
Sabtu,hari dimana Aero memilih untuk tidak menerima apapun.Ia menyerahkan semuanya untuk di keep masing-masing kepala divisi.Jikapun ada sesuatu yang amat mendesak, maka Jordi adalah pilihannya.Sudah menjadi rutinitas bagi Aero untuk melakukan kegiatan pribadinya di hari terakhir itu.Akibatnya adalah,asistennya-Jordi selalu pusing karena banyaknya laporan,keluhan,dan masalah yang harus dihadapi.Tapi biarkan saja,ada Ardi yang mulai bisa diandalkan.
Motor pabrikan Italia yang Aero kendarai terlihat berbaur bersama kendaraan lain.Tak nampak mencolok sama sekali,bahkan mungkin hanya beberapa kalangan saja yang tahu berapa harga tunggangannya.Motor berwarna dasar hitam yang sedikit diberi aksen putih itu sangat pas dengan badan pemiliknya, tak terlalu besar maupun kekecilan.
Hanya saja, kekurangannya satu.Joknya berukuran sangat minimalis.Menyisakan sedikit part untuk duduk Regina Athalia yang sampai saat ini berusaha menjaga jarak.Sebisa mungkin tak tercipta kontak fisik dengan pria yang anehnya begitu wangi-melebihi dirinya pagi ini.
"Seberapa dekat kamu dengan Arka?" Usai kebisuan sepanjang jalan,menjelang beberapa meter lagi memasuki kawasan rumah Rea,Aero kembali bersuara.
"Apa?" Rea setengah berteriak karena tak mendengar jelas apa yang Aero sampaikan."Hey!" Pekiknya setengah tak menyangka. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja,Aero menarik pergelangan tangan kirinya yang sedang bertengger di atas paha ke arah depan.Menyebabkan tubrukan yang tak bisa dihindari lagi.Tubuh Rea benar-benar menyentuh punggung Aero efek dari tarikan.
"Apa harus sedekat ini agar kamu mendengar?"
"Aku akhirnya tahu kamu lelaki seperti apa." Balas Rea dengan pernyataan yang menurut Aero sangat ambigu.
"Oh mungkin-Arka tidak pernah sedekat seperti yang pernah aku lakukan di kamar hotel."
Bug
Sebuah tinjuan mendarat telak dipinggang Aero sebelah kanan.Lebih menyebalkannya adalah,dia hanya mengaduh seperti habis dicubit.Tak sakit sama sekali.
Tangan Rea yang sempat ditarik ke depan dengan paksa, sekarang sudah kembali pada tempatnya.Menyisakan kemarahan yang terpendam.Ia sudah lelah mendengar godaan pria tinggi ini.Beberapa hari lalu,Rea sengaja mencari tahu perihal tanda-tanda pasca sex pertama.Kekhawatiran yang timbul akibat mulut besar Aero, membuat Rea harus benar-benar mendatangi bidan.Mengabaikan rasa malunya serta mengorbankan tenaga untuk pergi jauh dari Jakarta-nenghindari orang yang dikenal.Ia mengecek apakah ada tanda-tanda dia telah...
Kalian tahu pasti apa kelanjutannya.
Setelah bidan melakukan cek pada organ vitalnya. Ternyata,benar apa yang dia yakini.Ia masih bersih.Aero hanya mempermainkan emosinya saja.Menekan dan mensugesti agar Rea mengikuti apa yang telah direncanakan pria lulusan Australia itu. Dasar Jahat.Jadi masalah terakhirnya sekarang, adalah tentang foto-foto itu.
"Pukulan tadi menjelaskan jika itu benar.Aku tersanjung."
Rea tak menanggapi,karena bersamaan dengan itu motor Aero tepat berhenti di depan rumah peninggalan orang tuanya.
"Aku tidak terkejut kamu mengetahui dimana rumahku." Celetuk Rea sambil menyerahkan helm yang baru saja ia pakai.Sebenarnya itu sindiran, tapi dasar muka tembok,Aero tak menyadarinya.
Aero tak menjawab, memilik segera melakukan hal yang sama dengan Rea-melepas helm kemudian menyisir ke belakang rambutnya dengan kelima jari.Memberi efek liar pada rambut yang baru Rea tahu ternyata berwarna sedikit kecoklatan.
__ADS_1
"Motor kamu?"
"Masuk!"
"Motor kamu menghalangi mobil ini."
"Biarkan saja." Jawab Aero begitu acuh,ia sengaja memarkirkan motornya sembarangan, mencegah segala sesuatunya.Dengan tangannya yang kuat, Aero mendorong punggung Rea untuk segera berjalan-memasuki rumah. Namun, baru beberapa langkah menaiki tangga, seorang pria yang Aero kenal pasti muncul.
"Mas-"
"Apa aku tidak salah melihat?" Potong cepat si rambut klimis, ia melangkah pasti, melewati Rea begitu saja.Matanya hanya fokus pada lelaki tinggi di belakang Rea.
"Apa kamu tidak ingin lebih dulu menjawab sapaan mantan calon istri kamu tadi?" Seperti biasa,Aero tak akan mau menjawab pertanyaan musuhnya.Ia tidak ingin dikontrol, sehingga sengaja menyinggung hubungan dua sejoli yang hampir bersatu.Selain itu, wajah tegang Rea saat bertemu Arka, membuat Aero tidak suka.Wanita putih di hadapannya nampak seperti takut dan merasa bersalah.Kenapa seperti itu?
"Kakak ipar.Itu jauh lebih tepat."
"Ok."
"Well,ada banyak hal yang aku tidak tahu sepertinya."
Tak susah-susah mengajak Aero untuk duduk, Arka memilih mulai bersikap arogant pada lelaki yang terus mengejarnya. Aero bagaikan bayangan Arka sendiri selama beberapa bulan terakhir. Selalu muncul jika ada moment tertentu. Contohnya saat ini.
"Bukan tentang aku dan Rea. Ini tentang kita."
Mendadak, Arka merasa mual mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Aero. Begitu menggelikan, seperti sepasang sejoli sesama jenis. Apalagi senyuman pria misterius itu ikut menghiasai wajahnya. Coba bayangkan,jika orang lain mendengar, pasti mereka sudah benar-benar dianggap pasangan memalukan.
"Aku sudah memberikan banyak tenggang waktu. Dan selama itu, harusnya aku sudah bisa membangun sebuah villa di Nusa Dua dengan uang kamu."
"Seseorang pernah mengatakan padaku,jika apa yang aku ambil itu bagian dari hadiah. Tidak perlu dikembalikan."
"Siapapun itu yang jelas bukan aku."
"Tapi dia adalah tangan kanan kamu." Tekan Arka sekali lagi, sambil menirukan tubuhnya agar jarak tercipta semakin pendek.
__ADS_1
"Tidak ada hitam di atas putih. Selembar kertas itu masih sah, dan tinggal beberapa bulan lagi-semuanya selesai." Aero tak mau kalah, ia menaiki satu anak tangga, hingga kini berdiri menjulang di hadapan Arka.
"Aku pikir,10 tahun adalah usia yang tepat untuk memberitahukan dimana Ayahnya berada.Dia pasti sudah tumbuh besar, dia bisa berpikir dengan benar apa itu penjara."
"Kamu mengancam-"
"Aku tidak mengancam,aku hanya mengingatkan.Tiga bulan terakhir, atau-"
"Atau aku bisa menggantikan itu dengan sesuatu yang lebih berharga?"
"Kamu sedang mencoba bernegosiasi?"
Arka yang sebenarnya dalam kondisi tertekan, sedikit mengambil ruang.Ia bergeser sedikit ke kanan, mengambil nafas dan mengendurkan dasinya."Aku tahu Braga Assavero tak kekurangan uang. Anggota club dan bisnismu sudah berdiri sendiri. Tetapi sesuatu dalam dirinya tidak bia berdiri sendiri."
"Apa yang sedang ingin kamu tawarkan?"
"Kakak Iparku untuk 3T yang aku pinjam."
Brak
"Mba Rea!! Sebentar Mba." Suara benturan sekaligus teriakan seorang wanita dari dalam rumah terdengar. Menghentikan sepasang lelaki yang tengah berdebat, keduanya reflek memusatkan perhatiannya pada pintu rumah. Dimana disana ada Bibi Yul yang terus memegangi tangan Rea,seperti menahannya agar tidak pergi.
"Rea ngga kamu pulang lagi ke sini."
Kedua wanita yang terikat secara emosi tadi berhasil melewati Arka dan Aero. Mata mereka sama-sama berair, apalagi Rea-yang begitu merah wajahnya. Ia nampak begitu kecewa dan marah.Tak ingin ambil pusing, Arka kembali mengulangi kalimat yang tadi dia sampaikan.
"Kakar iparku-Regina Athalia untuk 3T-"
Bug
Tubuh Arka langsung terjerembab di lantai begitu mendapatkan pukulan upper cut dari Aero. Bisa dibayangkan seberapa sakitnya, karena suara hantaman begitu keras antara kepala tangan dan rahang bawah.
"Tidak ada harta yang ditukar dengan wanita." Ucap Aero sebelum pergi meninggalkan Arka dengan suara ringisan sakit. Perkiraan, rahang pria itu akan sedikit bergeser, kram beberapa hari, sulit bicara dan sulit mengunyah. Itu sedikit hukuman untuk pria yang tak bisa membedakan antara harga dan barang berharga.
__ADS_1