Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 61


__ADS_3

Memang anak satu-satunya Danunjaya ini sangatlah special. Mengapa demikian? Karena berhasil menjalani sebagian besar kehidupannya dengan keinginan-keinginannya. Pilihan hidup yang sulit kemarin-hidup dijalanan bersama para pejuang lapangan-nyatanya dibalikkan lagi dengan kemudahan. Ada saja orang yang ikut campur menolongnya. Entah itu dari keluarga sendiri, teman maupun orang lain yang tidak dia kenal. Entah amalan apa yang dilakukan Ibunya, sehingga Aero diberkahi dengan banyak keberuntungan. Minus bagian percintaan dan kasih sayang utuh dua orang tua.


Jika biasanya dia akan merencanakan dengan tepat apa yang harus dilakukan. Kali ini berbeda, Aero justru menjelma menjadi lelaki yang mengedepankan spontanitas. Entah itu saat di kantor, sasana atau di luar rumah sekalipun, Aero akan melakukan hal-hal yang tidak terduga. Tak pelak, Jordi selaku asisten dibuat pusing oleh tingkah anak Bos Besar. Ia ingin memaki sebenarnya, tapi apa daya, dirinya hanya seorang karyawan. Ia hanya sebutir debu yang diambil dari gurun pasir dan ditempatkan disebuah museum sebagai bagian dari diorama. Nampak berkelas tapi tetap sama saja, hanya sebutir pasir.


Aero profesional, tidak serta merta membatalkan atau menunda rapat hanya demi kesenangan pribadi. Ia tahu, proyek-proyek itu berhubungan dengan ratusan karyawan yang bekerja padanya. Tidak mungkin dia bersikap abai.


Sikap spontan yang Aero tunjukkan contohnya malam tadi. Dia tiba-tiba ingin sekali memberi pelajaran pada pria-pria kecil itu. Tentu pelajaran yang sesungguhnya, tentang tata krama, sikap dan kepribadian sebagai lelaki sejati.


"Tegakkan kepala kamu, seperti saat kamu mempermainkannya."


Pemuda yang bernama Rio mengangguk. Ia berdiri paling depan diikuti temannya di belakang, dan terakhir ada sosok pria berjas ikut memperhatikannya dengan tajam.


Bel sudah ditekan. Baru satu kali, dan dia sudah gemetar berdiri di depan pintu. Hari sudah malam dan ini tidaklah dikatakan sopan untuk bertamu. Bagaimana respon wanita dewasa yang dia kerjai nanti? Entahlah, yang terpenting dia menyerukan beberapa kalimat permintaan maaf yang sudah dia buat tadi sore.


"Ya? Cari siapa?" Tanya tuan rumah begitu pintu dibuka, wanita yang muncul dari balik pintu hanya berbalut celana dan kaos pendek. Nampak sudah siap untuk istirahat.


"Mba Rea?"


"Iya!"


Rea sedikit heran, ada urusan apa dia para anak kuliahan ini datang ke rumahnya? Apakah untuk ijin KKN? Jelas salah sasaran, bukan padanya. Tapi lebih lanjut, melihat gelagat yang aneh dari lima remaja lelaki di depan pintu rumahnya, ia ingin sekali bertanya. Namun belum smepat membuka mulut, rasa penasaran Rea terjawab oleh terlihatnya sosok tegap dan tinggi berada di belakang 4 orang remaja sedang memandang ke arahnya tanpa berkedip.


"Boleh masuk?" Tanya Rio sebagai orang yang paling salah disini.


"Tidak. Disini saja!" Tolak Rea dengan tegas. "Bukannya tidak sopan. Tapi bertamunya lelaki sebanyak ini di waktu sekarang adalah hal yang tidak tepat." Tekannya di akhir kalimat. Ia ingin juga memberitahu Aero jika kedatangannya salah waktu.

__ADS_1


"Oke. Sebelumnya perkenalkan, aku Rio dan ini teman aku. Mba masih ingat? Kita bertemu di Cafe tadi malam."


Rea mengangguk, ia akhirnya mengingat sesuatu. Wajah-wajah anak muda ini, tadi tidak terlalu asing baginya. Ingatannya kembali terbawa ke kejadian malam tadi.


"Kenapa?"


Dengan keberanian yang sudah Rio kumpulkan sejak sore tadi. Perlahan ia mulai mengucapkan permohonan maaf dan penjelasan kenapa dia melakukan hal tersebut. Dengan terbata dan tidak sesuai teks yang dibuat, Rio berhasil menyelesaikan tujuannya. Sepuluh persen keresahannya sirna saat dia mengakui kesalahannya secara langsung. Tinggal tersisa 90 persen lagi kecemasannya. Yaitu apakah...


"Aku maafin. Jangan diulangi lagi! Anak berpendidikan kaya kalian harusnya ngga seperti itu. Kalian mempermalukan orang tua sendiri. Mencoreng muka mereka yang sebenarnya mampu memberikan hal lebih buat kalian. Dibandingkan hp kalian, hp aku pasti yang paling murah. Jadi, ngga ada manfaatnya kalau kalian simpen hp aku."


"Sekali lagi maaf Mba." Empat pemuda yang berdiri di belakang Rio pun mengikuti untuk meminta maaf.


"Iya. Udah kan? Kalian boleh pulang. Aku mau istirahat." Putus Rea tanpa menunggu jawaban anak-anak kecil ini yang tingginya di bawah Aero.


"Makasih Mba!" Ucap Rio sambil menangkup dua tangannya di depan dada. Mendapat anggukan dari Rea, iapun membalikkan badan. Tertangkap oleh Rea jika anak itu seperti tengah berbicara dengan Aero menggunakan bahasa isyarat. Terbuka anak itu mengangguk patuh setelah mendapatkan anggukan juga oleh pria itu.


"Kamu ngga minta maaf?"


Bukannya menjawab, kaki panjang Aero justru melangkah maju hingga jarak diantara dirinya dan Rea hanya beberapa jengkal. Auranya seperti biasa dingin, ekspresi datar dan tenang.


Kunjung tak bersuara, Rea pun kembali menyampaikan perkiraannya. "Aku pikir kamu datang juga untuk minta maaf." Katanya dengan nada jengkel, walau tidak terlalu kentara.


"Atas?" Jawaban singkat pria dengan rambut yang sudah sangat rapi dan tampan itu begitu singkat dna acuh Seperti Raja yang tak ingin disalahkan atas setiap kejadian. Mendengar hal tersebut, Rea tersenyum miris. Senyum yang di dalamnya tersirat kekecewaan tapi juga pemakluman.


Sebelum menjawab, terlebih dahulu Rea menggeleng dengan memberikan senyum manis tulus. Sebaik mungkin dia akan memperlakukan orang yang sudah menyakitinya.

__ADS_1


"Kamu boleh pulang juga. Selamat malam." Katanya seraya mendorong pintu perlahan agar tertutup.


Mata Rea tak lepas dari netra kelam itu. Mencoba menguatkan diri untuk menerima kenyataan. Aero benar-benar tidak diciptakan untuknya. Harapannya terlalu tinggi untuk bisa berdampingan dengan lelaki penuh misteri itu. Cinta hadir tanpa dia sadari. Dan patah hati hadir saat dia benar-benar mencintai. Tangan kiri Rea yang memegang pegangan pintu makin terasa berat. Dalam harinya ada rasa ketidakrelaan harus memberi penyekat di antara keduanya. Tapi harus dia lakukan. Jika tidak ingin makin larut dan sakit.


"Aku mau istirahat Mas, tadi baru aja anter Bibi Yul ke stasiun. Selamat-"


Belum sampai Rea menyelesaikan salam perpisahannya. Dengan gerakan yang sangat cepat tiba-tiba saja dia sudah berada di dalam rumah dan klik-bunyi dari gerakan seseorang yang mengunci pintu. Lagi, belum sempat menyadari apa yang terjadi tubuhnya sudah terdorong ke sisi tembok. Membentur punggungnya dengan keras sampai menimbulkan bunyi benturan.


Rea tak mengerti. Dia hilang akal. Terlebih saat diam-diam bibirnya sudah dicecap oleh pria dengan tubuh berotot. Apa? Kenapa Rea bisa tahu Aero berotot? Sebab kedua telapak tangannya kini tengah pergegangan pada lengan atas Aero yang begitu kuat. Sesuatu dalam dirinya seperti menolak, namun sisi lain dirinya menginginkan lebih.


"Mas-" Panggil Rea saat mencuri nafas di tengah ciuman ganas pria dewasa ini.


"Aku udah mengecewakan kamu. Dan kamu masih bersikap baik? Kenapa bisa?"


Baru saja Rea membuka mulut untuk menjawab, Aero sudah kembali membungkam bibirnya dengan rakus. Tak sampai disitu, Aero juga melingkarkan dua lengan kekarnya di sepanjang pinggang ramping Rea. Dengan sekali hentak, dia berhasil mengangkat dan membawa tumbuh yang begitu pas dalam pelukannya ini masuk semakin ke dalam, tanpa melepas ciuman mereka.


"Mas!" Rea mulai was-was saat pria kuat ini membawanya memasuki kamar. Kali ini jelajahan bibir Aero mulai turun pada lehernya. Bukan kali pertama. Ini pernah mereka lakukan dulu sekali saat Rea mengira Aero menaruh hati padanya.


"Kamu bahkan masih panggil aku Mas Re?"


Hisapan Aero dititik sensitif berhasil membuat wanita ini tak bisa apa-apa. Dia makin memejamkan mata, frustasi untuk menentukan sikap. Mulutnya bahkan kelu, tak bisa menjawab pertanyaan lelaki yang dengan brengseknya berhasil kembali dengan tingkahnya yang liar. Spontanitasnya kembali terbukti saat ini.


Gimana guyss, apakah kalian kurang puas??


Jangan lupa votenya, comment dan likee yaaa.

__ADS_1


Biar ini jari makin semangat ngetik ok.


thankyouuu


__ADS_2