Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 23


__ADS_3

Harta mungkin bukan segalanya untuk beberapa orang-jaman dulu.Tapi saat ini, harta menjadi hal yang benar-benar dicari oleh milyaran orang di bumi.Karena mereka masih berpikir,harta dapat membuat hidup bahagia.Segala keinginan dan kemauan bisa terpenuhi jika memiliki hal tersebut.Sejurus dengan itu, kekayaan juga dapat meningkatkan status sosial seseorang di masyarakat.


Namun, bukan berarti Rea berusaha mempertahankan rumah Papanya karena dia ingin meningkatkan status sosialnya.Dia hanya ingin satu-satunya kenangan yang ada masih bisa dipertahankan disisinya.


Untuk itu-dengan bantuan Bu Nindi-Rea sedang mempersiapkan segala berkas yang dibutuhkan untuk mengklaim kepemilikan rumah warisan Papahnya. Tak mudah,karena dia harus menyiapkan surat kuasa,surat keterangan waris,sertifikat dan masih banyak dokumen lainnya.Yang Rea sendiri tidak tahu apa-apa saja fungsinya.


Walaupun tidak mudah, entah kenapa proses Rea menyiapkan itu semua terasa lancar. Apalagi saat dia mengambil sertifikat tanah yang masih ada di rumah. Allah seperti membantunya dengan cara membuat kedua orang tua tiri serta adiknya pergi ke luar kota-untuk urusan yang cukup lama.Sehingga Rea bisa leluasa mencurinya, ralat- dia mengambil miliknya sendiri.


Usai semua persyaratan siap,Rea tinggal menunggu proses. Pasti penolakan akan terjadi nanti ketika Rea benar-benar menjadi pemilik sah rumah itu, tak masalah, akan Rea pikirkan nanti.


Make up. Hair do. Dress. Heels. Clunch.


Semuanya sudah melekat indah di tubuh Rea.Bukan barang-barang bermerk tapi itu cukup layak untuk Rea kenakan di kencan keduanya.Hari Sabtu,tepat jam 5 sore dia akan dijemput.


Ya.Dia akhirnya menerima saran dari Bu Nindi. Berkenalan dengan pria baru, berusaha saling bertukar informasi, menghabiskan waktu bersama, kemudian memutuskan menikah-mungkin itu yang diharapkan Bosnya.


Sudah dua bulan ini Rea mengenal dekat sosok Nando.Pria yang berprofesi sebagai Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan salah satu Universitas Swasta di Jakarta.


Sejauh ini, Rea merasa nyaman menjalani hubungan pertemanan dengan pria berkacamata itu. Sopan santun, bicaranya tak berlebihan, tak pernah menggurui,taat beragama juga sederhana. Pilihan Bu Nindi benar-benar sulit untuk Rea tolak.


Tok tok tok


Segera, setelah mendengar tanda-tanda ada suara ketukan pintu rumah, Rea keluar dari dalam kamarnya.Memasang senyum sopan untuk Dosen Matematika yang akan mengajaknya ke suatu tempat.


"Waw."


Senyum yang tadi terpatri, perlahan hilang.Ternyata bukan tamu, ini lebih kepada pengganggu yang tiba-tiba muncul kembali setelah beberapa bulan tak nampak. Bukannya Rea mengharapkan muncul, tidak sama sekali. Dia hanya kaget kenapa lagi-lagi si Braga Assavero mendatangi rumahnya.


"Aku mau pergi sebentar lagi. Ada apa?" Tanya Rea lebih dulu dengan sangat acuh.


"Tidak mempersilahkan duduk lebih dulu?"


"Kamu bukan tamu, jadi tidak perlu duduk."


"Ok.Aku akan duduk di-" Aero menggantungkan kalimatnya sambil mengamati sekitar, mencari tempat yang pas untuknya duduk."sana." Putusnya kemudian saat melihat kursi di teras rumah.


"Ada apa? Cepat! Aku harus pergi."


Aero terkekeh pelan di balik maskernya. Dia sudah duduk tenang di kursi.Seperti mengulur-ngulur waktu, Aero melepas maskernya dengan gerakan lambat. Kemudian menatap Rea yang masih berdiri di ambang pintu amat intens. Sampai membuat wanita cantik ini resah dengan pakaiannya. Karena tatapan itu sangat menakutkan untuk Rea.

__ADS_1


"Kamu duduk!"


"Duduk dimana, jika kamu saja menempati kursi itu?"


"Ada. Dan itu tempat duduk paling nyaman.Aku hanya menawarkannya satu kali." Kerling Aero sambil menepuk tangannya di paha sebelah kanan.


Melihat tindakan itu, sontak Rea mundur dua langkah hingga membentur pintu. Matanya melotot kaget karena tak menyangka Aero si penculik itu menggodanya. Pria itu kira Rea wanita macam apa?


"Kurang ajar!"


Dan suara tawa ringan pun terdengar.


Rea sempat milirik jam tangannya, memastikan berapa menit lagi Nando akan datang. Dosen itu selalu tepat waktu, jadi saat tahu 5 menit lagi Nando akan datang, Rea langsung menutup pintu dan menguncinya dari luar. Dia tak memerlukan apapun lagi, ia sudah sangat siap.


"Mau kemana?" Melihat pergerakan Regina Athalia yang begitu tergesa dan khawatir, Aero gatal sekali ingin menanyakan.


"Bukan urusan kamu!"


"Ok."


Untuk beberapa saat keduanya diam. Rea berdiri dengan menyandarkan punggungnya pada tembok, melipat kedua tangan di atas dadanya, dan memandang lurus ke arah tanaman aglonema miliknya yang berjumlah hanya beberapa pot saja.


"Darimana kamu tahu?"


Aero menjawab dengan senyum tipis, yang mengartikan jika dia tahu segalanya.


"Kamu stalker a-"


"I saw you with him. In a caffe, a few weeks ago."


Mata indah Rea yang sempat begitu tajam,mulai normal kembali. Dia tidak suka jika lagi-lagi lelaki itu mengganggu hidupnya.


"Kamu berharap aku memata-matai kamu?"


"Ngga!" Celetuk Rea cepat. Tak terima dengan pertanyaan Aero yang makin menjengkelkan."Kenapa kamu tahu dia dosen?"


"Ooh, jadi dia benar seorang dosen?"


Rea memilih diam, dia terlihat makin tak nyaman dan resah karena sudah jam 17.03 Nando belum juga terlihat.

__ADS_1


"Aku hanya menebak." Imbuh Aero, tak ingin Rea makin kesal. Namun jawabannya tadi sepertinya tak sama sekali digubris. Wanita berbalus dress warna navi ini tak lagi berdiam, ia sudah mulai melangkahkah kakinya bolak-balik di sekitar teras. Layaknya model-di hadapan Aero.


"Ckck." Decakan kecewa meluncur dari bibir Rea. Hentakan kakinya saat melangkahpun makin berat. Ia berdiri membelakangi Aero, sangat berharap teman dekatnya muncul dan menyelamatkannya dari si penculik berpakaian formal macam Aero. Aneh sekali, setelah dipikir-pikir Aero itu bukanlah dari kalangan penjahat yang bertugas menculik dan membunuh, Aero lebih cocok terlihat macam pekerja kantoran. Karena sangat rapi dan wangi.


"Heh-"


Suara Rea meninggi begitu lengan atasnya di sentuh dan dibalikkan dengan mudah oleh Aero. Bahkan pria itu menarik Rea menuju kursi dan mendudukkannya dengan paksa sambil menekan bahu Rea.Tak selesai sampai disitu, Aero sengaja memasang badan-melipat kedua lengannya dan memberi Rea pandangan datar."Aku kira masalah kamu dan Arka sudah selesai setelah drama perkelahian itu. Kenapa datang lagi?"


"Memang salah mendatangi teman?"


"Teman? Maaf sejak kapan kita berteman?"


Ekspresi Rea benar-benar berubah bingung. Dan itu sukses mencuri perhatian Aero diam-diam.


"Sejak kamu membuatkan mie instan berkuah."


"Ya??" Reflek Rea berdiri tegak kembali, menantang Aero dengan mata berkilat tajam seolah tak ada rasa takut bisa diapa-apakan.Yang tak Aero prediksi adalah wanita itu maju beberapa langkah, membuat jarak mereka terkikis hanya tinggal 3 jengkal saja.


Perempuan berkulit putih ini mencoba menyelami netra Aero yang gelap. Dia tidak bisa mengartikan tiap ekspresi pria ini, juga tidak bisa mencari tahu kira-kira apa yang sedang dipikirkan.


"Kamu.Terlalu.Percaya diri." Tekan Rea disetiap katanya."Aku ngga mau aja kamu mati kelaparan di rumah aku." Imbuh Rea dengan sarkas.


Seakan menikmati pemandangan yang begitu langka. Aero mempertahankan posisi dan ekspresinya.Ia bisa menghirup parfume feminim yang menguar dari tubuh menggoda Rea.Dan bisa melihat bibir merekah warna-entahlah Aero tidak tahu namanya.


Tin tin


"Yes."


Perubahan ekspresi yang begitu cepat dari Rea, terekam jelas di otak Aero. Wanita di hadapannya ini langsung berbinar begitu mendengar klakson mobil di depan rumah.


Dan entah dorongan dari mana.Tanpa berpikir lebih dulu, Aero merangkum wajah cantik Rea.Ia mendaratkan ciuman di bibir merekah yang ternyata manis. Memagutnya sekali sebelum akhirnya didorong kuat oleh kedua tangan Rea.


"Sorry." Bisik Aero tanpa sadar, ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Menghapus lipstik yang mungkin tertinggal di bibirnya.Dia sendiri bingung dengan apa yang baru dia lakukan.


Kepala Aero terangkat,bermaksud ingin menjelaskan sesuatu.Namun kalimatnya yang ingin diucapkan tertahan, sesaat mendapati mata bulat yang begitu indah itu tengah berkaca-kaca.


Jangan lupa vote ya pembaca yang budiman hehehe


Biasakan jadi pembaca yang baik ok,

__ADS_1


See you next episod


__ADS_2