Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 21


__ADS_3

Warga komplek perumahan Rea yang dipimpin Pak RT akhirnya satu per satu kembali ke rumah masing-masing.Baik Arka dan Aero, keduanya harus menandatangani surat pernyataan yang berisi janji untuk tidak membuat keributan lagi.Jika melanggar, maka konsekuensi berat sudah di depan mata. Tak masalah bagi Aero, dia toh tidak ada niatan untuk berperang lebih dulu.Semua awal perkelahian berasal dari Arka yang masih saja tidak tahu diri, bukannya bertanggung jawab melunasi hutang,mulutnya kembali lancang menawarkan sang kakak ipar sebagai ganti.


Sungguh, seburuk-buruknya Braga Assavero, dia tidak sedikitpun punya pemikiran menukar harta dengan wanita.


"Memang dari makhluk seperti apa kamu dilahirkan?" tanya Aero sesaat sebelum adanya gencatan fisik.


"Ngga penting."


"Melihat cara kamu menjawab, mungkin tak akan masalah jika Ibu kamu ditukar dengan harta oleh ayah kamu."


Bug


Kalimat itulah yang menjadi awal adanya perkelahian.


Sementara saat ini, Rea belum juga menampakkan dirinya kembali di ruang tamu.Dia masih merutuki penampilannya tadi.Tidak sopan, terkesan berani dan murahan.Namun nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa mencegah,mengembalikan sesuatu yang sudah terjadi.Hanya berharap, sesuatu yang dia khawatirkan tak akan terjadi.Dia tidak ingin menjadi bahan gunjingan warga tempatnya tinggal-itu saja.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu berhasil mengagetkan Rea yang tengah duduk di tepian ranjang.


"Siapa?" Jawabnya ingin tahu.


"Bisa keluar sebentar?"


Mengetahui itu suara milik siapa, Rea bergegas berdiri dan membuka pintu. Daripada Aero yang memasuki kamarnya, lebih baik Rea yang keluar. Lelaki itu tidak dapat diprediksi kemauannya.Diam-diam menghanyutkan.


Dinding samping pintu menjadi sandaran Rea berdiri.Ia memeluk tubuhnya dengan kedua lengan saling menyilang di depan dada.Menunduk memperhatikan lantai, tak berniat sama sekali memandang pria sumber kakacauan.


Aero memperhatikan wanita yang sudah mengenakan pakaian lebih sopan lamat-lamat.Tahu Rea tak akan buka suara lebih dulu.Akhirnya Aero mengalah, dia menyampaikan semuanya dengan begitu singkat.Tentang Pak RT yang sudah pergi, Arka yang sudah pulang dan tentang dirinya yang akan juga ikut meninggalkan Rea sendirian.Tidak ada permintaan maaf, Aero hanya menyampaikan, jika dalam waktu dekat ia akan datang lagi.


Untuk apa lagi?Rasanya Rea benar-benar jengah.Ia tak yakin masalah antara Aero dan Arka akan segera selesai.Sepertinya, adik iparnya itu memang tak ada niatan untuk melunasi hutang.Padahal menurut Ibu tirinya-Arka adalah seorang pengusaha batubara yang sukses.Apakah memang benar, semakin kaya manusia justru dia akan semakin sulit mengeluarkan uangnya?


Dari sekian banyak hal yang sudah Aero lakukan pada Rea,mengelus rambut adalah bagian paling horor yang pria itu lakukan.Tadi.Saat Rea mengantarkan di ambang pintu.Tanpa kata dan begitu saja.Aero entah memiliki maksud apa ketika melakukannya.


...***...


Lelaki yang hampir genap 30 tahun ini melangkah cukup tergesa ke arah lift, di belakangnya setia mengekor Jordi. Ada rapat penting, sudah berkumpul para karyawan Aero 20 menit yang lalu.Dan Aero terlambat. Bukan karena tak bisa bangun lebih awal, tapi karena jalanan macet dan dia baru saja menginap di rumah orang tuanya yang harus ditempuh 30 menit ke kantor jika jalanan lancar.


Masalahnya, tadi adalah jam istirahat-makan siang. Banyak buruh dan karyawan tumpah ke jalan untuk mencari menu makan siang favorit, atau sebenarnya adalah menu seadanya yang penting bisa makan.

__ADS_1


Aero tadi menyantap makan siangnya di rumah, bersama seseorang yang katanya selalu menunggunya pulang.


"Mas,apa ngga apa-apa Bapak ditinggal di rumah?"


Jordi selaku orang yang paling dekat dengan Aero mengungkapkan kekhawatirannya.Cemas akan keadaan Bos Besarnya di rumah. Jadi, di atasnya Aero masih ada lagi orang yang memiliki kuasa.Keras dan serampangan-namun dulu.Saat ini, sejak sakit- pria tua itu tak bisa berbuat banyak


Ia mengalah, dan memberikan kuasa untuk Aero mengelola bisnisnya. Memang jika dia mati, untuk siapa lagi harta yang dimiliki semuanya? Tentu untuk darah dagingnya sendiri-Braga Assavero Danunjaya.


"Memang kamu pikir akan terjadi apa?Ada yang menjaga disana; suster, ART dan pengawal. Apalagi yang kurang?"


Aero berusaha tak terpengaruh dengan omongan Jordi. Ia acuh dan malah asik membuka portal berita online ketika berada di dalam lift.


"Siapa tahu butuh teman ngobrol."


"Kalau teman ngobrol yang dia harapkan aku, itu mustahil."


"Coba sesekali."


"Dia banyak maunya."


Tidak terlalu memusingkan saran Jordi yang setiap hari dilayangkan, begitu pintu lift terbuka di lantai 5. Aero melangkah keluar, menuju satu ruangan di sayap kanan dengan pintu berwarna putih. Hari ini Aero akan mendengarkan beberapa kasus yang masuk, mendengar sampai mana mereka dalam menyiapkan dokumen untuk membantu client serta memberikan masukan cara memenangkan setiap kasus.


Jordi tahu, rekan-rekannya sudah terlihat lelah. Wajah mereka nampak kusut, pandangan sudah tidak fokus dan yang paling jelas cara duduk mereka tak lagi tenang. Belum ada tanda-tanda Aero akan menghentikan omongan, sampai iphone miliknya yang tergeletak di atas meja kaca menyala dan bergetar. Membuat semuanya terdiam dan menahan nafas. Para karyawan saling melirik, berharap telefon itu bisa menyelamatkan mereka.


"Give me a minutes." Pinta Aero sebelum dia mengangkat telefon.


Keningnya berkerut, dan itu ditangkap jelas oleh Jordi.nMereka penasaran, siapa yang menghubungi Bosnya di waktu meeting ini.


"Ya?"


"..."


"Untuk urusan?"


"..."


"Dia datang bersama siapa?"


"..."

__ADS_1


"Ok.Help her."


Telefon sudah diakhiri. Namun nampaknya pikiran Aero masih belum bisa kembali ke pembicaraan sebelum telfon tadi berbunyi,yaitu tentang keinginan aneh seorang pejabat yang ingin menyembunyikan istri keduanya.


Aero termenung. Pandangannya fokus pada air mineral botol di dalam genggaman tangan kirinya. Melihat itu, karyawan yang berjumlah 15 itu saling melirik. Mereka menunggu pergerakan Aero yang mendadak bisa sangat mengerikan.


"Beri apa yang pejabat itu butuhkan, cari tempat di antara kantor dan rumahnya. Agar jalur bermain pria itu tak terlihat mencolok. Untuk anaknya, homeschooling. Itu saja."


Semua mengangguk patuh. Kelegaan luar biasa mereka rasakan saat Aero berdiri dan pergi meninggalkan ruang meeting bersama Jordi.


"Huft, luar biasa. 2,5 jam rasanya 3 hari." Celetuk seorang karyawan yang duduk tepat di samping kanan Aero tadi. Ia hampir tak bisa menggerakkan lehernya."Sesekali lo coba di sebelahnya Bos Aero, wangi si, tapi nakutin. Ibaratnya duduk di sebelahnya mayit yang udah mandi. Horor." Tambahnya lagi makin menjelaskan perasaanya yang ketakutan.


Brak


"Ada yang ketinggalan Bos?" Tanya seorang wanita saat pintu ruang meeting terbuka.Dan tak dapat dicegah, pria yang tadi begitu lancar menjelaskan kondisinya, begitu pucat pasi. Ia duduk membelakangi pintu, sehingga tidak melihat dengan benar siapa yang datang.


Dan tawa rekan-rekannya pun membahana. Melihat betapa ciutnya nyali si Abdullah. Berani hanya di belakang saja.


...***...


Aero bergegas turun ke lantai satu kembali. Membuat Jordi penasaran namun tetap mengikuti.


"Kenapa Mas?" Lidah Jordi sudah gatal, ia tak bisa menahan lagi untuk diam. Namun seperti patung yang tak bisa mendengar, Aero mengacuhkan Jordi. Pria itu bahkan setengah berlari saat pintu lift terbuka.


Ada apa sebenarnya?


"Bos." Tegur Ardi yang sudah berdiri menghalangi Aero di pintu ruang konsultasi.


"Dia?"


"Sudah pergi beberapa menit yang lalu." Jelas Ardi dengan singkat.


Aero mengangguk, raut wajahnya tak menunjukkan kekecewaan.Tapi bahunya turun, ia menghela nafas panjang. Pria itu balik badan dan pergi. Menyisakan Jordi dan Ardi yang berdiri saling berhadapan.


"Siapa yang pergi?" Bisik Jordi begitu kepo.


"Someone special." Jawab Ardi sambil memandangi punggung Bosnya yang menjauh.Seseorang yang sepertinya special di mata Aero.Saat ini. Itu sudah terbukti.


Jangan lupa beri vote ya guys.

__ADS_1


Beri dukungan biar aku bisa melanjutkan cerita ini hehehe


__ADS_2