
Tidakkah harusnya pria itu mengejar Rea, kemudian menjelaskan sesuatu? Mungkin tidak sampai mengejar keluar rumah seperti di sinetron. Cukup dengan memberikan kata tenang, sabar atau mengatakan jika ia akan datang ke rumahnya besok. Jika itupun tidak bisa, minimal Nando berpesan pada Rea untuk berhati-hati. Ya, hanya itu, sederhana kan? Tidak lebih, karena Rea sadar jika Ibu Nando berhak tahu lebih dulu cerita yang sebenarnya. Wanita itu berhak menjadi orang yang pertama untuk segalanya. Baik untuk mendapatkan kata maaf maupun penjelasan. Rea hanyalah orang asing yang tak berarti.
Hingga beberapa menit Rea berdiri di depan pintu gerbang rumah Nando-menunggu kemungkinan teman dekatnya keluar. Pria itu tak kunjung datang. Mengirimkan pesan singkat pun tidak. Mungkinkah lupa? Atau pembicaraan mereka masihlah alot?
Menyadari jika dirinya seperti seonggok sampah yang dibuang di depan gerbang. Rea mulai melangkah pelan. Ia belum punya niatan untuk membuka aplikasi gojek. Yang dia rasakan hanyalah, terombang-ambing tidak jelas.
Rea lelah, saat dulu Arka mengakhiri hubungannya dengan tidak baik. Lukanya pun belum sembuh. Lelah juga dengan Nando, walaupun mereka baru kenal sebentar dan Rea dengar sekelumit saja percakapan tadi, rasanya Rea bisa mengetahui apa maksud itu semua. Nando terlihat polos, namun jiwanya sudah dewasa, kebutuhannya bukan sekedar fisik tapi juga batin. So, ingin marah rasanya Rea tak punya kuasa.
Tidak bisa menyalahkan sepenuhnya Bu Nindi yang punya andil besar mengenalkan mereka. Regina hanya menghembuskan nafas pasrah, begitu kecewa dengan jalan hidup yang dia jalani. Kenapa jika tentang pasangan harus berakhir seperti ini?
Pria yang Rea temui, baik di luar namun belum tentu baik di dalam. Rea tidak tahu mana laki-laki yang baik di kedua bagian, mungkin hanya beberapa ratus yang tersedia di dunia ini.
Kembali dilukai, untuk waktu berdekatan, Rea sudah berniat akan menguatkan hati. Ia akan memulihkan kepercayaan diri. Sudah dua kali dia menemukan lelaki yang salah. Mungkin memang bukan jodoh. Namun dalam waktu beberapa bulan dan Rea gagal lagi, ia merasa malu. Kesalahan apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, hingga dua kali menjalin hubungan belum berhasil?
Apakah Rea terlalu pemilih? Apakah Rea terlalu biasa saja? Apakah Rea tidak pantas diperjuangkan? Atau apakah dia memang tidak pantas punya teman hidup di dunia ini?
Tak disangka, hari sudah mulai petang. Sudah seberapa jauh Rea melangkah pun dia tidak tahu. Dia hanya mengikuti satu jalan lurus yang sepertinya mengarah ke jalan raya besar. Kakinya sudah tidak merasakan apapun lagi, efek dari hatinya yang patah. Ia berjalan layaknya manusia tanpa nyawa. Memiliki pandangan kosong yang mudah sekali ditipu seseorang.
"Allahu akbar allahu akbar..."
Mendengar suara adzan berkumandang, akhirnya kepala Rea terangkat. Ia memandang sekitarnya tempatnya berada. Jalan besar yang begitu ramai, lampu kendaraan yang mulai menyala, serta angin dingin yang berhembus di bawah kawasan mendung. Bergegas, Rea memesan jasa pemotor berjaket hijau. Tak butuh waktu lama, ia sudah duduk di atas jok dan berbaur bersama ratusan manusia di jalan.
Usai pulang, Rea akan mandi, sholat dan setelah itu tidur. Tak peduli perutnya yang belum diisi sejak siang hari. Yang dia pedulikan hanya urusan hati.
...***...
"Dari mana?"
"Bukan urusan kamu."
Aero mengangguk patuh saat Rea begitu garang membalas pertanyannya. Wanita yang sudah dia tunggu selama 30 menit ini, baru saja datang bersama lelaki yang mengantarnya hingga teras. Kenapa lelaki bermotor? Biasanya bermobil? Pikir Aero yang bingung kenapa Rea pulang naik kendaraan roda dua.
__ADS_1
"Aku ingin bertamu."
"Aku sedang tidak ingin menerima tamu. Butuh istirahat."
"Sayangnya tamu kamu sudah menunggu hampir satu jam yang lalu."
"Bukan urusan aku." Rea berusaha mencari kunci rumah di tas slempang yang dikenakan. Ia kesulitan, karena ukuran tasnya kecil dan barang yang ada di dalamnya banyak.
"Apa memberi harapan palsu itu keahlian kamu?"
Gerakan tangan Rea yang akan memasukkan kunci terhenti. Ia menoleh pada sosok tinggi yang berdiri menjulang di samping kirinya, Aero bersandar dinding dengan tangan terlipat di depan dada. Sangat santai.
"Bukannya kalian, para lelaki yang suka baik di awal, tapi ujung-ujungnya hanya sebuah harapan di akhir?"
"Waw. Apa yang sebenarnya dibahas di sini?" Aero sempat menemukan mata kecewa dan lelah pada tatapan Rea. Itulah kenapa dia bertanya demikian.
"Bukan apa-apa. Lebih baik kamu pergi. Tidak ada manfaatnya bertamu, baik untuk aku maupun kamu."
"Ngga!" Bentak Rea keras.
"Mata kamu menunjukkan sebaliknya."
"Jika pun iya, It was not your bussiness."
"Sensitif."
"Apa kamu bilang?"
Rea tak terima saat Aero lagi-lagi berbisik lirih seperti tengah mengatainya. Dan kewaspadaannya pun berkurang, perlahan Aero berhasil masuk dan kini berdiri di balik daun pintu. Mengunci cepat rumah, dan mengantongi kunci yang bergantung boneka kecil ke saku jasnya.
"Wanita sensitif."
__ADS_1
"Apa peduli kamu? Kita bersyukur dianugerahi hati, bisa senang dan berduka. Tidak seperti kalian yang berpikir tanpa mengutamakan perasaan orang lain."
"Jangan merasa paling berduka." Potong Aero sambil duduk di sofa ruang tamu. Rea tak terlihat masalah pria asing ini memasuki rumah. Atau mungkin karena terpengaruh perasaan, dia menjadi tak berpikiran jernih?
"No, I am not." Teriak Rea membela diri.
"Yes, you are. Amarah kamu yang menunjukkan demikian, bukan mulut kamu."
Rea langsung terdiam. Nafasnya naik turun seperti memendam sesuatu. Kedua tangannya pun terkepal diam-diam, sebagai tanpa pelampiasan.
"Sit down and drink. Kemarahan kamu tidak akan mengubah apapun. Justru akan menambah rumit masalah kamu."
"Jangan sok tahu!"
"Aku Sarjana Psikologi, aku tahu ada dilevel berapa kemarahan kamu ini."
Entah dapat hembusan angin darimana, Rea menurut. Ia duduk tepat di hadapan Aero dengan tangan yang masih terkepal erat. Perlahan bahunya disandarkan ke belakang, menyamankan posisi duduknya dan menyenderkan kepalanya yang terasa ingin meledak.
Arka dan Nando, keduanya sama-sama buruk. Mereka jenis lelaki yang mementingkan kepuasan batin daripada sebuah kesetiaan dan kepercayaan. Tentu Rea tak akan klop dengan jenis orang macam itu.
"Apa ada cara melampiaskan emosi tanpa merugikan orang lain?" Celetuk Rea setelah beberapa menit ia hanya diam.
"I ask you." Tambah Rea saat Aero hanya diam memandanginya.
"Ada. Dan itu mungkin bukan style kamu."
"Siapa yang akan tahu itu style aku atau bukan? Jika belum dicoba?" Rea seolah menantang.
"Kamu akan berkeringat, lelah dan sakit."
Rea mengangguk siap. Membuat Aero sedikit kurang nyaman jika Rea mengiyakan. Namun sebuah kalimat yang begitu menusuk, telah menjadi bukti kuat jika Regina Athalia siap untuk itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih sakit dan melelahkan melebihi sakitnya patah hati." Katanya sebelum pergi meninggalkan Aero di sofa ruang tamu seorang diri-dengan penuh tanda tanya besar di kepalanya.