Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 35


__ADS_3

"Kita ngga makan dulu?"


Jengah karena kunjung ditanyai seperti itu, Aero akhirnya berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat. Ia langsung melangkah menuju pintu keluar untuk mencari udara segar. Tersiksa begitu berada satu ruangan dengan wanita yang sedari pagi hadir mengganggu dan mengikutinya.


"Tungguin!" Jerit wanita itu sambil berlari mengejar Aero. Acuh, lelaki yang dikejar justru tak berhenti, malah makin lebar melangkahkan kakinya menuju lift.


Aero punya pengendalian diri yang tinggi, namun tidak saat bersama dia. Dia yang dimaksud adalah perempuan berpakaian feminim bernama Arin. Seseorang yang beberapa tahun terakhir ia hindari. Awalnya hanya peduli, lama-kelamaan wanita itu baper akan sikap baiknya. Apakah memang semua wanita seperti itu? Mudah sekali larut dan terbuai jika mendapat secuil perhatian.


Mereka makan di suatu resto, singkat hanya butuh waktu 30 menit. Karena makanan yang dipesan Aero hanya seporsi nasi goreng seafood. Dalam berapa suapan pun piring saji sudah bersih. Ini efek dari kehidupan lamanya di jalanan, dimana disana Aero belajar untuk tidak menyia-nyiakan makanan. Sebisa mungkin makanan apapun yang disajikan untuknya akan dia habiskan. Termasuk saat itu semangkuk mi rebus buatan Regina Athalia.


Bersama Arin, Aero kembali ke kantor. Tak hanya mereka berdua sebenarnya, ada Jordi yang mengikuti. Begitu sampai di kantor, sesuatu yang tak pernah diperhitungkan Aero terjadi.


Dia sudah sehat? Tanya Aero dalam hati.


Rea muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Wanita itu mengikutinya sampai lift untuk meminta nomor rekening. Otak Aero langsung bergerak cepat mencerna maksud pertanyaan itu.


Ah, mungkin tentang biaya berobat di rumah sakit. Aero benar-benar ingin membantu, tidak ada niatan meminjamkan.


Namun, karena beberapa hal lain sebelumnya, mendengar itu emosi Aero naik. Selain pada wanita di samping kirinya, juga karena Rea yang tak sama sekali berterimakasih. Tak bisa banyak bicara, akhirnya pria itu mengeluarkan sikapnya yang dingin. Entah bahasanya ketus atau tidak, yang jelas kepalanya sudah ingin meledak.


Tak ingin panjang lebar, bos kedua ini langsung menghentakkan tangan seorang wanita yang masih bergelayut manja saat berada di depan pintu ruangannya.


"Pulang! Jangan ganggu! Aku sibuk!" Katanya dengan menambahkan tatapan mata tegas.


Tanpa menunggu respon, Aero langsung masuk ke ruangannya dan mengunci dari dalam. Ia tak ingin diganggu, terutama oleh makhluk berjenis kelamin perempuan bernama Arin.


Saat sudah menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran, barulah Aero mengaktifkan salah satu ponsel khusus yang dia miliki. Begitu sambungan data dinyalakan, suara notifikasi pesan dan getar bersahut-sahut selama beberapa detik. Entah siapa, yang jelas Aero menunggu raungan itu selesai. Ditatapnya ada 12 pesan masuk dan 32 panggilan tak terjawab dari nomor yang dia namai dengan Re.Athalia.


Sebuah nama yang menurutnya begitu pas tersemat pada gadis itu. Tak berniat membalas, Aero membuka dan membacanya satu per satu. Barulah dia tahu, jika selama ini Rea mencari-carinya. Senyum tipis pun kemudian muncul dari bibir pria tampan itu.


...***...


Nandho akhirnya datang ke rumah Rea setelah sekian purnama. Tanpa memberikan kabar lebih dulu. Tiba-tiba saja, saat Rea baru pulang dari tempatnya bertemu Aero. Dosen itu sudah ada di depan rumahnya.


"Kamu sedang sibuk?" Itu kalimat pertama yang keluar dari bibir Nandho.


"Ngga, sudah selesai."


"Mengurus masalah rumah kamu?"


"Iya, apalagi." Rea tak berniat untuk bersikap ramah.


"Sudah sampai mana?"

__ADS_1


"Apa peduli kamu?"


Dan didetik itupun Nando langsung terdiam. Ia menormalkan kembali raut wajahnya yang penuh harap dan sedikit kecewa. Cukup terkejut dengan respon tak biasa Rea. Lagi, mereka masih berdiri di teras rumah.


"Boleh aku masuk?"


"Di luar saja."


"Oh ok."


Usai Rea duduk, Nandho baru menyusul mengisi kursi kosong di samping Rea. Jarak mereka terpisah oleh sebuah meja bundar yang kecil.


"Jadi, Ibu kamu bagaimana keadaannya?"


"Kenapa kamu bertanya tentang Ibu?"


"Hanya penasaran saja, setelah aku pulang sendirian apa yang terjadi di rumah?"


Nando tahu, itu adalah bentuk sindiran Rea. wanita itu pasti sakit hati karena diperlakukan dengan tidak baik saat keluar dari rumahnya.


"Aku minta maaf sebelumnya karena tidak bisa mengantar kamu pulang saat itu. Karena aku tahu, Ibu tak akan membiarkan aku kemanapun saat dia marah. Dia ingin penjelasan yang detail tentang-"


"Kelakuan kamu?"


"Aku cukup terkejut saat tahu kamu melakukan sesuatu yang di luar batasan. Kamu terlihat sopan dan lembut. Beriman pula, karena setiap kita pergi kamu tidak lupa untuk sholat. Tapi-"


"Setiap manusia ada satu sisi gelapnya. Kamu pun mungkin memiliki, hanya saja tidak terekspos. Berbeda dengan aku. " Potong Nandho dengan suaranya yang mulai lebih keras.


"Iya benar. Tapi--sudah berapa lama kamu begitu?"


"Begitu apa yang kamu maksud?"


"Apa harus aku jelaskan? Mencari kesenangan di luar sana dengan wanita. "


"Apakah perlu aku jawab?"


"Itu kalau kamu masih menghormati aku sebagai teman dekat kamu."


"Aku pikir kamu sudah tidak akan mau lagi berteman."


"Awalnya begitu. Tapi mendengar jawaban kamu jika setiap manusia punya sisi gelap. Rasanya tidak pantas jika hanya karena satu bagian buruk kamu terlihat, aku harus melupakan banyak bagian baik kamu. Aku berusaha memaklumi. Karena usia kamu yang sudah matang, dan otomatis muncul hasrat macam itu."


"Terimakasih. Aku senang mendengar jawaban kamu."

__ADS_1


Suasananya sedikit lebih cair usai Rea mencoba meluaskan hati.


"Apa yang terjadi dengan Ibu saat itu?" Tanya Rea yang ingin tahu kabar mantan calon mertuanya.


"Dia marah besar. Menuntut aku untuk segera menghubungi wanita yang pernah aku tiduri."


Rea sempat syok. "Then?"


Nandho menggeleng lebih dulu, baru kemudian berkata,"maaf Bu, aku lupa."


"Memang ada berapa banyak Mas?" Tanya Rea dengan tidak yakin, dia takut menyakiti hati lelaki itu. "Maaf aku bertanya seperti itu."


"It's ok. Aku hanya melakukan disaat sedang stress dengan pekerjaan ataupun masalah rumah. Bukan setiap saat melakukan. Perlu kamu garis bawahi itu. Masih bisa dihitung aku melakukannya berapa kali."


Rea reflek menggeser duduknya sedikit menjauh. Hal itupun ditangkap oleh Nandho.


"Kamu takut Re sama aku?"


Rea diam. Ia sedang memikirkan sesuatu. Pertemanan macam ini harus diakhiri atau tidak?


"Kamu terlihat sopan dan tak ada indikasi nakal menuju ke arah sana." Setelah beberapa menit keduanya diam, Rea kembali buka suara. Matanya terfokus pada pot bunga di hadapannya, begitu indah tapi berduri.


"Makasih atas penilaian kamu."


"Mas." Panggil Rea setelah menegakkan duduknya. Jika dilihat dari pandangan Nandho, ia seperti baru mengingat sesuatu. "Aku mau tanya."


"Apa?"


Sudah ada sebuah kalimat yang lama tersimpan di otak Rea. Dia ingin sekali menanyakan hal ini. Namun tenggorokannya seperti tercekat. Ia hanya bisa membuka dan menutup mulut tanpa ada suara.


"Kamu mau tanya apa?"


Rea menarik nafas panjang. Ia mengumpulkan kembali tenaga dan keberaniannya. Perlu banyak usaha memang untuk menanyakan ini. Karena mungkin tidak sopan. Dan dengan satu tarikan nafas, pertanyaan Rea meluncur cepat untuk Nandho.


"Kamu ngga pernah sama sekali berpikir untuk melakukan itu dengan aku kan?"


Jantung Rea makin berdebar. Sungguh, ia tak nyaman menanyakan hal ini, tapi harus. Untuk memastikan langkah apa yang perlu dia ambil selanjutnya. Jangan sampai, dia ikut terperangkap lelaki macam Nando yang terlihat baik di luar namun ternyata liar di dalam.


"Jelas pernah."


Deg


Jawaban itu seperti siraman air es di pagi hari. Rea langsung membeku, terdiam cukup lama sebelum akhirnya memilih masuk dan mengunci pintu rumah. Tanpa mengatakan apapun, dia meninggalkan Nandho di teras sendirian.

__ADS_1


__ADS_2