Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 86


__ADS_3

Cuaca Bogor cerah, seakan menyambut kedatangan Rea yang butuh dihibur oleh bentang alam ciptaan Tuhan. Diantar oleh Jordi, Rea memilih duduk di samping asisten suaminya yang tengah mengemudi.


"Kenapa ngga duduk di belakang Mba?" Tanya Jordi ketika sudah memasuki jalan berkelok dimana samping kanan kiri terhampar tanaman teh yang menyejukkan mata.


"Di belakang ngga bisa jelas liat depan." Jawab wanita itu terus terang. Dia asik memanjakan matanya sejenak.


"Jangan dilepas sabuk pengamannya! Tetap dipakai!" Kata Jordi memberi peringatan, mrlalui sudut matanya dia bisa tahu istri bosnya itu sedang melakukan apa.


"Cuma sebentar, pengin liat-"


"No! Sebentar dan kita ngga tau apa yang terjadi selanjutnya kalau-kalau mobil ini-"


"Iya-iya stop! Ngga perlu terlalu panjang." Akhirnya wanita itupun mengalah, dia kembali duduk tenang memakai sabuknya kembali, dengan mata tertuju pada pemandangan di luar jendela.


Lama keduanya menutup mulut rapat. Hanya terdengar suara radio yang sedang memutar musik RnB kesukaan Jordi.


"Mas Aero gimana kabarnya Di?"


Untuk beberapa alasan, Jordi tak bisa langsung menjawab ketika mendapati pertanyaan macam itu. Antara kaget dan tak pernah mengira istri Bosnya malah mencari tahu tentang suaminya lewat dirinya.


"Ehem. Kan- Mba Rea yang lebih tahu keadaanya." Jelas jawaban itu basa-basi, Jordi mencari pilihan kata aman dimana tidak menjurus ke sok tau dan tukang mengadu. Ya walaupun benar, dia adalah tukang ngadu di hadapan Danunjaya.


"Cederanya gimana? Perlu di operasi?"


"Dari mana Mba tahu?"


"Walaupun Bos kamu ngga kasih tahu, tapi aku bisa mengamati, ada yang ngga beres. Berkali-kali aku tanya bagian itu kenapa lebam, eh ngga pernah mau jujur, diem aja. Kamu pun ngga berusaha cerita duluan, kenapa?"


Setelah sekian lama tak punya kesempatan untuk mengeluarkan unek-uneknya, Rea akhirnya punya tong untuk membuang semua rasa kecewa dan cemasnya.


"Aku orang asing Mba, kan ngga pantes untuk ikut campur atau menyambung lidah di tengah rumah tangga kalian."


"Kamu kan udah dia anggep adik."


"Adik rasa asisten. Tetap aja aku pesuruh."

__ADS_1


Mendengar hal tersebut keluar dari mulut Jordi yang selalu rapi dengan setelan jas, Rea tak bisa mengelak.


"Jadi gimana keadaan tulang rusuknya? Malem-malem kalau aku pegang pasti mengerang. Apa sampe retak?"


Nafas pria yang duduk di sebelah kanan Rea berhempus pasrah. Dia tidak bisa berbuat banyak, dan tak ingin pula bicara berlebih.


"Aku ngga punya hak untuk kasih tahu, mending Mba Rea telfon dokternya aja."


Lagi dan lagi dia memilih zona aman, daripada dia salah bicara dan terdengar seperti menakut-nakuti, lebih baik Rea tahu langsung dari mulut dokter yang menangani suaminya. Karena sudah pasti penjelasan yang diberikan pas, tidak kurang maupun dilebih-lebihkan.


"Oh gitu? Kamu ngga mau bantu?" Seru wanita berbalut hoodie ini dengan nada mengancam. Yang meski dibuat semenyeramkan apapun, Jordi tak akan takut. Rea bukan apa-apanya dibandingkan suaminya.


"Ini sedang berusaha dibantu, tapi juga inget posisi aku dong Mba. Aku ngga mau jadi pihak ketiganya. Nanti aku kasih nomor dokternya deh."


Tak ada obrolan yang terjadi hingga mereka sampai di Le minance hotel. Jordi langsung membantu menurunkan barang di depan lobi saat Rea mendekatinya dan mengatakan sesuatu. "Aku ditinggal aja. Besok aku pulangnya naik kendaraan umum."


"Jangan gitu Mba!"


"Nanti aku sendiri yang akan minta ijin Di. Tenang!"


***


Sore yang mendukung berhasil menarik langkah kaki Rea untuk turun dan menapaki taman di sekitar hotel. Baru saja dia selesai mandi, dalam kopernya ia melihat baju Aero yang sengaja dia bawa. Beberapa menit ia sempat terbawa suasana, berandai-andai Aero akan berubah pikiran. Pria itu tak dapat ditebak, jadi sebagai wanita yang siap siaga, Rea harus selalu membuat rencana cadangan.


Tidak ada orang yang menyadari seberapa tersiksanya dia saat ini. Sudah hampir 5 kilogram berat badannya hilang. Pipi mulai menirus dan mata sayu karena waktu istirahat yang kurang maksimal. Stress membuat senyuman di wajahnya hilang, juga membuat pergerakannya seperti mayat hidup. Dia berjalan seolah tanpa tujuan, lurus tanpa menengok sedikitpun pada orang-orang yang berpapasan, juga tanpa mengetahui jika malam telah datang.


Matanya mengerjap, secepat itu dia mulai menyadari sudah berjalan amat jauh dari hotel. Suara adzan yang berkumandang membuatnya ingat harus kembali sampai di hotel. Sambil berjalan menaiki undakan tangga yang banyak, Rea mengecek ponselnya. Pesannya sudah terbaca, namun tidak dibalas. Bahkan saat ini, status WA prianya tengah online. Buru-buru Rea mengirimkan chat, selalu berharap akan dibalas.


^^^Udah pulang Mas? Jangan lupa makan.^^^


^^^Aku lagi jalan-jalan di taman hotel,^^^


^^^dan ngga sadar udah jauh banget.^^^


Tak berapa lama, tanda centang dua berubah warna menjadi biru. Namun hingga dua menit menunggu, tak ada tanda-tanda Aero sedang mengetik.

__ADS_1


^^^Aku kangen loh.^^^


Tulis Rea lagi, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tanpa disangka, pesan itu otomatis berwarna biru, artinya sedari tadi Aero membacanya kan?


Terlihat tak sabar, jemari Rea dengan cantik menari-nari. Mengetikkan sesuatu dengan sangat cepat.


^^^Di jawab dong, satu huruuuuf aja.^^^


Dia seperti ibu yang tengah membujuk anaknya yang merajuk. Dengan sepenuh hati dan kesabaran.


Y


Melihat baik-baik layar obrolan, seketika bibir Rea tersenyum lebar. Ia luar biasa senang hanya dengan huruf yang mirip dengan rangka ketapel. Begitu singkat tapi berharga untuknya. Belum selesai dia menikmati syukurnya, kalimat susulan yang Aero kirim seketika membuatnya berdebar luar biasa.


Kamu bisa pulang aja ke rumah sekarang?


Rea mematung di tempat dengan posisi menunduk menggenggam ponsel. Berkali-kali ia mengerjap, untuk mengetahui apa benar itu pesan yang dikirim suaminya? Entah kenapa dia senang sekaligus bingung. Begitu bahagia karena Aero membalas, tapi kecewa kenapa tidak Aero saja yang menyusulnya ke Bogor.


"Suami kamu sudah dua kali ini cedera. Bilang sama dia untuk lebih jaga diri. Kurangi aktifitas berat. Mau sampai kapan semaunya sendiri? Apa dia mau satu persatu rusuknya jadi ngga berguna?"


Disaat kekecewaan yang sedang menusuk-nusuk dirinya. Rea teringat pesan dokter ortopedi yang menangani Aero-dokter Sudarjono. Hanya mendengar dari suaranya saja Rea tahu kalau beliau lelaki berumur, namun kata-kata yang disampaikan begitu terus terang dan apa adanya. Menilai dari cara dokter Sudarjono menasehatinya, Rea tahu kalau suaminya itu sulit diatur dan suka memberontak.


"Kalau dibandingkan saya yang dulu diumur Aero yang sekarang. Tulang saya jauh lebih bagus. Saya suka darah tinggi kalau dia datang. Sesekali kamu ikut. Biar tahu bagaimana dia ya?"


Mungkin saat inilah pengorbanan yang sesungguhnya akan dilakukan. Rea akan menempuh jarak Bogor-Jakarta seorang diri. Tidak mungkin Jordi ia telfon untuk menjemput karena akan memakan waktu yang lama.


Diketiknya kalimat persetujuan oleh Rea sebagai balasan. Dan secepat kilat kakinya menaiki tangga menuju hotel. Ia akan mengambil koper dan segera memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Hatinya mengatakan, Aeronya sudah lebih tenang, tak sebergejolak beberapa hari lalu. Dimana dia tak akan menghiraukan siapapun.


"Hallo Mas? Iya ini pulang. Aku lagi dijalan. Tunggu ya." Cerocos Rea saat Aero menelfonnya lebih dahulu. Ia tak memberi kesempatan suaminya untuk menyapa lebih dulu. Perasaan senang namun berdebar sedang menerpanya, wanita cantik yang berbalut topi rajut ini duduk tak tenang di kuris belakang sebuah taksi online.


"Sama Jordi?"


"Mmmm iya."


Tarik nafas yaa gaess, kira-kira apa nih yang bakalan terjadi di part 87?

__ADS_1


Jangan lupa vote, comment dan likenyaa yaa


__ADS_2