
"Itu buat kamu."
Baru saja Rea duduk di kursi penumpang, suara Aero langsung terdengar. Di atas dasbor ada gelas kertas yang di bubuhi sedotan. Terlihat logo suatu cafe di badan gelas, namun tak nampak jelas. Rea meraih gelas tersebut untuk melihat apa isinya.
"Beli dimana?" Tanya Rea penasaran. Ada rasa hangat menjalar ke telapak tangannya yang dingin. Perlahan Rea melongok, mencari tahu apakah kopi, coklat atau susu.
"Di depan SPBU." Mobil mulai melaju meninggalkan tempat pengisian bahan bakar.
Memastikan apa itu benar, mata Rea melirik sekilas bangunan di depan SPBU. Dan ternyata benar, ada cafe disana. Ada sesuatu yang Rea rasakan ganjil. "Punya kamu mana?"
"Habis."
"Ha?" Serunya meninggi. Kenapa bisa pria itu sudah mengabiskan kopinya?
"Kamu lama banget di toilet." Hal itu terdengar seperti sebuah protes. Apa benar Rea yang terlalu lama disana? Sampai-sampai kopi yang panas bisa segera habis. Ngomong-ngomong, kenapa Rea bisa lama di toilet, itu karena dia canggung usai ditembak Aero dengan cara yang membuatnya merinding. Ia ingin menjawab, namun sesuatu sudah tidak bisa lagi menunggu untuk keluar.
"Maaf ya. Makasih kopinya." Katanya menyesal. Kepala Aero menganggu sebagai jawaban. Ia mulai kembali fokus mengemudi sampai tidak sempat menoleh pada wajah yang sedang menantinya.
"Bibi Yul belum pulang?"
"Belum."
"Besok berangkat kerja?"
"Iya. Setiap hari aku berangkat."
"Pulang jam berapa?"
"Jam 6 biasanya sudah di rumah."
Aero mengangguk perlahan. "Bisa pulang lebih awal?"
"Ngga tahu, tergantung Bu Nindhi sibuk atau ngga. Kalau ada kerjaan aku harus jaga di rumah sampai dia pulang."
"Bukannya kamu asistennya dia?"
"Iya. Tapi sekarang sebagian besar kerjaan aku di rumahnya, jaga bayinya."
"Ngga ada baby sitter?"
"Ada. Aku yang ngawasi dia. Siapa tahu tugasnya ngga bener."
Rea menyeruput pelan-pelan kopi susu yang Aero belikan. Ia lupa kopinya masih mendidih, Hingga reflek lidahnya terjulur mati rasa.
"Panas?"
"Iya.
"Tutupnya dibuka. Jangan ditiup airnya."
"Kenapa?"
"Kamu ngga belajar pelajaran PAI dulu?"
__ADS_1
"Ckckck. Tinggal dijawab aja."
"Meniup makanan atau minuman itu cara setan."
"Ooh."
Aero nampak mengetuk-ngetukkan jarinya di stir mobil. Sementara Rea sedang berusaha membuka penutup gelas, membiarkan kalor terlepas. "Kamu belum jawab pertanyaan aku Rea."
Konsentrasi wanita cantik ini teralihkan dari gelas kopinya. "Hmm? Pertanyaan yang-"
"Jangan pura-pura lupa. Kamu cukup pintar mengingat hal serius apa yang keluar dari mulut aku tadi sebelum kamu minta berhenti di pom."
Ah itu. Mendadak Rea kehabisan kata-kata. Mulutnya terbuka dan menutup untuk beberapa waktu. "Apa perlu aku jawab hal-"
"Perlu! Siapa tahu kamu balik haluan. Siapa tahu pemikiran kamu mendadak berubah 180⁰." Potong Aero cepat, sampai-sampai Rea tersentak. Dan hampir saja kopi panas tumpah karena dia terlalu kuat meremas gelasnya.
"Bi-bisa ulangi lagi pertanyaannya Mas?" Bisiknya lemah. Sungguh, dia sebenarnya tidak ingin mengatakan hal itu. Regina kelepasan. Apa yang di otaknya tidaklah seperti itu.
"Kenapa dengan otak kamu? Apa karena kedinginan, darah di otak membeku?"
Nah, itulah balasan dari kebodohan Rea. Darah menyebalkan yang begitu kental di tubuh Aero memang tidak akan mencair. Dasar lelaki songong. Baru saja dia bersikap manis dengan memberi kopi untuk menghangatkan badan Rea yang kedinginan. Kali ini Aero sudah kembali menyiramnya dengan air es. Keterlaluan. Apa dia tidak punya kosa kata halus untuk membalasnya?
"Setelah melihat biografi singkat dari Braga Assavero. Bagaimana keputusan kamu?" Lagi, dengan datar dan kaku Aero mengulang pertanyaan penting abad ini.
"Kamu berharap apa?" Serius. Rea benar-benar tidak bisa mengerem mulutnya. Dia seperti tengah menantang petarung di ring.
"Tidak berharap. Hanya menebak."
"Seperti yang sudah-sudah. Kamu akan mundur pelan-pelan."
Tak terasa, Rea terkekeh ringan. Bahkan hampir saja dia tertawa. Serendah itu Aero menilainya? "Kamu pikir aku anak-anak yang bisa di brain wash dengan mudah?
"Kamu bukan anak-anak."
"Yes. Dan seperti lelaki sejati yang akan memegang kata-kata. Wanita sejati juga demikian. Aku lebih tertarik mengetahui future, dari pada sebuah history." Ucapnya lantang. Khas Regina Athalia ketika sudah dipancing emosinya oleh Aero.
Aero mengambil nafas panjang. Sedari tahu entah apa yang dipikirkannya. Sampai tak menoleh ke arah Rea duduk. Kepalanya lurus ke arah jalan, tanpa terpengaruh apapun.
"Aku ngga terkejut kenapa banyak laki-laki yang suka sama kamu."
"Hmm?" Secepat kilat Rea menoleh pada lelaki yang baru saja memuji dirinya. Eh, apakah benar memuji? Jika ditarik mundur sedikit, asal mula Aero menyatakan hal demikian itu karena Rea bilang, dia lebih tertarik masa depan dari pada masa lalu. Apakah lebih tepat dikatakan jika itu ejekan? Atau sindiran?
"Iya. Kamu sadar? Salah satu alasan kenapa laki-laki betah sama kamu adalah, karena kamu tidak ingin tahu masa lalu mereka. Seburuk apapun itu. Contoh Arka. Dia itu tukang gali tutup lubang. Kalau kamu menikah dengan dia, masa depan kamu mungkin suram. Lihat saja adik tiri kamu sekarang. Nandho. Kamu pura-pura polos atau memang benar-benar bodoh? Sebelum dekat dengan kamu, dia sudah bolak-balik ke tempat hiburan. Last, Ardan. Masa lalunya baik. Tapi aku tidak melihat masa depan dia bagus dengan kamu."
Mulut Rea sukses terbuka dibuatnya. Seperti itu penilaian Aero tentang lelaki-lelaki itu?
"Maksud dari omongan kamu itu adalah?"
"Berpikirlah rasional. Jangan terlalu pakai perasaan."
Ok fix. Jantung Rea kini berpacu cepat. "Lalu kamu, pengin tahu kenapa ada banyak yang menyukai kamu tapi tidak pernah bertahan dengan kamu?"
"Kamu mau menyerang balik?"
__ADS_1
"Ngga. Aku ingin jujur."
"Ok. I will listen." Balas pria itu dengan tenang. Seolah apa yang akan Rea ucapkan tak akan merubah apapun.
"Itu karena kamu sering melambungkan mereka, tapi sekaligus kamu menjatuhkannya dengan keras. "
"Aku ngga pernah melakukan itu."
"Mana ada dalam kompetisi hanya ada peserta? Mereka mau menilai sendiri? Yang bisa menilai kamu itu orang lain!!"
"Ya. Dan sejauh ini ngga ada yang berani menilai aku."
"Kenapa? Mereka takut?!"
"Mungkin."
"Ya, aku bisa lihat. Kamu pakai profesi kamu untuk menakuti mereka."
"Aku tahu lagi satu hal yang unik dari kamu. Suka sekali menyimpulkan sesuatunya sendiri."
"Yes, of course!! Aku sudah dapat data. Dan ngga salah dong kalau dari hal-hal itu aku pakai untuk membuat kesimpulan? Aku pikir kamu belajar psikologi di luar negeri itu mubazir. Bukannya kamu membuat tenang orang yang ada di deket kamu. Tapi malah buat mereka naik darah."
"Itu memang tujuan awal aku kuliah. Atlit tinju harus bisa menilai lawan, bisa mengatur dan memancing emosi lawan. Kamu pikir-"
"Ya. Ya. Ya. Ok. Pembicaraan makin melebar dari titik semula. Aku pengin sampai rumah dalam suasana hati ya baik, ngga mendidih seperti ini. Jadi bisa tolong diam?"
Aero tersenyum kembali. "Well. Thankyou so much for being my great debate partner. Aku makin ngga sabar untuk menikahi kamu."
Deg
Rea langsung terperangah. Emosi yang tadi melingkupinya begitu tebal seketika menguap. Detak jantung yang sempat berdetak cepat, terasa makin tidak tahu diri. Ini sudah keterlaluan. Aero membuat perjalanan pulangnya seperti naik roller coaster. Naik turun tanpa diprediksi. Beruntung ia masih sangat muda dan sehat. Bagaimana kabarnya jika dia punya riwayat penyakit jantung? Mungkin dia malam ini hanya tinggal nama saking kagetnya. Petasan atau bom yang akhir-akhir ini sering muncul pun kalah telak oleh ini. Aero makin sulit ditebak. Tak dapat dipungkiri, Rea terkejut dibuatnya. Apa Aero gila? Menikah hanya untuk berdebat?
Tak lama mobil sampai di depan rumah Rea. Beruntung hujan sudah mereda. Yang tersisa hanya aspal basah dan tetesan air yang jatuh dari genteng. Aero ikut keluar dari dalam mobil dan berjalan tepat di belakang Rea. Membuntutinya seperti penguntit.
"Regina Athalia!" Panggilnya sesaat Rea sudah di depan pintu. Tinggal memasukkan kunci dan memutarnya, maka Rea bisa masuk.
Huft. Rea menetralkan nafasnya sejenak sebelum membalikkan badan. "Ya?"
"Aku pinjam ini." Seru Aero sambil menunjukkan sesuatu yang dia jepit di antara ibu jari dan telunjuknya.
Melihat apa yang Aero tunjukkan. Mata Rea melebar, reflek ia meraba jari manis sebelah kirinya. Kosong? Sejak kapan ada ditangan pria itu? Akan dipakai untuk apa cincin murahannya?
"Barang ini aku kembalikan seminggu kemudian. Beserta teman-temannya." Tambahnya lagi dengan begitu kikuk. Tanpa menunggu persetujuan ataupun ijin, Aero melangkah pergi. Meninggalkan Rea dengan segala ketidaktahuannya.
"Tunggu apa lagi? Masuk!" Perintah pria itu tegas setelah duduk di balik kemudi. Membuyarkan pikiran Rea yang sempat melayang jauh.
Ya Tuhan. Aku butuh ambulans saat ini. Pria itu? Lelaki semata wayang itu? Kenapa belum juga bertindak normal? Harus seperti apa aku sekarang? Guling-guling di atas kasur? Berteriak senang? Atau? Maju dan memukul kepala Aero? Aku takut ada sesuatu yang tidak beres di otaknya.
Gaessss, bagi kemaren yang kesenengan sama tingkah Aero. Nih aku kasih lagi.
Jangan lupa, like, comment dan votenyaa yaaa
Semoga puasanya lancar.
__ADS_1