Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 76


__ADS_3

Rea pernah mendengar, jika restu orang tua adalah segalanya. Tapi bagaimana jika itu adalah orang tua tiri yang selama ini memperlakukannya tidak semestinya? Apakah restu mereka juga dibutuhkan? Apa doa dari mereka juga akan menentukan keharmonisan rumah tangganya dengan Aero? Jika jawabannya adalah iya, maka saat ini wanita cantik itu merasa gelisah. Pasalnya dia sama sekali tidak menyampaikan apapun pada Rena-adik tirinya. Begitu pun kepada Ayuning-wanita kedua yang mendampingi ayahnya perihal dirinya yang akan menikah dengan seorang lelaki. Lelaki yang sangat mereka kenal, karena sempat dianggap sebagai selingkuhannya.


"Mau kemana?" Aero tak menanggapi tawaran Bordes yang baru saja memberinya voucher lisan-bulan madu tiga hari tiga malam di resort keluarganya. Ia lebih penasaran dengan istrinya yang begitu cantik sudah melangkah hendak meninggalkan dirinya.


"Mau lihat ke depan." Serunya dengan wajah polos.


Aero menggeleng, menggenggam pergelangan tangan istrinya lebih kuat, kemudian menarik perlahan agar kembali duduk di tempat semula.


"Itu urusan Ardi yang jaga di luar. Tugas kita adalah menerima tamu dan mengucapkan terimakasih. Paham?" Perintah Aero dengan tegas. Dia seperti melupakan fakta kalau wanita di hadapannya ini harus diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang-seperti saran penghulu tadi.


"Memastikan Mas, siapa tahu mereka bisa diajak ngobrol baik-baik dan-"


"Yang bisa masuk ke sini hanya tamu undangan. Apa mereka ngga pernah datang ke acara macam ini sampai ngga tahu diri memaksa masuk? Kamu juga setuju kan saat aku bilang ngga perlu undang mereka?"


Rea hanya diam di tempat. Meski Aero tak menasehatinya dengan nada keras, tapi cara lelaki gagah itu berdiri begitu mengintimidasinya. Siapapun yang melihat pasti akan mengira jika saat ini pasangan baru itu sedang bertengkar. Dan satu hal yang perlu diperjelas, Rea bahkan diam ketika Aero menolak daftar nama tersebut untuk diberikan undangan. Rea tidak pernah bilang iya atau pun mengangguk. Harusnya kan Aero bisa menilai? Kalau diamnya Rea saat itu karena bingung harus seperti apa. Ah sudah berlalu.


"Ardi bisa aku percaya. Urusan kecil seperti itu bisa dia tangani. Jika mereka ingin tetap bertemu, nanti." Tambah Aero dengan pandangan lebih lembut dari sebelumnya. Ia mungkin sadar sikapnya berlebihan. "Saat acara ini selesai!"


"Mas-"


Baru saja Rea ingin mencoba bernegosiasi, Aero sudah kembali melemparkan tatapan tajamnya. Mengambil keputusan atas masalah rumah tangga mereka sudah menjadi tanggung jawabnya, jadi jangan salahkan dia jika terlalu keras. Sebab, Aero tak menyukai segala jenis drama.


"Ngga kasian liat muka bini lo begitu?" Sindir Bordes tiba-tiba, lelaki berperawakan tinggi besar dengan garis wajah keturunan latin ini setia berdiri tak jauh dari sang pengantin lelaki. Baru beberapa saat yang lalu datang dan kaget karena panggung sudah tak bertuan, oleh pihak EO ia segera diarahkan untuk menemui pengantin di area VVIP-dekat panggung band. Kali ini, bukannya segera disilahkan untuk menikmati jamuan makan malam atau setidaknya duduk. Ia malah diacuhkan.


Aero tak lagi memandangi wajah istrinya yang penuh harap. Dia kembali berdiri tegap, melihat lurus ke depan. "Bakalan makin suram kalau mereka masuk. Lo duduk sini aja!"


"Memang siapa? Beneran saudara apa ngaku-ngaku?" Bordes makin penasaran, dia menurut saja saat Aero menyuruhnya bergabung di mejanya. Dulu, pernikahan Bordes dengan Gadis-istrinya-tak seperti ini. Begitu sederhana dan biasa karena dilaksanakan di kota asal sang istri. Dan setiap melihat adanya resepsi di hotel, Bordes menjadi punya keinginan untuk mengulangnya. Ia ingin melihat istri cantiknya berdiri disana layaknya ratu.


"Mungkin keluarga tiri. Biasa! Mereka muncul hanya kalau ada sesuatu yang menguntungkan."

__ADS_1


"Cerminan lo banget. Sama-sama dateng kalau butuh!"


Aero ikut mendudukan diri. Diam saja dengan wajah datar tak begitu terpengaruh dengan apa yang temannya katakan. Rangkaian acara sebenarnya selesai, bahkan foto-fotopun sudah. Oleh karena jumlah tamu yang benar-benar dibatasi, kedua mempelai sudah bisa santai menikmati alunan musik. Beberapa yang datang terlambat-kerabat Danunjaya-langsung datang ke mejanya untuk bersalaman.


"Gue ngga bisa lama Ga. Besok aja ketemu pas breakfast ya. Itu kalau lo udah bangun."


"Ngga makan dulu?"


"Gue makan bareng istri nanti."


"Hadiahnya mana?"


"Besok gue kasih vouchernya!"


"Gue nikahnya hari ini. Bukan besok! Lagian di undangan ada warning. Lo ngga baca?"


Bordes kembali duduk. Dia mengingat-ingat apa isi undangan temannya ini. Warning apa yang Aero maksudkan? Dia tidak tahu apapun, sebab tidak menonton video pendek undangan mereka berdua. Yang menyaksikan adalah istrinya, dan tadi Gadis tak memberinya pesan apapun.


Aero memajukan tubuhnya beberapa senti untuk memberi tahu Bordes. Terlihat sangat serius dan tak main-main. Ketika keduanya dua sama-sama mendekatkan diri, Aero menatap Bordes dengan tenang kemudian berbisik. "Datang tanpa hadiah, jangan harap bisa pulang ke rumah!"


Wajah Bordes mendadak kecut. Tak ingin kalah debat, diapun dengan yakin tetap berdiri.


"Ok." Serunya semangat.


"Sebenarnya gue bawa si. Cuma buat main-main aja. Nih!" Tambahnya dengan suara lebih pelan kemudian tangannya merogok saku celana. Ia memberikan kepada Aero sebuah card yang merupakan kunci kamar. "Gue nginep di lantai 7, ngga balik ke rumah. Gue cabut ya."


"Thanks bro." Tanpa malu-malu Aero menerima benda kecil itu dan memberikannya pada Rea yang duduk-sedang mencicipi desert.


"Satu lagi, tujuan lo ngerahin anak-anak petinju apa??"

__ADS_1


"Biar ngga ada omongan macem-macem."


"Apa hubungannya otot sama omongan? Dan sejak kapan lo peduli sama omongan orang-orang?"


"Omongan bisa dihentikan pakai otot. Paham kan lo? Dan sejak kapan gue peduli sama omongan orang. Ya sejak gue jadi suami."


Hemm. Dasar songong. "Belagu. Baru juga berapa jam jadi suami. Jangan cari gue kalo bini lo lagi kabur!"


"Ngapain gue cari lo, yang kabur kan bini gue!"


Tak lagi berusaha menanggapi karena Gadis sudah mengirimkan pesan, Bordes segera beranjak meninggalkan ball room. Ia bahkan masih menjumpai tamu yang tertahan di luar, mereka tengah berhadapan dengan Ardi-lelaki dengan tubuh besar seperti dirinya.


***


Sesungguhnya Rea begitu kecewa, dia tidak diijinkan bertemu dengan beberapa orang tamu tak di undang. Bersama Bibi Yul lewat tengah malam, jam 00.04 dia baru masuk ke kamar pengantin mereka. Tentu Bibi Yul hanya mengantar hingga pintu, tak berani untuk masuk apalagi melongok isi di dalamnya. Bukan itu saja, dua orang dengan seragam batik berbadan kekar juga berjaga di luar pintu kamar Rea.


Meski kamar sudah begitu luar biasa indah-menurut Rea-tanpa Aero kamar itu tetap kurang sempurna. Bukankah akan dikatakan kamar pengantin apabila di dalamnya ada dua orang itu? Jika hanya satu, maka itu hanyalah kamar biasa.


Kalau kamu mau tidur lebih dulu silahkan. Aku masih tertahan.


Itulah dua kalimat yang Rea terima lewat pesan WA. Mungkin memang tidak akan ada malam panjang penuh peluh malam ini. Diam-diam Rea meringis. Bisa-bisanya dia berpikiran Aero akan langsung menerkamnya malam itu?


Sebelum tidur, Rea lebih dulu membersihkan dirinya. Menghapus make up, melepas gaun dan riasan di rambut, setelahnya Rea memasuki kamar mandi. Mencoba menghilangkan pegal dengan mandi air hangat. Harapannya satu, ketika dia selesai, Aero sudah duduk di salah satu sudut kamar menunggunya. Dan kemudian melakukan kontak mata yang bisa menjerat ke langkah selanjutnya. Namun ternyata, itu tak terjadi.


Dengan wajah kurang senyum Rea duduk di tempat tidur king size, masih mengenakan bathrobe ia meraih ponsel. Rea belum menjawab pesan suaminya. Karena terus terang saja dia sebenarnya ingin ditemani. Tidak nyaman mengisi kamar besar itu sendirian. Tapi belum sempat Regina mengetik sesuatu, sebuah pesan kembali masuk dan membuat jantungnya hampir meledak.


Atau kamu mau menunggu sebentar lagi? Aku bisa ubah status kamu malam ini. Dari gadis jadi wanita. Dan satu lagi, aku kangen ciuman kamu.


Ayooo mana vote, comment dan likenya.

__ADS_1


Aku udah update niih. yaa walau lambat hehehe


__ADS_2