Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 32


__ADS_3

Sekitar 3 bulan yang lalu-masih melekat diingatan Aero-ia berdiri di balik pintu hotel, menanti lewatnya calon pengantin dengan melihat kamera CCTV yang dia pasang di dekat pintu kamarnya. Berjalan anggun dengan balutan kebaya putih dan kain batik yang membungkus kaki jenjangnya adalah pemandangan yang sedang Aero lihat. Ia memerintahkan seorang bawahannya untuk membukakan pintu, dan menyerahkan sebuah tab padanya.


Tak butuh waktu lama, setelah mengucapkan satu dua patah kata, Aero segera menarik dan membekap Rea dengan kain yang sudah diberi obat bius. Tubuh tinggi semampai itupun lunglai seketika tanpa melalui perlawanan yang panjang.


"Keluar!" Perintah Aero pada beberapa orang yang berada di dalam kamar. Tanpa perlu dua kali, mereka berjalan keluar untuk membereskan sesuatu. Meninggalkan Aero dan Rea yang sudah terbaring di atas ranjang dalam keadaan tak berdaya.


"Let's see, who you are." Gumam pria tinggi itu ketika sudah duduk di salah satu sofa. Di genggaman tangannya ada ponsel yang menampilkan data wanita di atas ranjang. Ia langsung membaca tanpa repot melihat bagaimana kondisi sang sandra.


"Regina Athalia. Bandung, ..." Begitulah Aero menunggu waktunya untuk membaca sedikit informasi yang berkaitan dengan calon istri Arka. Mulai dari riwayat pekerjaan, riwayat pendidikan hingga cerita singkat kehidupannya.


Selama Rea belum tersadar, beberapa foto diambil untuk membuat Arka kelimpungan. Setidaknya pria itu khawatir atau murka calon istrinya menghilang. Tapi nyatanya, hal tersebut tak terjadi. Lelaki yang memiliki usaha di bidang tambang itu seperti tak ambil pusing. Memang dia terdengar kaget di awal, namun hingga diakhir pembicaraan telefon tak ada indikasi Arka akan mencari keberadaan Rea. Aero pun tahu, jika ia sudah salah bertindak.


Perkiraan, efek obat bius itu akan hilang dalam kurun waktu 1-2 jam. Namun tak disangka, justru hampir 8 jam wanita itu pingsan. Karena sudah terlanjur, Aero akhirnya memutuskan tetap menunggu. Rasa kasihannya pertama kali muncul hari itu.


...***...


Kini, Aero dan Rea akhirnya kembali terperangkap dalam satu ruangan yang berukuran tak seberapa. Kasihan dengan kondisi wanita dalam rengkuhannya, tadi Aero berhasil membawa tubuh Rea masuk ke kamar-tepatnya kamar mandi. Lelaki itu terkejut, tak lama ia menutup pintu toilet, terdengar suara Rea yang tengah memuntahkan sesuatu. Tak tahu harus bertindak apa, Aero tetap berdiri di posisinya semula. Masuk enggan, keluar pun dia tidak mau.


"Aeroohh." Seru Rea dengan suara yang membuat lelaki berpakaian rapi ini mengerutkan kedua alisnya. Aero maju selangkah, mendekatkan badannya untuk memastikan apa benar tadi namanya dipanggil.


"Aeroo!" Ulang Rea untuk kedua kalinya.


Setelah memastikan jika apa yang Aero dengar adalah benar. Mulutnya terbuka dan menjawab, "ya?"


"Tolong."


Sedikit ragu apakah benar wanita yang selalu sinis padanya meminta bantuan. Aero hanya menempelkan telapak tangannya di gagang pintu. Ia tidak tahu apa yang ada di balik benda persegi panjang berbahan kayu ini. Apa jenis pertolongan yang bisa Aero lakukan? Berkaitan dengan apa? Bukan untuk membuka pakaian wanita itu kan?


Lama hanya berperang dengan pikirannya, Aero sampai tak sadar jika pintu di hadapannya sudah dibuka dari dalam. Disapunya penampilan Rea dari ujung kaki, masih mengenakan skinny jeans dan tanktop. Tanktop? Sejak kapan wanita itu melepas.., entah apa nama jenis pakaian itu Aero tidak tahu. Yang jelas, Aero bingung saat tangan wanita itu terulur ke arahnya seperti meminta, dipeluk?

__ADS_1


Ada apa dengan wanita ini? Kenapa saat sedang mabuk justru membuat khawatir?


"Perutku sakit, pusing, dan mual." Jelas Rea dengan suara amat lirih seperti menggerutu. Matanya pun sudah setengah terbuka, belum lagi bibir pucat yang begitu kentara.


"Kampungan. Kamu baru pertama kali mabuk?" Aero mengejek sikap berlebihan Rea, namun kedua tangannya tetap terulur menggapai pinggang ramping wanita itu, bermaksud membantunya kembali berjalan.


"Bukan."


"Mabuk itu merusak diri, jangan sok-sokan untuk menenggak minuman yang bah-"


"Aku sedang haid!!"


"Ya?"


Aero tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya hanya mengerjap bingung sesaat Rea sudah lepas dari rangkulannya. Wanita yang memiliki kulit putih bersih itu kini berbaring di ranjang, memejamkan mata sambil sesekali merintih memegangi perut. Setelah beberapa menit, kepala Aero baru mengangguk paham. Dia sudah salah mengira. Malu karena sok tahu, ia menggaruk tengkuk belakang dengan gerakan kaku. Kenapa perlu seperti itu? Bahkan Rea sendiri tak sama sekali memperhatikan.


......***......


Bayangkan, di tengah jalan saat Aero sudah memacu mobilnya untuk pulang, tiba-tiba Rea menelfonnya. Entah dalam keadaan sadar ataupun tidak. Wanita itu langsung meminta untuk diambilkan sesuatu dengan nada yang lemah dan penuh ringisan. Mau tidak mau karena kasihan, Aero memutar balik kendaraannya menuju sebuah perumahan kecil yang sudah sangat dia kenali. Tanpa mengalami kesulitan, ia membuka pintu dengan kunci yang dia miliki. Padahal mobil posisinya berada sudah jauh dari rumah wanita itu.


Satu tujuannya setelah sampai, ia membuka pintu kamar sang penelefon, ingin menanyakan apakah ini benar atau tidak. Sayangnya, wanita itu dalam keadaan yang makin mengkhawatirkan. Bergerak gelisah di atas ranjang dengan suara rintihan yanh makin lama makin keras. Aero ingat, saat terakhir kali dia meninggalkan Rea kondisinya tidak seperti sekarang.


"Aeroo!!" Seru wanita itu disela rasa sakitnya.


"Ya?" Beruntung Aero sudah berdiri di ambang pintu dan segera menyahut.


"Cepetan!!" Bentak wanita itu dengan sangarnya.


Sadar karena memang wanita itu memintanya mengambil handuk dan air panas, Braga Assavero yang sejatinya seorang pemimpin mendadak mau disuruh-suruh. Ia mengambil sebuah baskom dan menuangkan air panas dari sebuah termos. Tangannya tak kalah gesit menarik handuk kecil yang tersampir di samping tempat cucian, tak ambil pusing sebenarnya itu kotor ataupun tidak.

__ADS_1


"Lama banget dari tadi aku panggil-panggil."


Sebuah kalimat menyambut masuknya Aero kembali ke kamar berwarna putih itu. Apa benar Rea wanita yang galak itu mencarinya sedari tadi?


"Aku keluar sebentar."


Tak sepenuhnya bohong, Aero memang keluar dari rumah. Ya, walaupun untuk pulang. Karena sesungguhnya ia pun sudah lama berada di rumah Rea, sekitar 3 jam menemani wanita itu.


Meletakkan baskom berisi air panas di meja kecil, Aero perlahan ikut mendudukan dirinya di tepi tempat tidur. Membuat wanita cantik berbalut tanktop membuka matanya sedikit dan barulah Aero ketahui jika Rea sedang menangis. Matanya memerah dan air mata membasahi pipinya, belum lagi bibir yang terus digigit karena menahan rasa nyeri.


"Biasanya ngga sesakit ini, maaf buat kamu repot." Dengan setulus hati Rea mengatakan hal demikian. Ia perlahan bangkit untuk duduk bersandar. Diusapnya jejak air mata karena tak ingin kelihatan lemah di mata Aero. Bibirnya memaksakan senyuman.


"Memang biasanya seperti apa?"Tanya Aero sambil mengangsurkan baskom dan handuk ke atas pangkuan Rea, yang Aero sendiri tidak tahu digunakan untuk apa.


Rea enggan menjawab, ia hanya menggelang pelan. Kedua tangannya masuk ke dalam baskom, mencoba membuat handuk basah kemudian memerasnya untuk mengurangi kandungan air. Setelah memastikan tuntas, handuk tadi ia letakkan di atas perutnya yang terbuka. Menekannya perlahan untuk menghantarkan rasa hangat dan nyaman di area tersebut. Sesaat permukaan perutnya terasa hangat, hembusan nafas lega Rea suarakan. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Aero.


Pria itu setia memandangi bagaimana Rea menenangkan dirinya, mengobati dirinya sendiri di tengah rasa sakit. Aero tak terpengaruh dengan pemandangan perut putih mulus yang terpampang jelas. Dipikirannya hanya satu, Rea persis seperti dirinya-dulu.


"Butuh sesuatu yang lain?"


Mata Rea terbuka, sedikit kaget karena ternyata Aero masih ada di dekatnya. Sepenuhnya memang Rea tidak menyadari keadaan sekitar, fokusnya hanya pada rasa sakit di perutnya saja.


"Kalau kamu mau. Aku minta tolong satu hal lagi."


Pria itupun mengangguk tanpa lebih dulu berpikir. Paling hanya mengambil ini-itu, atau menyiapkan sesuatu. Tak ada keraguan dalam diri Aero untuk membantu wanita di hadapannya ini.


"Bantu aku berdiri."


"Sure."

__ADS_1


Aero tidak tahu, kalau ternyata bantuan simple-nya itu akan membawanya pada hal-hal yang begitu private. Ia melihat sendiri bekas tempat Rea berbaring merah oleh bercak darah- setelah ia menarik Rea berdiri. Belum lagi ketika Rea membuka lemari dan disitu Aero dapat melihat dimana perempuan itu meletakkan pakaian dalamnya.


Terakhir, Aero menggendong wanita putih itu ke mobilnya. Karena setelah keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian, Rea ambrug tak sadarkan diri. Haidnya benar-benar sudah menguras fisik.


__ADS_2