Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 82


__ADS_3

"Apa perlu aku ngomong?"


Entah kenapa kalimat itulah yang pertama kali terucap dari bibir Rea. Bukankah lebih masuk akalnya Aero menampilkan penyesalan dibandingkan kemarahan?


"Kamu ngga mau dapat doa dari suami kamu? Ngga mau aku kasih hadiah?"


Rea diam. Dia sudah duduk di pangkuan Aero, entah sejak kapan. Bukan di ruang makan, mereka saat ini hanya berdua di dalam kamar. Kehadiran Bibi Yul yang mengantarkan menu sarapan lain berhasil menghentikan ketegangan yang tercipta. Si petarung yang seharusnya malu-karena tertangkap tidak mengingat apapun-justru bersikap dingin yang dibalut kemarahan. Mungkinkah Aero tidak ingin terang-terangan menunjukkan jika dirinya keterlaluan? Untuk itu menutup wajahnya menggunakan topeng kemarahan?


"Ngga ada wanita yang ngga mau dapat doa dan hadiah. Apa aku harus minta? Bukannya doa dan hadiah itu akan lebih baik diberikan dengan niat yang ikhlas dan tanpa paksaan?" Terang Rea dengan caranya sendiri. Duduk di atas pangkuan Aero adalah hal yang jarang terjadi. Melihat dari dekat seperti ini, ingin sekali Rea lebih dulu yang menghambur memeluk dan bermanja ria. Tapi dia harus menjaga harga diri, tentu saja disini Aero yang harus membujuk dan memenangkan hati Rea yang sudah kecewa.


"Kamu terlalu berprinsip. Terlalu kaku dengan kehidupan kamu yang dulu."


"Bukan berprinsip! Aku cuma menjalankan hal yang benar menurut aku."


"Dimana letak perbedaannya?"


Ok, Rea sadar jika pembicaraan mereka ini sudah bukan di batas wajar. Sepertinya dia yang harus mengalah saja. Tidak penting mengungkit-ungkit hari specialnya yang sudah berlalu, toh dia bukan anak kecil lagi yang mengharapkan banyak hadiah dan pesta meriah.


Kedua lengan Aero membelit makin erat di pinggangnya, dia tak membiarkan Rea lari, terbukti dari caranya mengunci tubuh tinggi langsing itu dalam pangkuan. Rea yang paham dengan cara Aero berperilaku hanya bisa diam. Dia tetap menahan dan menjaga jarak tubuh keduanya, meski tersiksa dengan nafas hangat suaminya yang menerpa kulit leher.


"Perkara ulang tahun aku itu hanya hal sepel. Udah! Ngga perlu dibesar-besarkan sampai membahas prinsip segala."


Sedikit bermain, Aero yang hanya dapat melihat ekspresi istrinya dari samping maju untuk menggoda kulit leher yang terkenal sensitif. Mulutnya terbuka, dan dengan begitu cepat serta tak terduga dia menyecapnya berkali-kali, Rea tersentak.


"Kamu sedang mengalihkan pembicaraan? Atau kamu terlanjut kecewa sampai-sampai enggan untuk berdebat?" Tanya Aero dengan nada bicara rendah, matanya fokus pada kulit leher-tempat dia baru saja memberikan sesuatu. Kembali, karena menurutnya sesuatu yang dia berikan kurang terlihat jelas, Aero memagutnya lebih keras. Sampai-sampai, Rea yang tadi tenang menyebut namanya dengan keras.


"Mas!" Serunya seperti tengah memperingatkan seseorang. "Ngga semua hal harus diperdebatkan! Kalau kamu tanya, apa aku kecewa? Jawabannya iya! Aku jelas kecewa. Ngga ada bedanya aku yang dulu sendiri sama sekarang yang sudah bersuami." Jelas Rea terang-terangan dengan sedikit berapi-api. Namun selang beberapa detik, kesadarannya kembali. Mulutnya yang sudah terlalu jauh dalam berkata mendadak ia tututp rapat. Rea sendiri yang mendengar kalimat terakhir yang dia sampaikan, merasa terganggu. Semenyedihkan itukah dia dulu?


"Udah siang! Mas mending berangkat!" Putus Rea yang tak ingin melanjutkan lagi, dia bangkit dengan cepat dari atas paha suaminya. Berdiri dengan kikuk sambil pura-pura merapikan rambut, membersihkan juga rasa basah yang ada di lehernya. Jelas menghadapi Aero yang saklek ini butuh energi berlebih. Perasaan Rea terus diuji dengan sikap dan ucapan suaminya yang tidak peka. Tapi harus sampai kapan? Apakah dia bisa terus bertahan kalau selalu menelan pil-pil pahit?


"Ok!" Ujar lelaki itu singkat. Tubuhnya bangun dari tepi tempat tidur dengan ekspresi datar. Helaan nafasnya terdengar sesaat matanya terus memandangi Rea dari arah samping, seperti mengharapkan sesuatu. "Nanti Jordi yang akan jemput. Pakai celana dan sepatu, jangan pakai dress!"


"Mau kemana?"


"Sasana. Kamu harus berdiri di pinggir ring selama aku bertanding."


Dan tanpa ampun hati Rea terasa seperti dipukul dari belakang. Dia tidak habis pikir. Apa ini sebenarnya sikap lelaki yang dia pilih? Kenapa setelah tahu Rea baru saja melewatkan hari ulang tahunnya, Aero masih saja memintanya untuk menonton? Bukankah seharusnya, Aero membatalkan dan menemaninya jalan-jalan atau makan malam?


Pemaksaan. Egois.


Hanya dua itu yang bisa Rea sebutkan sekarang, dia kecewa dengan sikap yang suaminya ambil. Aero tak berusaha membuatnya senang. Justru pria itu yang selalu ingin disenangkan. Apa ini pantas disebut hubungan pernikahan?

__ADS_1


"Aku ngga janji!" Jawabnya lemah. Rea membalikkan badan kemudian dengan tenang berjalan menuju sebuah lemari.


"Kenapa?"


"Aku pikir kamu akan membatalkan sparring dan memilih jalan-jalan sama aku."


"Tidak bisa ditunda. Semua itu sudah terencana dari satu bulan yang lalu. Atau? Setelah selesai bertanding, kita pergi ke luar?"


Apakah hari ulang tahun aku bisa digeser jauh-jauh hari?


Rea menggeleng pelan. "Ngga Mas! Nanti aku cuma dapat Mas yang udah cape. Ngga perlu." Serunya lemah.


Tidak ada yang bisa diharapkan setelah Aero bertanding. Pasti seluruh tubuhnya meminta istirahat. Tak ada lagi gairah untuk membuat Rea senang atau terhibur, yang ada malah sebaliknya.


"Aku pikir kamu bukan orang yang banyak menuntut."


Gerakan tangan Rea berhenti di udara, dia baru saja akan membuka pintu lemari namun gagal oleh kalimat yang membuat ulu hatinya tercabik.


"Apa maksudnya?" Tanya Rea dengan penuh rasa ingin tahu. Dia sudah menghadap Aero sepenuhnya. Jarak tercipta sekitar tiga meter di antara mereka, dan itu bisa membuat Rea menilai suaminya yang berdiri dengan tenang namun arogan, tengah menatapnya.


"Ngga, lupakan!"


"Aku ngga bisa pura-pura melupakan gitu aja. Jelaskan! Apa yang kamu maksud dengan aku bukan orang yang banyak menuntut? Kamu ngga nyaman dengan itu? Kamu terganggu?"


Ada beberapa tipe respon wanita saat dirinya mendapatkan kalimat tidak menyenangkan dari pasangan. Satu, dia akan diam saja dan merenungi hingga akhirnya menangis. Dua, dia akan menyerang balik dengan mengatakan hal yang sama pada pasangan. Dan yang ketiga, dia akan bertanya dan menuntut penjelasan. Yang ketiga itulah, Regina Athalia.


Meski dia sakit hati, dia harus bisa menampilkan sikap kuat dan tangguh. Wanita bisa bahagia dengan caranya sendiri, dengan atau tanpa laki-laki. Tapi berhubung takdir telah mempersatukan mereka, maka Rea juga berharap lelaki yang sudah menandai dirinya akan membuatnya bahagia. Benar-benar bahagia.


"Apa aku ngga boleh menuntut?" Tambahnya dengan tegar. Tidak ada air mata, tidak ada kesedihan. Wajah Rea terpasang begitu dingin dan datar menanti sebuah jawaban.


"Aku hampir terlambat." Tanpa menatap lawan bicaranya, Aero pergi begitu saja. Meninggalkan banyak luka dalam diri Rea. Dengan tak menjawab keingintahuannya itu-Rea sedikit tahu-dirinya tak boleh meminta lebih. Semua ini membuatnya kembali bingung dan tak mengerti. Apa lagi yang belum dia ketahui tentang Aeronya? Apa lagi yang masih suaminya sembunyikan?


***


Sepanjang hari, Rea hanya diam di dalam kamarnya. Sesekali ia keluar, selain untuk makan siang, juga untuk menolak ajakan Jordi. Ternyata Aero masih membatu dengan kemauannya.


"Mba, apa ngga sebaiknya mba datang aja? Mas Aero kelihatan butuh dukungan. Hawa-hawanya dia akan kalah."


"Menang kalah hal biasa kan Di, Bos kamu ngga akan nangis kalau hanya kalah sparring. Dia ngga butuh aku, cuma butuhnya pelatih di pinggir ring."


"Cuma hari ini aja."

__ADS_1


"Aku lagi ngga enak badan. Kamu bilang gitu aja sama Bos kamu."


Jordi yang sudah mendengar Rea menyebut Aero dengan Bos-bukan dengan nama aslinya-mulai mengerti. Ada sesuatu yang terjadi dan dia tidak pantas untuk tahu. Maka dari itu, segera ia telfon seseorang yang mengutusnya. Jordi menjauhkan diri, ia memilih tempat yang aman untuk berbicara.


"Ngga mau Mas, Mba Rea lagi ngga enak badan."


"Ya udah, kamu kesini!"


"Ok."


Sebelum benar-benar pergi, untuk yang terakhir kalinya Jordi mengajak. Kali ini lebih halus dan ditambahi bumbu-bumbu drama. Namun sayang, Rea tetap menggeleng dan pamit ingin istirahat lebih dulu.


Jangan membujuk wanita yang terlanjur kecewa. Karena hasilnya akan sia-sia. Dia harus dibujuk langsung oleh orang yang membuatnya seperti itu.


Apa yang dia katakan pada Jordi nyatanya benar, Rea berbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Dia hanya mencoba lelap, yang naasnya tak kunjung terjadi setelah tiga jam dia berbaring. Entah pikirannya atau badannya yang menolak.


Tok tok tok


"Mba?!"


"Iya Bi."


"Bisa keluar sebentar?"


Rea sebenarnya tinggal menjawab tidak, namun nyatanya tubuhnya sudah mengingkari. Meski berat, tubuhnya sudah mulai melangkah ke arah pintu dimana Bibi Yul memanggil.


"Kenapa Bi? Aku lagi ngga enak badan."


"Turun sebentar yuk."


"Ada apa si?"


Dengan langkah yang diseret, Bibi Yul terus menarik sang nyonya rumah menuju lantai satu. Sengaja ia berhenti di tempat yang sangat strategis, tempat yang cocok bisa memandang sesuatu tak biasa.


Rea sukses mematung pada pemandangan di depan mata. Air matanya turun. Menetes perlahan membasahi kedua pipinya yang mulus. Bibirnya bergetar memanggil nama seseorang.


Kenapa bisa seperti ini? Kenapa sangat menyiksa saat melihat orang yang membuatnya sakit hati justru terluka? Lebam di beberapa bagian dan sobek di bibir serta pelipis mata. Aeronya babak belur.


Alhamdulillah, Part 82...


Seperti biasaaa, silahkan vote, comment dan like yaa

__ADS_1


__ADS_2