
Mendengar sendiri sang istri langsung menyanggupi keinginannya untuk pulang, hati Aero menghangat. Wanita lain mungkin tidak akan seperti ini. Mereka akan merengek memintanya menyusul, meminta pembuktian dari rasa sayang atau cinta. Namun tidak semua rasa itu dibuktikan dengan mendatangi langsung-terutama Aero-dia bukan pejuang jika berada di luar ring. Dia manusia individualis yang sebenarnya lebih suka diperhatikan. Beruntung Reanya berbeda, si cantik itu bisa mengerti. Ia bisa menempatkan diri pada posisi yang selalu tepat, menurut Aero. Jika sampai saat ini Rea tidak meminta berpisah, itu membuktikan kalau istrinya memang benar memiliki hati yang begitu luas.
Ia sadar, sejak ulang tahun Rea dan sparring, hubungan mereka berubah. Aero terlalu moody diumurnya yang lebih tua dari istrinya. Ucapan selamat ataupun maaf bahkan belum sempat dia ucapkan. Bukankah dia begitu keterlaluan? Hanya orang-orang teruji memang yang berhasil bertahan hingga detik ini di sekeliling Aero, termasuk di antaranya Jordi dan Ardi.
"Mas Aero mau makan?"
Aero yang sedang duduk diam mendongak, ia mencari dari mana suara itu berasal. Setelah mendapati Bibi Yul yang berdiri di sebelah kanan sofa sambil menatapnya bingung, Aero tersenyum.
"Nanti. Nunggu Rea." Tolaknya tegas. Meski dia baru saja pulang olahraga, seluruh tubuh pasti memerlukan asupan energi kembali.
"Loh? Bukannya Mba Rea lagi di...?" Sengaja Bibi Yul mengantungkan kalimatnya, memancing Aero untuk segera menyahut.
"Mau pulang."
"Ooh." Beo wanita itu sambil mengangguk. Dipikirannya terus tertuju pada anak tercintanya di Bogor, ia meras kasian karena waktu liburan Rea harus berakhir padahal belum dimulai. "Mau Bibi siapin cemilan? Buat sementara, sambil nunggu." Tambahnya lagi setelah melihat di hadapan Aero hanya ada sekotak tisu.
"Boleh Bi."
Tanpa banyak kata, segera orang tua asuh Rea itu kembali ke kawasannya. Membuatkan minum, menyiapkan makanan ringan serta buah-buahan untuk Bos besar.
"Kenapa ngga Mas Aero aja yang-"
"Nyusul?"
Bibi Yul mengangguk sesaat dia sudah memindahkan piring, toples dan gelas dari baki ke atas meja ruang tengah. "Kasihan kalau perempuan harus pulang malem-malem. Jalannya kan bahaya,terutama kalau hujan, pasti licin. Sekalian Mas liburan."
Bagi asisten rumah tangga lain, apa yang dilakukan Bibi Yul ini mungkin terlalu berani. Dia bisa dipecat sewaktu-waktu karena telah melakukan apa yang bukan tugasnya di rumah ini, yaitu memberi opini untuk Bosnya. Namun tidak bagi Bibi Yul, dia sudah menganggap kedua anak muda itu anak-anaknya. Terutama Rea, apapun akan Bibi Yul lakukan agar anak itu bahagia.
"Ada Jordi, saya percaya dia terampil bawa mobil. Dan saya lagi ngga sehat."
"Loh sakit apa? Pusing? Demam? Badannya meriyang?" Cecar Bibi Yul mendengar keluhan yang terlontar dari bibir Aero.
Buru-buru Aero menggeleng. "Bukan."
"Terus apa?"
__ADS_1
Jika tadi pria berperawakan otot lebar itu secepat kilat menyahut, kali ini Aero hanya diam. Ia hanya memijat tengkuknya pelan sambil fokus menatap layar LCD TV. Bibi Yul mengikuti arah pandang Aero, dia pun mengangguk seperti sudah mendapatkan sebuah kesimpulan.
"Ooh Bibi paham. Ya udah ditunggu aja Mba Reanya. Mau Bibi temenin atau-"
"Bibi tidur aja, mungkin Rea sampai rumah nanti, tengah malam."
Benar kan? Braga Assavero itu terlalu aneh. Kadang langsung cepat menyerobot kadang kala juga langsung menutup mulut rapat, pelit sekali memberikan informasi.
"Kalau ada apa-apa bangunin Bibi ya Mas?"
"Iya."
Saat Bibi Yul meninggalkannya duduk di ruang tengah sendiri, giliran Aero yang tak mengerti. Wanita paruh baya itu paham tentang apa? Tentang rasa sakitnya? Atau paham Aero sedang merindukan istrinya?
Usai sekian jam menunggu hingga melewatkan makan malam. Juga menyelesaikan beberapa pertandingan ulang yang disiarkan dalam stasiun televisi pra bayar, suara mobil yang terparkir di halaman rumah terdengar. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat, lebih lama dari yang Aero perkirakan. Apa karena weekend? Apa karena hujan? Atau karena terjadi apa-apa? Ah tidak mungkin, ada Jordi yang mendampingi istrinya. Semua akan baik-baik saja.
Aero bangkit dari sofa panjang warna hitam yang sudah begitu lama dia duduki, kakinya melangkah pasti menuju pintu. Ia ingin jadi orang pertama yang menyambut kedatangan Rea. Menerima senyuman, pelukan, ciuman atau yang lainnya. Aero telah siap dengan jantung yang terus berdetak cepat melebihi saat akan naik ke atas ring.
Brak
Lebih dulu Aero melihat Jordi keluar dari balik kemudi. Mata pria itu menatapnya sekilas kemudian mengangguk singkat. Aero tak bergeming. Kaca mobil yang hitam berhasil membuatnya makin berdebar tak karuan. Rea tak nampak sama sekali. Kira-kira bagaimana wajah cantik itu saat melihatnya yang sudah sedikit sadar dengan kesalahan-kesalahan di masa lalu? Apakah akan tersenyum penuh haru? Atau hanya bisa memandanginya dalam diam sambil menangis? Rasanya, itu semua adalah hal yang salah. Rea tidak mudah ditebak, dia selalu punya caranya sendiri saat ada di samping Aero.
Pintu mobil yang lain terbuka, seorang pria keluar-pria yang belum pernah Aero lihat wajahnya. Entah siapa, dia tidak tahu. Namun melihat gelagatnya yang aneh memandangi Jordi, mungkin lelaki muda dengan jaket layaknya club motor adalah rekan asistennya. Keduanya berjalan berdampingan menuju Aero.
Kenapa Rea ditinggalkan di mobil? Ngga sopan!!
Tanpa membalas sapaan Jordi dan pria tadi yang menyapanya. Kaki Aero bergegas menuju pintu mobil bagian belakang, melewati kedua pria yang tingginya sebatas telinganya begitu saja. Dia sendiri yang akan membukakan pintu, jika Jordi tak mau.
"Mas!" Panggil Jordi untuk kedua kalinya.
"Di?!"
"Itu-Mba Rea-saya kesini sama Jerry karena mau melapor sesuatu." Kata Jordi dengan cara yang begitu sulit.
Aero sudah membuka pintu mobil, bahkan sampai melongok untuk memastikan sesuatu.
__ADS_1
Kosong?
"Mba Rea bilang akan nginap sampai besok. Akhirnya saya tinggal. Tapi saya minta Jerry ini untuk jaga-jaga. Dan tadi pas isya, dia kasih kabar ke saya dari informan hotel kalau Mba Rea sudah pulang ke Jakarta. Naik taksi online. Dan-"
"JORDI?!!!" Teriak Aero menggelegar. Memecah kesunyian malam, hingga beberapa burung beterbangan. Pria yang sudah menanti-nanti pasangan sedari tadi ini kecewa bukan main. Amarah langsung melingkupinya begitu tahu ketidakjelasan keberadaan Rea.
"Mas, tenang dulu. Ini saya sudah minta yang lain untuk-"
Belum sempat Jordi menyelesaikan ucapannya. Aero sudah maju dengan langkah lebar dan menghentikan apa yang ingin dia katakan dengan sebuah jap keras.
Bayangkan saja, tulang keras yang dibumbui kemarahan dan kekhawatiran terkumpul dalam kepalan tangan terkuat. Melayang dengan mudahnya ke arah rahang Jordi yang bebas. Jika tanpa pelindung gigi saja sudah bisa membuat tulang bergeser, apa lagi ini? Jordi yang tak siap langsung jatuh tersungkur.
"Kamu mau kasih pembelaan apa? Istri saya belum kembali dan kamu malah kesini lebih dulu?! Tahu salah kamu?!" Tanyanya dengan gigi gemeretak. Matanya menatap nyalang sosok Jordi yang masih tergeletak di atas lantai.
"Cari mati kalau kamu balik kesini tanpa dia. Bego!!!" Tambah pria itu marah sambil berlalu memasuki rumah, namun kemudian keluar kembali dengan jaket kulit yang sudah melekat erat. Motornya seketika menderu, tanpa kata Aero menarik gas kuat meninggalkan halaman. Pikirannya berkecamuk, pantas saja sampai detik ini istrinya belum kembali. Ponselnya tak bisa lagi dihubungi setelah pesan terakhir yang wanita itu kirimkan, sekitar tiga jam lalu.
Kalau aku bisa cepet sampai, Mas mau apa memang?
^^^Mau lakukan apa yang belum^^^
^^^pernah aku lakuin sama kamu.^^^
Sayangnya, kalimat itu belum terkirim hingga detik ini. Tanda centang masih setia sendiri. Dan itu sukses membuat Aero makin gila. Perasannya sejak tadi memang bergejolak. Dia tak tahu kalau ini yang akan terjadi.
Motornya langsung membelah jalanan kota yang saat ini lengang. Dengan kecepatan rata-rata hampir 100 km/jam, saat ini Aero sudah mulai menuju area Bogor. Hujan yang terus turun tak menyurutkan Aero untuk terus melaju. Dia sendiri tak tahu harus kemana. Feeling-nya saja yang terus dia ikuti. Berharap sesuatu akan menuntunnya.
Tiiinn
Bunyi klakson berkali-kali di belakang seketika membuat Aero menepikan motor sedikit. Dia ingin selamat. Otaknya masih bekerja baik, jika dia celaka Rea bagaimana?
Mobil yang Aero kira akan menyalip ternyata justru mensejajari motornya. Kaca mobil terbuka dan munculah sosok pria yang Jordi bawa tadi. Dengan wajah ketakutan dia berteriak, "Boss!! Mba Rea ketemu!"
Di balik helm full facenya Aero tersenyum. Matanya melirik sedikit ke arah Jordi yang sedang menyetir, untuk memastikan kebenaran berita itu.
Brak
__ADS_1
Kira-kira Rea dimana gaesss???
Jangan lupa vote, comment dan likenya yang banyak yaaa...