
Benturan keras antar body kendaraan tak bisa dicegah. Suara yang ditimbulkan berhasil membuat masyarakat sekitar keluar dari rumahnya. Sekalipun sedang hujan deras, mereka seolah tak terpengaruh, antara keingintahuan yang begitu besar dibarengi empati, menyebabkan mereka berbondong-bondong mendatangi sumber suara.
Lelaki pertama yang datang ke tempat kejadian perkara menggunakan baju koko berpadu sarung. Tangan kirinya menggenggam gagang payung dan tangan lainnya menyincing kain sarung hingga batas lutut. Di belakangnya mengikuti anak muda-mungkin anak bapak tadi karena keluar dari satu pintu gerbang-tanpa payung. Berlari-lari menyusul bapaknya yang tak memperdulikan dirinya.
"Telefon polisi sama ambulan Den!" Perintah bapak itu pada anak muda. Tak bisa membantah maupun protes, segera anak yang dipanggil Den-pemuda berusia dua puluhan-mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"TABRAKAN PAK!! Gimana kejadiannya?"
"NGGA TAU!!"
"ASTAGHFIRULLAH!! TOLONGIN-TOLONGIN!! TELFON POLISI!!"
Terdengar sayup pembicaraan seperti itu di dekat Den. Ia tak menghiraukan, berusaha fokus dengan sambungan telefon.
Jadi, bukan hanya mobil milik Rea, tapi ada dua mobil lain yang ikut dalam kecelakaan lalu lintas. Sebuah truk nampak ringsek di bagian depan, namun beruntung sang sopir dan kernetnya masih selamat. Tubuh mereka hanya terjepit body kendaraan yang penyok. Sementara di depan truk, ada sebuah mobil sport berwarna merah yang nampak parah. Kehancurannya justru mengerikan.
"MAS! MAS!" Teriak orang-orang disekitar mobil lambo itu dengan was-was. Mereka tak bisa menarik keluar pengendara karena pintu terkunci. Meski mereka tak melihat langsung bagaimana kejadiannya, namun mereka yakini hal tersebut sangat dahsyat. Terbukti dari suara keras macam petir dan serpihan kaca yang bertebaran di jalan.
"PINGSAN MUNGKIN PAK?!" Efek hujan deras, suara mereka juga harus lebih keras.
"NGGA TAHU. GELAP. TAPI KAYAKNYA SI--"
"INNALILLAHI!!" Teriak salah seorang warga ketika menemukan sesuatu yang cukup mengerikan, menurutnya. "Ya Allah! Kasian sopirnya, mobil sampai mbalik begini."
"YANG DI DALAM CEWE PAK!" Sahut pria lain dengan posisi setengah berjongkok. Kaca depan dan samping mobil yang terbalik pecah. Dapat terlihat tubuh pengendara juga posisinya tergantung dengan posisi terbalik, beruntung ada seatbelt yang menahan.
Mencekam. Keadaan malam makin ramai karena warga bertambah. Seperti yang sudah-sudah, ada saja masyarakat yang bukannya membantu langsung justru merekam dan mengambil gambar. Tanpa memikirkan banyak orang, mereka langsung jadikan hal tersebut sebagai status Whatsapp dan Instagram.
"KELUARIN! KELUARIN!" Teriak sana-sini atas kengerian kecelakan yang melibatkan 3 kendaraan di persimpangan jalan. Tak peduli air hujan membuat tubuh basah, masyarakat yang peduli dengan sigap membantu semampu mereka. Terutama dalam efakuasi korban yang berjumlah 5 orang.
Sambil menunggu polisi dan ambulan, sebisa mungkin mereka mengatur lalu lintas. Meski tak berefek besar karena tetap pengendara lain menghentikan kendaraan di bahu jalan untuk menonton.
...***...
__ADS_1
Instalasi Gawat Darurat sebuah Rumah Sakit Daerah menjadi tempat dirawatnya para korban. Berbekal KTP, anggota keluarga yang bersangkutan dihubungi. Tak terkecuali disini, dengan wajah yang begitu cemas dan langkah kaki yang lemas Bibi Yul datang.
"Doakan saja Bu, semoga tidak kenapa-kenapa!" Hibur salah seorang polisi bernama Hendra. Dia yang bertanggung jawab atas semua korban kecelakaan yang di rawat di Rumah Sakit tersebut.
"Gimana bisa tenang kalo saya ditelfon pak polisi? Jelas ada apa-apa kan? Ini majikan saya loh Pak. Anak yatim piatu, ngga punya siapa-siapa. Cuma tinggal saya." Sambil menghalau air mata yang tak hentinya mengalir, Bibi Yul duduk di kursi tunggu terus meracau. Bibirnya masih mengeluarkan kata-kata yang tiada habisnya. Dengan kedua tangan gemetar, ia menggenggam erat ponsel di tangan. Entah untuk apa.
"Iya. Ibu tenang. Mba Rea sedang ditangani. Berdoa agar Allah memberi keselamatan, dokter tahu apa yang harus dilakukan Bu."
"Anak itu baru dapat SIM beberapa bulan ini Pak. Seneeeng banget bisa bawa mobil kemana-mana. Bawanya juga enak, saya yang biasa mabok kalo naik mobil, ini disetirin Mba Rea ngga mabok pak. Udah pinter bawa mobil ana itu. Ngga ngebut-ngebut, juga ngga suka nyelip-nyelip. Ya Allah Mbaa. Astagfirullah, astagfirullah.... "
Tak menghiraukan polisi yang menenangkannya, Bibi Yul mencoba kembali menego. Ia mengira jika dalam kecelakaan ini, majikannya yang menabrak. Sebab wanita cantik yang tengah dalam penanganan dokter itu, pagi harinya mengeluh sakit kepala dan lelah. Mungkin karena itu Rea tidak berkendara dengan baik.
"Mba Rea orang baik pak. Jangan diapa-apain yaa. "
"Ngga akan diapa-apakan kalo ngga salah."
Raungan Bibi Yul makin keras, jawaban polisi tadi tak membuatnya tenang sama sekali.
"Sopir truknya sudah sadar Ndan!" Lapor polisi lain yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Hendra.
"Alhamdulillah." Ucap Bibi Yul reflek begitu tahu korban lain masih selamat. Artinya majikannya masih aman. Tidak akan terjerat hukum berat. Hawa dingin malam dan suasana sepi rumah sakit tak menggoyahkan niat wanita tua ini. Dia akan menunggu dan menunggu. Berdoa sebaik dan setulus mungkin untuk anak itu, anak yang sudah disakiti oleh banyak orang, anak yang sudah menganggapnya lebih dari Bibi, anak yang sudah bekerja keras dalam hidupnya, anak yang tak punya keinginan muluk-muluk.
"Maaf ya Mba." Usai memikirkan baik buruknya, Bibi Yul akhirnya mengambil sebuah keputusan. Ponsel dalam genggamannya dia angkat. Mencari sebuah kontak nama, kemudian menekannya. Menunggu sambungan dengan perasaan tak menentu. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Katanya dalam hati.
Lalu untuk apa kata maaf itu?
Jawabannya adalah maaf karena akan melanggar perintah Regina Athalia.
"Hallo."
Diangkat. Bibir Bibi Yul bergetar hebat. Ia masih belum memiliki keberanian untuk melakukan ini. Tapi harus. Dia takut sesuatu terjadi dan tidak ada yang akan menolong Rea.
"Mas Aero??" Panggil wanita itu dengan berat hati. Tak mungkin dalam hal seperti ini menelfon Ibu Nindi, karena dia sudah sibuk dengan anaknya. Pilihan terakhir memang Aero. Lelaki yang sebenarnya sudah ratusan hari tak pernah nampak lagi mendatangi Rea di rumah, tak pernah lagi mengantar atau sekedar ikut makan malam. Entah dimana lelaki itu sekarang, tapi otak Bibi Yul hanya tertuju pada nama tersebut.
__ADS_1
"Ya? Ini siapa?"
Kecewa sudah pasti, karena ternyata Aero tak mengenali dirinya. Tapi bukankah itu hal yang patut, karena Aero berinteraksi banyak hanya dengan Rea, bukan dirinya. "Bibi Yul." Balas wanita berhijab ini dengan nafas tak teratur.
Aero diam.
"Bibinya Mba Rea. Masih ingat?" Harusnya masih ingat. Regina Athalia, wanita yang pernah diculik beberapa tahun lalu sebelum akad saudara Aero? Jangan pura-pura amnesia!
"Iya. Ada apa?" Dingin. Lelaki tampan di seberang telefon menjawab dengan singkat dan seadanya. Membuat Bibi Yul sedikit sangsi, apakah Aero bersedia untuk melakukan sesuatu atau tidak?
"Bisa bantu Mba Rea?"
"Bantu apa?"
"Mba Rea-"
"Bu! Saudara Regina sudah sadar!"
"Ya?! Mba Rea anak saya?"
"Iya."
Belum selesai Bibi Yul menyampaikan keinginannya, seseorang sudah memberi kabar baik anak asuhnya yang akhirnya tersadar. Melupakan apa yang sedang dia lakukan. Tanpa berkata apapun, wanita tua itu beranjak dari kursi dan bergegas memasuki ruang IGD. Perasaan yang tadi campur aduk tak enak, seketika berbunga sesaat mendengar kabar baik ini. Walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya disana.
"Disini!" Tunjuk Pak Polisi bernama Hendra pada Bibi Yul, ia mengarahkan tangannya pada salah satu ruang yang dibatasi kain hijau.
"Astagfirullah Mba Rea!!" Tangis yang tadinya mereda akhirnya pecah lagi usai melihat kondisi Rea. Tangan Bibi yang rapuh terulur mengelus lengannya perlahan, sebab tak ingin menyakiti. Ditatapnya wajah sang anak asuh dengan miris. Mata Rea masih belum terbuka sepenuhnya, hanya terdengar suara rintihan sakit yang menandakan perempuan ini sudah kembali ke dunia nyata.
"Saudara Aero. Mari ikut saya keluar! Saya butuh informasi dari anda."
Deg
Pandangan Bibi segera mengarah pada sisi ranjang yang lain. Ia kira hanya dirinya dan pak polisi saja di ruang itu, tapi ternyata ada sosok lain. Aero?? Apa benar itu dia? Sudah sejak kapan? Kenapa berdiri diam dan mematung disana tanpa kata?
__ADS_1
Dan, untuk apa Aero dimintai informasi?