Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 46


__ADS_3

Sparring partner Aero adalah atlet muda yang baru saja memenangkan PON. Berbeda usia 8 tahun, bertinggi badan hampir seperti Aero namun lebih kurus. Sebenarnya bukan lawan yang imbang untuk latihan. Namun, seorang atlet muda tentu begitu bahagia mendapatkan lawan tanding petinju yang lebih senior. Mungkin, jika masih aktif latihan dan bertanding, Aero sudah menjadi petinju profesional. Bagi pemenang PON medali emas kelas 65 kg ini, kalah tidak menjadi masalah. Toh dia akan mendapatkan banyak ilmu. Dan jika bisa menang, itu akan menjadi kebanggaan tersendiri. Sebuah cerita yang tak akan dia lupakan. Walaupun, mungkin kemenangannya itu berbalut kebetulan belaka.


Statistik di atas kertas menunjukkan perbedaan yang begitu kentara. Jika Aero sudah melewati pertandingan resmi hampir 60 kali, berbeda dengan Ricko yang baru berlaga sebanyak 17 kali. Tubuh Aero lebih berisi dan berotot. Pengalaman pria berusia 30 tahun ini tentu lebih banyak.


Meski begitu, ada keunggulan yang Ricko miliki. Jika kemenangan Aero dalam pertandingannya adalah 80%, sedangkan Ricko menang 100%. Yang artinya Ricko tak pernah kalah. Ia nampak energik pada sesi pemanasan. Memiliki speed yang bagus serta percaya diri. Dalam jiwanya tertanam, nothing to lose. Tujuannya adalah dia hanya ingin mendapatkan sebauh pelajaran penting. Masih bertahan dalam 3 ronde saja sudah luar biasa untuknya.


"Fokus Mas." Jordi mengingatkan Aero yang sudah masuk ke ring. Ia bersama anggota tim di sasana miliki Aero berdiri di sekeliling arena untuk menyaksikan pertandingan. Nampak santai.


Jika awal ronde mereka begitu tenang, perlahan seiring waktu bergulir kecemasan mulai mereka rasakan. Statistika perbandingan keduanya di atas kertas seolah hanya hembusan angin yang tidak berarti apa-apa. Yang sesungguhnya ada di atas ring.


Tepat di ronde ke 3, apa yang tadi Jordi ingatkan secara berbisik pada Bosnya telah terjadi. Si tampan yang berotot itu terkena pukulan di pelipis sebelah kanan. Membuat lapisan kulitnya sobek, mengeluarkan darah yang langsung turun membasahi sisi wajah Aero. Harusnya orang di dalam ruangan tertutup itu bersikap biasa. Namun tidak bagi Jordi, ia merasa ngeri melihat penampakan Aero. Bagi yang tidak tahu, mungkin akan mengira jika kepala Aero telah bocor.


Wasit menghentikan pertandingan, menginstruksikan Aero untuk segera membersihkan lukanya. Karena setiap tetesan darah yang keluar pasti menghalangi fokus dan penglihatannya.


Jika Aero sudah berdarah, Rocky masih aman. Ternyata dia begitu aktif bergerak. Terus menghindari setiap serangan Aero dengan tepat.


"Masih bisa bertahan Mas?" Tanya Jordi dari samping kiri Aero. Mata pria itu menampilkan raut wajah seperti almarhum Mamahnya. Dan itu sangat Aero hindari. Dua orang lainnya, tengah mengobati luka bos. Mencoba menghentikan darah yang terus mengucur keluar.


Aero melemparkan pandangan tajam pada sang asisten rapi itu. Dia tidak suka, dengan kekhawatiran Jordi padanya. Terluka itu biasa baginya. Kalah menang juga biasa. Tidak perlu berlebihan.


"Masih!" Jawab pria itu dengan lantang.Dari tatapannya yang tajam pada Jordi tadi, dia seperti mengatakan, "Saya masih kuat sampai ronde terakhir. "


Jordi sendiri was-was karena memang, jarang sekali Bosnya mendapatkan luka hingga berdarah-darag seperti ini, baik saat latihan maupun bertanding. Biasanya hanya berupa luka lebam.


Menit demi menit berlalu...


Bila dilihat oleh orang awam saja, semua bisa menilai jika yang tengah unggul disini bukanlah Aero. Pria itu menjelma bukan seperti serigala lapar, tapi seperti pria putus asa yang baru patah hati. Aneh. Walaupun pukulan yang dilayangkan pria tinggi itu bertenaga, namun tidak tepat sasaran. Hanya ada emosi dalam diri Aero. Jordi tak melihat adanya strategi yang Aero terapkan di atas ring. Bosnya itu lebih seperti atlet amatiran.


Bug


Mata Jordi yang tadi dibuat tenang akhirnya melebar. Entah bagian mana dari tubuh Aero yang terkena jab, Jordi melewatkannya karena sibuk dengan pemikiran 'apa yang membuat bosnya hilang fokus'. Kaki Jordi reflek melangkah maju menghampiri tepian ring saat tiba-tiba bosnya limbung. Dan tak berselang lama, Aero mulai merendahkan tubuhnya, berjongkok memegangi perut.


Shit.


Bertepatan dengan posisi Aero yang tidak memasang kuda-kuda, alias menunduk, ronde ke 6 pum berakhir. Ricko berjalan mundur ke sudut ring warna merah. Bocah berkulit coklat itu masih terlihat bringas untuk melanjutkan 2 ronde tersisa.


"Mas!!" Jordi yang masih mengenakan setelan formal di sasana bergegas memasuki arena, disusul oleh tim dokter dan bawahannya. Mereka ikut merendahkan tubuh mengelilingi Aero yang sudah bercucuran keringat. Darah sudah tidak lagi membasahi pelipis hingga sisi wajah Aero. Hanya tersisa bekas merah sobekan dengan panjang 2 cm.


"Rusuk Di."

__ADS_1


"Ya?" Jordi makin mendekatkan telinganya untuk mendengar seruan sang bos. Pasalnya ruangan begitu ramai oleh rombongan dari sasana tinju lain. Mereka bersorak sorai melihat anggotanya berhasil melakukan perlawanan. Sehingga apa yang sempat Aero bisikkan tidak terdengar jelas.


"Rusuk!"


"Apa?"


Panik. Jordi yang tadi sudah khawatir sekarang makin cemas. Tanpa ijin, tangan kiri Jordi terulur pada bagian rusuk yang masih dipegangi oleh Aero.


"Sssh!!" Desis sang petarung kaget sambil memukul pergelangan tangan Jordi yang sudah lancang menyentuh bagian itu.


"Sorry Mas."


Wasit pertandingan yang tak lain adalah salah satu bawahan Aero datang mendekat. "Kenapa??"


"Cedera tulang rusuk." Seru salah seorang tim kesehatan. Sebenarnya tidaklah benar menyimpulkan demikian sebelum dilakukan pemeriksaan yang pasti. Bisa jadi itu hanyalah nyeri sesaat.


"Ke rumah sakit ya Mas!" Ajak Jordi yang tak mengindahkan percakapan antara wasit dan dokter. Ia hanya khawatir pada anak Bos Besar. Beberapa tahun lalu, Aero juga mengalami hal ini.


...***...


"Sehat Bang? Maaf."


Ricko datang bersama pelatihnya untuk menjenguk Aero. Ketika pertandingan dihentikan di ronde ke 6, dia bingung. Sebenarnya ingin sekali dia protes, kekeuh ingin melanjutkan pertandingan karena posisinya dia di atas angin. Namun mengetahui apa yang terjadi dengan Aero, dia pun langsung menurunkan egonya.


Aero masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tubuh bagian atas dibiarkan tanpa penutup. Dan itu sukses mempertontonkan luka lebam di area rusuk sebelah kanan. Menjawab dengan nada datar dan tanpa ekspresi, sukses membuat Ricko menciut. Begini-begini dia tahu siapa sebenarnya Braga Assavero, tentu informasi penting itu ia dapat setelah pertandingan usai.


"Udah buat Abang-"


"Kamu pikir saya masih anak kecil?"Hanya ada mereka berdua di dalam kamar inap. Sehingga dengan leluasa Aero mendominasi percakapan. Ia berhasil mengintimidasi anak remaja yang menggebu-gebu ingin mengalahkannya di atas ring.


"Bukan seperti itu. Saya merasa tidak enak. Mungkin kemarin terlalu semangat dan antusias. Rasanya pengin melayangkan pukulan tanpa henti. Saya lihat ada cela. Saya lihat target, ya saya pukul." Katanya pelan-pelan.


"Itu bagus!"


Untuk sejenak Rocky tak menyangka, akan mendapatkan respon demikian.


"Hmm?"


"Jiwa petarung ada, skill bagus dan strategi benar."

__ADS_1


"Abang yang tidak fokus kemarin."


"Sok tahu."


"Kelihatan tidak ada persiapan sama sekali."


Aero terkekeh mendengar analisa bocah itu yang nyatanya benar.


"Memang. Saya baru makan malam dan ditawari sparring sama kamu."


"Makan malam atau kencan?"


"Sama saja."


"Beda. Kalau makan malam biasa dengan orang yang tidak special. Tapi kalau kencan, bersama orang yang special."


"Asal kamu dari mana?" Aero tak menanggapi omongan ngelantur remaja tanggung ini. Masalah pribadinya tidak boleh siapapun tahu. Sangat private.


"Maluku."


"Saya baru tahu. Cita-cita kamu memang petarung?" Dalam posisi berbaring Aero mencoba menilai Ricko.


"Bukan. Keadaan yang mengharuskan saya jadi petarung."


Bukan tipe Aero untuk menanyakan lebih banyak tentang kehidupan bocah ini. Sehingga ia pun diam saja. Tidak ingin tahu lebih jauh masa lalu. Dan apa yang dimaksud dengan keadaan yang mengharuskannya jadi petarung itu-Aero tahu, sangat-sangat tahu apa artinya.


"Pertandingan belum selesai kan Rick? Saya tidak kalah."


"Iya. Abang belum menyelesaikan pertandingan."


"Kita ketemu lagi di ring kalau saya sudah sembuh."


"Siap!-Bang, tadi ada perempuan di luar kamar ini. Saudara Abang?"


"Cantik?" Tanya Aero dengan alis memicing. Ia seperti tengah berpikir siapa gerangan yang ada di luar kamar inapnya.


"Cantik banget Bang. Rambut panjang diikat, tinggi, langsing, kulit-"


"Kamu boleh keluar!"

__ADS_1


Aero tidak suka ketika lelaki tanggung itu terus saja menyebutkan ciri fisik seorang wanita yang ada dalam pikirannya. Sehingga dengan tidak sabar ia langsung menghentikan ucapan Ricko. Memintanya segera pulang. Karena baginya, perkara kalah ataupun menang di atas ring adalah biasa. Ia tidak malu maupun menaruh dendam hanya karena latihan dengan anak kecil membuatnya berbaring di rumah sakit. Karena dirinyapun saat itu tidak fokus, hanya merasa emosi dan ia pelu melampiaskannya menjadi beberapa pukulan. Jika biasanya sang lawan yang akan kalah, kali ini berbeda. Emosi Aero tidak membawanya pada kemenangan, tapi malah kesakitan di fisik.


Yang ia khawatirkan sekarang adalah datangnya seseorang wanita di saat kondisinya macam ini. Mau ditaruh dimana wajah tampannya?


__ADS_2