
Satu kata yang langsung terbersit di benak Rea ketika Aero memintanya kembali. Siap!! Tak ada sedikitpun rasa enggan yang muncul, atau lebih berani lagi meminta suaminya untuk menyusul. No. Rea tidak seperti itu.
Sambil mencoba memesan taksi online, Rea berganti baju. Ia sempat terpeleset saat tadi kembali ke hotel. Jalan paving yang dia lalui begitu licin, saking senangnya akan kembali, Rea sampai tak hati-hati dan berlari secepat dia bisa di taman hotel. Rasa nyeri akibat jatuh terkalahkan oleh rasa senang karena pesan masuk yang terus Aero kirimkan. Ini adalah moment langka bagi Rea-yang sudah menunggu lama untuk kembali berbaikan.
^^^Sabar ya, perlu waktu buat sampai ke Jakarta. ^^^
Balas Rea sembari berjalan keluar dari lift, ia mendatangi meja resepsionis untuk check out. Semesta seakan berpihak padanya, ia sudah mendapatkan taksi online yang sekarang sedang menunggu di parkiran.
"Neng Regina?" Sapa sang sopir begitu Rea membuka pintu mobil bagian belakang.
"Iya Pak."
"Perlu buka bagasi?"
"Ngga perlu, biar kopernya taruh sebelah saya aja."
Lelaki yang setelah Rea amati telah berumur itu mengangguk patuh. Ia setia menunggu Rea memasukkan koper, duduk di kursi hingga memakai sabuk. Barulah setelah semua aman, Pak sopir menatap lurus ke depan.
"Sesuai aplikasi ya Neng?"
"Mmm. Kebetulan tadi saya buru-buru pesen taksi online-nya Pak. Nanti tempat tujuannya agak jauh sedikit ngga apa-apa ya. Nanti saya tambahin."
"Kamana?"
"Kelapa Gading."
"Siap!"
Sibuk berbalas pesan dengan Aero, wanita yang tengah berbunga-bunga ini sampai tak sadar jika mobil berjalan cukup lambat. Ia baru mengalihkan pandangannya usai ponsel miliknya mati. Sialnya ia tak membawa power bank di dalam koper.
"Astaghfirullah."
"Kenapa Neng?"
"Hp mati pak."
"Mau dices? Saya bawa power bank."
Rea diam, tawaran itu begitu menggiurkan. Tapi melihat sendiri power bank itu sedang mengisi daya ponsel android yang sudah tua, Rea tidak tega.
"Ngga perlu, kan lagi bapak pake. Yang penting saya udah kasih kabar."
"Iya. Maaf ya Neng, ini ngga bisa ngebut. Kalau malam apalagi hujan kaya gini, pandangan kurang jelas."
"Ngga apa-apa Pak. Keselamatan lebih utama kan?"
"Betul." Pria paruh baya yang bernama Asep tersebut melirik lewat spion tengah. "Kalau boleh tahu kenapa malam minggu malah pulang Neng?"
Rea tak segera menjawab.
"Loh malah senyam-senyum."
"Disuruh pulang sama suami Pak."
"Masya Allah istri sholehah. Nurut banget apa kata suami."
__ADS_1
Obrolan mereka terus berlangsung sepanjang perjalanan. Pelan-pelan Rea tahu bagaimana kisah hidup Pak Asep, meski usia sudah tak lagi muda, namun beliau kuat unuk menjalani dua pekerjaan sekaligus. Sebagai buruh di perkebunan teh dan sebagai supir taksi online. Rea merasa tertampar, dia yang masih muda dan kuat malah justru berdiam diri di rumah.
"Saya malah ngga kerja Pak." Celetuknya dengan rasa malu.
"Itu suami Neng yang minta kan?"
"Iya."
"Ya ngga masalah. Artinya suami Neng mampu. Bapak juga penginnya Ibu di rumah aja ngurus rumah sama anak. Bapak aja yang kerja keras, biar gimanapun kan tanggung jawab keluarga di tangan suami. Nanti kalo di akhirat, Gusti Allah lebih dulu tanyain Bapak soalnya."
"Berarti Ibu juga kerja?"
"Iya. Jadi buruh di kebon juga. Ibu ngomong pengin bantu Bapak biar kebutuhan keluarga tercukupi. Bapak ijinin, selama pekerjaannya ngga berat-berat. Menikah ngga selamanya enak Neng, banyak juga susahnya. Tapi selama suami istri saling menghargai, ngga akan terjadi apa-apa."
"Oh ya, terus ini mobil siapa?"
"Mobil teman, Bapak pinjem kalau sabtu minggu."
Rea mengangguk saja. Ada sesuatu yang mengiris-iris hatinya. Aero bilang, jangan mudah percaya pada seseorang, apalagi dia yang menceritakan kesusahan hidupnya pada orang lain. Artinya dia hanya orang yang ingin dikasihani.
Pak Asep bukan orang seperti itu menurut Rea, dia adalah orang yang kuat. Kuat karena mampu bertahan di kerasnya kehidupan. Sama seperti Bumi kita yang ditempa dengan panasnya matahari dan dinginnya salju. Dia bertahan bukan untuk dirinya, tapi untuk milyaran orang yang menghuninya.
...***...
Pak Asep menepikan mobilnya setelah merasakan mobil tak berjalan dengan mulus.
"Kenapa Pak?"
"Kayaknya ada masalah sama ban. Bapak cek dulu ya Neng."
Rea menahan nafas untuk beberapa detik. Dia yang harus lebih bersabar agar bisa bertemu Aero sepertinya. Sedikit kesal sebenarnya, tapi dia juga kasihan menadapati Bapak ini mendapat kesulitan bertubi-tubi. Baru saja Rea mengulurkan payung untuk dipakai Pak Asep keluar. Tiba-tiba pintu mobil di samping kiri Pak Asep terbuka, seorang tak dikenal masuk dan duduk begitu saja sambil mengacungkan pisau.
"Ngga! Kalau mau ya kerja."
Rea langsung menjerit dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan lelaki asing itu, ia ingin merampas sesuatu dari Pak Asep. Begitu melihat perlawanan yang dilakukan sopir tua itu pada lelaki bermasker di kursi depan, Rea pun reflek menggunakan kakinya untuk membantu. Ia menendang laki-laki yang akan melukai lelaki dengan 5 orang anak ini. Suara teriakan, benturan dan pukulan yang saling bersahut-sahutan di dalam mobil terdengar sangat mencekam.
Srek
Rea mamatung, dia menarik dirinya perlahan begitu melihat kejadian tak bermoral itu dengan matanya sendiri. Ia menjerit ketakutan, setelah tahu Pak Asep yang malang ditusuk.
Satu hal yang terlintas di otaknya. Kabur. Dia perlu keluar dan minta pertolongan.
Masss!!! Jeritnya dalam hati. Air mata sudah membasahi kedua pipinya sejak dia mulai ikut melawan orang asing itu. Rea ingin pergi.
"TOLONGGG!!!"
Baru saja akan membuka pintu, penjahat tadi melompat ke belakang, tepatnya di samping tempat duduk Rea. Dia mungkin kaget dengan teriakan Rea yang begitu nyaring. Tanpa belas kasih-rambut Rea yang panjang ditarik kuat dan kepalanya dibenturkan begitu saja ke kaca. Tak cukup sekali, penjahat itu melakukannya lebih dari tiga kali sampai suara Rea melemah.
"Ampuun!!" Seru Rea putus asa. Jalan menuju Jakarta memang ramai, namun hujan turun dengan deras. Mungkin pengendara lain mengira, mobil mereka menepi untuk istirahat.
Rontaan hingga jeritan Rea lakukan sekuat tenaga. Dia harus pulang, dia harus bertemu Aeronya. Dia ingin memeluk suaminya yang ingin mengajak damai.
Setelah beberapa kali kepalanya dibentukan ke kaca, rasa sakit yang teramat sakit mulai terasa. Rambutnya seakaan terlepas, panas dan nyeri. Jeritan saja nyatanya tak akan membantu. Tangan Rea terus berusaha maraih apa saja yang bisa dia cakar. Begitupun kakinya, terus menendang-nendang apa yang terjangkau.
Suara Pak Asep yang memohon kepada penjahat itu agar menghentikan aksi nekatnya pada Rea masih terdengar. Meski makin lama makin melemah. Entah berapa lama Rea terus melakukan perlawanan. Dalam hatinya terus meminta, agar siapapun datang menolong mereka. Siapapun datang dan temui mereka, dalam keadaan bernyawa atau tidak.
__ADS_1
"Mass Aeroo." Jerit Rea pilu.
Hidungnya mulai basah, darah segar keluar dari dalam sana. Di tengah kesadarannya yang hampir hilang, jambakan di rambutnya perlahan mengendur. Pria yang duduk dan menyerangnya mendadak jatuh, keluar mobil. Entah jatuh atau ditarik dari luar. Pintu mobil terbuka, air hujan menetes membasahi kursi. Suara baku hantam terdengar di luar, namun itu semua terkalahkan dengan erangan Pak Asep yang terus menyebut asma Allah.
"Pak Asepp?! Bapak-"
"Neng geuliss ngga apa-apa?"
Kepala Rea menggeleng cepat. Dia tak mengkhawatirkan dirinya, meski kepalanya terasa hampir pecah.
"Bapak yang ngga apa-apa?" Tanya Rea disela tangisnya. Dia langsung berpindah ke kursi depan. Tangannya gemetar kala melihat darah mengucur di balik jaket warna abu-abu yang dipakai Pak Asep, ada pisau yang masih menancap.
"Aduh Pak. Kita ke rumah sakit ya. Ya Allah Ya Allah." Rea panik. Dia tak tahu harus melakukan apa lebih dulu. Mata Pak Asep mulai sayu dan darah tak bisa dia hentikan begitu saja. Reapun tak berani mencabut pisau itu.
"Mba Rea?!"
Bug. Rea meninju hidung seseorang yang tiba-tiba masuk ke mobil dan duduk di tempatnya tadi dengan sangat keras. Ia marah dan kesal pada kelakuan lelaki yang tak tahu malu, mendapatkan uang tapi dengan cara tidak terhormat.
Lelaki yang baru saja Rea pukul tak mengenakan masker. Ia mengusap hidungnya yang sakit, seperti menerima saja dan tak ada niatan melawan.
"Saya suruhan Mas Jordi."
...***...
Rea duduk dengan tangan gemetar di salah satu ranjang Rumah Sakit. Iya, dia tak bisa berbaring. Tak ingin, tak mampu dan tak tega. Bagaimana dia bisa nyaman berbaring, jika Pak Asep saja sedang ditangani di sebelahnya. Mereka hanya terpisah oleh kain warna hijau di IGD.
Entah kenapa dia juga duduk disana. Apa karena dia korban? Tapi dia merasa baik-baik saja begitu melihat Pak Asep langsung diberi perawatan. Air matanya tak lagi mengalir. Dia hanya menatap kedua telapak tangannya yang bergetar hebat.
"Itu, deretan ketiga."
Srek
Kain penutup terbuka dengan kasarnya, sukses membuat Rea yang tak siap untuk bertemu orang lain terlonjak kaget. Ia bahkan turun dari ranjang yang tinggi, berdiri penuh siaga.
Semua rasa cemasnya mendadak sirna setelah melihat siapa yang berdiri dengan jarak beberapa langkah darinya. Tanpa dia rencanakan, air mata meleleh kembali.
"Itu Mas, sopirnya kena musibah. Kasiaaaaan." Jelasnya begitu pelan, ia takut.
Lelaki dengan jaket yang sedikit koyak dikedua sikunya itu melangkah maju. Ia tak memperdulikan pakaiannya yang basah kuyup.
"Pak-pak A-sep ketu-suk." Tambahnya dengan terbata-bata. "Aku liat waktu ditusuknya." Adunya tak berkesudahan. Rea mencoba meluluhkan, sebab tatapan Aero terlihat begitu menakutkan. Dia seperti ingin menerkam Rea hidup-hidup.
"Aku ngga-"
Belum sempat Rea menyelesaikan ucapannya, suara seseorang berhasil membungkamnya. Berasal dari ruang sebelah, terdengar kalimat yang sama sekali tidak ingin Rea dengar. Kalimat itu amat menyiksa telinganya.
Buru-buru dia membuka kain gorden penyekat dua ruangan. Mendapati seorang dokter yang sudah berhasil mencabut pisau, suster yang berdiri di dekat selang infus, serta tubuh Pak Asep yang sudah ditutupi kain warna putih hingga kepala.
Mata Rea makin panas. Tangisnya pecah. Dia sampai meraung-raung di tempat itu menangisi Pak Asep-sopir pekerja keras yang baru dia kenal beberapa jam belakangan. Lelaki tua itu pergi karena melindungi dirinya. Iya, semua terjadi karena Rea yang memesan taksi online. Rea merasa sangat bersalah, ia menyesali segala perbuataannya malam ini.
Mengetahui istrinya telah dalam kondisi terpukul, Aero segera memeluk tubuh lemah itu erat. Dia menyembunyikan wajah Rea dalam dadanya, ia tak ingin Rea melihat lagi bagaimana keadaan almarhum Pak Asep, cukup satu kali.
"Kita keluar dulu ya sayang." Bisik Aero tepat di telinga istrinya.
Ok gaes, episode yang berat buat akuu
__ADS_1
Jangn lupa vote, comment dan likenya yaaa..
12072021