
Rasa senang itu ada. Bahkan bukan senang, tapi berbunga-bunga. Sampai rasanya jika itu pantas, Rea ingin menangis tersedu-sedu sekarang. Namun tak ingin mengecewakan periasnya, sekuat mungkin Rea tetap menahan keinginan untuk menangis.
"Barakallahu laka wa baraka 'laikuma fikhair. Allah tahu mana yang terbaik buat Mba Rea." Bisik Bibi Yul sesaat kata sah terdengar dari dalam ball room. Wanita tua yang setia mendampingi Rea hingga sebesar sekarang itu terus memeluk anak gadisnya yang sudah resmi menjadi milik orang lain. Dia yang tahu bagaimana beratnya hidup Rea menangis bahagia, sambil berusaha tersenyum air mata terus mengalir turun.
"Temenin sampai ketemu Mas Aero ya Bibi. Rea takut." Itu kata si pengantin sembari mengelus lengan Bibi Yul yang memeluknya erat.
"Apa yang ditakutin? Mas Aero ganteng banget padahal Mba."
Rea membalas hanya dengan senyuman. Ia sudah digiring untuk segera meninggalkan tempat persembunyiannya. Ini saat dirinya muncul dan menunjukkan pada para undangan. Bukan suaminya yang dia takutkan. Ah, mendadak Rea merinding saat tahu lelaki yang sering berdebat dengannya itu adalah imam di hidupnya. Hal yang dia takutkan lebih pada kejadian beberapa tahun lalu, saat dia dihentikan di tengah jalan oleh orang asing, memasukkannya ke dalam kamar hotel.
Berbalut gaun putih modern dengan tatanan rambut rapi berhiaskan tiara kecil, Rea tampil layaknya pengantin wanita kerajaan Inggris-sederhana namun berkelas.
"Sekali seumur hidup. Meski hanya satu gaun yang kamu pakai, pilih yang paling bagus. Aku tahu kamu membatasi budged pernikahan ini agar tidak berlebihan. Tapi untuk satu itu, aku minta gunakan yang bisa mencerminkan istri Braga Assavero."
"Harus banget pamer?"
"Apanya yang perlu dipamerkan?"
"Gaun mahal!"
"Yang harus dipamerkan itu kamu! Bukan gaunnya!"
"Ngomong baik-baik sama calon istri bisa kan?"
"Semua tergantung kamu memperlakukan aku gimana." Balas Aero dengan senyuman mautnya.
"Ya udah. Kayaknya aku pilih ini aja Om Rendy, yang sexy."
"Ckck gaun seperti itu kamu bilang sexy? Selera kamu bener-bener..." kata Aero menggantung sambil menggeleng tak percaya.
"Sexy bukan cuma tentang menonjolkan bentuk tubuh. Tapi sexy juga perkara bagaimana yang memakai membawakannya. Duh! Kayaknya selera kamu yang bener-bener, perlu di upgrade Mas."
Itulah sedikit drama dibalik terpilihnya gaun yang sekarang Rea kenakan. Aero hanya mengangguk setuju saat Rea memilih souvenir, memilih hotel, menu makanan hingga dekorasi cantik ball room. Tidak banyak warna yang Rea inginkan dalam pernikahannya, hanya putih yang dipadukan dengan tanaman hijau.
Memilih tak menatap Aero adalah hal terbaik saat ini. Rea menurut saja saat dimintai untuk mengisi kursi kosong di sebelah Aero. Membubuhi tanda tangan pada beberapa berkas, berdiri untuk menerima mahar, menyematkan cincin, dan terakhir adalah berfoto dengan gaya yang fotografer tentukan. Apalagi jika bukan menghadap kamera dan memperlihatkan cincin emas putih yang terpasang di jari manis masing-masing.
Dengan jarak yang hanya satu jengkal, keduanya belum sama sekali menatap mata satu sama lain. Entah karena malu, ragu atau sibuk mencari keberanian. Setelah menyelesaikan akad, mereka harusnya langsung berdiri di singgasana menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Baru akan memulia melangkai usai pihak EO membisikkan acara selanjutnya, lengan Aero tiba-tiba tertahan disertai suara yang mengalun merdu.
"Tunggu Mas."
"Kenapa?" Tanya Aero dengan polosnya.
__ADS_1
"Susah." Bisik Rea sambil tangan yang satu menarik ekor gaun yang terinjak.
Ah sepertinya lelaki yang baru berganti status beberapa menit yang lalu ini telah melupakan ratunya. Hampir saja ia melangkah cepat ke panggung tadi. Beruntung dia segera disadarkan. Alangkah memalukannya jika Rea tidak menahannya. Pasti orang-orang akan kebingungan atas sikapnya atau justru menertawakan kebodohannya.
"Masa aku mau ditinggal?" Protes Rea di saat dia dan Aero berjalan ke atas singgasana. Tenu dengan suara yang begitu pelan.
"Lupa."
"Ha?" Jeritnya tertahan, sampai menoleh ke arah kiri dengan cepat.
"Sorry! Dan tolong, ngga perlu natap aku seperti itu! Aku tahu aku ganteng."
Mendengar hal itu, Rea langsung berdecak tidak suka. Dan tak ingin sampai disana saja pembicaraan mereka, diapun mulai beraksi. "Kayaknya gaun aku kurang terbuka." Keluhnya mendadak saat menaiki beberapa anak tangga.
"Kenapa?"
"Mendadak gerah."
Aero tahu itu adalah sindiran atas sikap sombongnya tadi. Wanita ini, sudah cantik dan anggun seperti putri, tapi bibirnya tetap saja tajam.
Pandangannya terangkat, menyaksikan siluet istrinya-Regina Athalia dari samping. Lengannya sudah mulai membelit pinggang Rea posesif. Menariknya mendekat hingga tubuh mereka tak berjarak. Memanfaatkan posisi, Aero mendekatkan mulutnya ke arah telinga Rea. Ia ingin sedikit memberi warning untuk wanitanya ini. Jangan harap disini pria yang akan luluh. Dalam kamusnya, Aero yang akan selalu memimpin dan mengungguli wanita, dimanapun itu.
"Ada saatnya gaun kamu terbuka. Tapi bukan saat ini." Bisiknya lirih sambil mengirimkan kehangatan deru nafasnya di titik sensitif Rea. Dalam rengkuhan Aero, ia dapat rasakan bagaimana reaksi istrinya yang menegang kaku. Sungguh menyenangkan.
Sengaja Rea hanya mengundang sekitar seratus orang, termasuk di dalamnya saudara, teman dan tetangganya. Sementara di pihak Aero, ada dua ratus orang yang diundang. Namun ball room penuh sesak seperti berisi 500 orang, yang artinya maksimal kapasitas ruangan. Hal itu karena banyak panitia yang Aero kerahkan, panitia yang berbada tegap, berotot dan wajah tegas.
Di samping kanan dan kiri pengantin berdiri masing-masing Tuan Danunjaya, Jordi serta Bibi Yul sendirian. Ia memang diminta Rea untuk selalu mendampinginya kemanapun berada. Tak terusik dengan protes Tante dan Omnya yang mendadak bisa hadir ke pestanya. Setelah tahu siapa calon Rea sebenarnya, mendadak Tante Haryati menelfon dan menawarkan diri untuk jadi pendamping.
"Kamu lapar?" Disela tamu yang menyalami, Aero sempat-sempatnya berbisik.
"Ngga. Mas laper?"
"Iya."
"Sebentar lagi selesai. Nanti kita duduk di meja VVIP itu. Sudah disiapkan makanan disana. Sabar ya." Kata Rea begitu lembut. Sukses membuat Aero merinding tiba-tiba.
"Siapa yang atur?"
"Aku yang minta."
Aero mengangguk, mengakui dalam diam jika istrinya benar-benar mempersiapkan dengan baik pesta sederhana ini. Menjelang malam, suasana makin meriah. Band yang mengiringi prosesi dan resepsi pernikahan membawakan lagu-lagu yang sangat pas, mengena di hati dan memanjakan telinga banyak orang.
"Ga! Ini Om Aril. Saudara jauh Papa yang tinggal di Lombok."
__ADS_1
"Om!-uhuk."
Aero yang sedang mengunyah makanan terbatuk ringan ketika hendak menyapa. Di sampingnya Rea spontan mengangsurkan air putih sambil tangannya aktif mengelus punggung lebar Aero.
"Duh pengantin jadi keselek." Celetuk Om Aril yang mengenakan kain batik, begitu sederhana di balik kekayaannya yang menggunung disana.
"Maaf Om. Terimakasih sudah datang jauh-jauh." Balas Aero cepat usai minum.
"Ngga apa-apa. Yang langgeng ya sama Regina. Semoga bisa segera menambah anggota keluarga. Bisa hidup damai dan saling mengasihi setiap waktu."
"Amiin."
"Om baru liat ada pernikahan pengantinnya ikutan makan. Biasanya selama jadi ratu dan raja mereka berdiri terus kaya pajangan disana. Ini kamu malah jasnya udah dilepas, dilayani makan minum kaya bayi lagi."
Baik Danunjaya, Aero maupun Rea hanya tersenyum. Tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
"Ada apa?"
Kasak kusuk disela pembicaraan terdengar makin keras. Para tamu menengok ke arah pintu masuk, entah untuk melihat apa. Membuat Danunjaya yang duduk di kursi roda penasaran.
"Braga?!"
"Hmm?" Fokus Aero mendadak teralihkan dengan suara seorang tamu. Usai melihat dengan seksama, Aero berdecak tak suka. Ayahnya dan Om Aril sudah pergi ke meja mereka, sesaat salah satu tamu menghampirinya.
"Gila! Petinju kita menikah juga. Mau berapa ronde nanti bro? Saran gue! Jangan banyak-banyak. Nikmati per-rondenya, ngga usah cepet-cepet pengin selesai." Kata pria itu panjang lebar sambil memeluk Aero erat.
"Ngomong apaan lo?!"
Bordes yang tampil segar hanya terkekeh. Matanya teralihkan pada sosok cantik di samping Aero, ia tersenyum tipis dan mengangguk sambil mengucapkan selamat.
"Gue sendirian. Istri gue ada di kamar ngga tega ninggalin anak. Itu tamu di depan ngga di suruh masuk aja? Bikin heboh. Maksa mau masuk tapi ngga ada undangan. Ngaku-ngaku saudara bini lo."
Deg
Mendengar apa yang teman suaminya sampaikan. Rea bisa menebak itu siapa. Mungkin ibu tirinya, mungkin Rena atau Arka. Mungkin!
"Udah ada polisi diluar, tenang aja."
Apa maksudnya dengan itu? Rea bertanya-tanya. Apa orang-orang itu akan Aero polisikan?
"Gue kasih voucher menginap di resort gue aja yaa. Tiga hari tiga malam gimana? Puas??"
happy reading gaes
__ADS_1
jangan lupa vote, comment dan like yaa