
Jika seseorang pernah berbuat suatu kesalahan yang fatal, pasti penyesalan adalah ujungnya. Pikirannya tak akan bisa diam, memori kegagalan itu terus bersemayam dan menghantui. Kadang ia juga akan meneliti kembali, bagian mana yang keliru dan terlewatkan. Mengapa bisa fail? Padahal setiap rencana sudah dirancang dengan sempurna.
Tapi satu hal yang perlu diingat, sesempurna apapun rencana yang dibuat, jika memang takdir tidak menghendaki, maka rencana hanya tinggal nama. Yang akan tertinggal hanya perasaan kecewa mendalam di dalam hati. Rasa tidak nyaman dan resah menjalani hari-hari. Ada beberapa orang yang bisa melupakan kegagalan itu dalam jangka waktu singkat. Namun lebih banyak orang justru sulit untuk melupakannya.
Seperti itu yang Aero rasakan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya selama seminggu ini. Itu hal yang tidak biasa. Karena sifat Aero yang sesungguhnya adalah pandai mengesampingkan perasaan.
"Aero kan?"
Kembali, suara itu masuk ke indera pendengaran Aero begitu mudah. Suara halus, lembut dan serak yang dibumbui keputus asaan. Jika sudah macam ini, diam tentu pilihan yang baik.
"Kenapa diam?"
Rea mengingatnya namanya. Fakta itu cukup mengejutkan. Tidak bergerak dan bereaksi apapun, Aero membiarkan Rea yang masih lemah bangkit sendiri untuk duduk. Untuk beberapa detik, usaha besar yang Rea gunakan untuk bangun hampir saja gagal.
"Aku ingat, kamu laki-laki yang membawaku masuk ke kamar hotel. Kamu temannya Mas Arka?"
Apa? Mendengar pertanyaan terakhir yang Rea lontarkan, kening Aero langsung berkerut.
"Kenapa ada disini?" Imbuh Rea karena mendadak bingung kenapa pria itu yang pertama kali dia lihat. Jika mengingat kembali ke beberapa saat sebelum pingsan. Ia juga ada di Rumah Sakit, kemudian pulang menaiki gojek. Baru setengah perjalanan, kendaraan yang dia tumpangi tiba-tiba ditabrak. Dan setelah itu Rea ingat, dia seperti terbang, dijatuhkan begitu keras di atas aspal dan kegelapan merenggut.
"Apa kecelakaan tadi berhubungan dengan kamu juga?"
Badannya terasa remuk redam. Terutama lengan bagian kanan, yang dia gunakan untuk menahan tubuh saat terlempar dari motor. Begitu juga dengan pinggang bagian kanan yang mendarat kasar.
"Mana abang gojeknya?"
Mata Rea melirik ke balik tubuh Aero yang menjulang, pasalnya sekat di kanan kiri yang tertutup kain tinggi tak bisa memperlihatkan keadaan apapun di baliknya.
Hingga, karena tak juga mendapatkan jawaban. Mata Rea perlahan naik, ia ingin menatap mata tajam itu dengan intens. Rea butuh penjelasan, bagaimana dia bisa ada disini.
Namun alih-alih sebuah kata atau kalimat terucap, pria itu justru balik badan kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Rea. Entah apa yang diinginkan pria itu, datang memberinya pertanyaan lalu pergi ketika diberi pertanyaan.
"Aeroo!!" Panggil Rea keras karena tak berhasil menghentikan lelaki dingin dan pendiam yang hanya memandanginya tadi.
...***...
Rea meneliti keadaan dirinya setelah perawat datang. Luka sudah diobati, dan tubuhnya terasa lebih segar efek cairan infus. Tidak dia sangka saat-saat menyedihkan sendirian dirawat di sebuah klinik ia alami. Itu sekiranya hal yang menyebabkan ia tadi menangis. Walaupun sebenarnya ada alasan lain.
Memilih segera kembali ke rumah kontrakannya, Rea tak menyadari jika ternyata di luar klinik tengah menunggu seorang pria misterius. Aero, lelaki itu ternyata tidaklah pergi. Ia hanya berjaga di luar. Saat ini sedang berdiri menjulang sekitar 5 meter di hadapan Rea. Tengah melipat kedua tangan di depan dada, serta menyandarkan tubuhnya di badan mobil berwarna putih bergaya seperti seorang penguasa.
__ADS_1
"Masuk!" Katanya bahkan tanpa susah-susah memerintah pada siapa.
Merasa itu bukanlah perintah atau ajakan untuknya, Rea mengabaikan. Langkahnya terus lurus, tak ada tanda-tanda berhenti ketika melewati tubuh Aero.
"Kalau kamu pikir perintah tadi bukan untuk kamu artinya kamu salah. Masuk dan kita harus bicara." Seruan yang terdengar arogant dari lelaki bermarkes tadi akhirnya membuat langkah Rea melambat.
"Apa kita saling mengenal?" Balas Rea tak kalah sombong-tanpa menoleh ke belakang.
Tak dapat ditahan, sudut bibir Aero tertarik sedikit di balik maskernya. Ia terkejut mendengar balasan Rea yang tidak ia perkirakan sebelumnya. "Jelas-jelas bibir kamu memanggil nama saya lebih dari dua kali tadi."
"Aku?"
"Masuk!!"
Dasar pria dingin. Tak ada bujukan yang lebih lembut dan halus untuk wanita yang baru saja ia tabrak ini. Ia bangkit dari sandarannya kemudian berlalu, berjalanan memutari mobil untuk duduk di balik kemudi. Sebuah kendaraan sedan merk pabrikan Jerman mulai terdengar deru mesinnya. Dan tak lama, sebuah klakson panjang berbunyi. Mengagetkan semua orang yang ada di sekitar halaman depan klinik rumah sakit.
Pada akhirnya, Rea mengalah. Melihat sendiri gelengan kepala yang masyarakat sekitar berikan pada pemilik mobil putih tadi, mau tak mau membuat Regina Athalia yang waras berlari terbirit-birit. Ia berusaha menjauh dari mobil dan pemiliknya yang sama-sama menyebalkan.
...***...
"Sebelum kabur, pastikan kamu full power. Percuma berlari jauh jika ujung-ujungnya masih tertangkap."
Entah itu sindiran atau sebuah nasehat, yang jelas telinga Rea merasakan jika kalimat tadi begitu membuatnya makin jengkel.
Lagi, itu adalah sindiran yang keluar dari mulut tak terlihat Aero. Wanita cantik ini gagal kabur, ia tak kuat berlari dan menemukan jalan keluar. Ingin menaiki motor, dia masih takut. Ingin menaiki taksi, jalanan begitu sepi. Hingga akhirnya, ia diseret masuk ke mobil. Mungkin lebih tepatnya di paksa masuk.
"Turun!!"
Apakah memang Aero tak pernah dekat dengan perempuan? Tidak adakah kalimat yang dia pilih untuk lebih lembut?
Tunggu. Sejenak Rea mematung di kursi samping kemudi. Matanya mulai menyusuri dimana mobil berhenti.
"Kamu-"
"Turun!"
Bibir Rea terkatup lagi. Ia hampir saja mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membahayakan dirinya. Oleh sebab itu, dia memilih cara agar jangan sampai kehidupan pribadinya diketahui oleh Aero.
"Turun, dan masuk ke rumah!" Bentak lelaki itu.
__ADS_1
"Rumah aku bukan disini!" Elak Rea, dia tidak ingin pria misterius ini tahu dimana dia tinggal. Walaupun sebenarnya...
"Masuk sendiri atau saya gendong kamu dengan paksa!"
"Itu bukan rumah saya!" Sampai kapanpun si manis ini tak akan mau menuruti omongan lelaki entah bekerja sebagai apa. Namun dasar Rea bodoh, kenapa dia tidak turun saja kemudian masuk ke dalam gang. Bersembunyi di rumah entah siapa. Lalu kembali saat Aero sudah menghilang.
"Ok terimakasih!" Putusnya setelah menimbang-nimbang baik buruknya dia berdekatan dengan teman Arka ini.
Dengan terburu-buru Rea melepas seatbelt. Keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun lagi. Tak lupa membanting pintu mobil mewah itu dengan keras sebagai salam perpisahan. Kakinya yang panjang langsung berlari, memasuki gang yang jelas-jelas bukan rumahnya.
Rumah kontrakannya sendiri tepat ada di samping kiri mobil itu berhenti. Tapi untuk beberapa hal, Rea tak ingin Aero tahu dimana tempat tinggalnya. Wait! Ada yang salah disini. Perlahan langkah kaki yang tadinya cepat mulai memelan. Nafas Rea terengah-engah. Ia reflek memegang kepalanya yang sempat terbentur.
Pria itu bahkan tiba-tiba menjalankan mobil dan berhenti disebuah rumah di perumahan. Tanpa Rea beritahukan dan tunjukkan arahnya. Jadi??
"Dasar bodoh!!" Rutuk Rea pada akhirnya. Ia meringis mendapati dirinya yang tak bisa berpikir cepat saat itu. Darimana Aero tahu??
Beberapa menit kemudian...
"Apa yang kamu cari? Jelas-jelas saya menghentikan mobil tepat di depan rumah kamu." Tanya Aero usai melihat Rea yang keluar dari gang tadi dengan langkah sangat pelan.
"Kenapa masih disini?"
Gaya Aero yang terkesan santai namun datar itu sebenarnya membuat Rea jengah. Apalagi masker hitam motif tengkorak yang menutupi wajahnya. Rea penasaran. Apakah di balik masker itu terdapat wajah yang tak sempurna?
"Menunggu kamu masuk!"
"Kamu mata-matain aku?"
"Untuk apa?"
"Itu yang harusnya aku tanyakan. Pergi!!"
"Masuk!!"
Sudah lebih dari tiga kali, perintah yang Aero katakan adalah agar Rea masuk. Kenapa memangnya? Hanya berjarak 1 meter, Rea berdiri di hadapan Aero yang seperti biasa duduk di kap mobil sambil melipat lengannya di dada. Matanya mulai memperhatikan dengan seksama gerak-gerik Aero yang sepertinya tidak pasang kuda-kuda.
"Mau apa ka-" Celetuk Aero ketika tahu ada hal yang tidak beres pada wanita berambut panjang di depannya.
Benar saja, belum selesai Aero bertanya Rea sudah maju dengan gerakan sangat cepat, kedua tangannya terulur seperti ingin mencekik Aero. Namun dasar lelaki yang sudah terlatih, reflek Aero begitu bagus. Menangkis dan memegang dua pergelangan tangan Rea. Tentu wanita itu berontak ingin dilepaskan.
__ADS_1
Dan dari aksi berontaknya yang tak beraturan itu, tangan Rea akhirnya berhasil menarik masker yang selama ini menyembunyikan wajah Aero. Kain hitam motif tengkorak itupun jatuh ke aspal. Menyisakan keterpakuan Rea yang diam-diam memperhatikan wajah rupawan Braga Assavero, the kidnapper.
"Kenapa? Terpesona?"