa Rea tidak minder jika jalan berdua dengan Ardan? Tanya Aero dalam hati. Sudah pasti disini, pria itu sangat menginginkan Regina Athalia. Terlihat dari tatapannya dan bagaimana cara pria itu mendekati. Rea cantik dan supel, akan sangat disayangkan jika dia tidak mendapatkan lelaki yang baik.
Tapi wahai Braga-anak semata wayang Danunjaya-bukankah jodoh itu tidak ada yang tahu? Jodoh itu di tangan Tuhan. Jodoh itu saling melengkapi, bukan bukan mencari yang sempurna.
Berjarak dua hari setelah terakhir kali dia bertemu Ardan dan Rea, pria gagah itu kembali lagi menyambangi rumah bercat warna putih di salah satu perumahan. Usai menyelesaikan tugas di kantor, ia datang bertamu dengan tangan kosong. Membuat si wanita cantik hanya menghembuskan nafas lelah.
"Aku ngga nerima tamu."
"Hanya sebentar." Desak Aero bersamaan dengan yangannya mendorong daun pintu agar terbuka. Tanpa perlawanan Rea membiarkan Aero masuk. "Kamu mau pergi?" Kembali Aero bersuara setelah melihat penampilan Rea yang sangat berbeda malam ini. Nampak segar dan cantik dengan make up yang menawan.
"Iya." Acuh. Rea berjalan kembali ke ruang tengah tanpa mempedulikan kedatangan tamunya. Terserah, gue ngga peduli lo ada disini. Sekiranya itu respon Rea jika dilisankan.
Tak mau hanya dijadikan pajangan di ruang tamu, Aero yang tidak tahu diri bergabung di meja makan. Duduk di tempat biasa dia duduk sambil menyaksikan perubahan ekspresi wanita yang suka berdebat dengannya.
"Kamu ngga mikir bener-bener?" Celetuk Aero di tengah keheningan.
Tentu wanita cantik dengan dress warna hitam ini tak langsung menjawab. Lebih dulu ia berpikir, sampai akhirnya memilih kata-kata yang tepat sebagai balasan. "Apanya yang perlu dipikir bener-bener?"
"Si masinis."
"Na-ma-nya Ar-dan." Tekan Rea disetiap suku katanya. Ia tidak suka dengan cara Aero menyebut teman lelakinya seperti itu.
"Ya itu. Ar-dan!"
"Kenapa sama dia?"
"Perlu aku jelasin dengan detail tentang dia?"
Wajah Rea benar-benar tidak bersahabat. Tanpa dipungkiri lagi, ia mulai benci dengan cara Aero bertindak. Tidak mencerminankan lelaki sejati. "Apa yang perlu dijelasin tentang dia? Tahu apa kamu?"
"Ckck susah ngomong sama kamu."
__ADS_1
Mendapati balasan yang begitu menyebalkan keluar dari bibir tipis Aero, tanduk di kepala Rea perlahan muncul. Sialan!
"Ngga kebalik? Yang ada tuh kamu! Ngga jelas dan sukanya muter-muter. Ngga penting banget nilai orang lain, sementara kamu sendiri perlu banyak introspeksi. Udah punya banyak salah, ngga jelas, semaunya sendiri lagi." Sungutnya tanpa malu-malu.
"Aku sebenarnya bisa jadi orang yang to the point. Dan tentang punya banyak salah, maksudnya salah sama kamu?"
Hih. Dasar songong. Ngga paham-paham.
"Mungkin!" Balas Rea dengan singkat.
Untuk beberapa saat keduanya hanya diam. Perang urat saraf sejenak berhenti, Aero dan Re sama-sama mengambil nafas, mengumpulkan energi agar kembali bisa berperang mulut.
"Rea?!" Panggil Aero dengan cara yang berbeda. Lebih lembut dan halus.
Rea terpaksa menghentikan aktifitasnya yang sedang melalang buana di dunia maya. Dengan kasar dia menghempaskan ponsel di atas meja. Menandakan jika dia kesal dan marah. "Aku semakin ngga paham kamu itu maunya apa. Aku cape!"
"Mau aku ngga banyak. Ngga usah sama Ardan!"
"Kenapa kamu larang? Apa alasannya?"
Bilang aja kalau cemburu, susah banget si dasar gengsi.
"Kamu ngga lihat? Dia besar, kulitnya gelap, dan tampangnya biasa banget. Ngga cocok." Tanpa rasa bersalah dan dengan entengnya Aero membeberkan alasannya. Yang sama sekali tidak bisa Rea terima..
"Aku lihat, dan bagi aku itu ngga masalah. Apa yang bisa dibanggakan si dari wajah tampan? Ngga ada jaminan dia tidak akan menyakiti! Ngga ada jaminan juga wajah tampan itu abadi! Hanya pikiran remaja yang menganggap fisik itu penting. Dan aku ngga peduli omongan orang. Memang mereka kasih aku makan? Ngga! Masalah cocok dan tidaknya itu urusan Tuhan. Manusia dilarang ikut campur."
Aero sempat ternganga mendapati jawaban macam ini keluar dari mulut Rea. Jangan bilang Bordes benar? Kemarin apa yang pria itu katakan? "Jaman sekarang cover ngga ada harganya. Laki yang cepat laku itu yang royal."
"Kamu bisa dapatkan lelaki yang setidaknya ketika berada di sebelah kamu layak dianggap suami."
"Siapa lagi? Arka gagal. Nando juga gagal. Harus Ardan juga gagal? Padahal aku bukan tipikal pemilih. Kriteria aku juga ngga muluk-muluk. Tapi kenapa susah cari yang tanggung jawab? Sekalinya aku yakin, ternyata dia ngga mau. Jadi lebih baik sekarang. Aku akan berusaha menerima orang yang mau sama aku. Tentu dia harus baik dan tanggung jawab. Masalah hati. Itu bisa di atur." Balas Rea menggebu-gebu.
__ADS_1
"Seputus asa itu kamu sekarang?"
"Ini bukan putus asa. Tapi aku berusaha realistis. Untuk apa mengharapkan seseorang yang ngga serius? Buang-buang waktu."
Harusnya Aero sadar, kalimat itu untuk dirinya. Tapi dasar lelaki. Dia tetap saja acuh.
"Aku ngga tega kamu sama dia." Katanya setengah berbisik.
"Kamu cuma orang asing bagi aku. Dan terimakasih untuk perhatiannya."
"Orang asing ini sempat dekat, bahkan-"
"Itu dulu. Sekarang, semua berbeda.--Ardan sudah ada di depan. Ngga usah ke rumah aku lagi!" Tanpa menunggu Aero membalas, wanita yang sudah siap ini beranjak dari kursi makan. Ia menyambar tas di atas meja dan memakainya.
"Sebentar!" Cegah Aero yang merentangkan tangannya sambil ikut berdiri.
Dan dengan enggan Rea kembali duduk. Wajahnya ditekuk begitu dalam.
"Jangan keluar! Tetap disini!" Ulang Aero kembali seperti memberi peringatan.
Ingin sekali Rea menangis menghadapi situasi ini. Ia lelah menghadapi Aero. Lelah di level tertinggi. Kalau kamu ngga tega liat aku sama dia. Aku sama siapa Mas? Katanya hanya dalam hati.
Membuang wajahnya, dengan enggan Rea perlahan dan hati-hati menjelaskan. "Kamu sadar ngga si? Kamu bukan siapa-siapa aku! Tapi bertindak posesif! Aku bahkan sudah merendahkan diri, menanyakan keseriusan kamu saat itu. Ngga ada jawaban, itu artinya apa? Kamu ngga serius. Benar kan? Jadi udah. Stop! Orang tuaku udah ngga ada lagi. Aku cuma mau cari laki-laki yang setidaknya bisa dampingi aku di dunia ini. Minimal, aku punya seseorang yang bisa dengerin masalah aku, bisa-"
"Ok! Aku aja yang keluar temui dia." Putus Aero dengan begitu lantang. Tubuhnya bahkan sudah berdiri dari kursi yang diduduki.
"Mau apa?!" Sungut Rea tidak terima.
"Mau bilang sama Ardan. Dia ngga perlu datang lagi kesini dan berharap sama kamu. Udah ada aku. Dan itu cukup kan untuk seumur hidup kamu?!!"
Mulut Rea terbuka dan tertutup tak mengerti dengan rangkaian kalimat dari bibir Aero. Tanpa ijin darinya, pria itu sudah melangkah cepat keluar dari rumah untuk menemui Ardan.
__ADS_1
Kamu ngomong apa si Mas?