Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 12


__ADS_3

Nafas Rea masih memburu, dengan suara tangis yang hendak mereda. Sesenggukan seperti anak kecil, rambut panjang yang sudah awut-awutan macam habis berkelahi dengan sesama wanita. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah efek kesalnya mendengar kalimat melecehkan dari Aero. Entah dapat kekuatan dari mana, ia berhasil mendorong tubuh besar itu menjauh, menamparnya keras, meninju berkali-kali sambil menangis.


"Mau aku ambilkan minum?"


Bukannya mengaduh kesakitan, Aero justru mundur beberapa langkah. Sebelum akhirnya meninggalkan wanita cantik yang masih kacau itu di ruang tamu. Mengambil gelas yang tersedia, dan mengisinya dengan air putih galon. Aero langsung meneguknya hingga tandas, tanpa kesulitan sedikitpun. Seperti sudah terbiasa menghabiskan 2 botol air mineral ukuran sedang sekali minum.


Tanpa mengganti gelas, ia mengisinya kembali hingga penuh. Membawa air putih tersebut untuk Rea--yang siapa tahu bisa meredakan kobaran api di ruang tamu.


Sepertinya Aero tak perlu membujuk, karena begitu kakinya menjejak kembali di ruang depan yang kecil-tubuh Rea sudah duduk lemas di atas sofa.


"Minum!" Perintahnya bahkan tak pernah berubah, selalu dengan nada datar dan tinggi-layaknya memerintah tahanan. Gelas bening itu ditaruh halus tepat dihadapan Rea, benturan antar kaca terdengar begitu permukaan bawah kaca menyentuh meja.


Masih dalam kondisi yang tak menentu, telapak tangan yang masih menggenggam di atas paha milik Rea terlihat memerah. Selain efek meninju dada Aero juga karena cengkeraman tangan gadis itu sendiri yang begitu kuat. Seakan berusaha meremukkan apapun di dalamnya.


"Braga Assavero. Itu aku." Katanya di tengah-tengah kesunyian. Masih berdiri gagah di hadapan Rea dengan setelan jas lengkap. Walaupun di beberapa sisi terlihat kusut hasil remasan tangan Rea tadi.


"Aku tidak akan kabur kalau kamu ingin balas dendam." Tambahnya dengan begitu datar seolah tidak punya rasa takut. Tak ada respon yang Rea berikan, pandangan wanita itu masih lurus ke arah segelas air putih yang Aero tadi siapkan. Cih. Pura-pura perhatian.


Merasa harus membiarkan wanita ini menenangkan hati, Aero maju selangkah. Mengangkat tangan kanannya sejajar kepala Rea kemudian menepuk sebanyak dua kali puncak kepala wanita itu. Entah bermaksud untuk apa.


"Bohong! Pasti cuma kebohongan."


Bisik bibir merah muda itu saat Aero hendak menarik gagang pintu. Berhasil membuatnya mematung sejenak. Bibirnya dengan mudah tersenyum tipis mendengar kalimat positif yang Rea terus ucapkan. Wanita itu ternyata tidak bisa menerima kenyataan jika dia diam-diam sudah diapa-apakan.


"Aku akan tunjukkan seberapa dekatnya kita berdua."


Benar-benar lelaki yang tidak bisa ditebak apa maunya, jika tadi ingin memberikan penjelasan dan meminta maaf. Lalu kenapa sekarang justru yang keluar dari mulutnya malah kalimat melecehkan macam tadi?


"Tidak ada hal yang pantas disebut memuaskan, karena nyatanya aku pingsan. Statusku adalah dimanfaatkan."


Kepala Aero sontak memutar, sedikit mengubah sudut pandangannya agar bisa melihat keadaan Rea yang kacau sekali lagi.


"Aku bisa membantumu menjadi artis dadakan. Viral dan kemudian infotaiment akan mencarimu kemana-mana. Mau?"


"Sialan!" Umpat Rea yang benar-benar tak percaya akan setiap balasan Aero. Pria itu tak punya belas kasih. Membuatnya selalu kalah dalam beragumen.


Aero terkekeh begitu mendengar wanita lucu di hadapannya mengumpat. Sangat tidak cocok dan terdengar aneh di telinganya.


"What do you want? Arka sudah tidak memiliki hubungan denganku. Jadi memanfaatkan aku untuk memuluskan tujuanmu adalah sia-sia."

__ADS_1


Regina Athalia ternyata tangguh, dia berdiri dari duduknya. Maju beberapa langkah dan menantang seorang Aero-pemilik club.


"Salah." Balas Aero singkat tanpa ekspresi. "Kamu jelas masih memiliki hubungan. Terutama dengan adik tiri kamu-istrinya kan?" Tubuh besar bos tampan itu bersandar di pintu, melipat kedua lengannya di depan dada sambil memandangi keberanian wanita biasa.


"Bantu aku bertemu dengannya, dan setelah itu kamu bebas."


"A-"


"Or you will be new porn actress?"


Mulut Rea sukses menganga, matanya melebar bentuk dari keterkejutannya pada pemaksaan yang Aero lontarkan.


Dan sialnya, pria itu kembali tersenyum sinis sambil membuka pintu rumah dan pergi.


...***...


Kembali menjalani hidup dengan bekerja menemani majikannya kemanapun. Pikiran Rea sedikit teralihkan. Sudah seminggu Aero tak lagi nampak tiba-tiba di depan rumahnya. Pria itu macam hantu yang kadang muncul dan membuat siapapun takut.


Hari ini, jadwal kerja Bu Nindhita adalah mendatangi beberapa salon dan tempat karaoke. Setelah itu bertemu dengan teman lama yang datang dari Medan sekitar jam 7 malam. Hingga akhirnya, mungkin mereka akan sampai di rumah pukul 10.


"Setelah ini kemana Re?"


"Hanya dinner bersama Keluarga Sijabat saja Bu nanti jam 7 malam."


"Kita ke Mall, beli hadiah."


Huft. Rea menghela nafas lega. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, kemudian menyebutkan tujuan selanjutnya ke arah supir. "Pak, kita ke Grand Indonesia ya?"


"Siap!"


Saat ini, waktu masih menunjukkan pukul 4 sore. Masih ada waktu cukup memang. Dan rasanya mengikuti Bu Nindi ke Mall adalah sesuatu yang cukup menyegarkan mata Rea juga. Ia dalam hati begitu antusias, walaupun ia bisa mencium bau-bau lelah setelahnya. Mengikuti kesana-kemari, mencari kado yang benar-benar Bu Nindi inginkan.


"Kamu sudah move on Re?"


Di tengah jalan, tiba-tiba wanita yang begitu patuh dengan suaminya ini membuka obrolan tentang move on. Apa sebenarnya definisi dari move on?


"Bu-"


"Saya kenalkan dengan seseorang mau?"

__ADS_1


Mulut Rea hanya bisa membuka dan menutup tanpa bisa mengeluarkan sedikitpun suara. Ia juga terkejut karena Bu Nindi tiba-tiba menoleh menunggu jawaban.


"Sebenarnya saya sedang mencoba ikhlas. Tapi sulit. Setiap malam, selalu saja ada moment dimana otak saya memutar kenangan tentang dia. Seperti tidak terima kenapa harus adik saya yang menggantikan? Mungkin jika itu wanita lain, saya masih bisa menerima."


Jelas Rea panjang lebar tanpa sadar. "Maaf Bu." Katanya kemudian setelah mengetahui sudah berbuat cukup jauh.


"Saya mengerti apa yang kamu rasakan. Percaya saja, kalau kegagalan pernikahan kamu itu akan dibalaskan dengan kesuksesan lain yang lebih berharga. Sedih boleh, tapi menyerah jangan."


Sontak kepala Rea mengangguk. Ia berusaha menerima saran yang majikannya berikan. Terlepas dari, 'ngomong memang gampang tapi praktek sulit'.


...***...


Ada yang tahu kenapa kebanyakan sosialita menyukai benda-benda berkilau yang bentuknya kecil namun harganya fantastis? Apa jika memakai benda tersebut, kepercayaan diri meningkat? Apa dia bisa dilihat orang dengan pandangan berbeda? Atau apa mereka bingung untuk menghabiskan uang? Mungkin, semua pertanyaan itu memang jawabannya adalah iya.


Jaman dahulu perhiasan berkilau hanya dipakai para Raja dan Ratu saja. Namun kini, semua khalayak bisa memakainya. Asal ada uang. Ada harga ada barang. Ada yang murah ada yang mahal.


"Jeng Cindy sukanya yang simple dan classic." Gumam Bu Nindi tanpa sadar saat melihat koleksi berlian di salah satu sudut Mall. Rea sendiri hanya mengikuti di sampingnya.


"Re?"


"Iya Bu?"


"Kamu boleh muter-muter dulu di Mall ini, nanti ketemu di-"


"Ngga Bu. Saya menemani Bu Nindi saja."


"Ngga pengin beli sesuatu? Tadi kamu bilang pengin-Kenapa si?" Bu Nindi mulai merasa curiga dengan Rea yang gelisah dan tidak tenang.


"Saya takut ntar Ibu ketemu-"


"Memang Jakarta sesempit itu?" Ucap Bu Nindi setengah kesal. Ia pun akhirnya menyetujui untuk tidak berpisah dengan Rea. Benar juga apa yang asistennya katakan, bisa-bisa ia bertemu dengan istri pertama Mas Danu.


Dan di balik itu, ada yang berusaha Rea sembunyikan. Matanya sempat melihat gerombolan lelaki bertubuh tinggi besar dengan setelan jas melewati store perhiasan tempatnya sedang berada.


Walau menggunakan masker yang menutup setengah wajah. Rea dapat memastikan, jika yang berjalan menonjol di depan tadi adalah Braga Assavero. Lelaki yang katanya sudah menikmati tubuhnya. Seketika Rea merinding mengingat itu. Jadi lebih baik, dia akan menempeli Bu Nindi kemanapun.


Ting


Notifikasi pesan terdengar, ponsel yang ada di genggaman tangan kanan Rea bergetar. Ada nomor WA asing dan setelah dibuka, jantung Rea langsung berdebar kencang. Kedua tangannya reflek menyentuh dadanya yang begitu gelisah.

__ADS_1


+6281212*****


Kamu pikir saya tidak melihat kamu? Dasar penakut!


__ADS_2