Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 74


__ADS_3

"Kalau orang tua ini tidak salah dengar. Kamu katakan malam itu butuh waktu 1 tahun untuk jeda menuju pernikahan. Tapi tadi, yang keluar dari mulut kamu 1 bulan." Danunjaya yang malam ini baru saja mengantarkan anaknya melamar seseorang, mulai mengajukan pertanyaan.


"Papa tidak salah dengar!" Jawab si anak tak terduga dengan datar.


"Atau mungkin kamu keliru?"


"Ngga sama sekali. Aku sepenuhnya sadar tadi."


Danunjaya mengangguk pelan. Ia tak ingin menganggu anak lelakinya yang sudah sibuk dengan ponselnya. Mereka kini dalam perjalanan pulang ke rumah, masih di dalam mobil.


"Jadi mana yang benar?" Untuk memastikan, Danunjaya menoleh ke kiri.


"Yang terakhir aku katakan." Seru Aero dengan tegas, tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Entah apa yang sebenarnya sedang dilakukan.


"Ada apa? Apa yang mengubah keputusan awal kamu? Itu jelas mendadak."


"Tidak ada keputusan yang aku ambil mendadak. Semuanya sudah aku pikirkan matang-matang. Jadi Papa ngga perlu kaget." Masih saja Aero menjawab dengan ringan.


"Beri satu alasan yang paling jujur, dan setelahnya Papa akan diam. Menikah itu hal besar. Terutama untuk lelaki seperti kamu. Mengajak orang lain untuk hidup di samping kamu seumur hidup, bukan hal sepele yang bisa dipikirkan dalam kondisi tidak stabil. Papa kira ada suatu dorongan tak kasat mata yang menyebabkan kamu harus mengambil keputusan spontan dan di luar ekspekstasi kamu sendiri. Apa?"


"Papa tahu pasti, aku bukan anak yang sering bercerita."


"Iya. Mengingat kamu sebenarnya pendiam dan mendadak banyak bicara disana. Itu makin membuat Papa penasaran Ga."


Ga untuk Braga. Nama kecil Aero yang Danunjaya pilihkan semasa Aero masih berusia 7 bulan di kandungan.


"Aku banyak bicara, karena memang itu yang harus dilakukan. Tidak mungkin aku diam dan Papa yang bicara."


Hmmm. Anak ini. Masih saja tajam dan keras.


"Braga Assavero Danunjaya. Apa karena masa lalu, kamu masih bersikap sedingin ini?"


Aero diam. Jika membahas masa lalu dengan Ayahnya, maka otomatis akan juga terbawa bagian Ibunya yang sudah meninggal. Dan itu sangat tidak Aero sukai.


Danunjaya menunggu, dan lama-lama dia sadar kalau dirinya sudah mengulik hal paling kelam dalam hidup Aero. "Jika dulu kamu memberontak karena tidak mendapatkan keinginan kamu. Apa sekarang, untuk mendapatkan keinginan baru itu. Ada juga pemberontakan?"

__ADS_1


Nampak urat di leher Aero menegang. Namun sebisa mungkin dia tetap tenang. "Berontak dan berusaha adalah dua hal berbeda. Lihatlah baik-baik."


"Ok. Katakan no, jika analisa ini salah. Kamu merasa bersalah dan kasian padanya?"


"No." Selanya begitu cepat.


"Kamu sudah jatuh cinta?"


Pandangan Aero mulai terangkat. Ia tidak lagi menatap layar ponsel di tangannya. Nafasnya berhembus baru kemudian dia berkata, "No."


Tak begitu saja percaya. Danunjaya kembali menyerukan analisa lainnya. Dia tadi melihat seseorang di rumah Rea. Dan dia juga menyaksikan bagaimana tatapan anaknya yang memicing. "Kamu memutuskan pernikahan dilaksanakan bulan depan karena ada lelaki lain yang mendekati Rea?"


Aero mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Tak menjawab, Danunjaya pun sontak tersenyum dalam diam. Dasar gengsi.


"Pak No!"


"Ya Bos?"


"Akhirnya saya bisa pamer juga ke teman-temab."


"Alhamdulillah, sudah ditunggu-tunggu ya Pak. Jadi ikutan ngga sabar."


"Pokoknya nanti Papa yang dampingin Aero kalau mau akad."


"Kenapa?"


"Kan Mamah ngga bisa duduk deket Aero. Cuma orang-orang penting aja."


Benar juga. Segera saat itu Danunjaya mengiyakan.


***


"Kamu gugup?"


"Ngga!"

__ADS_1


Tak bisa membohongi. Danunjaya jelas tahu mana yang benar. Dilihat dari segi manapun anak lelakinya itu dalam kondisi grogi. Itu tandanya Aero bersungguh-sungguh dalam pernikahan ini. Seluruh jiwa dan raganya dicurahkan untuk hari pergantian status. Saking fokusnya menghadapi orang-orang di hadapannya, Aero sampai tak mempedulikan riuh tamu yang mulai mengisi ball room hotel.


Akad nikah akan dilaksanakan tepat pukul 19.00, langsung dilanjutkan dengan resepsi. Ide Regina Athalia tentu saja. Dia menginginkan acara yang ringkas, tidak ingin berkali-kali ganti pakaian atau berias. Juga tidak ingin terlalu banyak mengeluarkan uang Aero untuk berbagai acara menjelang pernikahan. Menurutnya pribadi, akad adalah bagian terpenting. Dia bahkan tidak terlalu menginginkan pesta besar layaknya ratu di umurnya yang sudah menjelang 27 tahun. Waktu telah membuatnya berubah. Lebih dewasa dan tegar dalam menyikapi masalah.


"Pah."


Di tengah kemeriahan dan kebisingan yang muncul. Aero memanggil Ayahnya yang berlaku sebagai saksi. Duduk di samping kanannya.


"Ya?"


"Dulu Papa begini juga?"


"Apa?"


"Tangan aku dingin."


Memajukan sedikit kursi rodanya, tangan kiri Danunjaya terangkat. Ditepuknya pelan bahu Aero, setelah itu meremasnya menyalurkan kekuatan. Sebesar apapun Braga Assavero, bagi Danunjaya lelaki itu tetaplah anak kecil di matanya. Menawan sekali anak yang dulu menentangnya ini. Tampan, gagah, kuat dan tanggung. Tak dapat dielak bagaimana tampilan anak lelakinya yang berbalut setelan jas warna hitam ini.


"Kalau kamu takut salah. Lebih baik baca. Tidak akan mengurangi esensinya. Akad tetap akad. Tuhan lebih tahu isi hati kamu."


"Ngga keren."


Lelaki tua berbalut jas hitam itu tertawa cukup keras. Membuat beberapa orang yang duduk di sekitar meja akad menoleh.


"Banyak baca istighfar."


Usai kalimat singkat yang berwujud saran dari seorang Ayah, seseorang yang duduk tepat di hadapan Aero mulai berbicara hingga terdengar oleh semua orang. Mengulaskan kalimat yang penuh makna hingga Aero diam tertunduk mendengarkan. Sejurus kemudian, kebisingan yang timbul dari suara orang-orang mulai tak terdengar. Suasana mulai lebih tenang. Hening. Hikmat. Mereka tahu ini adalah waktunya.


Dan tanpa Aero sadari, dia sudah menjabat tangan wali hakim. Membalas genggaman tangannya dengan erat sembari mengulas kalimat yang akan diaminkan oleh para malaikat. Dengan tegas. Benar. Dan penuh keyakinan.


Saat semua mengatakan sah. Maka sudah dipastikan, Aero bukan lagi seorang pria lajang. Dia memiliki tambahan tanggung jawab dunia akhirat untuk seorang wanita cantik yang dia sebutkan namanya tadi-Regina Athalia.


Dan saat yang ditunggu tiba-saat pengantin wanita mulai muncul dari sebuah ruangan untuk memamerkan kecantikannya. Untuk menunjukkan pada dunia siaoa sekarang dirinya. Saat itulah ingatan Aero terlempar pada hari dimana dia melihat Rea pertama kali di lorong sebuah hotel. Cantik dan anggun. Tak dapat membohongi diri, Aero mengakui bagaimana menariknya Rea saat itu. Bahkan kini dan nanti.


Alhamdulillah saaah

__ADS_1


Ayok kirim kadonyaa


Jangan lupa vote, commet dan like yaaa


__ADS_2