Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 79


__ADS_3

Menikah adalah salah satu keputusan besar yang Aero ambil dalam hidupnya. Tentu setelah hal tak kalah gila lain yang dia pilih di masa lalu, yakni meninggalkan rumah demi dunia tinju. Dia sendiri lupa bagaimana awalnya bisa menjadi salah satu fans olahraga yang jarang diminati penduduk Indonesia itu. Yang dia ingat adalah, saat tak sengaja menonton sport news tentang Sugar Ray.


Tahun 1981, Aero ingat sekali. Pertandingan yang mempertemukan Sugar Ray Leonard dan Thomas Hearns di Las Vegas. Di atas ring, Sugar Ray sudah jelas kalah poin dari Hearns. Tapi ketika memasuki ronde 14, Sugar Ray membalikkan keadaan. Ia berhasil memukul telak Hearns. Saking menariknya, pertandingan saat itu disebut sebagai Pertarungan Terakbar Dunia.


Mata Aero tak berkedip, dalam otaknya terekam jika lelaki yang menjadi pemenang sangatlah tangguh. Entah itu efek dari kamera atau memang ayunan lengan sang petinju yang terukur, meloncat sana-sini dan pergerakan langkah kaki yang seirama-layaknya seorang penari. Belum lagi, ketika berhasil menyarangkan pukulan, sungguh itu menjadi paket komplit yang sukses besar membuat anak lelaki yang masih duduk di bangku SD itu berdecak kagum.


Dan kini, setelah usianya lebih dari 30 tahun. Ada hal lain lagi yang mampu menarik perhatiannya. Bukan lagi pertandingan di atas ring, melainkan adu mulut dengan isterinya sendiri. Ia serasa berdiri di atas ring, menghadapi lawan yang sama tangguhnya dan sama-sama tak mau menyerah begitu saja.


"Mas belum mandi. Bau banget!" Kata Rea mendorong bahu suaminya menjauh. Bau sesungguhnya bukanlah sebuah alasan, Rea hanya mencari-cari saja, sebab dia benar-benar bisa lemas lunglai saat Aero mulai menjelajahi kulit tubuhnya hanya dengan hidung.


Tak ada respon sesaat tubuh mereka kembali berjarak. Aero masih mempertahankan senyumannya dalam posisi menundukkan kepala. Sementara Rea yang diliputi panas mencoba mengambil banyak nafas, ia tak ingin nampak salah tingkah.


"Apa sebau itu? Aku bahkan mandi sebelum tidur." Balas Aero yang langsung mencoba menghirup wangi ketiaknya.


Melihat hal tersebut, wanita cantik ini sedikit resah dan merasa bersalah. Harusnya mungkin dia tak bicara seperti itu. "Cuma sedikit sebenernya. Tapi itu, keringatnya! Lengket." Kata Rea memperjelas, dan tentu dengan nada yang lebih halus.


"Ini ngga seberapa dibandingkan dengan pertarungan panas-"


"Stop!"


"-di ring. Kenapa?"


Rea yang sejatinya banyak omong dan bisa mengkondisikan dirinya baik-baik saja dalam banyak keadaan, mendadak perlu menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Otaknya tadi bahkan terlalu bekerja cepat untuk menerjemahkan kalimat yang Aero katakan, padahal belumlah selesai. Dia pikir keluarnya keringat itu akan dibandingkan dengan pertarungan panas di atas ranjang-dini hari tadi. Namun ternyata, semua itu tidaklah sesuai perkiraan. Dasar otak kotor!


"Stop kenapa?" Kembali Aero mengulang. Tangan kanannya langsung mencomot potongan buah di piring. Mengunyahnya pelan tanpa terganggu dengan tingkah istrinya barusan. Ia nampak tidak tahu apa-apa. Atau sebenarnya tahu, dan dia juga salah tingkah? Ah mungkin seperti itu.


"Jangan berpikiran buat pergi kerja selama seminggu ini. Apa kata orang kalau kamu muncul di kantor coba?"


"Hidup kamu ngga bergantung omongan orang kan? Apa pentingnya omongan-omongan jahat mereka buat diri kamu? Aku yakin ngga ada. Yang aku tahu, istri aku hanya peduli dengan dirinya dan orang-orang tercintanya. Dia akan tutup kuping untuk pembicaraan yang belum tentu benar. Ngga perlu ribet. Ngga perlu gelisah dengan pandangan orang-orang tentang kita. Hidup kita ngga bergantung mereka. Selama ada aku, kamu aman!"

__ADS_1


Mungkin itu satu-satunya ucapan panjang yang pernah Aero katakan padanya. Bukan sebuah gurauan apalagi godaan. Ini lebih kepada nasehat yang seorang suami tuturkan untuk istrinya. Dan jika benar itu terjadi, bulu kuduk Rea benar-benar berdiri. Apalagi tadi, selama ada aku. Hampir saja tubuhnya longsor.


Ingat baik-baik itu Rea. Selama ada aku, kamu aman!


Tapi benarkah itu Braga Assavero Danunjaya? Lelaki dengan tingkat ketidakpedulian yang begitu tinggi, mendadak memberi Rea wejangan. Tepat di hari ke-1 pernikahan.


Aero duduk di kursi yang lain. Matanya mulai menelisik apa saja menu sarapan untuk istrinya. Ternyata tak jauh berbeda dengan apa yang tadi dia lihat di restoran. Tanpa kata, kembali dia ambil potongan buah melon yang tersusun rapi kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


"Lanjutkan sarapan kamu." Sambil mengunyah, Aero memerintah.


Suhu ruangan yang tadinya normal entah kenapa mendadak mulai panas. Sesaat keheningan tercipta di antara mereka. Seperti sedang mencoba membaca pikiran masing-masing.


"Maaass." Seru istri yang masih mengenakan bathrobe ini.


"Hmmm?" Jawab Aero dengan hanya gumaman. Ia mencoba tenang dan santai dengan tingkah Rea yang tiba-tiba memanggil dengan cara yang amat berbeda. Penuh kelembutan dan kasih sayang, sepertinya.


"Aku minta tambahan seminggu sama Bu Nindhi."


"Ya, aku tahu. Aku dengar saat kamu minta itu."


"Terus, kita ngga kemana-mana?"


Mendengar pertanyaan yang sedikit aneh, Aero menelan makanannya lebih dulu. Menyandarkan punggung sembari menyisir rambutnya yang sedikit panjang dengan kesepuluh jarinya.


"Kamu pengin bulan madu?!" Tembak Aero terus terang, dengan wajah yang datar dan penuh selidik. Dia tidak tahu apakah hal ini yang sedang Rea harapkan atau bukan. Tapi meneliti dari bagaimana tadi Rea memintanya untuk tidak melakukan aktifitas, kemudian menunjukkan jika dirinya free dalam sepekan ke depan, itu sudah cukup menjadi bukti tak nyata keinginan Rea.


Dan ya. Bukan Regina Athalia namanya jika tidak bisa membuat Aero tersenyum.


"Iya lah! Nginep di resort atau hotel ke. Itu kan banyak hadiah dari temen kamu. Kenapa ngga langsung dipakai? Atau minimal ke Ancol deh, aku mau!"

__ADS_1


"Ke Ancol aja kamu mau?!" Tanya Aero tak percaya. Dia bahkan sampai harus menegakkan punggungnya untuk memastikan.


Dan dengan polosnya Rea mengangguk. Wajahnya yang cantik putih nampak memerah alami sesaat Aero memberi penawaran.


"Ngga apa-apa." Seru Rea dengan entengnya. Bahkan tanpa beban. Ia kembali duduk tepat di hadapan Aero. Tanpa malu dia menunjukkan matanya yang tengah berbinar pada sang suami.


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Kenapa hanya ke Ancolpun kamu mau?"


"Yang dekat, terjangkau, makanan jelas enak."


Aero menghembuskan nafasnya pelan. Sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran Rea. Sebenarnya darimana Rea mendapatkan pemikiran macam itu?


Yang benar saja ke Ancol? Bordes jelas akan menertawakan aku habis-habisan. Pria itu akan menghina hingga ke tulang rusuk. Belum lagi dengan Papa dan kerabat di luar sana.


Tunggu! Kenapa justru disini Aero yang malah memikirkan omongan orang lain? Bukannya dia yang baru saja menceramahi Rea untuk tutup kuping dan pergi? Katanya dia, hidup kita ngga bergantung mereka! Mana buktinya?


Aero mendesah frustasi dengan pikirannya sendiri. Dan setelah membutuhkan banyak waktu, ia akhirnya bersuara dengan berat hati.


"Aku merencanakan ke Spanyol. Dan pikiran kamu hanya sebatas Ancol?" Tekan pria itu tak terima.


"Mau di Ancol atau di Spanyol, kita akan melakukan hal yang sama. Bercinta kan Mas? Sampai aku hamil!" Balas Regina Athalia dengan santainya.


Dan setelah mendengar kalimat tah tahu malu dari istrinya yang berusia di bawahnya lima tahun ini. Aero sadar, mungkin dirinya yang terlambat dewasa. Bagaimana bisa justru dia sendiri yang malu? Apa tadi? Bercinta?


Gaesss hello apa kabarrr???

__ADS_1


Mohon terus dukungannya yaa


Vote, comment dan Like yang banyak yaaa


__ADS_2